Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL




Bisnis.com, JAKARTA— Pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lebih cepat dari perkiraan membuat IMF mendongkrak proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 negara tersebut.

World Economic Outlook Update yang diterbitkan IMF hari ini (20/1/2015) memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh 3,6% pada 2015 dan 3,3% pada 2016.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dari proyeksi IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2014, yaitu pertumbuhan 3,1% pada 2015 dan pertumbuhan 3% pada 2016.

IMF menjelaskan pertumbuhan ekonomi AS rebound lebih cepat dari perkiraan setelah penciutan ekonomi pada kuartal I/2014. Selain itu, angka pengangguran di negara tersebut semakin rendah pada saat inflasi bertahan landai.

Pertumbuhan ekonomi AS pada 2015 akan ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat akibat harga minyak yang rendah. Ekspor AS juga diperkirakan bertahan rendah akibat nilai tukar dolar yang kuat.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi Eropa direvisi turun. IMF memperkirakan ekonomi Eropa hanya akan tumbuh 1,2% pada 2015 dan tumbuh 1,4% pada 2016.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju (%)


2015

2016

Ekonomi Maju

2,4

2,4

Amerika Serikat

3,6

3,3

Eropa

1,2

1,4

Jerman

1,3

1,5

Sumber: IMF World Economic Outlook 2015


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41


JAKARTA. Akhir pekan lalu, harga aluminium menanjak. Meski demikian, berdasarkan proyeksi para trader, harga komoditas masih suram. Maklum, stok aluminium di Jepang meningkat dan permintaan dari China masih lesu.

Mengutip Bloomberg, Jumat (17/1), harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 3% dari hari sebelumnya menjadi US$ 1.845 per metrik ton. Dalam sepekan, harga bertambah 1,9%.

Terbangnya harga aluminium setelah pengumuman indikator ekonomi Amerika Serikat (AS). Di negeri itu terjadi deflasi atau consumer index price (CPI) bulan Desember 2014 sekitar 0,4% atau di bawah prediksi dan realisasi bulan November 2014 yang 0,3%. Core CPI tercatat 0% atau di bawah bulan November 2014 yang 0,1%.

Selain itu, produksi industri AS minus 0,1%, jauh dari realisasi bawah bulan November 2014 yang 1,3%. Serangkaian data ini menahan laju indeks dollar AS, tapi mendongkrak harga komoditas termasuk aluminium.

Menurut Ibrahim, Analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, kenaikan harga aluminium bersifat sementara. “Harga aluminium akan kembali jatuh karena dihadang  lima sentimen negatif,” kata Ibrahim.

Pertama, stok aluminium di Jepang melimpah. Persediaan yang terpantau di pelabuhan Yokohama, Nagoya dan Osaka tumbuh 9,3% menjadi 413.000 metrik ton per 31 Desember 2014.

Kedua, lesunya permintaan China. Aktivitas manufaktur serta PDB Tiongkok di kuartal IV-2014 diprediksi turun. Ketiga, indeks dollar AS terus menguat. Pada Senin (19/1), indeks dollar naik menuju level 92,66. Penguatan indeks dollar AS mengikis harga aluminium yang diperdagangkan dalam dollar AS.

Keempat, wacana Bank Sentral Eropa (ECB) menggelontorkan stimulus moneter atau quantitative easing (QE). Tujuannya, menanggulangi deflasi di Zona Eropa. Tapi, pelaku pasar merespons negatif. Kelima, rencana Bank Sentral Jepang (BoJ) menggelontorkan stimulus sebesar
Â¥ 1 triliun. Kondisi ini akan merontokkan mata uang Negeri Sakura, sehingga menopang reli dollar AS.

Secara teknikal, bollinger band dan moving average berada 95% di atas bollinger bawah. Artinya, harga aluminium tertekan. Moving average convergence divergence (MACD) berada 60% di area negatif. Ini menandakan penurunan harga masih terjaga.

Stochastic berada 60% di area positif. Sementara relative strength index (RSI) berada 70% di area negatif. Secara teknikal, tren koreksi harga aluminium masih mendominasi. Ibrahim memprediksi, harga aluminium sepekan mendatang akan terbentang di kisaran US$ 1.785-US$ 1.865 per metrik ton.

Editor: Sanny Cicilia


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41


ABU DHABI. Harga minyak mentah kembali merosot ke bawah US$ 48 per barel. Amerika Serikat (AS) yang membanjiri pasar dengan produksi minyak serpih enggan mengalah, sementara negara OPEC juga ogah memangkas pasokan minyak yang menyebabkan harga minyak terus tergerus.

Amos Hochstein, utusan AS di bidang energi mengatakan, akan membiarkan pasar melihat kondisi yang terjadi saat ini. AS saat ini memompa minyak dengan level terbanyak dalam 3 dekade.

"Kami punya mekanisme kerjasama dengan mitra-mitra kami di dunia jika sesuatu esktrem terjadi. Tapi saat ini kita tidak dalam kondisi itu, dan saya rasa pasar sejauh ini bisa menyesuaikan," kata Hochstein di Abu Dhabi, kemarin (19/1).

Sementara itu, Menteri minyak Iran Bijan Namdar Zanganeh mengatakan, hasil pembicaraan dengan negara OPEC untuk menyokong harga minyak mentah dunia masih belum membuahkan hasil. Dia memperkirakan, industri minyaknya akan bertahan sampai harga minyak US$ 25 per barel.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Selasa (20/1) untuk pengiriman Februari yang berakhir hari ini, merosot US$ 1,23 menjadi US$ 47,46 per barel pada pukul 11:24 di Sidney. Sedangkan kontrak yang lebih aktif, pengiriman Maret di bursa Nymex turun US$ 1,19 menjadi US$ 47,94.

Harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Maret merosot US$ 1,33 atau 2,7% menjadi US$ 48,84 per barel di bursa ICE Futures London, kemarin.

Editor: Sanny Cicilia
Sumber: Bloomberg



Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA— Persaingan emiten alat berat diprediksi akan terkonsentrasi di sektor konstruksi seiring dengan belum membaiknya sektor pertambangan.

Analis PT Mandiri Sekuritas Hariyanto Wijaya mengatakan diversifikasi pasar alat berat yang tengah dilakukan sejumlah perusahaan akan mulai terlihat di tahun ini. Sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung akan relatif stagnan, sedangkan pasar sektor konstruksi diperkirakan menjadi mayoritas.

“Ini tentu didukung oleh beragam proyek infrastruktur yang dicanangkan pemerintah,” katanya kepada Bisnis.

Haryanto menambahkan, pasar alat berat masih akan tumbuh 5%-10% di Tahun Kambing Kayu ini. Kendati demikian, pemain di bisnis ini harus mewaspadai persaingan yang semakin ketat di sektor konstruksi. Menurutnya, kebutuhan alat berat di sektor ini sebenarnya berbeda dengan sektor pertambangan.

Jika di sektor pertambangan kapasitas angkut alat berat yang dibutuhkan biasanya di atas 100 ton, sedangkan di sektor konstruksi kapasitas yang dibutuhkan hanya 20 ton. Perbedaan jenis alat berat inilah yang harus diperhatikan oleh distributor alat berat. Sementara itu, sektor lain seperti kehutanan dan perkebunan diperkirakan tidak banyak perubahan. Pasalnya, pertumbuhan sektor agribisnis ini juga diperkirakan tidak terlalu masif.

Sebagai catatan, saat ini tercatat empat perusahaan alat berat yang melantai di bursa. Selain PT United Tractors Tbk., ada juga PT Intraco Penta Tbk., PT Hexindo Adiperkasa Tbk., dan PT Kobexindo Tractors Tbk.

Di sisi lain, tantangan penjualan alat berat tahun ini juga datang dari perubahan pola bisnis perusahaan pembiayaan. Menurut Haryanto, perusahaan yang selama ini menggeluti bisnis pembiayaan alat berat mulai melakukan diversifikasi usaha dengan mengurangi porsi alat berat.



Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Metrotvnews.com, Jakarta: Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, outlook minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih cukup netral. Namun CPO dapat mengalami penguatan dengan target kenaikan RM2380 dan stop-loss RM2290.

"CPO mungkin akan diperdagangkan di kisaran RM2310 hingga RM2355 untuk hari ini," kata Zulfirman dalam risetnya, Senin (19/1/2015).  

Lebih lanjut Zulfirman menjelaskan, dari sisi fundamental, buruknya musim hujan yang dialami Malaysia telah menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya produksi CPO. Kebijakan pajak nol persen untuk ekspor CPO oleh pemerintah Malaysia dan Indonesia juga dapat memberikan harapan akan membaiknya kinerja ekspor dari kedua negara CPO terbesar di dunia tersebut.

"Ini mungkin dapat menjaga sentimen positif untuk CPO," ujarnya.

Meski demikian, pasar masih cemas dengan efek penurunan harga minyak dunia belakangan yang dapat mengurangi minat terhadap CPO untuk biodiesel. Investor juga khawatir dengan melimpahnya suplai kedelai dunia, produk substitusi terhadap CPO untuk produk input makanan olahan.

"Di lain pihak, investor juga cemas dengan outlook permintaan CPO dari Tiongkok setelah data kemarin menunjukkan berlanjutnya penurunan harga rumah di Tiongkok yang sinyalkan ancaman berlanjutnya perlambatan ekonomi Tiongkok," ucapnya.

Resistance Level : RM2355, RM2380, RM2395.
Support Level     : RM2310, RM2295, RM2270.
WID

 

Narasumber : metrotvnews.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita