- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2215
NEW YORK. Kurs dollar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Senin (Selasa pagi WIB), karena investor mengambil keuntungan dari kenaikan setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat dirilis Jumat lalu.
Laporan lapangan pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan memicu spekulasi pasar bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunganya lebih awal daripada yang diantisipasi, mengingat pemulihan kondisi pasar tenaga kerja AS.
Indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun pada Senin dari tingkat tertinggi sebelas tahun pada 97,595 yang dicapai dalam sesi terakhir sebelumnya. Pada perdagangan sore, indeks turun 0,04 % menjadi 97,578 setelah beberapa aksi ambil untung oleh para investor.
Sementara itu, euro tetap pada tingkat terendah dalam hampir 12 tahun terhadap dollar AS, karena Bank Sentral Eropa (ECB) memulai program pelonggaran kuantitatif 1,1 triliun euro (1,2 triliun dollar AS) pada Senin.
Pada akhir perdagangan di New York, euro berada datar di 1,0858 dollar AS dari sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,5131 dollar dari 1,5048 dollar. Dollar Australia turun menjadi 0,7713 dollar dari 0,7720 dollar.
Dollar AS dibeli 121,18 yen Jepang, lebih tinggi dari 120,69 yen dari sesi sebelumnya. Dollar AS naik tipis menjadi 0,9849 franc Swiss dari 0,9848 franc Swiss, dan merosot ke 1,2591 dollar Kanada dari 1,2611 dollar Kanada.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2256
NEW YORK. Harga minyak dunia terus menunjukkan tren pelemahan. Minyak Brent untuk pengiriman April turun 52 sen menjadi US$ 59,21 per barel di ICE Futures Europe di London. Minyak Brent di perdagangan di Singapura juga turun menjadi US& 59,43 barel di Singapura.
Selama sepekan kontrak Brent telah turun US$ 2,85 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) dalam perdagangan di New York Mercantile Exchange juga turn 29 sen, atau 0,6% menjadi US$ 49,32 per barel.
Turunnya harga minyak terjadi sebagai imbas lonjakan pasokan minyak mentah dan penguatan nilai tukar dollar AS. Penguatan dollar membuat permintaan akan barang mentah secara global menurun.
Selama setahun ini harga minyak telah turun hampir 50%, sebagai efek kenaikan suplai minyak mentah Amerika Serikat dan negara produsen lain. "Harga minyak mentah masih akan terus turun karena suplai yang tinggi," kata Hong Sung Ki, analis komoditas Samsung Futures Inc, Senin (9/3).
Namun Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla El-Badri tetap yakin suplai dan permintaan akan minyak mentah akan kembali stabil di pertengahan tahun ini. Pada perkiraannya, Minggu (8/3), Abdalla mengatakan harga minyak akan stabil seiring dengan pulihnya konsumsi minyak. "Itu akan membantu kestabilan pasar global," kata Menteri Minyak Arab Saudi Ali al-Naimi.
Saudi Arabia, pengekspor minyak mentah terbesar dunia, pada November 2014 lalu memimpin Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk menerapkan kebijakan kuota produksi minyak sebesar 30 juta barel per hari.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1973
JAKARTA. Harga tembaga turun dalam kurun tiga hari terakhir. Penurunan terjadi pasca anjloknya data impor metal China ke posisi terendah dalam 4 tahun.
Mengutip Bloomberg, Senin (9/3) pukul 1:27 waktu Hongkong, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,3% ke US$ 5.730 per metrik ton. Harga ini turun sepekan 2,97% dalam sepekan terakhir.
Anjloknya impor China juga mempengaruhi terhadap permintaan tembaga yang bakal lesu di Negara tersebut. Adapun data impor logam China pada Februari merosot 23% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan kondisi penurunan impor logam di China mengindikasi kebutuhan industri dalam negeri China yang sedang bermasalah karena adanya perlambatan ekonomi.
Sebelumnya, disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi China sebesar 7% tahun ini. Namun menurut pelaku pasar pertumbuhan ekonomi China masih akan melambat. Ke depannya Ibrahim menilai potensi menguatnya harga tembaga sangatlah tipis.
Adanya stimulus mini yang di gelontorkan oleh Bank Sentral China belum bisa menutupi pertumbuhan ekonomi China apalagi yang bersamaan dengan berkembangnya spekulasi kenaikan suku bunga The Fed.
Harga tembaga juga akan makin tertekan akibat penguatan dollar AS dan Indeks Dollar AS. Untuk diketahui harga tembaga saat ini sangat rentan terhadap indeks dollar. ““Kalau indeks dollar AS sudah tinggi harapan harga menguat sangat tipis,†kata Ibrahim.
Menurutnya indeks dollar semakin kuat lantaran Bank Sentral China yang sudah menurunkan suku bunga sebanyak 3 kali sejak Januari, mengakibatkan pelaku pasar merasa pesimis terhadap pertumbuhan ekonomi di China. “Indeks dollar AS diuntungkan karena masalah tersebut,†kata Ibrahim.
Perlu diketahui indeks dollar kemarin (9/3) berada diposisi 97,71, angka tersebut menguat tajam di banding bulan lalu. Ibrahim menduga, indeks dollar AS akan tembus ke level 100 dalam waktu dekat.
“Kemungkinan besar waktu Maret-April akan indeks dollar di level 100 akan tercapai, sehingga mengakibatkan harga komoditas termasuk tembaga kembali akan terjungkal,†jelas Ibrahim.
Kemungkinan tren menurunnya harga tembaga juga di perkuat dengan analisis teknikal. Ibrahim mengatakan moving average (MA) posisinya 30% di atas Bollinger bawah. Begitu pula Stochastik masih di posisi 60% negatif. Sementara itu relative strength index (RSI) dan moving average convergence divergence (MACD) 60% negatif.
“Kelima indikator tersebut menunjukkan negatif, sehingga secara teknikal harga tembaga masih akan turun,†kata Ibrahim.
Ibrahim menduga Selasa (10/3) harga tembaga akan bergulir di angka US$ 5.630 – US$ 5. 755 per metrik ton. Sementara itu, sepekan mendatang harga tembaga US$ 5.540 – US$ 5.730.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2178
JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) semakin perkasa terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Para pelaku pasar masih menanti sejumlah pengumuman data ekonomi AS untuk mengambil posisi. Mengutip Bloomberg, Kamis (5/3) pukul 18.00 WIB, pasangan EUR/USD turun 0,29% dibandingkan hari sebelumnya menjadi 1,1046.
Pasangan AUD/USD turun 0,12% ke 0,7808. Sementara USD/JPY naik 0,37% ke 120,1200.
Suluh Adil Wicaksono, analis PT Millenium Penata Futures, menjelaskan, EUR/USD melemah menjelang jumpa pers Bank Sentral Eropa (ECB). Presiden ECB Mario Draghi akan mengumumkan stimulus moneter. Selain itu, euro juga tertekan akibat buruknya data-data ekonomi Zona Eropa, seperti PMI sektor jasa Spanyol dan Italia.
"Secara fundamental, mustahil euro dapat menguat terhadap USD," ungkap Suluh.
Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menuturkan, pasangan AUD/USD bergerak mendatar. Di satu sisi, data penjualan ritel Australia bulan Januari sesuai ekspektasi, yakni tumbuh 0,4%.
Namun, aussie juga terimbas oleh sentimen negatif dari pemerintahan Tiongkok yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 7% atau lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, sebesar 7,5%.
Sebagai mitra dagang utama China, hal ini turut menyeret pelemahan aussie. Sementara nasib dollar AS, ditentukan oleh data nonfarm payrolls yang diumumkan Jumat (6/3) malam waktu setempat. Apabila hasilnya positif, maka akan memberikan tenaga bagi dollar AS.
Analis PT SoeGee Futures, Nizar Hilmy mengatakan, USD/JPY bergerak konsolidasi karena pasar masih menunggu pengumuman data nonfarm payrolls AS. "Pasar sedang mencari arah sembari menunggu katalis baru," kata Nizar. Nizar memperkirakan, hari ini pasangan USD/JPY masih dalam pergerakan konsolidasi sampai pengumuman data ketenagakerjaan di AS.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2239
JAKARTA. Harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) masih lemah. Permintaan yang rendah menjadi alasan utama penurunan harga. Namun ada potensi harga CPO menguat, karena adanya gangguan produksi di Indonesia dan Malaysia.
Mengutip Bloomberg, Kamis (5/3) pukul 15.14 WIB, harga minyak sawit kontrak pengiriman Mei 2015 di Malaysia Derivative Exchange turun 0,8% dibandingkan hari sebelumnya ke RM 2.345 per metrik ton. Namun sepekan terakhir harga CPO tumbuh 3%.
Ariana Nur Akbar, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan, harga lemah karena konsumsi CPO masih sangat rendah. Penggunaan minyak sawit untuk biofuel belum mampu menggenjot permintaan. "Yang menggunakan CPO untuk biofuel baru Indonesia dan Malaysia, sedangkan negara lain masih belum terlalu gencar," kata Ariana.
Prediksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2015 yang hanya 7%, menurut Ariana, menjadi sinyal bahwa konsumsi CPO di pasar belum akan membaik.
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, mengatakan, tekanan harga juga datang dari turunnya ekspor Malaysia Februari 2015. Data Intertek menyebutkan, ekspor CPO Malaysia bulan Februari 2015 turun 10,4% menjadi 993.338 ton, dari sebelumnya 1,1 juta ton di Januari 2015.
"Ini artinya permintaan dari global masih rendah," kata Deddy. Potensi kenaikan Meski harga bergerak melemah. Tapi peluang kenaikan harga masih terbuka. Salah satunya karena prediksi penurunan produksi sawit.
Malaysia kehilangan 765.000 ton sepanjang November 2014 sampai Januari 2015 akibat cuaca buruk. Persediaan Malaysia diduga terus menyusut sampai Juni mendatang dan mungkin berkurang hingga 1,5 juta ton. Ini akan menjadi penurunan produksi terendah sejak Februari 2011.
"Sementara di Indonesia akan turun 2,5 juta ton sampai Juli," kata Dorab Mistry, Direktur Godrej International Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (4/3).
Secara teknikal, harga bergerak di atas moving average (MA) 50, 100 dan 200 mengindikasikan peluang naik. Garis MACD di area positif 27. RSI naik di level 59. Hanya stochastic yang bergerak turun di level 73. "Masih cukup kuat dan belum akan menyentuh level support RM 2.300 per metrik ton," papar Deddy.
Prediksi Deddy, harga CPO hari ini bergerak di RM 2.300-RM 2.350 per metrik ton, dan dalam sepekan RM 2.250– RM 2.400 per metrik ton. Ariana menduga, harga CPO sepekan ke depan mungkin tertekan di RM 1.800–RM 2.200 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita