Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



WASHINGTON. Penguatan nilai tukar tak selamanya berdampak positif. Hal ini tampak pada industri baja Amerika Serikat (AS). Tingginya nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lain malah menyebabkan biaya produksi baja lebih besar ketimbang baja produksi negara lain. Alhasil, para pembeli baja lebih memilih baja bikinan luar AS.

Pengalihan bahan baku ini menyebabkan produsen baja AS kehilangan pasar. Menurut data American Iron and Steel Institute, impor baja yang dipakai di AS melonjak 33% pada dua bulan pertama tahun ini. Padahal, dua bulan pertama tahun lalu pertumbuhan impor baja masih 28%. Di sisi lain, kapasitas terpakai pengolahan baja di AS merosot ke 69%. Ini adalah level terendah sejak 2009.

"Impor telah mengambil alih pertumbuhan industri dalam negeri," kata Curt Woodworth, Analis Nomura Holdings New York kepada Bloomberg. Kapasitas terpakai pabrik baja masih berada di level 80% pada Agustus 2014. Penurunan kapasitas terpakai menjadi 69% merupakan sinyal paling kuat terhadap dampak kenaikan impor.

"Industri baja dan para pekerja tertekan impor yang mencapai rekor secara historis," kata Tom Gibson, Presiden dan CEO American Iron and Steel Institute.

Para produsen baja, seperti Nucor Corp yang merupakan produsen terbesar di AS, AK Steel Holding dan Steel Dynamics Inc, merilis pemberitahuan bahwa laba mereka bakal menurun. Pada medio Maret lalu, Nucor bilang laba kuartal I-2015 akan turun 71% dibandingkan prediksi awal.

"Penurunan disebabkan tingginya level impor di pasar domestik," kata manajemen Nucor. Sedangkan US Steel Corp mengatakan bahwa perusahaan baja ini akan menghentikan sementara operasional pabrik di Illinois lantaran impor dan perbedaan harga yang sangat jauh.

"Kondisi pasar global yang menantang makin mempengaruhi perusahaan kami," kata Courtney Boone, Jurubicara US Steel. Untuk membahas masalah tersebut, para eksekutif produsen baja akan bertemu dengan parlemen AS, Kamis depan (2/4). Agendanya adalah mendesak parlemen menurunkan batasan impor pada rapat dengar pendapat Congressional Steel Caucus.

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

BEKASI. Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan, sejumlah perusahaan Jepang berencana untuk mengalihkan investasi mereka ke Indonesia. Menurut Saleh, peusahaan-perusahan tersebut menilai Indonesia masih memiliki potensi untuk berkembang lebih tinggi ketimbang negara-negara tujuan investasi lain di Asia.

"Intinya mereka mengatakan bahwa investasi mereka saat ini yang kebanyakan di Tiongkok, Vietnam, dan sejumlah negara lain itu, menurut mereka saat ini kurang begitu bagus lagi. Yang nantinya rencana mereka dialihkan dengan tujuan utama salah satunya Indonesia," ujarnya di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (28/3).

Saleh menyebutkan, salah satu sektor industri yang akan didorong untuk segera menanamkan modal di Indonesia adalah industri maritim. "Dari Jepang kan banyak investasi, terutama di bidang manufaktur, selain itu tentu dalam bidang lain dalam hal ini industri maritim," katanya.

Oleh karena itu, Kementerian Perinistrian menekankan Indonesia harus menyambut keinginan sejumlah investor Jepang tersebut dengan menyiapkan berbagai fasilitas dan kemudahan demi memberi kenyamanan dalam berinvestasi.

Hal itu sejalan dengan upaya pencapaian target pertumbuhan industri di Indonesia sepanjang 2014 yang dipatok pada angka 6,3% hingga 6,8%.

"Kami ingin memberikan layanan yang baik sebagai rangsangan agar orang tertarik berinvestasi," demikian Saleh Husin. (Erlangga Djumena)

Editor: Sanny Cicilia
Sumber: Kompas.com

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Imbas dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak hanya akan dirasakan oleh para pengguna jasa transpotasi penumpang. Namun, bagi pengusaha disektor logistik juga akan terkena dampaknya.

Ketua Departemen Moda Angkutan Barang DPP Organda Andre Silalahi menambahkan, dengan kenaikan harga BBM yang telah ditetapkan pemerintah ini maka potensi penyesuaian tarif biaya angkut logistik juga bakal terjadi. "Yang jelas secara operasional berpengaruh. Itu pasti dilapangan biaya operasional bertambah," kata Andre, Minggu (29/3).

Meski demikian, berbeda dengan penyesuian tarif yang dilakukan oleh pengusaha jasa transportasi penumpang, perubahan tarif untuk jasa transportasi barang dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan pengguna.

Meski sulit untuk dapat merinci kenaikan tarif yang akan diberlakukan oleh penyedia jasa transportasi logistik tersebut. Namun, Andre memproyeksi kenaikan tarif tersebut tidak akan mencapai lebih dari 5% dari biaya saat ini.

Mengingatkan saja, pada akhir pekan lalu Pemerintah secara resmi memutuskan kenaikkan harga solar menjadi Rp 6.900 per liter dari Rp 6.400 per liter. Sementara itu, harga premium RON 88 naik menjadi Rp 7.300 per liter dari harga Rp 6.800 per liter. Kebijakan tersebut berlaku mulai hari Sabtu (28/3) kemarin.

Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga crude palm oil (CPO) konsisten melandai. Lemahnya permintaan ditambah rencana pemberlakuan kembali bea keluar CPO tidak memberikan kesempatan bagi komoditas ini untuk menguat.

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/3), kontrak CPO pengiriman bulan Juni di Malaysia Derivatives Exchange berada di level RM 2.169 per metrik ton. Harga tergelincir 1,04% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga CPO tergerus 0,41%.

Sentimen negatif masih bertahan mengikuti pergerakan CPO. Penurunan harga minyak turut menyeret pelemahan CPO. Di sisi lain, pemerintah Malaysia berencana menaikkan pajak ekspor (bea keluar) pada bulan April sebesar 4,5%. Kondisi ini kian membebani harga CPO.

“Kejatuhan CPO mengikuti harga minyak mentah dan murahnya harga kedelai. Pedagang sedang menunggu harga di tingkat bawah untuk melakukan permintaan,” kata Vijay Mehta, Direktur Commodity Links yang dihubungi Bloomberg via telepon.
Untuk diketahui, kontrak kedelai bulan Mei turun 0,2% menjadi US$ 9,72 per bushel.

Ariana Nur Akbar, Educator & Market Analyst, Education Division PT Monex Investindo Futures mengatakan, harga CPO masih kesulitan bangkit dalam jangka panjang. Sebab, masih rapuhnya permintaan dari importir terbesar seperti China dan India. Sekedar mengingatkan, data HSBC manufaktur PMI China bulan Maret hanya mencetak angka 49,2. Angka ini lebih rendah dari estimasi 50,5. Aktivitas manufaktur di bawah level 50 menunjukkan ekonomi China dalam keadaan kontraksi. Kondisi ini dikhawatirkan ikut menggerus permintaan dari China.

“Meski pajak ekspor CPO sempat dipangkas mendekati nol persen, nyatanya harga CPO tak kunjung terangkat. Ini lantaran permintaan dari China dan India sedang lesu,” ujar Ariana.

Di sisi lain, harga CPO terbentur oleh komoditas substitusinya yaitu minyak kedelai. Saat ini, produktivitas minyak kedelai sedang mencapai puncaknya. Kondisi ini mengakibatkan harga minyak kedelai relatif lebih murah dibanding CPO. Inilah yang menyebabkan investor beralih ke minyak kedelai.

Ariana menduga CPO dalam sepekan mendatang bergerak pada rentang harga RM 1.980-RM 2.450 per metrik ton.

Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak pada Kamis (Jumat pagi WIB), setelah jet-jet tempur Arab Saudi menyerang sasaran pemberontak di Yaman, memicu kekhawatiran meningkatnya krisis di negara itu bisa mengancam produsen minyak mentah di Timur Tengah.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, melonjak 2,22 dollar AS, atau 4,5 %, menjadi ditutup pada 51,43 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange, merupakan tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga minggu.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei, patokan global, melonjak 2,71 dollar AS menjadi menetap di 59,19 dollar AS per barel.

Kontrak mulai menguat pada Rabu menyusul berita bahwa Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi dilarikan ke "tempat yang aman" setelah sebuah pesawat tempur menyerang kompleks kepresidenan.

Yaman berbatasan langsung dengan produsen minyak utama Arab Saudi, yang pada Rabu meluncurkan serangan terhadap pemberontak Huthi dalam upaya membantu menyelamatkan pemimpin Yaman yang diperangi.

Yaman telah dicengkeram oleh kekacauan yang terus meningkat sejak pemberontak Syiah melancarkan perebutan kekuasaan di Sanaa pada Februari.

"Ketegangan geopolitik di Yaman mendorong harga minyak lebih tinggi," Daniel Ang, seorang analis investasi Phillip Futures, mengatakan kepada AFP.

"Yaman bukan produsen besar tetapi merupakan pusat perdagangan di wilayah tersebut, sehingga ketegangan di sana dapat menyebabkan gangguan dalam aktivitas perdagangan produk-produk energi," kata analis yang berbasis di Singapura itu.

Gejolak di Yaman telah dibayangi dampak kenaikan pasokan minyak mentah AS, yang meningkat 8,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Maret, menambah pasokan global yang berlimpah, kata para analis.

Harga minyak dunia telah jatuh sekitar 60 % dalam enam bulan hingga awal Februari, karena produksi AS yang kuat memperburuk produksi tinggi oleh kartel OPEC.

"Kelebihan pasokan di pasar minyak menjadi semakin tinggi dalam beberapa bulan terakhir, mengabaikan risiko geopolitik yang lebih besar," kata analis Csommerzbank dalam sebuah catatan untuk kliennya.

"Namun demikian, ini tiba-tiba datang kembali ke dalam fokus yang tajam, menyusul serangan udara militer yang dilakukan oleh 10 negara Teluk dipimpin Saudi terhadap pemberontak Huthi di Yaman."

Editor: Yudho Winarto
Sumber: AFP

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita