Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



Bisnis.com, JAKARTA - Kontrak CPO hari ini rebound ke 2.385 ringgit per ton setelah kemarin ditutup turun.

Kontrak CPO untuk Februari 2015 dibuka naik 0,93% ke harga 2.382 ringgit per ton. CPO terus naik ke angka 2.385 ringgit per ton pada pukul 09.49 WIB atau 1,06% lebih rendah dari harga penutupan kemarin.

Pergerakan harga CPO pada awal perdagangan berkisar pada 2.379 ringgit per ton hingga 2.385 ringgit per ton.

Adapun kontrak CPO untuk Maret 2015 dibuka pada harga 2.359 ringgit per ton dan terus naik ke harga 2.367 ringgit per ton atau naik 0,98% dari level penutupan hari sebelumnya.

Pergerakan Harga CPO*

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

15/1/2015

2.385

+1,06%

14/1/2015

2.360

-0,59%

13/1/2015

2.374

0,00%

12/1/2015

2,374

+0,68%

9/1/2015

2,358

-1,05%

*kontrak Februari 2015

Sumber: Bloomberg


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Rencana pemerintah memperbanyak pembangunan infrastruktur menjadi kabar gembira bagi perusahaan pemasok alat berat. Sebab, lonjakan bujet untuk proyek infrastruktur bisa menambah permintaan alat berat, khususnya alat berat untuk konstruksi.

Ivanlie, Construction Marketing Manager PT Trakindo Utama, perusahaan pemasok alat berat merek Caterpillar, optimistis permintaan alat berat berpeluang meningkat. Sebab, dana proyek infrastruktur tahun ini naik 15%-18%. "Dampaknya, penjualan alat berat konstruksi juga naik 15%. Penjualan alat konstruksi mendominasi penjualan Trakindo," ungkap Ivan kepada KONTAN, awal pekan ini.

Biasanya, alat berat yang mendominasi penjualan Trakindo adalah alat berat sektor pertambangan. Namun, karena sektor tambang sedang lesu, sektor konstruksi menjadi tumpuan industri alat berat. "Penjualan alat berat konstruksi naik, tapi tak sampai 50% dari penjualan Trakindo," ungkap Ivanlie tanpa menyebut nilainya.

Alat berat yang dibutuhkan sektor konstruksi ini adalah ekskavator ukuran 13 dan ukuran 20. "Permintaan terbesar datang dari proyek pengaspalan jalan," katanya.

Selain alat berat sektor konstruksi, permintaan alat berat sektor kehutanan dan perkebunan diprediksi akan naik tahun ini. Abdurrahman, Forestry and Agriculture Marketing Manager Trakindo menambahkan, pertumbuhan permintaan alat berat sektor ini sekitar 5%. Industri perkebunan membutuhkan alat berat jenis pemotong kayu serta alat berat penyiapan lahan tanam.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak sawit alias crude palm oil (CPO) mulai merangkak naik. Kenaikan harga minyak sawit akibat curah hujan tinggi dan banjir yang masih melanda sebagian wilayah Malaysia.

Mengutip Bloomberg, Selasa (13/1) pukul 15.20 WIB, harga kontrak pengiriman CPO bulan Maret 2015 di Malaysia Derivative Exchange di level RM 2.367 per metrik ton. Harga naik tipis 4 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga CPO terkerek 4,5%.

Zulfirman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan, harga CPO diuntungkan oleh cuaca buruk di Malaysia. Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang di Malaysia berlangsung di Pahang, Perlis, Kedah, Perak, Kelantan, Terengganu Tengah dan Utara, Barat dan Sabah Johor.

Cuaca buruk mengganggu panen sawit, sehingga mampu menopang harga. Di sisi lain, Dewan Minyak Sawit Malaysia atau Malaysia Palm Oil Board (MPOB) merilis produksi CPO bulan Desember 2014 merosot 22% dari bulan sebelumnya ke 1,36 juta ton.

“Dalam jangka pendek, harga CPO bullish karena Badan Cuaca Malaysia memprediksi, hujan deras masih akan melanda sebagian wilayah Malaysia hingga 18 Januari mendatang,” jelas Zulfirman.

Selain itu, ada harapan ekspor CPO membaik seiring pemberlakukan pajak nol persen ekspor minyak sawit dari Malaysia dan Indonesia yang merupakan produsen, CPO terbesar dunia. Mata uang ringgit dan rupiah yang melemah turut menyumbang sentimen positif bagi komoditas ini.

Jangka menengah

Research and Analyst PT Fasting Futures Deddy Yusuf Siregar menuturkan, meski sedang naik, harga CPO masih dibayangi sentimen negatif. Menurut dia, tekanan harga minyak dunia memberikan ancaman pelemahan harga CPO. Sebab, permintaan biodiesel lesu lantaran harganya bersaing dengan bensin yang lebih murah.

Harga CPO diperkirakan masih terjaga dalam jangka menengah. "Namun secara jangka panjang, harga CPO terseret oleh tekanan harga minyak mentah,” ujar Deddy.

Zulfirman mengingatkan, para pelaku pasar mewaspadai reli harga yang sudah cukup tinggi. CPO perlu mencatatkan penutupan harian di atas resistance RM 2.385 per metrik ton untuk melanjutkan momentum kenaikan. Kegagalan mencapai level ini dapat mendorong aksi profit taking.

Secara teknikal, Zulfirman melihat sejumlah indikator mendukung penguatan harga CPO. Harga berada di atas moving average 50, 100 dan 200. Moving average convergence divergence (MACD) bergerak naik. Stochastic mulai memasuki area jenuh beli (overbought) di level 90% atau rawan tekanan. Sementara relative strength index (RSI) di 68% dengan arah naik.

Zulfirman memprediksi, harga CPO sepekan mendatang melanjutkan reli di RM 2.300-RM 2.400 per metrik ton. Hingga akhir kuartal I-2015, harga CPO cenderung terkoreksi di RM 2.240-RM 2.450 per metrik ton. Sedangkan Deddy memperkirakan, harga CPO sepekan di RM 2.374- RM 2.395 per metrik ton.

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga tembaga belum bertenaga. Penurunan harga masih berlanjut setelah menyentuh level terendah lima tahun di US$ 6.090 per metrik ton pada Jumat (9/1). Tekanan harga terus terjadi akibat spekulasi permintaan global yang menyusut.

Mengutip Bloomberg, Senin (12/1) pukul 14.43 waktu Hong Kong, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) merosot ke US$ 6.074 per metrik ton atau turun 0,26% dari penutupan pekan lalu. Harga tergerus 1,2% dalam sepekan.

Loyonya harga tembaga di pasaran saat ini akibat pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, baik di 48 negara bagian Amerika Serikat (AS) maupun Jerman dan China. Negara-negara ini merupakan konsumen terbesar tembaga. Keadaan ekonomi global saat ini menekan permintaan untuk tembaga.

Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan, belum adanya kepastian akan stimulus yang digelontorkan China dan Eropa menegaskan situasi perekonomian global belum membaik. Apalagi, ditambah dengan data AS yang buruk.

Menurutnya, data AS bisa mendongkrak harga komoditas jika terlihat perbaikan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya karena data industri AS memburuk. Data stok grosir atau wholesale inventory AS November naik 0,8%, dari prediksi 0,4%. Ini menunjukkan aktivitas bisnis di AS belum sepenuhnya pulih. "Harga komoditas malah semakin terkapar,” kata Ibrahim.

Kemungkinan besar, menurut Ibrahim, bank-bank dari 48 negara bagian AS akan merilis data dalam minggu-minggu ini. Dari rilis data tersebut baru The Fed dapat menyimpulkan pertimbangan kenaikan suku bunga AS. Dari zona euro, produksi industri Jerman hanya tumbuh 0,1% di November 2014 atau di bawah pertumbuhan Oktober, yakni 0,6%.

Produksi industri Prancis juga buruk, yakni minus 0,3% di November 2014. Secara teknikal, indikator bollinger dan moving average bergerak 30% di atas bollinger bawah, indikasi penurunan harga. Tren bearish ini diperkuat dengan posisi stochastic yang berada di level 75%. Lalu, RSI 60% dan garis MACD 60%, keduanya di area negatif.

Ibrahim menduga, harga tembaga hari ini akan bergulir di US$ 5.950–US$ 6.110 per metrik ton. Sepekan ke depan, harga bergerak di US$ 5.800–US$ 6.000 per metrik ton.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Pengusaha tambang mineral boleh tersenyum bahagia. Pemerintah akan melonggarkan batas minimal kadar lima jenis bahan mineral agar bisa diekspor ke luar negeri. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dede I Suhendra menjelaskan beberapa revisi aturan ekspor ini.

Pertama, pemerintah akan memasukkan produk akhir bauksit yaitu propan, berkadar Al minimum 78% ke dalam daftar mineral yang boleh diekspor. Dengan tambahan itu, kini ada empat jenis produk akhir bauksit yang boleh diekspor ke luar negeri.

Alasan pemerintah propan sangat dibutuhkan oleh pasar ekspor sebagai pelengkap industri shale gas. Itu sebabnya, pemerintah memasukkan propan ke dalam daftar mineral yang bisa diekspor. Lagi pula, "Aneka Tambang akan mengembangkan propan ini," ujarnya, (12/1).

Kedua, pemerintah akan mengubah nama konsentrat pasir besi menjadi konsentrat besi. Pertimbangannya, selama ini penamaan konsentrat pasir besi menghambat ekspor karena pencatatan harmoni sistem (HS) di Kementerian Perdagangan produk ini justru dimasukkan ke dalam kategori konsentrat ilmenit atau konsentrat titanium. Akibatnya, mereka terkena harga patokan ekspor (HPE) yang lebih mahal.

Ketiga, Kementerian ESDM akan mengubah penamaan pasir zirkonium dengan memasukkan kandungan hafnium (Hf). "Kami mempertimbangkan kondisi lapangan banyak pengusaha tidak bisa ekspor, sehingga kadar minimumnya kami ganti menjadi Zr+Hf 65,5%," ujar dia.

Keempat, kadar mineral non-logam bentonit diturunkan. Kelima, kadar minimum produk samping tembaga batangan, yakni tembaga telurit akan diturunkan.

Meski melonggarkan ketentuan ekspor mineral, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sukhyar menegaskan, pemerintah serius menjalankan hilirisasi mineral. Dia menyatakan, pemerintah tetap melarang ekspor mineral mentah. Ia juga membantah pelonggaran beleid ekspor mineral untuk menambah setoran penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Maklum, setoran PNBP pertambangan tahun ini sebesar Rp 50 triliun, naik dari pencapaian 2014 yang sebesar Rp 34 triliun. "Tidak ada kaitan," tandasnya.

Radius Suhendra, Direktur Utama Indoferro, berharap pemerintah tak mengubah lagi regulasi ekspor mineral karena bisa mengganggu investasi. "Jangan sampai produk ore dibuka lagi, karena bisa mengganggu rencana usaha," imbuhnya.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita