- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2160
JAKARTA. Rebound harga tembaga diperkirakan hanya terjadi sementara. Dorongan kenaikan tipis ini karena pasar mengantisipasi rilis data ekonomi China pada Rabu (1/4) mendatang.
Mengutip Bloomberg, Senin (30/3) pukul 03:01 pm Hong Kong mencatat harga tembaga merangkak naik 0,64% ke level US$ 6.094 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Begitu pun dalam sepekan terakhir harga tembaga masih melorot 0,42%.
Ibrahim, Direktur dan Analis PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka memaparkan bahwa kenaikan sementara ini hanya karena pasar sedang melakukan aksi wait and see. Perilaku pasar yang wait and see memberi peluang bagi harga tembaga untuk naik tipis.
Salah satunya menanti rilis data manufaktur China yang nantinya akan menjadi sinyal kondisi perekonomian China ke depannya. “Dilihat dari prediksi data yang akan rilis, China masih akan mengalami perlambatan ekonomi dan belum keluar dari masa krisisnya,†kata Ibrahim.
Hal ini karena menurut dugaan pasar, data PMI Manufaktur China Maret 2015 mengalami penurunan menjadi 49,7 dari bulan Februari 2015 yakni 49,9.
Tapi HSBC Final Manufaktur PMI China Maret 2015 diprediksi naik tipis menjadi 49,3 dari sebelumnya hanya 49,2. Menurut Ibrahim, kenaikan tipis ini belum melegakan. Penyebabnya adalah angka manufaktur yang masih berada di bawah level 50 memperlihatkan bahwa perekonomian China masih belum ekspansi.
Ini jelas tidak bagus bagi harga komoditas terutama tembaga. “Akibatnya kenaikan ini hanya sementara. Pada Selasa (31/3) harga tembaga akan kembali tersungkur,†duga Ibrahim.
Pasalnya secara fundamental kondisi di pasar belum berubah. Perlambatan ekonomi di banyak negara konsumen logam masih terjadi sehingga permintaan tembaga masih lesu.
Salah satu penekan utama harga tembaga adalah data industrial profit China yang telah turun 4,2% sepanjang Januari – Februari 2015 dibanding tahun sebelumnya. Dengan buruknya data ekonomi China ini, terlihat bahwa permintaan China sebagai salah satu konsumen terbesar logam global masih lesu.
Belum lagi aturan baru yang diterapkan oleh Menteri Tanah dan Sumber Daya China yang telah memerintahkan beberapa kota dan kabupaten untuk menunda dan mengurangi pasokan lahan baru.
Berdasarkan publikasi kementerian China seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (27/3) bahwa kebijakan ini dilakukan guna mengontrol fase konstruksi pembangunan rumah baru yang sudah kelebihan stok di China.
Persoalan penurunan permintaan tembaga ini tidak hanya berasal dari China tapi juga dari Amerika Serikat. “Keadaan ini terlihat dari buruknya rilis data Durable Goods Orders AS,†tambah Ibrahim.
Data Durable Goods Orders AS Februari 2015 tercatat menurun tajam hanya minus 0,4%. Padahal diprediksi bisa menyentuh 0,3% atau seharusnya naik dari Januari 2015 yakni 0,0%.
Di saat permintaan belum membaik, kembali beroperasinya pertambangan di Chile yang sempat terhenti karena cuaca beberapa waktu lalu. “Dengan beroperasinya tambang di Chile maka stok tembaga akan kembali melesat, sementara stok yang ada juga masih berlimpah,†jelas Ibrahim.
Perusahaan tambang pemerintah Chile, Codelco, kembali mengoperasikan empat pertambangannya di Gurun Atacama pada Kamis (26/3) lalu. Padahal pemberhentian aktivitas pertambangan pada hari sebelumnya telah mampu mengurangi pasokan produksi sekitar 1,6 juta metrik ton di Chile dan Peru.
“Penurunan harga tembaga ini bahkan bisa terjadi dalam jangka waktu mingguan,†prediksi Ibrahim.
Ini jika melihat pada keadaan bahwa grafik teknikal juga menunjukkan belum ada perubahan tren. Harga tembaga masih bergelut dalam tren bearish.
Secara teknikal, saat ini indikator moving average (MA) dan bollinger band berada di level 20% di atas bollinger bawah yang artinya penurunan lebih lanjut masih akan terjadi. Stochastic juga di level 70% negatif yang mengarah ke bawah. Hanya indikator relative strength index (RSI) 60% positif yang mengarah naik.
Garis moving average convergence divergence (MACD) masih memperlihatkan pergerakan wait and see. “Harga Selasa (31/3) bisa bergerak di kisaran US$ 5.910 – US$ 6.100 per metrik ton,†papar Ibrahim.
Untuk sepekan mendatang harga bisa berada di antara support US$ 5.700 dan resistance US$ 6.120 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2225
TEMPO.CO, Padang - Pemerintah mulai membangun jalan ton Trans Sumatera di kawasan Selatan pada akhir April 2015 ini. Ruas tol yang akan dibangun Bakauheni - Terbanggi Besar - Kayu Agung Palembang.
"Groundbreakingnya (peletakan batu pertama) oleh Presiden Joko Widodo akhir April," ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadmuljono saat meninjau irigasi di kawasan Gunung Nago Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, Ahad 29 Maret 2015.
Menurut Basuki, ruas Bakauheni-Terbanggi Besar-Kayu Agung Palembang itu memiliki panjang sekitar 158 kilometer. Pembangunan diperkirakan rampung tiga tiga hingga lima tahun mendatang.
Basuki mengklaim, tidak ada kendala dalam pembebasan lahan. Pemerintah telah menyediakan anggaran untuk pembebasan lahan dalam APBN 2015. "Dalam DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran), ada sekitar Rp 6 triliun untuk pembebasan lahan," ujarnya.
Pembangunan jalan tol Trans Sumatera juga sudah dimulai dengan ruas Medan-Binjai dan Pekanbaru-Kandis. Ruas sepanjang 20 kilometer itu ditargetkan selesai pada tahun 2017.
ANDRI EL FARUQI
Narasumber : tempo.co
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1940
WASHINGTON. Penguatan nilai tukar tak selamanya berdampak positif. Hal ini tampak pada industri baja Amerika Serikat (AS). Tingginya nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lain malah menyebabkan biaya produksi baja lebih besar ketimbang baja produksi negara lain. Alhasil, para pembeli baja lebih memilih baja bikinan luar AS.
Pengalihan bahan baku ini menyebabkan produsen baja AS kehilangan pasar. Menurut data American Iron and Steel Institute, impor baja yang dipakai di AS melonjak 33% pada dua bulan pertama tahun ini. Padahal, dua bulan pertama tahun lalu pertumbuhan impor baja masih 28%. Di sisi lain, kapasitas terpakai pengolahan baja di AS merosot ke 69%. Ini adalah level terendah sejak 2009.
"Impor telah mengambil alih pertumbuhan industri dalam negeri," kata Curt Woodworth, Analis Nomura Holdings New York kepada Bloomberg. Kapasitas terpakai pabrik baja masih berada di level 80% pada Agustus 2014. Penurunan kapasitas terpakai menjadi 69% merupakan sinyal paling kuat terhadap dampak kenaikan impor.
"Industri baja dan para pekerja tertekan impor yang mencapai rekor secara historis," kata Tom Gibson, Presiden dan CEO American Iron and Steel Institute.
Para produsen baja, seperti Nucor Corp yang merupakan produsen terbesar di AS, AK Steel Holding dan Steel Dynamics Inc, merilis pemberitahuan bahwa laba mereka bakal menurun. Pada medio Maret lalu, Nucor bilang laba kuartal I-2015 akan turun 71% dibandingkan prediksi awal.
"Penurunan disebabkan tingginya level impor di pasar domestik," kata manajemen Nucor. Sedangkan US Steel Corp mengatakan bahwa perusahaan baja ini akan menghentikan sementara operasional pabrik di Illinois lantaran impor dan perbedaan harga yang sangat jauh.
"Kondisi pasar global yang menantang makin mempengaruhi perusahaan kami," kata Courtney Boone, Jurubicara US Steel. Untuk membahas masalah tersebut, para eksekutif produsen baja akan bertemu dengan parlemen AS, Kamis depan (2/4). Agendanya adalah mendesak parlemen menurunkan batasan impor pada rapat dengar pendapat Congressional Steel Caucus.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2215
BEKASI. Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan, sejumlah perusahaan Jepang berencana untuk mengalihkan investasi mereka ke Indonesia. Menurut Saleh, peusahaan-perusahan tersebut menilai Indonesia masih memiliki potensi untuk berkembang lebih tinggi ketimbang negara-negara tujuan investasi lain di Asia.
"Intinya mereka mengatakan bahwa investasi mereka saat ini yang kebanyakan di Tiongkok, Vietnam, dan sejumlah negara lain itu, menurut mereka saat ini kurang begitu bagus lagi. Yang nantinya rencana mereka dialihkan dengan tujuan utama salah satunya Indonesia," ujarnya di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (28/3).
Saleh menyebutkan, salah satu sektor industri yang akan didorong untuk segera menanamkan modal di Indonesia adalah industri maritim. "Dari Jepang kan banyak investasi, terutama di bidang manufaktur, selain itu tentu dalam bidang lain dalam hal ini industri maritim," katanya.
Oleh karena itu, Kementerian Perinistrian menekankan Indonesia harus menyambut keinginan sejumlah investor Jepang tersebut dengan menyiapkan berbagai fasilitas dan kemudahan demi memberi kenyamanan dalam berinvestasi.
Hal itu sejalan dengan upaya pencapaian target pertumbuhan industri di Indonesia sepanjang 2014 yang dipatok pada angka 6,3% hingga 6,8%.
"Kami ingin memberikan layanan yang baik sebagai rangsangan agar orang tertarik berinvestasi," demikian Saleh Husin. (Erlangga Djumena)
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2124
JAKARTA. Imbas dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak hanya akan dirasakan oleh para pengguna jasa transpotasi penumpang. Namun, bagi pengusaha disektor logistik juga akan terkena dampaknya.
Ketua Departemen Moda Angkutan Barang DPP Organda Andre Silalahi menambahkan, dengan kenaikan harga BBM yang telah ditetapkan pemerintah ini maka potensi penyesuaian tarif biaya angkut logistik juga bakal terjadi. "Yang jelas secara operasional berpengaruh. Itu pasti dilapangan biaya operasional bertambah," kata Andre, Minggu (29/3).
Meski demikian, berbeda dengan penyesuian tarif yang dilakukan oleh pengusaha jasa transportasi penumpang, perubahan tarif untuk jasa transportasi barang dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan pengguna.
Meski sulit untuk dapat merinci kenaikan tarif yang akan diberlakukan oleh penyedia jasa transportasi logistik tersebut. Namun, Andre memproyeksi kenaikan tarif tersebut tidak akan mencapai lebih dari 5% dari biaya saat ini.
Mengingatkan saja, pada akhir pekan lalu Pemerintah secara resmi memutuskan kenaikkan harga solar menjadi Rp 6.900 per liter dari Rp 6.400 per liter. Sementara itu, harga premium RON 88 naik menjadi Rp 7.300 per liter dari harga Rp 6.800 per liter. Kebijakan tersebut berlaku mulai hari Sabtu (28/3) kemarin.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita