Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Indonesia masih jadi tujuan investasi investor global. Salah satu indikatornya, hasil penawaran awal surat utang denominasi dollar AS yang kelebihan permintaan (oversubscribed).

Global bond 2015 berhasil mendapatkan permintaan senilai US$ 19,3 miliar atau oversubscribed 4,8 kali lipat dari realisasi dan target penerbitan yang sebesar US$ 4 miliar.

Pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih mengatakan banjirnya permintaan pada global bond 2015 disebabkan oleh beberapa faktor. "Yang pertama jelas karena likuiditas global sedang sangat tinggi," ujar Lana.

Ia menambahkan, banjir likuiditas terjadi di Eropa dan Jepang yang masing-masing bank sentralnya mengeluarkan stimulus. "Mereka juga tidak masalah menukarkannya ke dollar AS karena mata uang safe haven," kata Lana.

Faktor kedua, harapan investor terhadap peringkat surat utang Indonesia. Harapan ini muncul terkait kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak. Nah kebijakan ini, memicu harapan bahwa lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) akan meningkatkan peringkat surat utang Indonesia dari BB ke level investment grade BBB.

Maka penerbitan Surat Utang Negara (SUN) valas saat ini sangat menarik lantaran masih memberikan kupon relatif tinggi. "Investor global berpikir, SUN valas sekarang kuponnya masih tinggi. Nanti kalau sudah investment grade, Indonesia tidak bakal menawarkan kupon setinggi sekarang," ujar Lana.

Jika dibandingkan dengan negara lain, peringkat utang Indonesia sejajar dengan Turki dan Colombia. Menurut Lana, dibandingkan dua negara tersebut, Indonesia masih paling menarik karena potensi investment grade tadi.

Sebagai perbandingan, global bond Filipina bahkan oversubscribed hingga 7 kali. Menurut Lana, ini karena peringkat utang Filipina yang lebih tinggi yakni BBB. "Investor surat utang itu sangat sensitif terhadap peringat utang," ujarnya.

"Indonesia juga tidak bisa dibandingkan dengan India karena peringkat utang India sudah BBB. Apalagi Malaysia yang sudah A," tambahnya.

Pemerintah masih menyimpan 3 SUN valas lagi pada 2015 ini yakni global sukuk, samurai bond dan euro bond. Dari 3 SUN valas ini menurut Lana yang paling diburu investor adalah global sukuk. Ini karena denominasinya masih dollar AS dan target pasarnya yang merupakan negara timur tengah. Negara di kawasan ini, menurut Lana, selalu dipandang kebanjiran likuiditas karena sebagai produsen minyak.

"Asalkan global sukuk diterbitkan sebelum Fed fund rate naik," ujar Lana. Kebijakan Bank Sentral Amerika tersebut dipandang akan mengalihkan perhatian investor untuk berinvestasi di Amerika Serikat.

Sedangkan pada euro bond dan samurai bond, masih punya potensi oversubcribed asalkan tingkat likuiditas global masih setinggi sekarang.

"Sebenarnya mata uang yen dan euro sedang tidak menarik bagi investor karena melemah terus. Tapi jika kupon yang ditawarkan pemerintah cukup tinggi di tengah banjirnya likuiditas, maka masih punya potensi oversubcribed," lanjutnya.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagian besar mata uang Asia ditransaksikan cenderung melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini, Kamis (8/1/2015).

Dari 11 mata uang Asia, sebanyak tujuh mata uang tertekan dengan yen paling tertekan sebesar 0,32%.

Adapun empat mata uang lainnya menguat terhadap dolar AS yakni dolar Hong Kong, dolar Singapura, rupee, dan ringgit.

Sementara itu, rupiah terpantau melemah tipis 0,04% ke Rp12.740 per dolar AS pada pukul 09.03 WIB.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia, Kamis 8 Januari 2015

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB

Yen

119,6400

+0,32%

09:02:31

$Hong Kong

7,7545

-0,01%

09:02:59

$Singapura

1,3374

-0,17%

09:02:37

$Taiwan

31,9910

+0,04%

09:02:48

Won

1.100,3

+0,04%

09:03:00

Peso

45,0730

+0,01%

09:03:19

Rupiah

12.740

+0,04%

09:03:00

Rupee*

63,1750

-0,63%

06:29:57

Yuan

6,2189

+0,10%

09:03:10

Ringgit

3,5695

-0,34%

09:03:19

Baht

32,8910

+0,06%

09:02:51

Sumber: Bloomberg.


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA—Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada Kamis (8/1/2015) di Bursa Malaysia dibuka pada level harga tertinggi.

Kontrak CPO untuk Februari 2015 dibuka naik 0,13% ke harga 2.349 ringgit per ton. Harga tersebut adalah level harga tertinggi sejak komoditas berkode KOG5 itu mulai diperdagangkan.

CPO kemudian semakin menguat beberapa saat sejak pembukaan perdagangan. Pada pukul 09:54 WIB, kontrak ditransaksikan naik 0,98% ke harga 2.369 ringgit per ton atau sekitar Rp8,48 juta.

Pada perdagangan Rabu (7/1/2015), pergerakan CPO untuk kontrak Februari 2015 di Bursa Malaysia berakhir menguat 1,82% di angka 2.346 ringgit per ton.

Pergerakan Harga CPO*

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

8/1/2015 (09.57 WIB)

2.369

+0,98%

7/1/2015

2.346

+1,82%

6/1/2015

2.304

+0,83%

5/1/2015

 

2.285

 

-0,74%

 

2/1/2015

 

2.302

 

+1,05%

 

*kontrak Februari 2015

Sumber: Bloomberg


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent terus terjun bebas. Bahkan analis memprediksikan, harga minyak pada semester I-2015 bakal terus menurun dan bergerak di kisaran US$ 20 hingga US$ 50 per barel.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 13.20 WIB, harga minyak WTI pengiriman Februari di New York Mercantile Exchange (NYMEX) menyentuh US$ 47,22 per barel. Dalam sepekan, harga terpangkas 10,38%. Ini level terendah lebih dari lima tahun terakhir. Pun demikian dengan harga minyak Brent pengiriman Februari di Bursa ICE Futures menyentuh di US$ 50,5 per barel.

Suluh Adil Wicaksono, Analis Millenium Penata Futures, mengatakan, koreksi harga minyak dua hari terakhir sudah terbilang abnormal. Koreksi ini terjadi saat stok minyak Amerika Serikat (AS) terbilang tipis, yakni hanya 1 juta barel.

"Seharusnya bisa mengangkat harga, tapi buktinya harga minyak terus mempertajam rekor terendahnya dan tidak ada tanda-tanda rebound," terang Suluh.

Permintaan minyak tak kunjung membaik meski di Eropa dan AS sudah memasuki musim dingin. Ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan fenomena ini. Salah satunya karena AS sebagai konsumen terbesar, mulai mengurangi ketergantungan pada minyak.

Negeri Uwak Sam mulai memacu penggunaan shale oil, guna mensubstitusi penggunaan minyak bumi. Negara pengekspor minyak (OPEC) tak merespons minimnya permintaan tersebut dengan membatasi pasokan.

Tonny Mariano, Analis Harvest International Futures, menilai, koreksi harga minyak bisa terus berlanjut. Hitungan dia, harga akan bergerak di kisaran US$ 20 hingga US$ 50 per barel. "Kalau sebulan rata-rata turun US$ 20, ya, level terendah itu sangat mungkin tersentuh di semester I tahun ini," terang Tonny.

Mekanisme penentuan harga minyak saat ini dipengaruhi oleh kondisi yang melampaui supply and demand. Menurut Tony, ini juga terkait perseteruan antara AS-Eropa dengan Rusia. Seperti diketahui, Rusia mengandalkan pendapatan dari ekspor minyak. Ketika harga minyak turun, mata uang rubel Rusia ikut melemah.

Tapi Tonny bilang, stabilitas harga minyak akan ditentukan oleh kebijakan OPEC dengan negara eksportir non-OPEC. Jika ada titik temu terkait pengendalian produksi, harga minyak bisa stabil di US$ 50 per barel. Secara teknikal, harga minyak dunia diperkirakan tetap bearish.

Suluh bilang, candlestick sudah jauh di bawah moving average MA 10. Pun demikian dengan MACD yang berada di area negatif 306. Untuk itu, harga minyak sepekan ke depan akan bergerak di kisaran US$ 43-US$ 51 per barel. Sedangkan Tonny memprediksi, harga minyak sepekan ke depan bakal strongly bearish di US$ 44-US$ 52 per barel.

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

SHANGHAI. Harga tembaga diperdagangkan mendekati level terendah dalam lebih dari empat tahun terakhir memicu kekhawatiran keluarnya Yunani dari blok mata uang euro. Komoditas tembaga untuk pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,2% menjadi US$ 6,136 per metrik ton, terendah sejak Juni 2010.

Fang Junfeng, analis Shanghai Futures CIFCO Co mengatakan setiap perkembangan yang terjadi di Yunani akan berdampak luas kepada obligasi dan saham sehingga pasar komoditas tertekan. Selain itu juga, melambatnya permintaan terutama dari pasar China ikut menggerus harga tembaga.

"Saya tidak terkejut jika komoditas tembaga terus meluas," jelas Fang mengutip Bloomberg.

Sejak awal tahun hingga saat ini, harga tembaga turun 2,6%. Tahun lalu, harga tembaga turun 14%. Berdasarkan data LME, stok tembaga naik 0,8% menjadi 178.425 ton, tertinggi sejak Mei 2014. "Proyek infrastruktur China belum tentu akan mengerek harga," ujar Xu Yongqi, analis Guotai & Junan Futures.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Bloomberg

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita