Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL




Cirebon - Mesin yang digendong oleh Datsun GO+ Panca ternyata 1 keluarga dengan Nissan March. Jadi, konsumen GO+ Panca tak perlu khawatir susah mencari spare part-nya, karena ada sebagian dari spare part Nissan March bisa digunakan di GO+ Panca.

Sales President Product Planning, After Sales, Dealer, Development and Customer Statisfaction PT Nissan Motor Indonesia (NMI), Teddy Irawan, menjelaskan, karena mesin GO+ Panca masih 1 keluarga dengan March jadi spare part yang bisa digunakan kebanyakan dari mesin.

"Engine part itu seperti koil, oli filter, crankshaft, piston (diameternya sama) hingga ke kaki-kainya," kata pria yang akrab disapa Teddy di sela-sela acara media test drive Datsun GO+ Panca di Cirebon.

Menurutnya, ia tidak bisa menyebutkan spare part apa saja secara satu-persatu karena 1 mobil itu terdiri dari puluhan ribu komponen.

"Sebetulnya cukup banyak, saya tidak ingat berapa banyaknya. Tapi yang banyak kaya di engine part," katanya lagi.

Untuk diketahui, mobil lima-pintu, MPV 5+2 Datsun GO+ Panca dibekali dengan mesin berkapasitas 1,2 liter 68 hp yang berpadu dengan transmisi lima percepatan manual.

Selain itu, tersedia dalam 5 tipe yaitu D, A, A option, T, dan T option. Datsun Go+ Panca D menjadi tipe terendah dan tipe teratas Datsun Go+ Panca T option. Dengan harga mulai Rp 85 juta - Rp 103 juta dan mulai dikirim pada bulan Juni.

Datsun GO+ Panca dijual di 39 diler Nissan dan Datsun, pada akhir tahun fiskal akan tersedia di 95 dealer di seluruh Indonesia.


Nara Sumber : oto.detik.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA—Harga CPO di Bursa Malaysia terus menanjak seiring kabar kebijakan tarif 0% untuk pajak ekspor sawit Indonesia akan dipertahankan pada April.

Kontrak CPO untuk Mei 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, dibuka melonjak 1,56%  ke harga 2.341 ringgit atau Rp8,2 juta per ton. Kontrak terus menguat 1,87% ke 2.348 ringgit atau Rp8,3 juta per ton pada pukul 10.06 WIB.

Komoditas tersebut  bergerak pada kisaran 2.335—2.349 ringgit per ton pada awal perdagangan hari ini.

Dewan Minyak Sawit Indonesia, menurut Bloomberg, menyatakan bea keluar 0% akan bertahan pada April karena harga sawit di pasar komoditas Rotterdam diproyeksikan bertahan di bawah US$750 per ton sepanjang bulan tersebut.

Di sisi lain, ekspor kelapa sawit Malaysia turun 14,5% dari 1.114,642 ton pada Januari menjadi 953.053 ton pada Februari.

Kontrak CPO untuk April 2014 bergerak turun 1,56% ke 2.344 ringgit atau Rp8,31 juta per ton pada pukul 10.09 WIB setelah dibuka naik 1,39% ke 2.340 ringgit per ton.

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO Mei 2015

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

2/3/2015

(10.06 WIB)

2.348

+1,87%

27/2/2015

2.305

+1,27%

26/2/2015

2.276

+1,25%

25/2/2015

2.248

-0,40%

24/2/2015

2.257

+0,80%

Sumber: Bloomberg

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih berpeluang mekar pada pekan ini. Wacana Pemerintah Indonesia menurunkan acuan batas bawah pengenaan bea keluar diperkirakan bisa menyurutkan pasokan dari negeri ini.

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/2), harga CPO pengiriman Mei 2015 di Bursa Derivative Malaysia ditutup melesat 1,27% menjadi RM 2.305 atau setara US$ 637,13 per metrik ton. Ini harga tertinggi sejak 17 Februari lalu.

Analis PT Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, CPO diuntungkan karena nilai tukar ringgit Malaysia (MYR) melemah terhadap terhadap dollar Amerika Serikat (USD). Akhir pekan lalu, pairing USD/MYR naik 0,56% menjadi 3,6042.

Pelemahan ringgit menyebabkan harga beli minyak sawit lebih murah, sehingga pelaku pasar memanfaatkan momen ini. Selain itu, harga minyak sawit juga terangkat karena sentimen dari Indonesia.

Sentimen itu adalah, Pemerintah Indonesia dikabarkan akan menurunkan ambang batas pengenaan bea ekspor. Seperti diketahui, selama ini, pemerintah baru mengutip pajak ekspor apabila harga CPO berada di atas US$ 750 per ton.

Nah, lantaran harga minyak sawit terus turun, pemerintah berniat menurunkan ambang batas tersebut. "Jika kebijakan itu diterapkan, minat ekspor CPO dari Indonesia akan berkurang, sehingga pasokan global ikut turun," kata Deddy, Jumat (27/2). Suplai yang seret membuka peluang kenaikan harga di pasar global.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan kebijakan yang berefek positif pada harga minyak sawit. Produsen minyak sawit terbesar di dunia ini menaikkan besaran subsidi biofuel mulai Maret 2015. Kebijakan tersebut tentu akan memacu aktivitas produksi biofuel yang bahan bakunya menggunakan minyak sawit.

Analis MNC Securities Dian Agustina menambahkan, sinyal perbaikan ekonomi di China juga menyokong harga CPO. Perbaikan itu tercermin dari data ekonomi berupa indeks HSBC Flash Manufaktur China (PMI) bulan Februari 2015 yang naik ke level 50,1, dari bulan sebelumnya hanya 49,5. Data ini melebihi perkiraan pelaku pasar.

Membaiknya data manufaktur China menghadirkan optimisme permintaan CPO dunia mulai stabil. Maklum, Negeri Panda ini pengguna minyak sawit terbesar di dunia. "Kalau tidak ada sentimen negatif menghadang, harga CPO masih bisa menguat di awal pekan ini," prediksi Dian.

Produksi tetap tinggi

Di sisi lain, Deddy menduga, produksi CPO dunia masih akan meningkat pada tahun ini. Sekalipun, pada akhir tahun lalu, dua negara produsen CPO terbesar di dunia, yaitu Indonesia dan Malaysia sempat dilanda cuaca buruk berupa badai El-Nino.

Total produksi minyak sawit kedua negara ini diperkirakan mencapai 51,1 juta ton. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun lalu, yakni sekitar 49,2 juta ton. Senada dengan Dian, Deddy tetap memprediksi, harga minyak sawit bakal menguat pada pekan ini.

Perkiraan itu didukung dengan indikator teknikal. Secara teknikal, sinyal penguatan masih terbuka. Ini tercermin dari dari harga CPO yang berada di atas moving average (MA) 50, 100 dan 200. Lalu, moving average convergence-divergence (MACD) juga di area positif 8.

Indikator lain berupa relative strength index (RSI) juga bergerak naik di posisi 56. Hanya, sinyal penguatan sedikit tertahan lantaran stochastic bergerak sideways di area 46.

Prediksi Deddy, awal pekan ini, harga minyak sawit bakal bergerak naik di rentang RM 2.200-RM 2.350 per metrik ton. Sementara, Dian menebak, sepekan ini, harga CPO bergerak naik antara RM 2.300-RM 2.330 per metrik ton.

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Masa waktu pembahasan Memorandum of understanding (MoU) amandemen kontrak PT Newmont Nusa Tenggara akan segera berakhir pada Selasa, 3 Maret 2015.

Sempitnya waktu yang tersisa untuk menghasilkan draf kontrak karya (KK) perubahan membuat pemerintah dan perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat tersebut sepakan untuk memperpanjang jangka waktu MoU amandemen kontrak.

Hal tersebut diungkapkan Martiono Hadianto, Presiden Direktur Newmont Nusa Tenggara usai menggelar pertemuan dengan R Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, pada Jumat (27/2) akhir pekan lalu.

"Nanti sebelum tanggal 3 Maret, kami akan buat kesepakatan untuk memperpanjang MoU," kata Martiono. Namun, ia enggan menjelaskan jangka waktu perpanjangan MoU amandemen kontrak tersebut.

Asal tahu saja, pada 3 September silam, Kementerian ESDM dan Newmont menggelar penandatangan MoU amandemen kontrak. Kedua pihak sepakat untuk merevisi KK Newmont terkait enam poin yang diamanatkan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara.

Jangka waktu nota kesepahaman tersebut berlaku selama enam bulan sejak ditandatanangi atau habis pada Selasa (3/3) depan untuk ditingkatkan tahapannya menjadi amandemen KK.

Adapun beberapa poin yang disepakati dalam MoU amandemen kontrak Newmont di antaranya kenaikan tarif royalti emas, perak, dan tembaga menjadi 3,75%, 3,25% dan 4%, pengurangan luas wilayah menjadi 66.422 hektare.

Perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat itu juga bersedia mendepositokan jaminan kesungguhan senilai US$ 25 juta. Jaminan tersebut sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk melakukan kegiatan pemurnian di dalam negeri sebelum 2017 mendatang.

Editor: Hendra Gunawan

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak diproyeksikan masih dalam tren bearish meski kemarin sempat naik lumayan. Belum ada faktor fundamental baru yang signifikan menyebabkan harga minyak sulit naik secara konsisten. Berdasarkan data Bloomberg, pada Jumat (27/2) pukul 16:25 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April di New York Mercantile Exchange (NYMEX) memang menguat 1,97% dibandingkan sehari sebelumnya menjadi US$ 49,12 per barel. Harga minyak mentah kemarin meningkat setelah sehari sebelumnya sempat terkoreksi ke level US$ 48,17 per barel.

"Pasar juga mungkin sedang melakukan penyesuaian yang memang biasa terjadi di akhir bulan seperti sekarang," kata Tonny Mariano, analis Harvest International Futures, kepada KONTAN, kemarin.

Namun, rebound harga minyak tidak dapat dijadikan tolok ukur bahwa harga komoditas energi tersebut akan terus bergerak naik. Harga komoditas, kata Tonny, justru masih dalam tekanan lantaran para eksportir minyak terutama yang tergabung dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) tidak mengambil tindakan nyata untuk menstabilkan harga minyak. OPEC bahkan tetap bersikukuh mempertahankan kuota produksi sebanyak 30 juta barel minyak per hari.

Suluh Adil Wicaksono, analis Millenium Penata Futures, menyatakan, kebijakan produksi OPEC ini menjadi kunci yang bisa membuat tren bearish harga minyak berakhir. "Kalau OPEC mau memangkas kuota produksinya, harga minyak kemungkinan besar bakal naik lagi," ungkap Suluh.

Tren bearish minyak ini sebenarnya merugikan banyak pengekspor minyak. Banyak perusahaan minyak, terutama yang berbasis di Amerika Serikat (AS), mulai memangkas jumlah tenaga kerjanya. Toh, harga minyak tentu akan tetap rendah apabila OPEC selaku kumpulan eksportir terbesar minyak di dunia tak mau menurunkan kuota produksinya.

Suluh bilang, dari sisi permintaan memang agak susah diharapkan untuk melonjak pada tahun ini lantaran perekonomian global melambat. Sejak awal tahun kemarin, Bank Dunia sudah memangkas estimasi pertumbuhan ekonomi global sepanjang 2015 menjadi 3%.

Pangkas target

Padahal, sebelumnya, Bank Dunia optimistis akan kondisi pasar dan memproyeksikan perekonomian global tumbuh 3,4% sepanjang 2015. Bank Dunia juga sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 untuk China, dari sebelumnya 7,2% menjadi 7%.

Tidak lama setelah itu, Dana Moneter International (IMF) turut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global selama 2015 menjadi 3,5%. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 yang ditetapkan IMF pada Oktober 2014 sebesar 3,8%. Di waktu bersamaan, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari 7,1% menjadi 6,8% di tahun ini.

Ketimpangan antara pasokan dan permintaan inilah yang membuat harga minyak sulit beranjak naik. Dengan beberapa faktor itu, kedua analis memprediksi harga minyak cenderung terkoreksi di awal pekan depan.

Prediksi ini diperkuat beberapa indikator teknikal yang memancarkan sinyal koreksi. Suluh bilang, harga minyak saat ini masih di bawah moving average (MA) 50. Indikator stochastic memperkuat peluang koreksi lantaran berada di posisi 38.

Sementara, relative strength index (RSI) di area netral 48. Suluh memprediksi, harga minyak di awal pekan depan turun di support US$ 46,45-US$ 47,80 dan resistance US$ 50-US$ 52,10 per barel AS. Adapun, Tonny memprediksi, harga minyak turun di rentang US$ 48-US$ 50 per barel.

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita