- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2458
CALIFORNIA. Microsoft Corp mencatat penurunan laba kuartal keempat 2014. Penurunan laba ini dipicu oleh buruknya penjualan personal computer (PC) yang turut menyeret permintaan software Windows. Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) turut menurunkan laba perusahaan software ini.
Maklum, Microsoft memperoleh tiga perempat pendapatan dari luar negeri. Bisnis Windows tertekan dalam tiga tahun terakhir karena penurunan penjualan PC.
Penurunan penjualan PC pada kuartal keempat 2014 mencapai 2,4%. "Lisensi komersial mendapat tantangan, terutama karena nilai tukar dan kondisi makro di China dan Jepang," kata Amy Hood, Direktur Keuangan Microsoft, Senin (26/1).
Lisensi komersial terutama berasal dari penjualan software Windows dan Office ke pelanggan bisnis. Ini merupakan porsi pendapatan terbesar Microsoft. Pendapatan lisensi komersial turun menjadi US$ 10,7 miliar, lebih rendah ketimbang prediksi survei Bloomberg di US$ 10,9 miliar.
Laba Microsoft tercatat turun 10,67% menjadi US$ 5,86 miliar pada kuartal keempat 2014 ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya US$ 6,56 miliar. Padahal, penjualan naik 8% menjadi US$ 26,47 miliar. Peningkatan ini terutama berasal dari hasil akuisisi bisnis handset telepon Nokia tahun lalu.
Angka penjualan ini lebih tinggi ketimbang prediksi analis yang hanya US$ 26,3 miliar. "Meski Microsoft mencapai target di bisnis konsumer dan perangkat, sisi komersial meleset," kata Daniel Ives, analis FBR Capital Markets & Co kepada Bloomberg.
Penjualan positif lain berasal dari program cloud untuk korporasi yang naik lebih dari dua kali lipat. Pendapatan bisnis ini mencapai US$ 5,5 miliar per tahun.
Sebelumnya, Microsoft menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar menurunkan pendapatan hingga 4% pada kuartal ketiga. Penurunan lain adalah peningkatan pajak penjualan di Jepang. Menurut Microsoft, penjualan turun di China, Rusia dan Jepang
Satya Nadella, CEO Microsoft mengatakan, dia akan mengatasi masalah yang menyebabkan penurunan kinerja. Tapi, Nadella enggan mengungkapkan alasan spesifik penurunan permintaan di China. CEO yang baru menjabat setahun ini hanya mengatakan ada masalah geopolitik di China.
Mark Moerdler, analis Sanford C. Berstein & Co mengatakan, ini adalah kode soal investigasi persaingan usaha China atas Microsoft dan Pemerintah China yang menghindari pembelian software Microsoft. Hood mengatakan, tantangan dari ketiga negara tersebut masih berpotensi ada pada kuartal selanjutnya.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1988
SYDNEY. Harga kontrak minyak dunia diperdagangkan mendekati level terendahnya dalam enam tahun terakhir pada transaksi perdagangan hari ini (27/1).
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 12.28 waktu Sydney, harga kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengantaran Maret berada di level US$ 45,19 per barel. Kemarin, harga kontrak yang sama turun 44 sen menjadi US$ 45,15 sebarel. Ini merupakan level terendah sejak Maret 2009.
Pergerakan harga minyak ini dipengaruhi oleh spekukasi terjadi lonjakan cadangan minyak AS ke rekor tertingginya. Hal ini menandakan surplus minyak global masih akan terjadi. Rencananya, Energy Information Administration (EIA) akan merilis data cadangan minyak AS pada Rabu (28/1).
Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla El-Badri memprediksi, saat ini terjadi oversuplai pada pasar minyak global mencapai 1,5 juta barel per hari.
"Suplai minyak masih menjadi isu besar. Harus dilakukan pemangkasan produksi. Harga minyak masih akan berpotensi turun dalam jangka pendek karena melimpahnya suplai," jelas David Lennox, resource analyst Fat Prophets di Sydney.
Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran Maret naik 6 sen menjadi US$ 48,22 per barel di ICE Futures Europe exchange.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1930
JAKARTA. Pertama kali dalam tiga hari, mata uang euro menguat terhadap dollar AS. Spekulasi kemenangan partai oposisi Syriza dalam pemilu Yunani tak akan mendorong negeri para dewa keluar dari Zona Eropa. Penguatan euro juga didukung data iklim bisnis Jerman yang positif.
Mengutip Bloomberg, Senin (26/1) pukul 17.45 WIB, pasangan EUR/GBP naik 0,17% dibandingkan dengan hari sebelumnya menjadi 0,7489. EUR/USD naik 0,36% menjadi 1,1244. Sementara EUR/JPY naik 0,68% menuju 132,8500. Kendati begitu, kemarin euro sempat menyentuh level terendah 11 tahun terhadap USD, pasca Syriza resmi dinyatakan sebagai pemenang pada pemilu Yunani.
“Kami berpikir keluarnya Yunani adalah kemungkinan yang sangat kecil,†ungkap Ben Pedley, Kepala Strategi Investasi Wilayah Asia di HSBC Private Bank, Hong Kong.
Suluh Adil Wicaksono, analis PT Milenium Penata Futures, mengatakan, EUR/GBP bergerak naik, meskipun tren hariannya masih terlihat melemah. Pasangan ini mulai melemah pasca Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga di level 0,05%. Ditambah lagi dengan kebijakan stimulus moneter ECB. Sentimen negatif itu mampu diredam data ekonomi Jerman.
“Penguatan EUR/GBP pada Senin sore karena respons pelaku pasar terhadap iklim bisnis Jerman bulan Januari lebih baik dari periode sebelumnya,†ujar Suluh.
Menurut Tonny Mariano, analis PT Harvest International Futures, penguatan EUR/USD didukung oleh aksi profit taking karena euro sudah koreksi terlalu dalam. “Hanya faktor aksi pasar itu yang menahan jatuhnya pasangan ini,†kata Tonny.
Zulfirman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, juga melihat, EUR/JPY menguat setelah pengumuman data iklim bisnis Jerman. Data ini menutupi efek kemenangan Partai Syriza. Di sisi lain, yen melemah setelah Bank Sentral Jepang (BoJ) mengumumkan kemungkinan pengucuran stimulus moneter lanjutan.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2187
LONDON. Sekretaris Jenderal OPEC mengatakan, harga minyak mentah dunia akan kembali ke level US$ 200 per barel, jika tidak ada investasi untuk pasokan baru.
"Jika Anda tidak berinvestasi di minyak dan gas, Anda akan melihat harga minyak akan melampaui US$ 200," kata Abdalla El-Badri pada wawancara di London hari ini (26/1).
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat tipis hari ini. Di bursa Nymex, New York untuk pengiriman Maret 2015, harganya di US$ 45,88 per barel pada pukul 20:38 WIB, naik 0,66% dari posisi kemarin.
Harga Brent juga memanas, dengan naik 0,45% menjadi US$ 49,03 per barel, di bursa ICE Futures, London untuk kontrak Maret 2015.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2335
JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Freeport Indonesia sepakat untuk memperpanjang pembahasan amandemen kontrak hingga enam bulan ke depan.
“Jadi kita membuat rancangan kelanjutan Memorandum of Understanding (MoU) yang akan expired (tanggal) 24 Januari 2015,†kata Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), Kementerian ESDM, R Suhyar, Jakarta, Jumat (23/1/2015).
Sukhyar menuturkan, pemerintah bersama Freeport akan menyusun poin-poin kesepakatan baru di luar yang lama. Ada fokus-fokus tambahan dalam MoU yang baru ini, salah satunya adalah memperbesar benefit Freeport bagi Papua.
“Pertanyaannya kan kenapa diperpanjang? Satu, yang jelas (MoU) pertama belum selesai. Kedua, kita ingin Freeport membangun Papua,†kata Sukhyar.
Lebih lanjut dia bilang, Freeport bisa membangun industri di Papua, paling gampang adalah membangun indsutri hilir berbasis tembaga. Menurut Sukhyar, opsi ini lebih mudah ketimbang Freeport membangun smelter di Papua.
Pertama, sudah ada pasokan tembaga yang bisa dipasok ke Papua. Kedua, industri hilir tembaga dinilai lebih menjanjikan. “Apa misalnya? Pipa, tembaga aloy, kawat, dan plat-plat baja. Itu lebih promising. Tapi bukan berarti (di Papua) tidak ada potensi membangun smelter copper,†imbuh dia.
Namun, saat dikonfirmasi soal keinginan pemerintah agar Freeport membangun smelter di Papua, Sukhyar tidak menjawab dengan tegas. “Yang jelas, kalau ingin memperlihatkan wujud pemurnian, kalau mau cepat itu di Jawa. Di Papua butuh waktu lama, tapi bukan berarti tidak bisa. Tapi yang cepat (dibangun di Papua) adalah industri hilir berbasis tembaga. Itu lebih promising,†kata Sukhyar.
| Penulis | : Estu Suryowati |
| Editor | : Erlangga Djumena |
Narasumber : kompas.com

















Semua Berita