Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Harga minyak memang sedang dalam tren naik lantaran dipicu sentimen memanasnya konflik Timur Tengah. Namun, membludaknya pasokan minyak bisa menahan laju penguatan harga.

Mengacu data Bloomberg, Kamis (26/3) pukul 17.30 WIB harga minyak West Texas intermediate (WTI), pengiriman Mei 2015 di bursa New York naik 3,98% menjadi US$ 51,17 per barel. Dalam sepekan harga melesat 12,39%

Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat kemarin baru saja melaporkan data persedian minyak mingguan AS yang berakhir 20 maret. Secara mengejutkan persediaan minyak AS ternyata naik 8,2 juta barel, melesat dari perkiraan sekitar 5 juta barel.

Nizar Hilmy, Analis PT Soe Gee Futures menilai data tersebut merupakan bukti bahwa pasar tengah mengalami kelebihan pasokan. “Kenaikan harga akan dihantui masalah kelebihan pasokan,” kata Nizar

Nizar memprediksi kalaupun konflik timur tengah akan berkepanjangan dan meluas peluang harga minyak untuk terkoreksi tetap terbuka. “Pasar nanti akan menilai apakah harga yang terus naik masih cocok dengan kondisi yang kelebihan pasokan,” kata dia.

Faisyal, Analis PT Monex Investindo Futures menambahkan adapun laju kenaikan harga minyak terbatas atau hanya selama konflik timur tengah tengah memanas saja. “Ketika konflik ini berakhir perhatian pasar akan kembali pada masalah supply and demand yang mengindikasikan penurunan harga,” kata dia.

Secara teknikal Faisyal memaparkan, harga berada di antara moving average (MA) 50 dan MA 100. Stochastic di area 90 menunjukkan overbought. Relative strength index (RSI) 78. Sementara moving average convergence divergence (MACD) minus 0,0441.

Soal harga Faisyal memprediksi harga minyak hari ini akan bergerak di support US$ 49,90 – US$ 48,40 per barel, resistance US$ 53,10 – US$ 54,90 per barel. Untuk sepekan harga ada kisaran US$ 48,00 – US$ 54,00 per barel.

Sedangkan Nizar memprediksi harga minyak hari ini akan bergerak di kisaran US$ 50,00 – US$ 53,00 per barel. Untuk sepekan harga ada kisaran US$ 49,00 – US$ 54,00 per barel.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Sentimen negatif tampaknya enggan menjauh dari batubara. Komoditas energi yang satu ini masih berpotensi tertekan lebih dalam.

Mengutip Bloomberg, Selasa (24/3), kontrak pengiriman batubara bulan April di ICE Futures Europe berada di level US$ 55,80 per metrik ton. Harga turun 0,17% dibanding hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga batubara telah tergerus 5,2%.

Guntur Tri Hariyanto, analis PT Pefindo menjelaskan, harga batubara masih bertahan di level rendah. Pasalnya, pengguna terbesar batubara, yakni China berkomitmen mengurangi pemesanan. Perkembangan terakhir dari China menyebutkan bahwa otoritas berencana untuk terus menutup pembangkit listrik batubara. Aksi penutupan ini dimaksudkan untuk mengurangi polusi. Selanjutnya, pembangkit yang ditutup akan digantikan oleh pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan.

“Penggunaan batubara di China terus menurun. Sementara cadangan yang juga berasal dari China masih menunjukkan tren peningkatan. Inilah yang menyebabkan harga sulit bangkit,” terang Guntur.

Guntur bilang, saat ini pemerintah China menggalakan penggunaan sumber alternatif energi seperti tenaga matahari dan angin. China juga akan memulai kembali program pembangkit listrik nuklir. Target yang ingin dicapai adalah porsi energi non fosil hingga mencapai 15% pada tahun 2020. Bahkan target jangka panjang sebesar 20% pada tahun 2030.

Penurunan permintaan di China secara lebih nyata dapat dilihat pada kasus yang dialami China Shenhua Energy Company (CSEC). Perusahaan ini menguasai sekitar 16% pangsa pasar batubara di China. CSEC mengalami penurunan penjualan sebesar 10% sepanjang tahun 2014. Adapun penurunan penjualan pada tahun ini diproyeksikan sebesar 10%. CSEC juga telah menghentikan aktivitas impor batubara dalam dua bulan pertama di tahun ini.

Selain faktor China, faktor penghadang laju batubara juga datang dari India. Beberapa waktu lalu, India menunjukkan gelagat permintaan yang cukup positif. Dan memang telah terjadi kenaikan impor 19% untuk tahun fiskal 2014/2015 hingga mencapai 200 juta ton. Namun, pemerintah India belakangan juga mentargetkan untuk tidak mengimpor batubara termal lagi dalam waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Impor tahun fiskal ini diperkirakan akan turun hanya menjadi 160 juta ton. Sebab, pasokan dari Coal India, BUMN produsen batubara, akan mengalami peningkatan sebesar 50 juta ton.

 

Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com,  JAKARTA — Menjelang penutupan perdagangan Senin (16/3/2015), rupiah masih melemah di atas Rp13.200 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah melemah 0,28% ke Rp13.242 per dolar AS pada pukul 14.28 WIB.

Pada awal perdagangan, kurs rupiah dibuka melemah 0,19% ke level Rp13.230 per dolar AS, dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya Rp13.205 per dolar AS.

Namun, selanjutnya rupiah melemah 0,28% ke Rp13.242 per dolar AS pada pukul 09.50 WIB. Adapun pada pukul 11.10 WIB, rupiah melemah 0,285 ke Rp13.242 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sore ini terjadi saat dolar AS ditransaksikan cenderung menguat terhadap sebagian besar mata uang di Asia.

Dari 11 mata uang Asia, enam mata uang melemah, empat menguat, dan satu mata uang stagnan sore ini.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia Senin, 16 Maret 2015

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB

Yen

121,2400

-0,13%

14:28:04

$Hong Kong

7,7655

0,00%

14:29:07

$Singapura

1,3896

-0,22%

14:29:12

$Taiwan

31,6560

+0,11%

14:29:18

Won

1.131,68

+0,26%

12:59:59

Peso

44,4250

+0,30%

14:25:09

Rupiah

13.242

+0,28%

14:28:13

Rupee

62,8225

-0,23%

14:28:28

Yuan

6,2619

+0,05%

14:28:31

Ringgit

3,7025

+0,46%

14:28:48

Baht

32,9050

-0,06%

14:28:22

Sumber: Bloomberg.


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak mentah kembali jatuh ke level di bawah US$ 45 per barel. Harga karam, setelah produksi dan stok minyak Amerika Serikat (AS) melesat. Sedangkan dollar AS mencapai rekor tertinggi.

Mengutip data Bloomberg, Jumat (13/3), harga minyak kontrak pengiriman April 2015 di New York Mercantile Exchange di level US$ 44,85 per barel turun 4,7% dibandingkan hari sebelumnya. Ini merupakan level terendah, setidaknya sejak akhir Januari 2015. Sepekan terakhir, harga minyak anjlok 9,6%.

Penurunan harga minyak turut menekan indeks komoditas atau Bloomberg Commodity Index ke level terendah dalam 12 tahun. Per 6 Maret 2015, stok minyak mentah AS mencapai 448,9 juta barel.

Menurut catatan Energy Information Administration (EIA), ini merupakan cadangan tertinggi sejak Agustus 1982. Stok minyak di Cushing, Oklahoma juga naik 2,32 juta barel menjadi 51,5 juta pekan lalu atau level tertinggi sejak Januari 2013. Lalu, produksi minyak AS mencapai 9,37 juta barel per hari menjadi level tertinggi sejak 1983.

Sementara indeks dollar AS yang mencapai level tertinggi sejak tahun 2008, juga mengurangi daya tarik investasi komoditas. Tonny Mariano, analis PT Esandar Arthamas Berjangka, mengatakan, terjun bebasnya harga minyak akibat empat faktor utama.

Pertama, belum ada kesepakatan antara negara eksportir minyak untuk menetapkan kuota produksi. Kedua, persediaan minyak AS mencapai rekor. Ketiga, kegaduhan politik di Libia dan Timur Tengah tak mampu menopang harga minyak. Keempat, penguatan dollar AS. Indeks dollar AS pada Jumat (13/3) bertengger di level 100,32 atau naik 1,2% dalam sehari.

Masih bearish

Agus Chandra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menilai, harga minyak belum dapat keluar dari zona penurunan (bearish). Menurutnya, pertemuan pejabat Bank Sentral AS (The Federal Reserve) pada Kamis (19/3) dini hari memberikan ekspektasi kenaikan suku bunga semakin dekat. Dollar AS akan semakin kokoh dan menggempur harga minyak. “Harga minyak cenderung akan turun sepekan ke depan,” ujar Agus.

Secara teknikal, Tonny melihat harga minyak tengah bergerak, di bawah moving average 50, 100 dan 200. MACD berada di area negatif. Stochastic sudah memasuki area jenuh jual atau oversold di level 9%.

Indikator RSI juga hampir memasuki area jenuh jual di level 30%. Tonny memprediksi, harga minyak sepekan mendatang berada di US$ 44-US$ 54 per barel. Sementara Agus menduga, harga minyak bakal bergerak di antara US$ 43,5-US$ 51,6 per barel.

Editor: Uji Agung Santosa


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang drop menyebabkan penerimaan negara dari pos bea keluar turun. Kini Kementerian Keuangan (Kemkeu) ingin menurunkan batas referensi harga CPO yang dikenai bea keluar agar pos ini bisa menambah penerimaan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu Suahasil Nazara mengatakan, saat ini ada wacana mengubah aturan bea keluar terhadap CPO. Soalnya, harga CPO kini dalam tren melemah dan sudah di bawah harga referensi pengenaan bea keluar sebesar US$ 750 per ton sejak Juli 2014.

Inilah salah satu penyebab realisasi penerimaan bea keluar hingga 28 Februari 2015 hanya Rp 544,75 miliar. Padahal, target pemerintah di periode tersebut Rp 2,01 triliun.

Selain itu, pemerintah masih perlu membatasi ekspor CPO agar industri hilir di dalam negeri tak kekurangan pasokan. Apalagi, pemerintah ingin meningkatkan porsi biodiesel dari 10% menjadi 15%.

Namun, Suahasil merahasikan detail rencana review kebijakan ini. Yang jelas, kebijakan ini nanti tak akan terlalu membebani pengusaha.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Oza Olavia menambahkan, target setoran penerimaan negara dari pos bea keluar tahun ini Rp 12,05 triliun. Target itu akan gagal tercapai jika tidak ada perubahan referensi harga CPO untuk pengenaan bea keluar.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengingat, pemerintah harus hati-hati menurunkan harga refensi pengenaan bea keluar CPO. Saat ini pengusaha CPO sudah tertekan dengan penurunan harga jual, ekspor lesu dan biaya produksi yang terus meningkat. Penurunan harga referensi semakin menurunkan keuntungan pengusaha.

 

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita