- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1985
JAKARTA. Saat ini, Bank Indonesia (BI) masih nyaman untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate pada level 7,75%. Padahal, sejumlah negara lain seperti Bank of Canada dan Bank Sentral India, memangkas suku bunga acuan mereka karena penurunan inflasi dari merosotnya harga komoditas.
Agus Marto D.W Martowardojo, Gubernur BI, mengatakan, jika inflasi belum terkendali dan transaksi berjalan belum memadai maka belum ada pergerakan pada suku bunga, sehingga BI masih melihat dampak pasar. “BI belum bisa melakukan penyesuaian BI rate,†kata Agus, Jumat (23/1).
Menurutnya, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah pada bulan Januari ini dan penurunan harga cabai mulai menunjukan inflasi yang rendah, namun inflasi itu belum terkendali, karena harga barang seperti daging ayam dan telor ayam menunjukan tren peningkatan. “Tentu itu harus disikapi karena masih tercatat inflasi,†tambahnya.
BI memproyeksikan, inflasi masih akan tinggi pada Januai sampai Oktober tahun 2015, namun menjelang akhir tahun inflasi akan mencapai target 4% plus minus 1%.
Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI, mengatakan, inflasi tercatat turun menjadi 7,5% dari 8% pada bulan Januari 2015. “Berdasarkan minggu ketiga, bisa dikatakan inflasi 7,5% (yoy),†ucap Perry.
Agus Tony Poputra, Pengamat Ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi Manado, menyampaikan BI seharusnya segera menurunkan bunga acuan BI rate, karena laju inflasi cenderung melemah. Menurut dia, pada Januari 2015 ini diperkirakan akan terjadi inflasi negatif atau deflasi terkait penurunan harga BBM dan harga bahan makanan.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2530
Jakarta – Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memproyeksikan pengurangan ekspor batubara minimal 50 juta ton mampu menaikkan harga komiditas tersebut di tahun ini. Hal ini menyusul harga batubara acuan (HBA) Januari ini yang hanya US$ 63,84 per ton atau lebih rendah dibandingkan pada akhir 2014 sebesar US$ 64,65 per ton.
Ketua APBI Bob Kamandanu mengatakan, ekspor batubara tahun ini ditetapkan sebesar 333 juta ton. Pasalnya, produksi batubara 2015 ditetapkan pemerintah sebesar 425 juta ton. Dari produksi itu sebanyak 92 juta ton akan dialokasikan untuk kebutuhan batubara dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO).
"Kalau mau memberi shock terapi ke pasar, kita harus mengurangi (pasokan ekspor) secara signifikan. Karena buyer perlu dan harga akan naik. Saya sarankan paling tidak ada 50 juta ton yang dihilangkan di pasar sehingga suplai tidak terlalu besar," kata Bob di Jakarta, Kamis (22/1).
Bob menuturkan, harga batubara melemah sepanjang 2014 karena over suplai di pasaran. Dari produksi tahun lalu sekitar 450 juta ton, alokasi untuk dalam negeri hanya sekitar 70 juta ton dan sekitar 390 juta ton batubara diekspor. Dia berharap pemerintah mendukung upaya yang dilakukan asosiasi untuk menaikkan harga batu bara lantaran pengurangan target produksi dinilai belum mampu menaikkan harga batubara.
Lebih lanjut Bob mengungkapkan sejumlah pelaku usaha memiliki cara tersendiri dalam menyikapi melemahnya harga batubara. Salah satunya yakni dengan menjual batubara di atas harga pasar dan HBA yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
"Yang saya lihat dan yang terjadi di lapangan, pembeli mengacu dengan harga indeks. Tapi karena penjual tidak mau, makanya rata-rata harga jual sekarang berada di atas indeks. Jadi harga terbentuk atas kesepakatan antara penjual dan pembeli," jelasnya.
Dia menyebut mekanisme itu wajar lantaran pihak pembeli tidak mempermasalahkan harga yang ditetapkan penjual di atas harga pasar. Hal ini terjadi karena pembeli membutuhkan pasokan batubara. Harga batubara yang dijual sekitar 10 persen di atas harga pasar. "Pembeli mau mengerti kondisi itu, sehingga tidak ada masalah," ujarnya.
Penulis: RAP/PCN
Sumber:Investor Daily
Narasumber : beritasatu.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2095
Bisnis.com, JAKARTA - Harga CPO di Bursa Malaysia semakin merosot pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2015). CPO diperdagangkan di Rp7,80 juta per ton pada penutupan.
Kontrak CPO untuk Maret 2015 diperdagangkan turun 0,67% ke harga 2.240 ringgit per ton atau sekitar Rp7,80 juta per ton pada penutupan perdagangan hari ini.
Perdagangan komoditas berkode KOH5 itu diperdagangkan pada kisaran 2.234–2.260 ringgit per ton setelah dibuka di harga 2.241 ringgit per ton.
Kontrak CPO untuk April 2015, kontrak CPO teraktif di Bursa Malaysia, hari ini juga merosot pada penutupan. Komoditas tersebut ditutup turun 0,85% di 2.227 ringgit atau Rp7,70 juta per ton.
Perdagangan kontrak CPO April hari ini berkisar di 2.222—2.244 ringgit per ton setelah dibuka di 2.234 ringgit per ton.
Pergerakan Harga CPO*
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
23/1/2015 |
2.240 |
-0,67% |
|
22/1/2015 |
2.250 |
-1,27% |
|
21/1/2015 |
2,279 |
-2,31% |
|
20/1/2015 |
2,333 |
+0,34% |
|
19/1/2015 |
2,325 |
-0,17% |
*kontrak Maret 2015
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2115
Bisnis.com, JAKARTA— Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2015). Pada pk. 10:45 WIB, CPO untuk kontrak Maret 2015 bertengger di 2.326 ringgit/ton atau melemah 0,3%.
“Investor terlihat waspada setelah data Intertek kemarin menunjukan penurunan ekspor palm oil Malaysia sebesar 22,9% menjadi 702.581 ton untuk periode 1-20 Januari,†kata Analis PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir dalam risetnya yang diterima hari ini, Rabu (21/1/2015).
Di samping itu, ujarnya, pasar juga masih cemas dengan efek penurunan harga minyak dunia belakangan ini, yang dapat mengurangi minat terhadap CPO untuk bio-diesel.
Sentimen penekan harga CPO lainnya adalah kekhawatiran investor terkait melimpahnya suplai kedelai dunia, yang merupakan produk substitusi minyak sawit untuk produk input makanan olahan.
Sementara itu, dari analisa teknikal, Zulfirman mengatakan pada grafik harian masih diperdagangkannya CPO di atas MA 50-100-200 harian. Gerakan ini mensinyalkan masih adanya tenaga kenaikan bagi minyak sawit.
“CPO perlu mencatatkan level penutupan harian di atas resisten 2.395 untuk melanjutkan momentum kenaikan. Kegagalan mengatasi resisten 2.395 dapat mendorong aksi profit-taking pascareli kencang sejak pertengahan Desember,†kata Zulfirman.
Lebih lanjut dia mengatakan agar pasar mewaspadai aksi profit-taking, setelah terbentuknya candle stick inverted hammer, dan mulai turunnya indikator Stochastic.
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2093
MELBOURNE. Harga minyak mentah diperdagangkan di bawah level US$ 47 per barel, Rabu (21/1). Harga minyak merosot di tengah spekulasi kenaikan cadangan minyak Ameriak Serikat (AS).
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret diperdagangkan lebih tinggi 31 sen dollar menjadi US$ 46,78 per barel di bursa elektronik Nymex, pada pukul 11:12 waktu Sidney.
Sedangkan harga Brent untuk pengiriman Maret merosot 85 sen atau 1,7% menjadi US$ 47,99 per barel di bursa ICE Futures Europe, kemarin.
Pasar memperkirakan, permintaan minyak AS 2,4 juta barel sepekan lalu. Pemerintah akan mengumumkan data konsumsi dan cadangan minyak AS pada 22 Januari. Penurunan harga minyak diperkirakan memperlemah inflasi AS.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita