- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2228
JAKARTA. Harga tembaga belum bertenaga. Penurunan harga masih berlanjut setelah menyentuh level terendah lima tahun di US$ 6.090 per metrik ton pada Jumat (9/1). Tekanan harga terus terjadi akibat spekulasi permintaan global yang menyusut.
Mengutip Bloomberg, Senin (12/1) pukul 14.43 waktu Hong Kong, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) merosot ke US$ 6.074 per metrik ton atau turun 0,26% dari penutupan pekan lalu. Harga tergerus 1,2% dalam sepekan.
Loyonya harga tembaga di pasaran saat ini akibat pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, baik di 48 negara bagian Amerika Serikat (AS) maupun Jerman dan China. Negara-negara ini merupakan konsumen terbesar tembaga. Keadaan ekonomi global saat ini menekan permintaan untuk tembaga.
Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan, belum adanya kepastian akan stimulus yang digelontorkan China dan Eropa menegaskan situasi perekonomian global belum membaik. Apalagi, ditambah dengan data AS yang buruk.
Menurutnya, data AS bisa mendongkrak harga komoditas jika terlihat perbaikan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya karena data industri AS memburuk. Data stok grosir atau wholesale inventory AS November naik 0,8%, dari prediksi 0,4%. Ini menunjukkan aktivitas bisnis di AS belum sepenuhnya pulih. "Harga komoditas malah semakin terkapar,†kata Ibrahim.
Kemungkinan besar, menurut Ibrahim, bank-bank dari 48 negara bagian AS akan merilis data dalam minggu-minggu ini. Dari rilis data tersebut baru The Fed dapat menyimpulkan pertimbangan kenaikan suku bunga AS. Dari zona euro, produksi industri Jerman hanya tumbuh 0,1% di November 2014 atau di bawah pertumbuhan Oktober, yakni 0,6%.
Produksi industri Prancis juga buruk, yakni minus 0,3% di November 2014. Secara teknikal, indikator bollinger dan moving average bergerak 30% di atas bollinger bawah, indikasi penurunan harga. Tren bearish ini diperkuat dengan posisi stochastic yang berada di level 75%. Lalu, RSI 60% dan garis MACD 60%, keduanya di area negatif.
Ibrahim menduga, harga tembaga hari ini akan bergulir di US$ 5.950–US$ 6.110 per metrik ton. Sepekan ke depan, harga bergerak di US$ 5.800–US$ 6.000 per metrik ton.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2044
JAKARTA. Pengusaha tambang mineral boleh tersenyum bahagia. Pemerintah akan melonggarkan batas minimal kadar lima jenis bahan mineral agar bisa diekspor ke luar negeri. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dede I Suhendra menjelaskan beberapa revisi aturan ekspor ini.
Pertama, pemerintah akan memasukkan produk akhir bauksit yaitu propan, berkadar Al minimum 78% ke dalam daftar mineral yang boleh diekspor. Dengan tambahan itu, kini ada empat jenis produk akhir bauksit yang boleh diekspor ke luar negeri.
Alasan pemerintah propan sangat dibutuhkan oleh pasar ekspor sebagai pelengkap industri shale gas. Itu sebabnya, pemerintah memasukkan propan ke dalam daftar mineral yang bisa diekspor. Lagi pula, "Aneka Tambang akan mengembangkan propan ini," ujarnya, (12/1).
Kedua, pemerintah akan mengubah nama konsentrat pasir besi menjadi konsentrat besi. Pertimbangannya, selama ini penamaan konsentrat pasir besi menghambat ekspor karena pencatatan harmoni sistem (HS) di Kementerian Perdagangan produk ini justru dimasukkan ke dalam kategori konsentrat ilmenit atau konsentrat titanium. Akibatnya, mereka terkena harga patokan ekspor (HPE) yang lebih mahal.
Ketiga, Kementerian ESDM akan mengubah penamaan pasir zirkonium dengan memasukkan kandungan hafnium (Hf). "Kami mempertimbangkan kondisi lapangan banyak pengusaha tidak bisa ekspor, sehingga kadar minimumnya kami ganti menjadi Zr+Hf 65,5%," ujar dia.
Keempat, kadar mineral non-logam bentonit diturunkan. Kelima, kadar minimum produk samping tembaga batangan, yakni tembaga telurit akan diturunkan.
Meski melonggarkan ketentuan ekspor mineral, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sukhyar menegaskan, pemerintah serius menjalankan hilirisasi mineral. Dia menyatakan, pemerintah tetap melarang ekspor mineral mentah. Ia juga membantah pelonggaran beleid ekspor mineral untuk menambah setoran penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Maklum, setoran PNBP pertambangan tahun ini sebesar Rp 50 triliun, naik dari pencapaian 2014 yang sebesar Rp 34 triliun. "Tidak ada kaitan," tandasnya.
Radius Suhendra, Direktur Utama Indoferro, berharap pemerintah tak mengubah lagi regulasi ekspor mineral karena bisa mengganggu investasi. "Jangan sampai produk ore dibuka lagi, karena bisa mengganggu rencana usaha," imbuhnya.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1854
SINGAPURA. Harga minyak mentah dunia masih melanjutkan penurunannya pagi ini (13/1). Berdasarkan data Bloomberg, pagi tadi, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengantaran Februari turun sebesar 77 sen menjadi US$ 45,30 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada pukul 12.57 waktu Sydney, harga kontrak yang sama berada di level US$ 45,45 sebarel.
Kemarin, harga kontrak minyak WTI turun US$ 2,29 menjadi US$ 46,07 per barel. Ini merupakan level terendah sejak April 2009.
Sementara itu, harga kontrak minyak Brent untuk pengantaran Februari turun sebesar 78 sen atau 1,6% menjadi US$ 46,65 per barel di ICE Futures Europe exchange.
Harga minyak kian tergerus di tengah spekulasi bahwa cadangan minyak AS akan semakin meningkat. Kondisi ini akan memperparah situasi suplai minyak global yang sudah menekan harga minyak ke level terendahnya dalam lima tahun terakhir.
Hasil survei Bloomberg menunjukkan, cadangan minyak AS kemungkinan akan naik ke 384,1 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari.
"Ada suplai yang berlebih. Untuk menaikkan harga minyak, harus ada pihak produsen uang memulai langkah pemangkasan produksi. Hanya organisasi yang mampu melakukan sesuatu yang penting seperti itu, seperti OPEC. Saya tidak bisa melihat AS akan mengurangi produksinya," jelas David Lennox, Resource Analyst Fat Prophets di Sydney.
Catatan saja, harga minyak sudah anjlok hampir 50% pada tahun lalu. Ini merupakan penurunan terbesar sejak krisis finansial terjadi di tahun 2008.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1850
JAKARTA. Minyak memperpanjang kerugian menuju tingkat terendah dalam lebih dari 5,5 tahun. Anjloknya harga minyak dipicu oleh Goldman Sachs Group Inc yang memperkirakan harga minyak akan terus menukik.
Mengutip Bloomberg, Senin (12/1) pukul 16.00, kontrak pengiriman minyak bulan Februari 2015 di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 47,8 per barel. Harga tergerus 2,4% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Dalam sepekan terakhir, harga melorot 5,7%. Volume yang diperdagangkan sebesar 75% di atas rata-rata 100 hari.
Menurut analis Goldman Sachs, minyak mentah harus tinggal lebih rendah dalam waktu lebih lama dan shale gas harus dibatasi untuk menyeimbangkan pasar global. Sementara di Iran, selama tur anggota OPEC, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan bahwa harga minyak perlu kembali ke level US$ 100 per barel untuk keseimbangan ekonomi.
Minyak merosot hampir 50% sepanjang tahun lalu. Ini merupakan penurunan terbesar sejak krisis keuangan tahun 2008. Harga minyak juga terluka akibat tingginya pasokan Qatar sebesar 2 juta barel per hari. OPEC berjuang melawan harga shale gas dari Amerika Serikat (AS) dengan menolak pengurangan produksi. Hal ini memberikan sinyal untuk membiarkan harga turun ke tingkat lebih rendah, dimana akan memperlambat output minyak AS dari laju tercepat selama lebih dari tiga dekade.
“Pasar masih sangat banyak terfokus pada sisi penawaran. Ada komitmen nyata dari penjual bahkan pada tingkat yang lebih rendah ini,†ujar Michael McCarthy, ahli strategi CMC Markets di Sydney kepada Bloomberg.
Dalam laporan Goldman Sachs, harga minyak diprediksi akan diperdagangkan di level US$ 41 per barel dalam tiga bulan mendatang. Sementara minyak Brent akan diperdagangkan di level US$ 42 per barel.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1993
JAKARTA. Serupa dengan komoditas lain, aluminium membuka pekan pertama tahun 2015 dengan catatan buruk. Selasa (6/1), harga aluminium ambruk ke level terendah sejak Juni 2013 ke level US$ 1.787 per MT. Meski sempat rebound, harga aluminium diprediksi masih melemah.
Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (9/1), harga aluminium untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) merosot 1,2% dari hari sebelumnya menjadi US$ 1.810 per metrik ton. Alhasil, sepekan terakhir, harga aluminium turun 1,2%.
Menurut Ibrahim, Analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, jika melihat pola pasar, ketika harga suatu komoditas ditutup naik, itu pertanda harga akan kembali jatuh. Sebagai informasi, hari sebelumnya Kamis (8/1) harga aluminium tutup di level US$ 1.832 per metrik ton, naik 2,3% dalam sehari.
Tentu pola itu juga harus melihat fundamental pasar. Saat ini indeks dollar AS sangat tinggi. Sebagai komoditas yang diperdagangkan dalam dollar AS, aluminium tertekan. Harga komoditas yang loyo ini diperkirakan akan terjadi sepanjang semester I-2015. Selagi spekulasi kenaikan suku bunga The Fed masih berhembus, indeks dollar AS akan terus terbang.
"Saat ini kondisi di Eropa sudah lebih tenang seharusnya bisa membuat harga komoditas menguat" kata Ibrahim. Namun sepertinya ini tidak banyak membantu, mengingat masih ada ketidakpastian politik di Yunani. Hasil pemilihan umum Yunani ikut menentukan ekonomi Eropa ke depan.
Pasar juga masih menunggu 27 Januari mendatang. Bank Sentral Eropa (ECB) diprediksi akan melakukan pembelian obligasi guna menanggulangi deflasi di zona Eropa. Hari ini diprediksikan aksi profit taking akan kembali terjadi. "Walaupun memang aluminium termasuk komoditas yang paling laku di pasar," ujar Ibrahim.
Secara teknikal, Ibrahim melihat saat ini bollinger dan moving average bergerak 80% di atas bollinger bawah. Mengindikasikan adanya arah pergerakan naik, tapi masih terbatas. Stochastic di level 60% negatif dan moving average convergence divergence (MACD) 65% negatif, ini yang menarik harga kembali turun.
Sementara itu, hanya indikator relative strength index (RSI) yang menunjukkan arah naik di level 70%. Sepekan ke depan harga akan bergerak di antara US$ 1.785-US$ 1.865 per metrik ton.

















Semua Berita