- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2094
JAKARTA. Koreksi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang cukup tajam, memicu investor melancarkan aksi beli saat harga murah alias bargain hunting. Alhasil, harga komoditas ini rebound di akhir pekan lalu. Namun, kenaikan ini diprediksi hanya sesaat.
Mengutip Bloomberg, Jumat (30/1), CPO pengiriman April 2015 di Malaysia Derivative Exchange ditutup naik 0,56% menjadi RM 2.146 atau setara US$ 589,82 per metrik ton (MT). Padahal, hari sebelumnya, harga minyak sawit tergerus ke level RM 2.134 per metrik ton. Ini harga terendah sejak 16 Desember 2014.
Dus, sepanjang Januari ini, harga CPO sudah terpangkas 4,83%. Ini koreksi bulanan terbesar sejak Agustus lalu.
Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir menilai, selain karena harga CPO sedang murah, aksi bargain hunting juga didorong sentimen kenaikan harga minyak mentah dunia di pekan lalu.
Namun, jika mengacu sentimen dan tren, harga CPO masih lemah (bearish). "Pasar masih skeptis ekspor di Indonesia dan Malaysia bisa membaik. Apalagi, permintaan dari China sedang lesu," ujar Zulfirman.
Permintaan CPO oleh Tiongkok menunjukkan tren turun sejak Oktober. "Tren ini akan terus berlanjut, mengingat persaingan dengan harga minyak nabati lain," ujar David Ng, Analis Phillip Futures kepada Bloomberg, Jumat (30/1).
Sekadar gambaran, Jumat, harga minyak kedelai di CBOT sempat jatuh ke level US$ 29,32 per pound. Ini harga terendah sejak Desember 2008.
Lesunya permintaan minyak sawit secara global tercermin dari ekspor Malaysia. SGS mencatat, periode 1-25 Januari 2015, ekspor Malaysia turun 19% menjadi 877.730 metrik ton. Pada periode yang sama, ekspor ke China susut 14%.
Terseret harga minyak
Zulfirman menduga, awal pekan ini harga minyak sawit akan berkonsolidasi dengan kecenderungan turun. Para pelaku pasar akan kembali fokus pada sentimen dari China. Data pertumbuhan industri manufaktur bulan Januari tercatat 49,8. Angka ini meleset dari estimasi pasar, yakni 50,3. Ini menjadi sinyal, ekonomi China masih rawan.
Research and Analyst PT Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar masih melihat peluang CPO untuk naik tipis, hari ini. "Penguatan bersifat tenikal," ujarnya. Namun, secara umum, tren harga CPO masih lemah.
Penurunan permintaan CPO bakal berlanjut selama harga minyak mentah jatuh. “Murahnya harga minyak mentah mendorong penggunaan komoditas ini sebagai substitusi CPO sebagai campuran biodiesel," jelasnya.
Deddy memperkirakan, hari ini, harga minyak sawit bergulir RM 2.090 - RM 2.180 per MT. Untuk sepekan, harganya bisa bergerak RM 1.970 hingga RM 2.224 per MT.
Prediksi Zulfirman, hari ini, CPO cenderung melemah ke kisaran RM 2.120 - RM 2.160 per MT. Adapun range sepekan antara RM 2.100 hingga RM 2.200 per MT.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1658
JAKARTA. Harga tembaga kembali menguat setelah menyentuh penurunan mingguan terpanjang dalam enam tahun terakhir. Meski rebound, harga tembaga belum bebas dari tekanan.
Mengutip Bloomberg, Jumat (30/1), kontrak pengiriman tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) di level US$ 5.495 per metrik ton. Harga ini naik 1,8% dibandingkan sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga tembaga menyusut 0,4%.
Harga tembaga sempat jatuh menuju penurunan tujuh pekan, sebelum naik tipis. Ini adalah penurunan terpanjang selama lebih dari enam tahun terakhir. Pemicu koreksi ini adalah antisipasi pelaku pasar sebelum pengumuman data manufaktur Tiongkok, negara pengguna tembaga terbesar dunia.
Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibrium Komoditi Berjangka, menilai, tembaga diuntungkan data produk domestik bruto (PDB) AS di kuartal IV-2014 yang kurang menggembirakan, yakni tumbuh 2,6%. Ini lebih rendah ketimbang ekspektasi 3% dan di bawah kuartal sebelumnya sebesar 5%. “Kondisi ini menahan laju indeks dollar AS, sehingga mendorong harga tembaga,†ujar dia.
Tapi sentimen negatif masih menghantui tembaga. Indeks manufaktur China di Januari mencapai 49,8. Ini lebih rendah dibanding konsensus sebesar 50,1. Indeks di bawah level 50 menandakan perekonomian Tiongkok belum kokoh. Data terakhir memperlihatkan, aktivitas industri di Negeri Panda tumbuh paling lambat sepanjang 2014.
Di jangka pendek, ada kekhawatiran indikator ekonomi China melambat. "Sementara kami memiliki cukup pasokan, sehingga harga tetap lemah,†kata David Lennox, Analis Sumber Daya Fat Prophets di Sydney.
Persediaan tembaga berdasarkan data LME per 29 Januari 2015 naik menjadi 247.450 metrik ton. Ini adalah level tertinggi dalam 9,5 bulan terakhir.
Sebanyak 11 dari 32 analis yang disurvei Bloomberg memprediksi, harga tembaga bergerak naik pada pekan ini. Adapun 11 analis lain menduga harga tembaga menurun. Sedangkan sisanya menyarankan posisi tahan (hold). “Saya menduga, harga tembaga masih bearish dan bisa turun di bawah US$ 5.000 per metrik ton dalam pekan-pekan ke depan,†tutur Daniel Smith, CEO Dan Smith Commodities Research Ltd di London.
Rapuhnya harga tembaga juga didukung secara teknikal. Ibrahim menjelaskan, moving average convergence divergence berada 70% di area negatif. Kondisi ini mengonfirmasi penurunan harga tembaga. Bollinger band berada 60% di atas bollinger tengah. Artinya, harga berpotensi naik, tapi terbatas. Sebab, dua indikator lain yaitu stochastic dan relative strength index masih wait and see.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2233
Bisnis.com, NEW YORK – Harga minyak tutup akhir bulan ini dengan lonjakan yang signifikan karena didukung oleh para trader yang melakukan aksi short covering setelah melihat kejatuhan harga minyak terlalu dalam pada pekan ini. Namun, harga minyak disebut masih berada di dalam tren negatif.
Phil Flynn, analis Price Futures Group, mengatakan banyak perusahaan minyak di Amerika Serikat (AS) telah memotong belanja modal tahun ini. Lalu, jumlah rig yang digunakan menurun drastis sepanjang bulan ini.
“Jadi, pasar khawatir kalau produksi minyak di AS bisa berhenti total,†ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Sabtu (31/1/2015).
Beberapa perusahaan minyak AS yang melakukan pengurangan investasinya antara lain, seperti Chevron yang menurunkan belanja modalnya sebesar 13% menjadi US$35 miliar dibandingkan dengan tahun lalu senilai US$40,3 miliar.
Sementara itu, San Ramon juga mengumumkan kalau belanja modalnya pada tahun ini mengalami penurunan paling besar sejak 2003 karena harga minyak yang terus terjebak di level terendah.
Meskipun, beberapa perusahaan minyak AS sedang tertekan dengan rendahnya harga minyak, rilis data produksi dan pasokan minyak AS hingga 23 Januari masih meningkat. Pasokan minyak AS naik 2,21% menjadi 406,7 juta barel dibandingkan dengan pekan sebelumnya 397,85 juta barel.
Sementara itu, produksi minyak AS naik 0,29% menjadi 9,21 juta barel per hari dibandingkan dengan pekan sebelumnya sebesar 9,18 juta barel per hari.
Bob Yawger, Direktur Divisi Berjangka Mizuho Securities USA Inc., mengatakan untuk minyak West Texas Intermediate (WTI) benar-benar jatuh cukup parah pekan ini sehingga kami harus meningkatkan transaksi agar terjadi penguatan. Tapi, secara keseluruhan tren harga masih akan terus negatif.
“Kami telah berusaha semaksimal mungkin dan didukung juga para trader yang melakukan aksi short covering sehingga harga ditutup positif pada akhir pekan ini,†ujarnya.
Pada penutupan perdagangan kemarin, harga minyak WTI naik 8,3% menjadi US$48,24 per barel, sedangkan harga minyak Brent naik 7,9% menjadi US$52,99 per barel
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2027
VIVA.co.id - Bursa saham Amerika Serikat anjlok pada penutupan perdagangan Sabtu dini hari, 31 Januari 2015. Ini, setelah rilis data terbaru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS jatuh di bawah perkiraan sebesar 3,2 persen di triwulan keempat.
Seperti mengutip dari CNBC, indek Dow Jones melemah 1,45 persen ke level 17.164,95 dan indeks S&P500 turun 1,30 persen ke level 1.994,99. Sedangkan Nasdaq Composite Index, terkoreksi 1,03 persen menjadi 4.635,24.
Departemen Tenaga kerja melaporkan laju pertumbuhan GDP (produk domestik bruto), yang menghitung produksi barang dan jasa aktivitas perekonomian AS, hanya mengalami ekspansi 2,6 persen pada laju tahunan di kuartal keempat 2014. Hal tersebut, menunjukkan terjadinya pelambatan dari lima persen di kuartal ketiga dan 4,6 persen di kuartal kedua lalu.
Seperti diketahui, performa indeks Dow menguat 7,5 persen dan S&P500 naik 11 persen sepanjang 2014. Namun, di awal 2015, indeks Wall Street berpotensial membukukan pelemahan bulanan di Januari, terimbas kejatuhan saham sektor energi, seperti Chevron Corp, Conoco Phillips, dan Shell.
Akibatnya, indeks Dow Jones melemah 3,5 persen dari rekor tertingginya di 18.053,71. Sedangkan, S&P500 menurun sebesar 3,3 persen dari rekor penutupan tertinggi di 2.090,57. (asp)
Narasumber : vivanews.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1916
Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia terus tertekan pada awal perdagangan Jumat (30/1/2015) setelah kemarin ditutup anjlok 3,34%.
Kontrak CPO untuk Maret 2015 dibuka turun 1,03% ke harga 2.121 ringgit atau Rp7,38 juta per ton. Kemarin, harga CPO merosot 3,34% ke 2.143 ringgit atau 7,42 juta per ton.
Komoditas tersebut bergerak pada kisaran 2.115—2.137 ringgit per ton pada awal perdagangan hari ini.
Kontrak CPO untuk April 2014, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, bergerak turun 0,56% ke 2.122 ringgit per ton pada 10.04 WIB setelah dibuka turun 0,75% ke 2.118 ringgit atau Rp7,38 juta per ton.
Pergerakan Harga CPO*
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
30/1/2015 |
2.121 |
-1,03% |
|
29/1/2015 |
2.143 |
-3,34% |
|
28/1/2015 |
2.217 |
+1,46% |
|
27/1/2015 |
2.185 |
-0,18% |
|
26/1/2015 |
2.187 |
-2,67% |
*kontrak Maret 2015
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com

















Semua Berita