Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Harga crude palm oil (CPO) konsisten melandai. Lemahnya permintaan ditambah rencana pemberlakuan kembali bea keluar CPO tidak memberikan kesempatan bagi komoditas ini untuk menguat.

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/3), kontrak CPO pengiriman bulan Juni di Malaysia Derivatives Exchange berada di level RM 2.169 per metrik ton. Harga tergelincir 1,04% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga CPO tergerus 0,41%.

Sentimen negatif masih bertahan mengikuti pergerakan CPO. Penurunan harga minyak turut menyeret pelemahan CPO. Di sisi lain, pemerintah Malaysia berencana menaikkan pajak ekspor (bea keluar) pada bulan April sebesar 4,5%. Kondisi ini kian membebani harga CPO.

“Kejatuhan CPO mengikuti harga minyak mentah dan murahnya harga kedelai. Pedagang sedang menunggu harga di tingkat bawah untuk melakukan permintaan,” kata Vijay Mehta, Direktur Commodity Links yang dihubungi Bloomberg via telepon.
Untuk diketahui, kontrak kedelai bulan Mei turun 0,2% menjadi US$ 9,72 per bushel.

Ariana Nur Akbar, Educator & Market Analyst, Education Division PT Monex Investindo Futures mengatakan, harga CPO masih kesulitan bangkit dalam jangka panjang. Sebab, masih rapuhnya permintaan dari importir terbesar seperti China dan India. Sekedar mengingatkan, data HSBC manufaktur PMI China bulan Maret hanya mencetak angka 49,2. Angka ini lebih rendah dari estimasi 50,5. Aktivitas manufaktur di bawah level 50 menunjukkan ekonomi China dalam keadaan kontraksi. Kondisi ini dikhawatirkan ikut menggerus permintaan dari China.

“Meski pajak ekspor CPO sempat dipangkas mendekati nol persen, nyatanya harga CPO tak kunjung terangkat. Ini lantaran permintaan dari China dan India sedang lesu,” ujar Ariana.

Di sisi lain, harga CPO terbentur oleh komoditas substitusinya yaitu minyak kedelai. Saat ini, produktivitas minyak kedelai sedang mencapai puncaknya. Kondisi ini mengakibatkan harga minyak kedelai relatif lebih murah dibanding CPO. Inilah yang menyebabkan investor beralih ke minyak kedelai.

Ariana menduga CPO dalam sepekan mendatang bergerak pada rentang harga RM 1.980-RM 2.450 per metrik ton.

Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak pada Kamis (Jumat pagi WIB), setelah jet-jet tempur Arab Saudi menyerang sasaran pemberontak di Yaman, memicu kekhawatiran meningkatnya krisis di negara itu bisa mengancam produsen minyak mentah di Timur Tengah.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, melonjak 2,22 dollar AS, atau 4,5 %, menjadi ditutup pada 51,43 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange, merupakan tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga minggu.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei, patokan global, melonjak 2,71 dollar AS menjadi menetap di 59,19 dollar AS per barel.

Kontrak mulai menguat pada Rabu menyusul berita bahwa Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi dilarikan ke "tempat yang aman" setelah sebuah pesawat tempur menyerang kompleks kepresidenan.

Yaman berbatasan langsung dengan produsen minyak utama Arab Saudi, yang pada Rabu meluncurkan serangan terhadap pemberontak Huthi dalam upaya membantu menyelamatkan pemimpin Yaman yang diperangi.

Yaman telah dicengkeram oleh kekacauan yang terus meningkat sejak pemberontak Syiah melancarkan perebutan kekuasaan di Sanaa pada Februari.

"Ketegangan geopolitik di Yaman mendorong harga minyak lebih tinggi," Daniel Ang, seorang analis investasi Phillip Futures, mengatakan kepada AFP.

"Yaman bukan produsen besar tetapi merupakan pusat perdagangan di wilayah tersebut, sehingga ketegangan di sana dapat menyebabkan gangguan dalam aktivitas perdagangan produk-produk energi," kata analis yang berbasis di Singapura itu.

Gejolak di Yaman telah dibayangi dampak kenaikan pasokan minyak mentah AS, yang meningkat 8,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Maret, menambah pasokan global yang berlimpah, kata para analis.

Harga minyak dunia telah jatuh sekitar 60 % dalam enam bulan hingga awal Februari, karena produksi AS yang kuat memperburuk produksi tinggi oleh kartel OPEC.

"Kelebihan pasokan di pasar minyak menjadi semakin tinggi dalam beberapa bulan terakhir, mengabaikan risiko geopolitik yang lebih besar," kata analis Csommerzbank dalam sebuah catatan untuk kliennya.

"Namun demikian, ini tiba-tiba datang kembali ke dalam fokus yang tajam, menyusul serangan udara militer yang dilakukan oleh 10 negara Teluk dipimpin Saudi terhadap pemberontak Huthi di Yaman."

Editor: Yudho Winarto
Sumber: AFP

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak memang sedang dalam tren naik lantaran dipicu sentimen memanasnya konflik Timur Tengah. Namun, membludaknya pasokan minyak bisa menahan laju penguatan harga.

Mengacu data Bloomberg, Kamis (26/3) pukul 17.30 WIB harga minyak West Texas intermediate (WTI), pengiriman Mei 2015 di bursa New York naik 3,98% menjadi US$ 51,17 per barel. Dalam sepekan harga melesat 12,39%

Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat kemarin baru saja melaporkan data persedian minyak mingguan AS yang berakhir 20 maret. Secara mengejutkan persediaan minyak AS ternyata naik 8,2 juta barel, melesat dari perkiraan sekitar 5 juta barel.

Nizar Hilmy, Analis PT Soe Gee Futures menilai data tersebut merupakan bukti bahwa pasar tengah mengalami kelebihan pasokan. “Kenaikan harga akan dihantui masalah kelebihan pasokan,” kata Nizar

Nizar memprediksi kalaupun konflik timur tengah akan berkepanjangan dan meluas peluang harga minyak untuk terkoreksi tetap terbuka. “Pasar nanti akan menilai apakah harga yang terus naik masih cocok dengan kondisi yang kelebihan pasokan,” kata dia.

Faisyal, Analis PT Monex Investindo Futures menambahkan adapun laju kenaikan harga minyak terbatas atau hanya selama konflik timur tengah tengah memanas saja. “Ketika konflik ini berakhir perhatian pasar akan kembali pada masalah supply and demand yang mengindikasikan penurunan harga,” kata dia.

Secara teknikal Faisyal memaparkan, harga berada di antara moving average (MA) 50 dan MA 100. Stochastic di area 90 menunjukkan overbought. Relative strength index (RSI) 78. Sementara moving average convergence divergence (MACD) minus 0,0441.

Soal harga Faisyal memprediksi harga minyak hari ini akan bergerak di support US$ 49,90 – US$ 48,40 per barel, resistance US$ 53,10 – US$ 54,90 per barel. Untuk sepekan harga ada kisaran US$ 48,00 – US$ 54,00 per barel.

Sedangkan Nizar memprediksi harga minyak hari ini akan bergerak di kisaran US$ 50,00 – US$ 53,00 per barel. Untuk sepekan harga ada kisaran US$ 49,00 – US$ 54,00 per barel.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Sentimen negatif tampaknya enggan menjauh dari batubara. Komoditas energi yang satu ini masih berpotensi tertekan lebih dalam.

Mengutip Bloomberg, Selasa (24/3), kontrak pengiriman batubara bulan April di ICE Futures Europe berada di level US$ 55,80 per metrik ton. Harga turun 0,17% dibanding hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga batubara telah tergerus 5,2%.

Guntur Tri Hariyanto, analis PT Pefindo menjelaskan, harga batubara masih bertahan di level rendah. Pasalnya, pengguna terbesar batubara, yakni China berkomitmen mengurangi pemesanan. Perkembangan terakhir dari China menyebutkan bahwa otoritas berencana untuk terus menutup pembangkit listrik batubara. Aksi penutupan ini dimaksudkan untuk mengurangi polusi. Selanjutnya, pembangkit yang ditutup akan digantikan oleh pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan.

“Penggunaan batubara di China terus menurun. Sementara cadangan yang juga berasal dari China masih menunjukkan tren peningkatan. Inilah yang menyebabkan harga sulit bangkit,” terang Guntur.

Guntur bilang, saat ini pemerintah China menggalakan penggunaan sumber alternatif energi seperti tenaga matahari dan angin. China juga akan memulai kembali program pembangkit listrik nuklir. Target yang ingin dicapai adalah porsi energi non fosil hingga mencapai 15% pada tahun 2020. Bahkan target jangka panjang sebesar 20% pada tahun 2030.

Penurunan permintaan di China secara lebih nyata dapat dilihat pada kasus yang dialami China Shenhua Energy Company (CSEC). Perusahaan ini menguasai sekitar 16% pangsa pasar batubara di China. CSEC mengalami penurunan penjualan sebesar 10% sepanjang tahun 2014. Adapun penurunan penjualan pada tahun ini diproyeksikan sebesar 10%. CSEC juga telah menghentikan aktivitas impor batubara dalam dua bulan pertama di tahun ini.

Selain faktor China, faktor penghadang laju batubara juga datang dari India. Beberapa waktu lalu, India menunjukkan gelagat permintaan yang cukup positif. Dan memang telah terjadi kenaikan impor 19% untuk tahun fiskal 2014/2015 hingga mencapai 200 juta ton. Namun, pemerintah India belakangan juga mentargetkan untuk tidak mengimpor batubara termal lagi dalam waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Impor tahun fiskal ini diperkirakan akan turun hanya menjadi 160 juta ton. Sebab, pasokan dari Coal India, BUMN produsen batubara, akan mengalami peningkatan sebesar 50 juta ton.

 

Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com,  JAKARTA — Menjelang penutupan perdagangan Senin (16/3/2015), rupiah masih melemah di atas Rp13.200 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah melemah 0,28% ke Rp13.242 per dolar AS pada pukul 14.28 WIB.

Pada awal perdagangan, kurs rupiah dibuka melemah 0,19% ke level Rp13.230 per dolar AS, dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya Rp13.205 per dolar AS.

Namun, selanjutnya rupiah melemah 0,28% ke Rp13.242 per dolar AS pada pukul 09.50 WIB. Adapun pada pukul 11.10 WIB, rupiah melemah 0,285 ke Rp13.242 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sore ini terjadi saat dolar AS ditransaksikan cenderung menguat terhadap sebagian besar mata uang di Asia.

Dari 11 mata uang Asia, enam mata uang melemah, empat menguat, dan satu mata uang stagnan sore ini.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia Senin, 16 Maret 2015

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB

Yen

121,2400

-0,13%

14:28:04

$Hong Kong

7,7655

0,00%

14:29:07

$Singapura

1,3896

-0,22%

14:29:12

$Taiwan

31,6560

+0,11%

14:29:18

Won

1.131,68

+0,26%

12:59:59

Peso

44,4250

+0,30%

14:25:09

Rupiah

13.242

+0,28%

14:28:13

Rupee

62,8225

-0,23%

14:28:28

Yuan

6,2619

+0,05%

14:28:31

Ringgit

3,7025

+0,46%

14:28:48

Baht

32,9050

-0,06%

14:28:22

Sumber: Bloomberg.


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita