Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Minyak memperpanjang kerugian menuju tingkat terendah dalam lebih dari 5,5 tahun. Anjloknya harga minyak dipicu oleh Goldman Sachs Group Inc yang memperkirakan harga minyak akan terus menukik.

Mengutip Bloomberg, Senin (12/1) pukul 16.00, kontrak pengiriman minyak bulan Februari 2015 di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 47,8 per barel. Harga tergerus 2,4% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Dalam sepekan terakhir, harga melorot 5,7%. Volume yang diperdagangkan sebesar 75% di atas rata-rata 100 hari.

Menurut analis Goldman Sachs, minyak mentah harus tinggal lebih rendah dalam waktu lebih lama dan shale gas harus dibatasi untuk menyeimbangkan pasar global. Sementara di Iran, selama tur anggota OPEC, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan bahwa harga minyak perlu kembali ke level US$ 100 per barel untuk keseimbangan ekonomi.

Minyak merosot hampir 50% sepanjang tahun lalu. Ini merupakan penurunan terbesar sejak krisis keuangan tahun 2008. Harga minyak juga terluka akibat tingginya pasokan Qatar sebesar 2 juta barel per hari. OPEC berjuang melawan harga shale gas dari Amerika Serikat (AS) dengan menolak pengurangan produksi. Hal ini memberikan sinyal untuk membiarkan harga turun ke tingkat lebih rendah, dimana akan memperlambat output minyak AS dari laju tercepat selama lebih dari tiga dekade.

“Pasar masih sangat banyak terfokus pada sisi penawaran. Ada komitmen nyata dari penjual bahkan pada tingkat yang lebih rendah ini,” ujar Michael McCarthy, ahli strategi CMC Markets di Sydney kepada Bloomberg.

Dalam laporan Goldman Sachs, harga minyak diprediksi akan diperdagangkan di level US$ 41 per barel dalam tiga bulan mendatang. Sementara minyak Brent akan diperdagangkan di level US$ 42 per barel.


Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Serupa dengan komoditas lain, aluminium membuka pekan pertama tahun 2015 dengan catatan buruk. Selasa (6/1), harga aluminium ambruk ke level terendah sejak Juni 2013 ke level US$ 1.787 per MT. Meski sempat rebound, harga aluminium diprediksi masih melemah.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (9/1), harga aluminium untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) merosot 1,2% dari hari sebelumnya menjadi US$ 1.810 per metrik ton. Alhasil, sepekan terakhir, harga aluminium turun 1,2%.

Menurut Ibrahim, Analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, jika melihat pola pasar, ketika harga suatu komoditas ditutup naik, itu pertanda harga akan kembali jatuh. Sebagai informasi, hari sebelumnya Kamis (8/1) harga aluminium tutup di level US$ 1.832 per metrik ton, naik 2,3% dalam sehari.

Tentu pola itu juga harus melihat fundamental pasar. Saat ini indeks dollar AS sangat tinggi. Sebagai komoditas yang diperdagangkan dalam dollar AS, aluminium tertekan. Harga komoditas yang loyo ini diperkirakan akan terjadi sepanjang semester I-2015. Selagi spekulasi kenaikan suku bunga The Fed masih berhembus, indeks dollar AS akan terus terbang.

"Saat ini kondisi di Eropa sudah lebih tenang seharusnya bisa membuat harga komoditas menguat" kata Ibrahim. Namun sepertinya ini tidak banyak membantu, mengingat masih ada ketidakpastian politik di Yunani. Hasil pemilihan umum Yunani ikut menentukan ekonomi Eropa ke depan.

Pasar juga masih menunggu 27 Januari mendatang. Bank Sentral Eropa (ECB) diprediksi akan melakukan pembelian obligasi guna menanggulangi deflasi di zona Eropa. Hari ini diprediksikan aksi profit taking akan kembali terjadi. "Walaupun memang aluminium termasuk komoditas yang paling laku di pasar," ujar Ibrahim.

Secara teknikal, Ibrahim melihat saat ini bollinger dan moving average bergerak 80% di atas bollinger bawah. Mengindikasikan adanya arah pergerakan naik, tapi masih terbatas. Stochastic di level 60% negatif dan moving average convergence divergence (MACD) 65% negatif, ini yang menarik harga kembali turun.

Sementara itu, hanya indikator relative strength index (RSI) yang menunjukkan arah naik di level 70%. Sepekan ke depan harga akan bergerak di antara US$ 1.785-US$ 1.865 per metrik ton.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

OTTAWA. Merosotnya harga minyak membawa berkah bagi perekonomian dunia. Biaya energi yang rendah diharapkan mampu mendorong konsumsi dan angka belanja masyarakat. Menurut JP Morgan, jika harga minyak mentah dunia stabil di level US$ 60 per barel akan menambah 0,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) global.

Walaupun demikian, kondisi perekonomian beberapa negara seperti Rusia, Brasil dan konflik geopolitik  yang melibatkan Yunani bisa menjadi penghambat pertumbuhan global. "Orang-orang masih berhati-hati  karena mereka melihat risiko negatifnya. Masih ada tanda tanya di luar sana,"  ujar Bruce Kasman, Kepala  Ekonom  JP Morgan Chase & Co, New York seperti dikutip Bloomberg.

Pada  perkiraan  Juli  2014 lalu, JP Morgan memproyeksikan pertumbuhan global tahun 2015 mencapai 3,3%. Namun, di awal Januari ini, proyeksi pertumbuhan global pada tahun ini dipangkas menjadi hanya 2,9%. Diantara 10 negara ekonomi terbesar, hanya AS yang mampu  tumbuh lebih cepat dengan laju kecepatan sebesar 3,2%.

Sedangkan, pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang hanya 3,9% pada tahun ini.  Sebelumnya,  perekonomian  negara  berkembang diprediksi bisa tumbuh hingga 4,9% pada 2015. Penurunan ini merupakan refleksi dari perlambatan ekonomi Rusia, Brasil dan India.

Stephen King dan Karen Ward, Ekonom HSBC Holdings Plc malah pesimistis terhadap keuntungan yang bisa didapat dari penurunan harga minyak. Tingginya nilai utang di negara maju membuat mereka cenderung mengambil manfaat dari pelonggaran moneter.

Sementara, rendahnya harga minyak dan beberapa komoditas lainnya membuat negara berkembang makin  terpuruk.  "Ekonomi  global kehilangan momentum  dan deflasi mulai terjadi yang berarti daya beli  turun sebelum sesuatu  terjadi  di  pasar minyak," jelas Ward.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, penurunan harga minyak akan menaikkan output global antara 0,3% hingga 0,7% di tahun ini. Pemicunya adalah pendapatan  rumah  tangga melompat dan biaya bisnis menurun.

IMF akan merilis perkembangan ekonomi global, akhir bulan ini. Proyeksi terakhir, ekonomi global tahun ini tumbuh 3,8% atau turun dari prediksi Juli 2014 yakni 4%.

Editor: Hendra Gunawan


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Membuka tahun 2015,  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)  yakin akan ada satu perusahaan yang mengoperasikan smelter. Dia adalah PT Bintang Depalan yang akan mengoperasikan pabrik pemurnian nikel pada April tahun 2015 ini.

Edi Prasodjo, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM mengatakan, saat ini, pembangunan smelter Bintang Delapan sudah lebih dari 80%. Harapan pemerintah, perusahaan ini segera bisa beroperasi. Dengan begitu, akan ada tambahan satu smelter. "Smelter lain masih proses pembangunan," kata dia kepada KONTAN, Rabu (7/1).

Rencananya, tahap pertama Bintang Delapan akan mengoperasikan smelter nikel dengan produk akhir nickel pig iron (NPI) berkapasitas 300.000 ton per tahun. Berikutnya, perusahaan akan akan meningkat kapasitas pengolahan nikel menjadi 500.000 ton.

Menurut Edi, mengambil operasi di Morowali, Sulawesi Tengah, perusahaan ini  di tahap pertama menginvestasikan dana sebesar US$ 320 juta. Pada tahap selanjutnya, perusahaan akan menggelontorkan kembali dana US$ 640 juta untuk meningkatkan kapasitas.

Dalam bisnis ini, Bintang Delapan menggandeng investor asal China yaitu PT Tsingshan, anak usaha PT Dingxin Group dengan membentuk usaha patungan PT Sulawesi Mining Investment (SMI).

Seiring proses konstruksi, kata Edi,  pemerintah juga memproses izin pengalihan kepemilikan saham mayoritas pabrik smelter tersebut. Kelak, operasi perusahaan ini dilakukan oleh PT Sulawesi Mining Investment.  "Mayoritas sahamnya asing, jadi masuk dalam perusahaan modal asing (PMA)," kata dia.

Perinciannya adalah: Bintang Delapan mendekap 45% saham Sulawesi Mining Invesment, sisanya atau  55% dikuasai Dingxin Group. Selain smelter, Sulawesi Mining juga mengaku akan membangun fasilitas pendukung, seperti pembangkit listrik tenaga diesel 2×65 Megawatt di tahap pertama, dan  tahap selanjutnya akan menambah menjadi sebesar 450 MW.

Bintang Delapan mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) sejak tahun 2010 dengan luas wilayah konsesi 21.695 hektare (ha) mencakup sembilan desa di Morowali, yakni Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia. Izin usaha ini akan berakhir di 2025.

Ada mantan jenderal

Belum jelas siapa pemilik Bintang Delapan Grup. Namun dari data Kementerian Perindustrian disebutkan kalau Presiden Komisaris Bintang Delapan Group adalah Sintong Panjaitan.

Makanya, Sintong pernah bertandang ke Kementerian Perindustrian pada Maret 2014 lalu untuk mengenalkan investor dari China yang akan bersama-sama menggarap proyek smelter tersebut.

Edi menambahkan, Jumlah perusahaan yang berencana membangun smelter nikel di Indonesia mencapai 30 perusahaan. Namun hingga saat ini, baru empat perusahaan yang mampu mengoperasikan smelter nikel yaitu PT Vale Indonesia Tbk dengan produk nikel matte, PT Aneka Tambang Tbk dengan produk nikel matte, serta PT Cahaya Modern Metal Industri, dan PT Indoferro dengan produk berupa nickel pig iron.

Editor: Hendra Gunawan


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

BERLIN. Pesanan pabrik Jerman jatuh untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pada November 2014, mencerminkan lambatnya pemulihan ekonomi. Jumlah order pabrik yang disesuaikan dengan inflasi turun 2,4% setelah menyentuh 2,9% di bulan Oktober.

Kementerian ekonomi Jerman merilis data produksi pabrik dalam negeri merosot 4,7% pada November 2014 dari bulan sebelumnya. Catatan saja, pada bulan Oktober 2014, pesanan ekspor Jerman lebih rendah 0,7% ketimbang culan sebelumnya.

"Meskipun ada kejutan penurunan dibandingkan ekspektasi kami, pabrik-pabrik terus menstabilkan pertumbuhan pesanan," ujar Evelyn Herrmann, ekonom Eropa di BNP Paribas SA, London seperti dikutip Bloomberg. Laporan tersebut menyeret nilai tukar euro makin terperosok. Kemarin, euro diperdagangkan turun ke US$ 1,1811 per dollar AS.

Inflasi Jerman melambat ke 0,1% pada bulan Desember 2014, terlemah dalam lima tahun. Namun demikian, angka pengangguran Jerman lebih baik ketimbang negara-negara Eropa lainnya yakni 6,5%. "Kekhawatiran baru termasuk Yunani bisa menghambat rebound," ujar Holger Schmieding, Kepala Ekonom Berenberg Bank.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita