- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2297
Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara kembali merosot, dan gagal memulihkan angka ke level 60.
Harga US$60/metrik ton terakhir terjadi pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2015).
Pada penutupan perdagangan Kamis (12/3/2015), harga batu bara untuk kontrak April 2015, anjlok 1,17% ke US$59,1/metrik ton. Dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (11/3/2015) yang naik 0,22% ke US$59,8/metrik ton.
Seperti diketahui sejak awal bulan Februari, harga batu bara cenderung melemah. Sepanjang perdagangan 2—10 Maret 2015, hanya satu kali ditutup positif yaitu pada Senin (9/3/2015).
Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*
|
Tanggal |
US$/ton |
|
12 Maret |
59,10 (-1,17%) |
|
11 Maret |
59,80 (+0,22%) |
|
10 Maret |
59,67 (-0,47%) |
*Kontrak April 2015
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2321
JAKARTA. Belum rampung stabilisasi pasar moge di Indonesia setelah kenaikan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), kini kondisi semakin dipersulit setelah nilai tukar dollar AS dengan rupiah melebihi level Rp 13.000.
Kebanyakan pemain moge menjual unit impor, kurs rupiah yang melemah tentu sangat memengaruhi operasional sebab unit CBU dibeli dengan dollar. Steven Oentoro, Presiden Direktur Moto Arte Indonesia (MAI) selaku pemasar MV Agusta di Tanah Air memprediksi penjualan MV Agusta semakin sulit.
“Gara–gara dollar naik stok jadi melambat,†katanya di Jakarta, Jumat (13/3/2015).
Steven menjelaskan stok unit MV Agusta tahun ini dikurangi untuk mengantisipasi pasar yang diprediksi menurun. Jumlah stok 2015 memang tidak mau diungkap, tapi disebut stok unit baru yang sekarang siap di dealer hanya Brutale 800 dan Brutale 1090.
Buat calon pembeli yang ingin membeli model lain, seperti F3 675, Brutale 675, atau F4, dirahkan ke unit bekas berkualitas dengan keuntungan harga jual lebih murah. Direktur MAI Yahya Adi Nugroho menambahkan, bila konsumen ingin unit baru mesti menunggu setidaknya sebulan sampai unit datang dari Italia. (Febri Ardani Saragih)
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1701
PALEMBANG. Pembangunan jalan tol Palembang-Indralaya, Sumatera Selatan (Sumsel), akan dimulai dibangun April 2015. Jalan tol sepanjang 22 kilometer itu memerlukan anggaran sebesar Rp 2 triliun.
Untuk tahap pertama, jalan tol ini akan dibangun sepanjang tujuh kilometer terlebih dulu. “Karena lahannya sudah selesai dibebaskan,†kata Ketua Komisi VI DPR RI Hafisz Tohir saat kunjungannya di Palembang, Jumat (13/3).
Ia mengatakan, Gubernur Sumsel menyampaikan sepanjang tujuh kilometer lahannya sudah selesai dibebaskan, sedangkan 15 kilometer lagi sedang dalam tahap pembebasan lahan.
Karena itu, pembangunan jalan tol dilakukan dua tahap, pertama diselesaikan untuk yang tujuh kilometer dalam satu tahun yakni dimulai pada April 2015 dan selesai April 2016.
Untuk anggarannya, ditahun pertama akan disediakan dana sebesar Rp 1 triliun, dan sisanya akan dikucurkan setelah pembebasan lahan.
"Yang akan membangun itu Hutama Karya, sementara perusahaan-perusahaan daerah bisa ikut di sub konstruksi. Tol ini ditujukan supaya di Sumsel ini juga hidup perusahaan-perusahaan dari industri kecil," katanya.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2250
JAKARTA. Rencana pemangkasan produksi batubara oleh sejumlah produsen besar bisa memberikan sentimen positif bagi harga batubara. Sayang, pergerakan harga batubara bakal terhadang penguatan dollar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Bloomberg, Selasa (10/3), harga batubara kontrak pengiriman April 2015 di ICE Futures Europe di US$ 60,75 per metrik ton, turun 1,29% dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sepekan terakhir, harga batubara tergerus 4,78%. Analis PT Pefindo Guntur Tri Hariyanto menjelaskan, harga minyak yang sempat rebound ke US$ 50 per barel tidak terlalu berdampak pada harga batubara.
Menurutnya, harga batubara masih bergerak mendatar di sekitar US$ 60 per metrik ton. Kendati demikian, Guntur melihat potensi kenaikan harga batubara. Hal ini didorong oleh rencana pemangkasan produksi oleh para produsen batubara besar dunia, yaitu Glencore, Rio Tinto, dan Vale. "Glencore mengumumkan akan memangkas produksi tahun 2015 sebanyak 15 juta ton, atau 20% lebih besar dari pemangkasan tahun lalu," kata Guntur.
Pengurangan produksi salah satunya dilakukan di tambang Afrika Selatan sebanyak 5 juta ton. Sebelumnya, Glencore juga sudah melakukan penghentian produksi di tambang Australia selama tiga minggu pada perayaan Natal.
Selain itu, Guntur menambahkan, produksi divisi batubara Rio Tinto tahun 2015 diperkirakan turun sekitar 3,3 juta ton atau 15% dari produksi tahun lalu. Saat ini, Rio Tinto ingin menggabungkan divisi batubara dengan divisi tembaga untuk menghemat biaya.
Produsen lainnya, yaitu Vale, juga pesimistis untuk melanjutkan produksi batubara di tambang Australia. Lalu, pasokan batubara dari Indonesia tahun ini juga diperkirakan berkurang. Sedangkan, dari sisi permintaan, impor batubara India diperkirakan menguat, bahkan bisa menyalip China di masa depan.
Pada Februari 2015, impor batubara India melonjak 31% year on year didorong oleh beroperasinya pembangkit listrik baru. Penguatan dollar AS Analis PT Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono melihat, harga batubara masih bergerak sideways.
Harga batubara terjaga lantaran perbaikan ekonomi di kawasan Eropa, China, dan Jepang setelah bank sentral masing-masing negara menggelontorkan stimulus. Sayang, penguatan dollar AS menghambat laju harga batubara.
Apalagi, mata uang ini berpotensi terus menguat seiring rencana Bank Sentral AS, The Fed menaikkan suku bunga. "Harga sulit turun tajam karena sudah terlalu murah. Sementara, untuk menanjak, komoditas terbebani dengan penguatan dollar AS," jelas Wahyu.
Secara teknikal, Wahyu bilang harga berada di atas moving average (MA) 50, namun berada di bawah MA 100, dan MA 200. MACD berada di area negatif. Stochastic jenuh jual (oversold) di level 16%. Sementara, RSI berada di area oversold level 18,5%. Stochastic maupun RSI memberikan sinyal rebound (naik).
Wahyu memprediksi harga batubara sepekan mendatang berada di US$ 56,40-US$ 64 per metrik ton. Sedangkan, Guntur memprediksi, harga batubara terentang di US$ 60-US$ 62 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2144
JAKARTA. Otot poundsterling (GBP) mulai kisut setelah laporan data ekonomi Inggris meleset dari harapan. Pounsterling kalah melawan dollar AS (USD) dan melawan dollar Aussie (AUD), namun masih unggul di hadapan euro (EUR).
Mengutip Bloomberg, Rabu (11/3) pukul 20.15 WIB, pasangan GBP/USD turun 0,29% menjadi 1,5027. Pairing GBP/AUD turun tipis 0,1% ke posisi 1,9744. Adapun, GBP naik 0,90% versus EUR menjadi 0,7035.
Analis PT Millenium Penata Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan, GBP sempat menguat terhadap AUD, namun usai rilis data ekonomi yang buruk, pairing GBP/AUD bergerak sideways cenderung turun.
Kemarin, Inggris merilis pertumbuhan produksi manufaktur bulan Januari 2015 minus 0,5%. Ini meleset dari ekspektasi, yaitu tumbuh 0,2%. Namun, sentimen buruk juga membayangi Aussie.
Pinjaman di sektor perumahan (home loans) bulan Januari 2015 minus 3,5%. Padahal, bulan sebelumnya tumbuh 2,7%. Jadi, fundamental keduanya tidak cukup kuat. "Hari ini, pasangan GBP/AUD ada peluang naik terbatas. Namun, jika level support 1,9650 ditembus, pasangan ini bisa jatuh menuju 1,9510," prediksi Suluh.
Analis dan Direktur PT Astronacci International Gema Goeryadi memprediksi, pasangan GBP/USD masih dalam tren bearish sepekan ini. Maklum, di tengah perlambatan ekonomi global, ekonomi Amerika Serikat cukup solid. Data teranyar menunjukkan, pasar tenaga kerja AS terus pulih. "Pairing ini bergerak dalam tren bearish dengan target support di level 1,4980," tuturnya.
Sementara, analis PT Monex Investindo Futures Albertus Christian menilai, GBP masih unggul versus EUR lantaran sentimen negatif mendominasi euro. Investor mencemaskan ketidakpastian negosiasi utang antara Yunani dengan para kreditur. Di sisi lain, bank sentral Inggris (BoE) berniat mengerek suku bunga seiring pertumbuhan upah di Inggris mulai solid. "Pairing EUR/GBP akan bergerak relatif stagnan dengan kecenderungan turun," prediksinya.
Editor: Uji Agung SantosaNarasumber : kontan.co.id

















Semua Berita