Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



NEW YORK. Kurs dollar AS yang lebih kuat mendorong harga minyak dunia turun tajam pada Selasa (Rabu pagi WIB), menambah tekanan dahsyat di pasar dari membanjirnya pasokan global.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April anjlok 1,71 dollar AS, menjadi ditutup pada 48,29 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April jatuh 2,14 dollar AS menjadi menetap di 56,39 dollar AS per barel. Patokan global telah jatuh dalam enam dari tujuh sesi perdagangan terakhir.

Dollar naik terhadap mata uang utama lainnya, mencapai tingkat tertingggi dalam hampir 12 tahun terhadap euro, di tengah kekhawatiran atas negosiasi utang Yunani dan ekspektasi Federal Reserve akan segera menaikkan suku bunganya.

Data penggajian non pertanian AS yang positif untuk Februari telah mengangkat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya pada pertengahan tahun ini, yang memberikan dorongan terhadap dollar AS.

Bank sentral AS telah mempertahankan suku mendekati nol selama hampir tujuh tahun untuk mengangkat ekonomi berkurang.

"Jelas penguatan dollar AS akhirnya mengejar pasar minyak," kata John Kilduff dari Again Capital, mencatat bahwa reli greenback juga memukul pasar saham, terutama saham industri minyak.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,6 % pada perdagangan sore, sementara indeks FTSE 100 di London turun 2,5 %.

Sebuah penguatan greenback membuat minyak yang dihargakan dalam dollar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lemah, sehingga mengurangi permintaan.

"Data IHK lemah dari Tiongkok dan kekhawatiran atas reformasi ekonomi Yunani berkontribusi terhadap latar belakang pelemahan ini," kata Tim Evans, analis Citi Futures.

Pengamat pasar umumnya memperkirakan pasokan yang berlimpah hanya akan menambah buruk, sebagian karena permintaan akan sedikit berkurang karena awal musim semi di belahan bumi utara.

Laporan prospek pasar Departemen Energi AS (DoE) yang dirilis Selasa, memproyeksikan "berlanjutnya penumpukan besar dalam persediaan minyak mentah AS untuk tahun ini, termasuk di pusat penyimpanan di Cushing, Oklahoma." Karena produksi minyak AS meningkat, stok minyak mentah komersial baru-baru ini telah mencapai rekor tertinggi minggu demi minggu. Laporan persediaan minyak mingguan DoE berikutnya, keluar pada Rabu, diperkirakan menunjukkan peningkatan lain.

Kelebihan pasokan global terus membebani pasar. Total produksi minyak mentah AS diperkirakan rata-rata 9,4 juta barel per hari pada Februari, menurut prospek energi yang dirilis Badan Informasi Energi (EIA) pada Selasa.

EIA memproyeksikan rata-rata produksi minyak mentah AS mencapai 9,3 juta barel per hari pada 2015 dan 9,5 juta barel per hari pada 2016, mendekati 9,6 juta barel per hari, tingkat rata-rata tertinggi tahunan produksi AS pada 1970.

Sementara itu, ada sedikit tanda untuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memproduksi sepertiga minyak dunia, akan memangkas kuota produksi kolektif dari 30 juta barel per hari, dalam menanggapi kemerosotan harga minyak.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: Xinhua


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Pengaturan harga jual maksimal batubara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang kontradiksi dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan cadangan batubara nasional.

Di mana, besaran harga jual batubara harus mengikuti ketentuan acuan biaya produksi serta tidak boleh melebihi US$ 30 per ton untuk kalori rendah yaitu 3.000 kkal/kg (GAR).

"Dari sisi pemilik tambang, tentu akan disulitkan dengan adanya acuan biaya produksi dan pembatasan harga maksimum US$ 30 per ton," kata Budi Santoso, Ketua Working Group Kebijakan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) ketika dihubungi KONTAN, Senin (9/3).

Asal tahu saja, baru-baru ini pemerintah merilis Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Nomor 466.K/32/DJB/2015 tentang Biaya Produksi untuk Penentuan Harga Batubara. Pemerintah menetapkan 13 komponen biaya dan ditambah iuran produksi alias royalti sebesar 20,3% dan margin sebesar 25% untuk menentukan harga jual batubara ke PLTU mulut tambang.

Selain itu, pemerintah juga menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 3/2015 terkait prosedur pembelian tenaga listrik sekaligus harga patokannya. Dalam Beleid tersebut, harga jual maksimal batubara kalori rendah ke PLTU mulut tambang ditetapkan sebesar US$ 30 per ton.

Budi mengatakan, dengan penetapan ini para penambang tentu akan menekan biaya pengupasan tanah atawa striping ratio untuk menjaga keekonomian tambang. "Kalau striping ratio diturunkan, maka jumlah cadangan akan turun sehingga umur tambang tidak maksimal dan juga akan berdampak pada keekonomian PLTU," kata dia.

Seharusnya, lanjut Budi, pemerintah tidak perlu membatasi harga jual maksimal dan menyerahkannya secara business to business (B to B) antar pengusaha dan pembangkit. "Setiap tambang punya struktur biaya sendiri dan tidak bisa disamaratakan," kata dia.

Editor: Hendra Gunawan

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Kurs dollar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Senin (Selasa pagi WIB), karena investor mengambil keuntungan dari kenaikan setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat dirilis Jumat lalu.

Laporan lapangan pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan memicu spekulasi pasar bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunganya lebih awal daripada yang diantisipasi, mengingat pemulihan kondisi pasar tenaga kerja AS.

Indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun pada Senin dari tingkat tertinggi sebelas tahun pada 97,595 yang dicapai dalam sesi terakhir sebelumnya. Pada perdagangan sore, indeks turun 0,04 % menjadi 97,578 setelah beberapa aksi ambil untung oleh para investor.

Sementara itu, euro tetap pada tingkat terendah dalam hampir 12 tahun terhadap dollar AS, karena Bank Sentral Eropa (ECB) memulai program pelonggaran kuantitatif 1,1 triliun euro (1,2 triliun dollar AS) pada Senin.

Pada akhir perdagangan di New York, euro berada datar di 1,0858 dollar AS dari sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,5131 dollar dari 1,5048 dollar. Dollar Australia turun menjadi 0,7713 dollar dari 0,7720 dollar.

Dollar AS dibeli 121,18 yen Jepang, lebih tinggi dari 120,69 yen dari sesi sebelumnya. Dollar AS naik tipis menjadi 0,9849 franc Swiss dari 0,9848 franc Swiss, dan merosot ke 1,2591 dollar Kanada dari 1,2611 dollar Kanada.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: Xinhua


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga minyak dunia terus menunjukkan tren pelemahan. Minyak Brent untuk pengiriman April turun 52 sen menjadi US$ 59,21 per barel di ICE Futures Europe di London. Minyak Brent di perdagangan di Singapura juga turun menjadi US& 59,43 barel di Singapura.

Selama sepekan kontrak Brent telah turun US$ 2,85 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) dalam perdagangan di New York Mercantile Exchange juga turn 29 sen, atau 0,6% menjadi US$ 49,32 per barel.

Turunnya harga minyak terjadi sebagai imbas lonjakan pasokan minyak mentah dan penguatan nilai tukar dollar AS. Penguatan dollar membuat permintaan akan barang mentah secara global menurun.

Selama setahun ini harga minyak telah turun hampir 50%, sebagai efek kenaikan suplai minyak mentah Amerika Serikat dan negara produsen lain. "Harga minyak mentah masih akan terus turun karena suplai yang tinggi," kata  Hong Sung Ki, analis komoditas Samsung Futures Inc, Senin (9/3).

Namun Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla El-Badri tetap yakin suplai dan permintaan akan minyak mentah akan kembali stabil di pertengahan tahun ini. Pada perkiraannya, Minggu (8/3), Abdalla mengatakan harga minyak akan stabil seiring dengan pulihnya konsumsi minyak. "Itu akan membantu kestabilan pasar global," kata Menteri Minyak Arab Saudi  Ali al-Naimi.

Saudi Arabia, pengekspor minyak mentah terbesar dunia, pada November 2014 lalu memimpin Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk menerapkan kebijakan kuota produksi minyak sebesar 30 juta barel per hari.

Editor: Uji Agung Santosa
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga tembaga turun dalam kurun tiga hari terakhir. Penurunan terjadi pasca anjloknya data impor metal China ke posisi terendah dalam 4 tahun.

Mengutip Bloomberg, Senin (9/3) pukul 1:27 waktu Hongkong, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,3% ke US$ 5.730 per metrik ton. Harga ini turun sepekan 2,97% dalam sepekan terakhir.

Anjloknya impor China juga mempengaruhi terhadap permintaan tembaga yang bakal lesu di Negara tersebut. Adapun data impor logam China pada Februari  merosot 23% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan kondisi penurunan impor logam di China mengindikasi kebutuhan industri dalam negeri China yang sedang bermasalah karena adanya perlambatan ekonomi.

Sebelumnya, disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi China sebesar 7% tahun ini. Namun menurut pelaku pasar pertumbuhan ekonomi China masih akan melambat.  Ke depannya Ibrahim menilai potensi menguatnya harga tembaga sangatlah tipis.

Adanya stimulus mini yang di gelontorkan oleh Bank Sentral China belum bisa menutupi pertumbuhan ekonomi China apalagi yang bersamaan dengan berkembangnya spekulasi kenaikan suku bunga The Fed.

Harga tembaga juga akan makin tertekan akibat penguatan dollar AS dan Indeks Dollar AS. Untuk diketahui harga tembaga saat ini sangat rentan terhadap indeks dollar. ““Kalau indeks dollar AS sudah tinggi harapan harga menguat sangat tipis,” kata Ibrahim.

Menurutnya indeks dollar semakin kuat lantaran Bank Sentral China yang sudah  menurunkan  suku bunga sebanyak 3 kali sejak Januari,  mengakibatkan pelaku pasar merasa pesimis terhadap pertumbuhan ekonomi di China. “Indeks dollar AS diuntungkan karena masalah tersebut,” kata Ibrahim.

Perlu diketahui indeks dollar kemarin (9/3) berada diposisi 97,71, angka tersebut menguat tajam di banding bulan lalu. Ibrahim menduga, indeks dollar AS akan tembus ke level 100 dalam waktu dekat.

“Kemungkinan besar waktu Maret-April akan indeks dollar di level 100 akan tercapai, sehingga mengakibatkan harga komoditas termasuk tembaga kembali akan terjungkal,” jelas Ibrahim.

Kemungkinan tren menurunnya harga tembaga juga di perkuat dengan analisis teknikal. Ibrahim mengatakan moving average (MA) posisinya 30%  di atas Bollinger bawah. Begitu pula Stochastik masih di posisi 60% negatif. Sementara itu relative strength index (RSI) dan moving average convergence divergence (MACD) 60% negatif.

“Kelima indikator tersebut menunjukkan negatif, sehingga secara teknikal harga tembaga masih akan turun,”  kata Ibrahim.

Ibrahim menduga Selasa (10/3) harga tembaga akan bergulir di angka US$ 5.630 – US$ 5. 755 per metrik ton. Sementara itu, sepekan mendatang harga tembaga US$ 5.540 – US$ 5.730.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita