- Kategori: Berita
- Dibuat pada Rabu, 25 Maret 2015 15:00
- Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41
- Ditulis oleh Administrator
- Dilihat: 1894
JAKARTA. Sentimen negatif tampaknya enggan menjauh dari batubara. Komoditas energi yang satu ini masih berpotensi tertekan lebih dalam.
Mengutip Bloomberg, Selasa (24/3), kontrak pengiriman batubara bulan April di ICE Futures Europe berada di level US$ 55,80 per metrik ton. Harga turun 0,17% dibanding hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga batubara telah tergerus 5,2%.
Guntur Tri Hariyanto, analis PT Pefindo menjelaskan, harga batubara masih bertahan di level rendah. Pasalnya, pengguna terbesar batubara, yakni China berkomitmen mengurangi pemesanan. Perkembangan terakhir dari China menyebutkan bahwa otoritas berencana untuk terus menutup pembangkit listrik batubara. Aksi penutupan ini dimaksudkan untuk mengurangi polusi. Selanjutnya, pembangkit yang ditutup akan digantikan oleh pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan.
“Penggunaan batubara di China terus menurun. Sementara cadangan yang juga berasal dari China masih menunjukkan tren peningkatan. Inilah yang menyebabkan harga sulit bangkit,†terang Guntur.
Guntur bilang, saat ini pemerintah China menggalakan penggunaan sumber alternatif energi seperti tenaga matahari dan angin. China juga akan memulai kembali program pembangkit listrik nuklir. Target yang ingin dicapai adalah porsi energi non fosil hingga mencapai 15% pada tahun 2020. Bahkan target jangka panjang sebesar 20% pada tahun 2030.
Penurunan permintaan di China secara lebih nyata dapat dilihat pada kasus yang dialami China Shenhua Energy Company (CSEC). Perusahaan ini menguasai sekitar 16% pangsa pasar batubara di China. CSEC mengalami penurunan penjualan sebesar 10% sepanjang tahun 2014. Adapun penurunan penjualan pada tahun ini diproyeksikan sebesar 10%. CSEC juga telah menghentikan aktivitas impor batubara dalam dua bulan pertama di tahun ini.
Selain faktor China, faktor penghadang laju batubara juga datang dari India. Beberapa waktu lalu, India menunjukkan gelagat permintaan yang cukup positif. Dan memang telah terjadi kenaikan impor 19% untuk tahun fiskal 2014/2015 hingga mencapai 200 juta ton. Namun, pemerintah India belakangan juga mentargetkan untuk tidak mengimpor batubara termal lagi dalam waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Impor tahun fiskal ini diperkirakan akan turun hanya menjadi 160 juta ton. Sebab, pasokan dari Coal India, BUMN produsen batubara, akan mengalami peningkatan sebesar 50 juta ton.
Narasumber : kontan.co.id
















