- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2086
Bisnis.com, JAKARTA— Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2015). Pada pk. 10:45 WIB, CPO untuk kontrak Maret 2015 bertengger di 2.326 ringgit/ton atau melemah 0,3%.
“Investor terlihat waspada setelah data Intertek kemarin menunjukan penurunan ekspor palm oil Malaysia sebesar 22,9% menjadi 702.581 ton untuk periode 1-20 Januari,†kata Analis PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir dalam risetnya yang diterima hari ini, Rabu (21/1/2015).
Di samping itu, ujarnya, pasar juga masih cemas dengan efek penurunan harga minyak dunia belakangan ini, yang dapat mengurangi minat terhadap CPO untuk bio-diesel.
Sentimen penekan harga CPO lainnya adalah kekhawatiran investor terkait melimpahnya suplai kedelai dunia, yang merupakan produk substitusi minyak sawit untuk produk input makanan olahan.
Sementara itu, dari analisa teknikal, Zulfirman mengatakan pada grafik harian masih diperdagangkannya CPO di atas MA 50-100-200 harian. Gerakan ini mensinyalkan masih adanya tenaga kenaikan bagi minyak sawit.
“CPO perlu mencatatkan level penutupan harian di atas resisten 2.395 untuk melanjutkan momentum kenaikan. Kegagalan mengatasi resisten 2.395 dapat mendorong aksi profit-taking pascareli kencang sejak pertengahan Desember,†kata Zulfirman.
Lebih lanjut dia mengatakan agar pasar mewaspadai aksi profit-taking, setelah terbentuknya candle stick inverted hammer, dan mulai turunnya indikator Stochastic.
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2062
MELBOURNE. Harga minyak mentah diperdagangkan di bawah level US$ 47 per barel, Rabu (21/1). Harga minyak merosot di tengah spekulasi kenaikan cadangan minyak Ameriak Serikat (AS).
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret diperdagangkan lebih tinggi 31 sen dollar menjadi US$ 46,78 per barel di bursa elektronik Nymex, pada pukul 11:12 waktu Sidney.
Sedangkan harga Brent untuk pengiriman Maret merosot 85 sen atau 1,7% menjadi US$ 47,99 per barel di bursa ICE Futures Europe, kemarin.
Pasar memperkirakan, permintaan minyak AS 2,4 juta barel sepekan lalu. Pemerintah akan mengumumkan data konsumsi dan cadangan minyak AS pada 22 Januari. Penurunan harga minyak diperkirakan memperlemah inflasi AS.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2046
Bisnis.com, JAKARTA— Pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lebih cepat dari perkiraan membuat IMF mendongkrak proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 negara tersebut.
World Economic Outlook Update yang diterbitkan IMF hari ini (20/1/2015) memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh 3,6% pada 2015 dan 3,3% pada 2016.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dari proyeksi IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2014, yaitu pertumbuhan 3,1% pada 2015 dan pertumbuhan 3% pada 2016.
IMF menjelaskan pertumbuhan ekonomi AS rebound lebih cepat dari perkiraan setelah penciutan ekonomi pada kuartal I/2014. Selain itu, angka pengangguran di negara tersebut semakin rendah pada saat inflasi bertahan landai.
Pertumbuhan ekonomi AS pada 2015 akan ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat akibat harga minyak yang rendah. Ekspor AS juga diperkirakan bertahan rendah akibat nilai tukar dolar yang kuat.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi Eropa direvisi turun. IMF memperkirakan ekonomi Eropa hanya akan tumbuh 1,2% pada 2015 dan tumbuh 1,4% pada 2016.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju (%)
|
|
2015 |
2016 |
|
Ekonomi Maju |
2,4 |
2,4 |
|
Amerika Serikat |
3,6 |
3,3 |
|
Eropa |
1,2 |
1,4 |
|
Jerman |
1,3 |
1,5 |
Sumber: IMF World Economic Outlook 2015
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1988
JAKARTA. Akhir pekan lalu, harga aluminium menanjak. Meski demikian, berdasarkan proyeksi para trader, harga komoditas masih suram. Maklum, stok aluminium di Jepang meningkat dan permintaan dari China masih lesu.
Mengutip Bloomberg, Jumat (17/1), harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 3% dari hari sebelumnya menjadi US$ 1.845 per metrik ton. Dalam sepekan, harga bertambah 1,9%.
Terbangnya harga aluminium setelah pengumuman indikator ekonomi Amerika Serikat (AS). Di negeri itu terjadi deflasi atau consumer index price (CPI) bulan Desember 2014 sekitar 0,4% atau di bawah prediksi dan realisasi bulan November 2014 yang 0,3%. Core CPI tercatat 0% atau di bawah bulan November 2014 yang 0,1%.
Selain itu, produksi industri AS minus 0,1%, jauh dari realisasi bawah bulan November 2014 yang 1,3%. Serangkaian data ini menahan laju indeks dollar AS, tapi mendongkrak harga komoditas termasuk aluminium.
Menurut Ibrahim, Analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, kenaikan harga aluminium bersifat sementara. “Harga aluminium akan kembali jatuh karena dihadang lima sentimen negatif,†kata Ibrahim.
Pertama, stok aluminium di Jepang melimpah. Persediaan yang terpantau di pelabuhan Yokohama, Nagoya dan Osaka tumbuh 9,3% menjadi 413.000 metrik ton per 31 Desember 2014.
Kedua, lesunya permintaan China. Aktivitas manufaktur serta PDB Tiongkok di kuartal IV-2014 diprediksi turun. Ketiga, indeks dollar AS terus menguat. Pada Senin (19/1), indeks dollar naik menuju level 92,66. Penguatan indeks dollar AS mengikis harga aluminium yang diperdagangkan dalam dollar AS.
Keempat, wacana Bank Sentral Eropa (ECB) menggelontorkan stimulus moneter atau quantitative easing (QE). Tujuannya, menanggulangi deflasi di Zona Eropa. Tapi, pelaku pasar merespons negatif. Kelima, rencana Bank Sentral Jepang (BoJ) menggelontorkan stimulus sebesar
Â¥ 1 triliun. Kondisi ini akan merontokkan mata uang Negeri Sakura, sehingga menopang reli dollar AS.
Secara teknikal, bollinger band dan moving average berada 95% di atas bollinger bawah. Artinya, harga aluminium tertekan. Moving average convergence divergence (MACD) berada 60% di area negatif. Ini menandakan penurunan harga masih terjaga.
Stochastic berada 60% di area positif. Sementara relative strength index (RSI) berada 70% di area negatif. Secara teknikal, tren koreksi harga aluminium masih mendominasi. Ibrahim memprediksi, harga aluminium sepekan mendatang akan terbentang di kisaran US$ 1.785-US$ 1.865 per metrik ton.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2166
ABU DHABI. Harga minyak mentah kembali merosot ke bawah US$ 48 per barel. Amerika Serikat (AS) yang membanjiri pasar dengan produksi minyak serpih enggan mengalah, sementara negara OPEC juga ogah memangkas pasokan minyak yang menyebabkan harga minyak terus tergerus.
Amos Hochstein, utusan AS di bidang energi mengatakan, akan membiarkan pasar melihat kondisi yang terjadi saat ini. AS saat ini memompa minyak dengan level terbanyak dalam 3 dekade.
"Kami punya mekanisme kerjasama dengan mitra-mitra kami di dunia jika sesuatu esktrem terjadi. Tapi saat ini kita tidak dalam kondisi itu, dan saya rasa pasar sejauh ini bisa menyesuaikan," kata Hochstein di Abu Dhabi, kemarin (19/1).
Sementara itu, Menteri minyak Iran Bijan Namdar Zanganeh mengatakan, hasil pembicaraan dengan negara OPEC untuk menyokong harga minyak mentah dunia masih belum membuahkan hasil. Dia memperkirakan, industri minyaknya akan bertahan sampai harga minyak US$ 25 per barel.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Selasa (20/1) untuk pengiriman Februari yang berakhir hari ini, merosot US$ 1,23 menjadi US$ 47,46 per barel pada pukul 11:24 di Sidney. Sedangkan kontrak yang lebih aktif, pengiriman Maret di bursa Nymex turun US$ 1,19 menjadi US$ 47,94.
Harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Maret merosot US$ 1,33 atau 2,7% menjadi US$ 48,84 per barel di bursa ICE Futures London, kemarin.




















Semua Berita