Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



NEW YORK. Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, harus memperhatikan pelemahan data ekonomi AS belakangan ini untuk menimbang kenaikan suku bunga. Presiden The Fed New York, William Dudley mengatakan, data tenaga kerja bulan Maret yang melemah hanya sementara. "Tapi bank sentral harus menentukan apakah pelemahan ini merupakan tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja yang lebih substansial," kata Dudley.

Dudley yang merupakan anggota permanen Federal Open Market Committee (FOMC) dan anggota-anggota lain terus menekankan bahwa kenaikan suku bunga acuan AS akan menunggu perbaikan sektor tenaga kerja dan inflasi pada target 2%. "Waktu normalisasi akan tergantung data dan masih belum tentu karena ekonomi tidak bisa diantisipasi penuh," kata dia.

Dudley memperkirakan, pertumbuhan ekonomi AS yang hanya 1% pada kuartal I 2015, akan naik menjadi lebih dari 2% di tahun ini. Dia memprediksi, tingkat pengangguran bisa turun dari 5,5% menjadi 5% pada akhir 2015.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Pengusaha perkebunan kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) akhirnya sepakat: kebijakan pungutan atas ekspor CPO sebesar US$ 50 per ton dan produk turunannya sebesar US$ 30 per ton dapat memberikan efek positif bagi kelangsungan industri sawit nasional serta kembali mengerek harga CPO global.

Gandhi Sulistyanto, Managing Director PT Sinar Mas Group mengatakan, pengembangan biodiesel dalam negeri bakal mempengaruhi supply dan demand produk CPO di dalam dan luar negeri. Bila produk CPO ini mampu diserap dalam negeri, otomatis ekspor CPO berkurang dan akan mendongkrak harga CPO di pasar internasional.

Kondisi itu tentu saja berpotensi mengerek harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Untuk itu, pengusaha sawit menginginkan kebijakan biodiesel segera berjalan. "Makin cepat implementasinya, makin cepat harga CPO naik. Produk CPO cepat terserap," ujarnya, Senin (6/4).

Gandhi memperkirakan, dalam jangka pendek, program biodisel bisa menyerap 2,5 juta produk CPO domestik dan dalam jangka panjang diharapkan mencapai 5 juta ton per tahun.

Martias, Presiden Direktur Surya Dumai Grup (SDG) menambahkan kebijakan mandatori biodiesel sebesar15% atau B-15 akan membuat pasokan CPO di pasar internasional berkurang, otomatis harga CPO dunia bakal naik.

Baik Sinar Mas maupun Surya Dumai mengaku siap membayar pungutan US$ 50 per ton ke kas negara dari tiap ton CPO yang mereka ekspor untuk  CPO Supporting Fund (CSF).

Efek positif kebijakan ini juga bakal dinikmati petani. Asmar Arsjad, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mengatakan pengembangan industri biodiesel cukup mendesak guna meningkatkan harga jual TBS petani sawit.

Ekspor 20 juta ton

Meski pengembangan industri biodiesel akan menyerap CPO dalam jumlah besar, Rachmat Gobel, Menteri Perdagangan memastikan kebijakan mandatori biodiesel tidak akan menganggu kebutuhan kelapa sawit untuk komoditas pangan seperti minyak goreng dan margarin. Pasalnya, produk CPO yang digunakan untuk biodiesel berasal dari kelebihan ekspor produk CPO.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina menambahkan, produksi minyak goreng saat ini masih surplus. Alhasil, dengan kebutuhan saat ini, pasokan  lebih dari cukup sehingga harganya tidak akan naik. "Kita surplus cukup besar, harga akan naik bila pasokan kurang," ujar Srie, Senin (6/4).

Tahun ini, Srie menjelaskan, pemerintah memperkirakan total produksi minyak goreng sebesar 21,9 juta ton dengan kebutuhan dalam negeri sebanyak 5,2 juta ton. Produksinya dari minyak sawit dan kopra.

Kementerian Perdagangan (Kemdag) juga memproyeksikan, tahun ini, produksi CPO lebih dari 30 juta ton. Dari produksi ini, sebanyak 5 juta ton di antaranya untuk industri biodiesel, 5 juta ton untuk kebutuhan non biodiesel domestik, seperti minyak goreng dan sejenisnya. "Sementara 20 juta ton lainnya untuk diekspor," beber Rachmat.

Produksi ini berkembang lebih cepat dibandingkan permintaan internasional. Dengan adanya pungutan atau CSF ini, pemerintah berharap dapat mengurangi impor  bahan bakar minyak atau BBM, serta membuat nilai tukar rupiah makin stabil, dan devisa bertambah.

Rahmat juga berharap, pengembangan industri biodiesel dalam negeri juga akan mengurangi volume ekspor minyak sawit di pasar internasional. Dengan begitu, harga CPO yang tengah lesu berpotensi ikut terdongkrak.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Mega proyek jalan tol Trans Sumatra dimulai. Jika tak ada aral melintang, proyek yang diperkirakan menelan dana investasi sebesar Rp 360 triliun ini akan mulai dibentangkan 25 April 2015.

Tahap awal, proyek jalan bebas hambatan sepanjang 2.818 kilometer (km) ini akan  dimulai untuk ruas jalan tol Bakauheni-Terbanggi sepanjang 150 km.  Hutama Karya menjadi perusahaan milik negara pertama yang mendapat kesempatan menggarap jalan ini karena telah mengantongi surat penetapan persetujuan lokasi pembangunan.

Agar proyek berjalan mulus,  pemerintah akan menyelesaikan proyek jalan tol ini hingga ke Palembang. Karena itu,  pemerintah akan bergegas merevisi Peraturan Presiden (Perpres) No 100 /2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan,  dalam revisi aturan itu, pemerintah akan memperluas penugasan pembangunan jalan tol Trans Sumatra.  Tak cuma ke Hutama Karya, proyek jalan  tol ini akan diserahkan ke konsorsium BUMN yang terdiri PT Hutama Karya, PT Jasa Marga, PT Wijaya Karya dan PT Waskita Karya.

"Perusahaan konsorsium sudah terbentuk, teknis pengusahaannya akan diatur Menteri BUMN," tandas Basuki, Kamis (2/4).  Hanya, pemerintah belum merinci pekerjaan, termasuk pembagian proyek jalan tol antar BUMN itu.

Tapi,  I Gusti Ngurah Putra, Direktur Utama Hutama Karya yakin akan mendapatkan penugasan lebih banyak dari Perpres lama.  Di aturan lama,  Hutama Karya mendapat mandat membangun empat ruas jalan tol.  Yakni Medan-Binjai; Pekanbaru-Dumai; Palembang-Indralaya, Bakauheuni- Terbanggi Besar.

Sayang, ia belum mau menyebutkan proyek yang akan  Hutama Karya pegang sesuai aturan baru.

Direktur Utama PT Waskita Karya Toll Road juga belum bisa banyak bercerita atas proyek ini.  Hanya saja, Waskita siap mendapat mandat dari induk usaha, Waskita Karya untuk ikut menggarap proyek ini, baik  sebagai kontraktor maupun operator. "Tapi kami menunggu Perpres," kata Dono Prawiro kepada KONTAN pekan lalu.

Setali tiga uang, menurut David Wijayatno, Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga, perusahaan pengelola jalan tol terpanjang di Indonesia memilih menunggu revisi Perpres agar jelas porsi proyek yang digarap Jasa Marga.

Adapun PT Wijaya Karya (Wika) mengaku hanya mengincar porsi minoritas dalam kongsi proyek jalan tol Trans Sumatera ini, yakni maksimal 20% atas total  pembangunan proyek jalan tol bebas hambatan di wilayah Sumatra ini.  Pasalnya, "Kami saat ini fokus menggarap proyek pembangkit listrik, bukan jalan tol, " ujar Suradi, Sekretaris Perusahaan Wika.

Editor: Uji Agung Santosa


Narasumber: kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Jatuhnya harga minyak mentah memukul kinerja PT Medco Energi International Tbk (MEDC). Imbas penurunan harga minyak sudah dirasakan produsen minyak dan gas ini sejak tahun lalu. Sepanjang 2014, laba bersihnya turun 14,15% menjadi US$ 13,71 juta.

Penurunan laba sejalan penurunan pendapatan sebesar 15,31% menjadi US$ 750,73 juta pada 2014. Padahal, tahun 2013, MEDC meraih pendapatan US$ 886,53 juta.

Analis Ciptadana Sekuritas,  Hasan mengatakan, penurunan harga minyak dunia melemahkan kinerja MEDC. Diperparah pula dengan penurunan jumlah minyak dan gas siap jual (lifting), serta kontrak perusahaan.  Lifting surut akibat volume produksi migas mulai menurun. Maklum, aset milik perusahaan saat ini sudah berusia cukup tua. "Misalnya, di tambang minyak yang  tua, produksinya tidak bisa sesignifikan dulu," jelasnya.

Beruntung, porsi penjualan minyak dan gas MEDC seimbang alias 50:50. Jadi, kata Hasan, penurunan harga minyak bakal diminimalisir dengan penjualan gas. Apalagi, saat ini harga gas terus naik.

Meski demikian, Vice President Investment Quant Kapital Investama, Hans Kwee memperkirakan, kinerja Medco tahun ini masih rawan tekanan. Ia menduga, koreksi harga minyak mentah masih berlanjut hingga akhir 2015. Walaupun ada potensi naik, hanya terbatas. Peluang kenaikan harga berasal dari China. Pengucuran stimulus di sana berpeluang mengerek permintaan dari pengguna minyak kedua terbesar di dunia itu.

Hans dan Hasan menebak, minyak bisa menyentuh angka US$ 70 per barel di akhir tahun 2015.

Tertopang gas

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bisa menjadi salah satu penopang kinerja MEDC di tahun ini. Maklum, penjualan migas perusahaan menggunakan dollar AS. Meski demikian, hal itu belum mampu menutupi kerugian akibat koreksi harga minyak. Hans menghitung, penurunan harga minyak sejak awal tahun ini 13,7%, lebih besar ketimbang pelemahan rupiah sekitar 5,15%.

Koreksi harga minyak juga berimbas pada penurunan anggaran belanja modal MEDC. Tahun ini, perusahaan menyiapkan belanja sekitar US$ 229 juta, jauh di bawah target, yaitu US$ 572 juta. Dengan dana terbatas, MEDC akan cenderung mengurangi risiko. "Alokasi dana akan diutamakan untuk eksplorasi pada aset-aset yang sudah berproduksi ketimbang eksplorasi di tambang baru," papar Hasan.

Namun, secara umum, prospek MEDC masih  cukup positif. Proyek hulu Senoro sudah mulai berkontribusi pada tahun ini. Hasan menduga, tahun ini, pendapatan dari sektor gas bisa meningkat sebesar 20%.

Dus, total produksi migas perusahaan akan meningkat hingga 16% di tahun ini, dan 17% pada 2016. Dengan begitu, Hasan memprediksi, pendapatan MEDC tahun ini bisa naik menjadi US$ 752 juta, diikuti dengan kenaikan laba bersih menjadi Rp 26 juta.

Hasan merekomendasikan beli MEDC dengan target Rp 3.500 . Meski memasang target harga sama, Hans menyarankan hold sebab harga minyak masih belum pulih tahun ini. Adapun, Analis Credit Suisse Ami Tantri melabelkan outperform saham MEDC di harga Rp 4.400 per saham.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Kurs dollar AS menguat ke tingkat tertinggi dalam 10 hari terhadap euro pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena Bank Sentral Eropa (ECB) mencoba meningkatkan perekonomian dengan program pembelian obligasi.

Sementara itu, Federal Reserve bergerak lebih dekat untuk menaikkan suku bunga utamanya.

Euro telah turun 11 % terhadap greenback selama kuartal pertama 2015, kerugian kuartalan terburuk dalam 15 tahun terakhir.

Mata uang bersama berada di bawah tekanan di tengah program pelonggaran kuantitatif ECB 1,1 triliun euro yang dimulai pada Maret dan meningkatnya kekhawatiran tentang masalah utang Yunani.

Sementara itu, indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik sembilan % sejak Januari, kenaikan kuartalan terkuat dalam hampir tujuh tahun terakhir, didorong oleh ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya pada tahun ini.

Dollar AS diperdagangkan bervariasi terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa karena data ekonomi yang keluar dari negara itu secara keseluruhan positif.

Indeks Keyakinan Konsumen AS naik dari angka Februari 98,8 menjadi 101,3 pada Maret, jauh di atas konsensus pasar 95,5, kata Conference Board, Selasa.

Indeks Harga Rumah S&P/Case, ukuran utama harga rumah AS, menunjukkan bahwa Komposit 10-Kota naik 4,4 % tahun ke tahun pada Januari, menguat dari kenaikan 4,3 % pada Desember, dan Komposit 20-Kota bertambah 4,6 % tahun-ke tahun, dibandingkan dengan kenaikan 4,4 % pada Desember.

Barometer Bisnis Chicago dari Institute for Supply Management (ISM) naik tipis pada Maret, setelah penurunan tajam pada bulan sebelumnya, namun masih di bawah garis 50, menandai kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut. Angka tersebut mencapai 46,3 pada bulan ini, sedikit di atas Februari di 45,8.

Pada akhir perdagangan di New York, euro turun menjadi 1,0742 dollar dari 1,0823 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4845 dollar dari 1,4815 dollar. Dollar Australia turun ke 0,7612 dollar dari 0,7652 dollar.

Dollar dibeli 119,95 yen Jepang, lebih rendah dari 120,16 yen sesi sebelumnya. Dollar naik tipis menjadi 0,9723 franc Swiss dari 0,9676 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2658 dollar Kanada dari 1,2684 dollar Kanada.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: AFP

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita