- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2091
JAKARTA. Jatuhnya harga minyak mentah memukul kinerja PT Medco Energi International Tbk (MEDC). Imbas penurunan harga minyak sudah dirasakan produsen minyak dan gas ini sejak tahun lalu. Sepanjang 2014, laba bersihnya turun 14,15% menjadi US$ 13,71 juta.
Penurunan laba sejalan penurunan pendapatan sebesar 15,31% menjadi US$ 750,73 juta pada 2014. Padahal, tahun 2013, MEDC meraih pendapatan US$ 886,53 juta.
Analis Ciptadana Sekuritas, Hasan mengatakan, penurunan harga minyak dunia melemahkan kinerja MEDC. Diperparah pula dengan penurunan jumlah minyak dan gas siap jual (lifting), serta kontrak perusahaan. Lifting surut akibat volume produksi migas mulai menurun. Maklum, aset milik perusahaan saat ini sudah berusia cukup tua. "Misalnya, di tambang minyak yang tua, produksinya tidak bisa sesignifikan dulu," jelasnya.
Beruntung, porsi penjualan minyak dan gas MEDC seimbang alias 50:50. Jadi, kata Hasan, penurunan harga minyak bakal diminimalisir dengan penjualan gas. Apalagi, saat ini harga gas terus naik.
Meski demikian, Vice President Investment Quant Kapital Investama, Hans Kwee memperkirakan, kinerja Medco tahun ini masih rawan tekanan. Ia menduga, koreksi harga minyak mentah masih berlanjut hingga akhir 2015. Walaupun ada potensi naik, hanya terbatas. Peluang kenaikan harga berasal dari China. Pengucuran stimulus di sana berpeluang mengerek permintaan dari pengguna minyak kedua terbesar di dunia itu.
Hans dan Hasan menebak, minyak bisa menyentuh angka US$ 70 per barel di akhir tahun 2015.
Tertopang gas
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bisa menjadi salah satu penopang kinerja MEDC di tahun ini. Maklum, penjualan migas perusahaan menggunakan dollar AS. Meski demikian, hal itu belum mampu menutupi kerugian akibat koreksi harga minyak. Hans menghitung, penurunan harga minyak sejak awal tahun ini 13,7%, lebih besar ketimbang pelemahan rupiah sekitar 5,15%.
Koreksi harga minyak juga berimbas pada penurunan anggaran belanja modal MEDC. Tahun ini, perusahaan menyiapkan belanja sekitar US$ 229 juta, jauh di bawah target, yaitu US$ 572 juta. Dengan dana terbatas, MEDC akan cenderung mengurangi risiko. "Alokasi dana akan diutamakan untuk eksplorasi pada aset-aset yang sudah berproduksi ketimbang eksplorasi di tambang baru," papar Hasan.
Namun, secara umum, prospek MEDC masih cukup positif. Proyek hulu Senoro sudah mulai berkontribusi pada tahun ini. Hasan menduga, tahun ini, pendapatan dari sektor gas bisa meningkat sebesar 20%.
Dus, total produksi migas perusahaan akan meningkat hingga 16% di tahun ini, dan 17% pada 2016. Dengan begitu, Hasan memprediksi, pendapatan MEDC tahun ini bisa naik menjadi US$ 752 juta, diikuti dengan kenaikan laba bersih menjadi Rp 26 juta.
Hasan merekomendasikan beli MEDC dengan target Rp 3.500 . Meski memasang target harga sama, Hans menyarankan hold sebab harga minyak masih belum pulih tahun ini. Adapun, Analis Credit Suisse Ami Tantri melabelkan outperform saham MEDC di harga Rp 4.400 per saham.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1952
NEW YORK. Kurs dollar AS menguat ke tingkat tertinggi dalam 10 hari terhadap euro pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena Bank Sentral Eropa (ECB) mencoba meningkatkan perekonomian dengan program pembelian obligasi.
Sementara itu, Federal Reserve bergerak lebih dekat untuk menaikkan suku bunga utamanya.
Euro telah turun 11 % terhadap greenback selama kuartal pertama 2015, kerugian kuartalan terburuk dalam 15 tahun terakhir.
Mata uang bersama berada di bawah tekanan di tengah program pelonggaran kuantitatif ECB 1,1 triliun euro yang dimulai pada Maret dan meningkatnya kekhawatiran tentang masalah utang Yunani.
Sementara itu, indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik sembilan % sejak Januari, kenaikan kuartalan terkuat dalam hampir tujuh tahun terakhir, didorong oleh ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya pada tahun ini.
Dollar AS diperdagangkan bervariasi terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa karena data ekonomi yang keluar dari negara itu secara keseluruhan positif.
Indeks Keyakinan Konsumen AS naik dari angka Februari 98,8 menjadi 101,3 pada Maret, jauh di atas konsensus pasar 95,5, kata Conference Board, Selasa.
Indeks Harga Rumah S&P/Case, ukuran utama harga rumah AS, menunjukkan bahwa Komposit 10-Kota naik 4,4 % tahun ke tahun pada Januari, menguat dari kenaikan 4,3 % pada Desember, dan Komposit 20-Kota bertambah 4,6 % tahun-ke tahun, dibandingkan dengan kenaikan 4,4 % pada Desember.
Barometer Bisnis Chicago dari Institute for Supply Management (ISM) naik tipis pada Maret, setelah penurunan tajam pada bulan sebelumnya, namun masih di bawah garis 50, menandai kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut. Angka tersebut mencapai 46,3 pada bulan ini, sedikit di atas Februari di 45,8.
Pada akhir perdagangan di New York, euro turun menjadi 1,0742 dollar dari 1,0823 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4845 dollar dari 1,4815 dollar. Dollar Australia turun ke 0,7612 dollar dari 0,7652 dollar.
Dollar dibeli 119,95 yen Jepang, lebih rendah dari 120,16 yen sesi sebelumnya. Dollar naik tipis menjadi 0,9723 franc Swiss dari 0,9676 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2658 dollar Kanada dari 1,2684 dollar Kanada.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2048
JAKARTA. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melihat industri batubara pada tahun ini masih tertekan. Pasokan yang berlebih, rendahnya permintaan, dan harga yang rendah menjadi penyebab.
Direktur Keuangan ITMG Edward Manurung mengatakan, tahun ini harga jual rata-rata batubara ITMG diperkirakan hanya US$ 58 - US$ 60 per ton. Harga ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sebesar US$ 67,1 ton. "Kami menargetkan penjualan sebesar 30 juta ton atau naik dari realisasi tahun 2014 sebesar 29 juta ton untuk menkompensasi penurunan harga," ujarnya, Selasa (31/3).
Dengan target penjualan 30 juta ton, maka tahun ini ITMG menargetkan pendapatan antara US$ 1,74 miliar - US$ 1,8 miliar. Target ini lebih rendah dibanding pendapatan tahun 2014 sebesar Rp US$ 1,94 juta.
Untuk menjaga agar laba tetap positif, ITMG akan melanjutkan strategi efisiensi yang sudah diterapkan selama ini. Pertama, menurunkan rasio kupas sehingga dapat menghemat biaya. Kedua, menggunakan teknik baru penambangan dengan biaya yang lebih rendah. Ketiga, menghemat biaya logistik terutama dari sisi bahan bakar dengan memperpendek jarak tempuh. Keempat, menggunakan anggaran belanja modal alias capex untuk kebutuhan mendesak.
Untuk tahun ini ITMG menyiapkan capex sebesar US$ 64,4 juta yang berasal dari kas internal. Perseroan akan menggunakan capex untuk investasi baru seperti hauling road dan maintenance. Capex ITMG tahun ini lebih rendah rendah dari asumsi sebelumnya sebesar US$ 80 juta.
ITMG juga menjajaki peluang untuk menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru. ITMG berencana menggarap pembangkit listrik berkapasitas 1 x 100 mega watt (MW) dengan nilai investasi sekitar US$ 100 juta. Hingga saat ini perseroan mengaku masih mempelajari rencana tersebut.
Pembangunan PLTU ini menjadi strategi perseroan untuk melakukan diversifikasi bisnis guna mengantisipasi turunnya harga batubara. Apalagi peluang bisnis pembangkit terbilang besar mengingat kebutuhan listrik dalam negeri yang cukup besar. "Kami ingin diversifikasi namun tetap fokus di energi," lanjut Edward.
Saat ini ITMG telah memiliki satu pembangkit listrik berkapasitas 2 x 7 Mega Watt (MW) di Blok Timur area pertambangan salah satu entitas usahanya, PT Indominco Mandiri yang digunakan untuk keperluan sendiri.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2247
JAKARTA. Pemerintah menggodok kebijakan pengetatan kegiatan ekspor timah. Rencananya, pemerintah akan mewajibkan status clean and clear (CnC) sebagai syarat izin usaha pertambangan (IUP) timah, untuk mendapatkan rekomendasi izin ekspor.
Partogi Pangaribuan, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan mengatakan, saat ini pihaknya tengah memproses penyusunan draf revisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44 Tahun 2014 tentang Ketentuan Ekspor Timah.
"Kami masih membahas dengan kementerian terkait maupun dengan pemerintah daerah," kata dia dalam pesan singkat kepada KONTAN, Senin (30/3).
Asal tahu saja, dalam Permendag Nomor 44/2014 pemerintah menetapkan empat jenis ekspor produk timah. Yakni, timah murni batangan dengan kandungan stannum (Sn) minimal 99,9%, timah murni bukan batangan dengan kandungan Sn paling rendah 99,93%, timah solder dengan kandungan Sn paling tinggi 99,7%, serta timah paduan bukan solder dengan kandungan Sn maksimal 96%.
Meskipun sudah ada klasifikasi produk sudah terperinci, namun beleid itu belum dapat menjamin keabsahan asal usul bijih timah. Sebab, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tak terlibat dalam memberikan rekomendasi ekspor, sehingga tidak ada persyaratan IUP wajib CnC.
Sayangnya, Partogi enggan menerangkan klausul apa saja yang akan dimasukkan dalam calon beleid itu. Yang jelas, pihaknya melibatkan pemerintah daerah seperti Provinsi Bangka Belitung dan Kepulauan Riau yang selama ini berwenang memberikan rekomendasi ekspor.
Jabin Sufianto, Ketua Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) mengatakan, pihaknya menyambut positif upaya pemerintah untuk menyempurnakan beleid terkait ekspor timah. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperketat ekspor timah sehingga harga jual akan kembali meningkat.
Ia bilang, sejumlah anggota AETI sedang menunggu proses penerbitan sertifikat CnC dari pemerintah daerah setempat. "Dari 19 perusahaan anggota kami, kebanyakan sudah status CnC, namun sebagiannya masih dalam proses," jelas Jabin.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2016
NEW YORK. Harga minyak dunia turun pada Senin (Selasa pagi WIB), karena para pedagang mempertimbangkan pembicaraan antara Iran dan kekuatan-kekuatan global yang dapat mengurangi sanksi internasional terhadap salah satu produsen minyak terkemuka dunia itu.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, merosot 19 sen menjadi ditutup pada 48,68 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei, turun 12 sen menjadi menetap di 56,29 dollar AS per barel di London.
Pertemuan para menteri luar negeri Iran dan kekuatan-kekuatan utama dunia di kota Lausanne, Swiss, berpacu mencapai tenggat waktu Selasa tengah malam untuk melakukan kerangka kerja kesepakatan yang mereka harapkan akan menempatkan bom atom di luar jangkauan Teheran.
Pasar minyak mentah mengurangi kerugian mereka menjelang akhir sesi perdagangan, ketika Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan kepada CNN, pembicaraan akan diperpanjang hingga tengah malam untuk mencoba menyelesaikan beberapa masalah "sulit" yang menghalangi kesepakatan.
Prospek kesepakatan Iran lebih lanjut membebani pasar minyak, yang sudah menghadapi tekanan karena dolar menguat dan persediaan minyak bumi membanjir.
"Meskipun kesepakatan pada saat ini tidak akan terduga, kita akan tetap menganggapnya sebagai perkembangan 'bearish' baru, membawa kembali ekspor dan produksi Iran ke pasar jauh lebih dekat," kata Tim Evans, analis di Citi Futures.
Gene McGillian, pialang dan analis di Tradition Energy, memperkirakan minyak "akan terus berada di bawah tekanan" karena pasokan minyak mentah berlebih.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita