Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



PALEMBANG. Pembangunan jalan tol Palembang-Indralaya, Sumatera Selatan (Sumsel), akan dimulai dibangun April 2015. Jalan tol sepanjang 22 kilometer itu memerlukan anggaran sebesar Rp 2 triliun.

Untuk tahap pertama, jalan tol ini akan dibangun sepanjang tujuh kilometer terlebih dulu. “Karena lahannya sudah selesai dibebaskan,” kata Ketua Komisi VI DPR RI Hafisz Tohir saat kunjungannya di Palembang, Jumat (13/3).

Ia mengatakan, Gubernur Sumsel menyampaikan sepanjang tujuh kilometer lahannya sudah selesai dibebaskan, sedangkan 15 kilometer lagi sedang dalam tahap pembebasan lahan.

Karena itu, pembangunan jalan tol dilakukan dua tahap, pertama diselesaikan untuk yang tujuh kilometer dalam satu tahun yakni dimulai pada April 2015 dan selesai April 2016.

Untuk anggarannya, ditahun pertama akan disediakan dana sebesar Rp 1 triliun, dan sisanya akan dikucurkan setelah pembebasan lahan.

"Yang akan membangun itu Hutama Karya, sementara perusahaan-perusahaan daerah bisa ikut di sub konstruksi. Tol ini ditujukan supaya di Sumsel ini juga hidup perusahaan-perusahaan dari industri kecil," katanya.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Antara

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Rencana pemangkasan produksi batubara oleh sejumlah produsen besar bisa memberikan sentimen positif bagi harga batubara. Sayang, pergerakan harga batubara bakal terhadang penguatan dollar Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, Selasa (10/3), harga batubara kontrak pengiriman April 2015 di ICE Futures Europe di US$ 60,75 per metrik ton, turun 1,29% dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sepekan terakhir, harga batubara tergerus 4,78%. Analis PT Pefindo Guntur Tri Hariyanto menjelaskan, harga minyak yang sempat rebound ke US$ 50 per barel tidak terlalu berdampak pada harga batubara.

Menurutnya, harga batubara masih bergerak mendatar di sekitar US$ 60 per metrik ton. Kendati demikian, Guntur melihat potensi kenaikan harga batubara. Hal ini didorong oleh rencana pemangkasan produksi oleh para produsen batubara besar dunia, yaitu Glencore, Rio Tinto, dan Vale. "Glencore mengumumkan akan memangkas produksi tahun 2015 sebanyak 15 juta ton, atau 20% lebih besar dari pemangkasan tahun lalu," kata Guntur.

Pengurangan produksi salah satunya dilakukan di tambang Afrika Selatan sebanyak 5 juta ton. Sebelumnya, Glencore juga sudah melakukan penghentian produksi di tambang Australia selama tiga minggu pada perayaan Natal.

Selain itu, Guntur menambahkan, produksi divisi batubara Rio Tinto tahun 2015 diperkirakan turun sekitar 3,3 juta ton atau 15% dari produksi tahun lalu. Saat ini, Rio Tinto ingin menggabungkan divisi batubara dengan divisi tembaga untuk menghemat biaya.

Produsen lainnya, yaitu Vale, juga pesimistis untuk melanjutkan produksi batubara di tambang Australia. Lalu, pasokan batubara dari Indonesia tahun ini juga diperkirakan berkurang. Sedangkan, dari sisi permintaan, impor batubara India diperkirakan menguat, bahkan bisa menyalip China di masa depan.

Pada Februari 2015, impor batubara India melonjak 31% year on year didorong oleh beroperasinya pembangkit listrik baru. Penguatan dollar AS Analis PT Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono melihat, harga batubara masih bergerak sideways.

Harga batubara terjaga lantaran perbaikan ekonomi di kawasan Eropa, China, dan Jepang setelah bank sentral masing-masing negara menggelontorkan stimulus. Sayang, penguatan dollar AS menghambat laju harga batubara.

Apalagi, mata uang ini berpotensi terus menguat seiring rencana Bank Sentral AS, The Fed menaikkan suku bunga. "Harga sulit turun tajam karena sudah terlalu murah. Sementara, untuk menanjak, komoditas terbebani dengan penguatan dollar AS," jelas Wahyu.

Secara teknikal, Wahyu bilang harga berada di atas moving average (MA) 50, namun berada di bawah MA 100, dan MA 200. MACD berada di area negatif. Stochastic jenuh jual (oversold) di level 16%. Sementara, RSI berada di area oversold level 18,5%. Stochastic maupun RSI memberikan sinyal rebound (naik).

Wahyu memprediksi harga batubara sepekan mendatang berada di US$ 56,40-US$ 64 per metrik ton. Sedangkan, Guntur memprediksi, harga batubara terentang di US$ 60-US$ 62 per metrik ton.

 

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Otot poundsterling (GBP) mulai kisut setelah laporan data ekonomi Inggris meleset dari harapan. Pounsterling kalah melawan dollar AS (USD) dan melawan dollar Aussie (AUD), namun masih unggul di hadapan euro (EUR).

Mengutip Bloomberg, Rabu (11/3) pukul 20.15 WIB, pasangan GBP/USD turun 0,29% menjadi 1,5027. Pairing GBP/AUD turun tipis 0,1% ke posisi 1,9744. Adapun, GBP naik 0,90% versus EUR menjadi 0,7035.

Analis PT Millenium Penata Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan, GBP sempat menguat terhadap AUD, namun usai rilis data ekonomi yang buruk, pairing GBP/AUD bergerak sideways cenderung turun.

Kemarin, Inggris merilis pertumbuhan produksi manufaktur bulan Januari 2015 minus 0,5%. Ini meleset dari ekspektasi, yaitu tumbuh 0,2%. Namun, sentimen buruk juga membayangi Aussie.

Pinjaman di sektor perumahan (home loans) bulan Januari 2015 minus 3,5%. Padahal, bulan sebelumnya tumbuh 2,7%. Jadi, fundamental keduanya tidak cukup kuat. "Hari ini, pasangan GBP/AUD ada peluang naik terbatas. Namun, jika level support 1,9650 ditembus, pasangan ini bisa jatuh menuju 1,9510," prediksi Suluh.

Analis dan Direktur PT Astronacci International Gema Goeryadi memprediksi, pasangan GBP/USD masih dalam tren bearish sepekan ini. Maklum, di tengah perlambatan ekonomi global, ekonomi Amerika Serikat cukup solid. Data teranyar menunjukkan, pasar tenaga kerja AS terus pulih. "Pairing ini bergerak dalam tren bearish dengan target support di level 1,4980," tuturnya.

Sementara, analis PT Monex Investindo Futures Albertus Christian menilai, GBP masih unggul versus EUR lantaran sentimen negatif mendominasi euro. Investor mencemaskan ketidakpastian negosiasi utang antara Yunani dengan para kreditur. Di sisi lain, bank sentral Inggris (BoE) berniat mengerek suku bunga seiring pertumbuhan upah di Inggris mulai solid. "Pairing EUR/GBP akan bergerak relatif stagnan dengan kecenderungan turun," prediksinya.

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Kurs dollar AS yang lebih kuat mendorong harga minyak dunia turun tajam pada Selasa (Rabu pagi WIB), menambah tekanan dahsyat di pasar dari membanjirnya pasokan global.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April anjlok 1,71 dollar AS, menjadi ditutup pada 48,29 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April jatuh 2,14 dollar AS menjadi menetap di 56,39 dollar AS per barel. Patokan global telah jatuh dalam enam dari tujuh sesi perdagangan terakhir.

Dollar naik terhadap mata uang utama lainnya, mencapai tingkat tertingggi dalam hampir 12 tahun terhadap euro, di tengah kekhawatiran atas negosiasi utang Yunani dan ekspektasi Federal Reserve akan segera menaikkan suku bunganya.

Data penggajian non pertanian AS yang positif untuk Februari telah mengangkat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya pada pertengahan tahun ini, yang memberikan dorongan terhadap dollar AS.

Bank sentral AS telah mempertahankan suku mendekati nol selama hampir tujuh tahun untuk mengangkat ekonomi berkurang.

"Jelas penguatan dollar AS akhirnya mengejar pasar minyak," kata John Kilduff dari Again Capital, mencatat bahwa reli greenback juga memukul pasar saham, terutama saham industri minyak.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,6 % pada perdagangan sore, sementara indeks FTSE 100 di London turun 2,5 %.

Sebuah penguatan greenback membuat minyak yang dihargakan dalam dollar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lemah, sehingga mengurangi permintaan.

"Data IHK lemah dari Tiongkok dan kekhawatiran atas reformasi ekonomi Yunani berkontribusi terhadap latar belakang pelemahan ini," kata Tim Evans, analis Citi Futures.

Pengamat pasar umumnya memperkirakan pasokan yang berlimpah hanya akan menambah buruk, sebagian karena permintaan akan sedikit berkurang karena awal musim semi di belahan bumi utara.

Laporan prospek pasar Departemen Energi AS (DoE) yang dirilis Selasa, memproyeksikan "berlanjutnya penumpukan besar dalam persediaan minyak mentah AS untuk tahun ini, termasuk di pusat penyimpanan di Cushing, Oklahoma." Karena produksi minyak AS meningkat, stok minyak mentah komersial baru-baru ini telah mencapai rekor tertinggi minggu demi minggu. Laporan persediaan minyak mingguan DoE berikutnya, keluar pada Rabu, diperkirakan menunjukkan peningkatan lain.

Kelebihan pasokan global terus membebani pasar. Total produksi minyak mentah AS diperkirakan rata-rata 9,4 juta barel per hari pada Februari, menurut prospek energi yang dirilis Badan Informasi Energi (EIA) pada Selasa.

EIA memproyeksikan rata-rata produksi minyak mentah AS mencapai 9,3 juta barel per hari pada 2015 dan 9,5 juta barel per hari pada 2016, mendekati 9,6 juta barel per hari, tingkat rata-rata tertinggi tahunan produksi AS pada 1970.

Sementara itu, ada sedikit tanda untuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memproduksi sepertiga minyak dunia, akan memangkas kuota produksi kolektif dari 30 juta barel per hari, dalam menanggapi kemerosotan harga minyak.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: Xinhua


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Pengaturan harga jual maksimal batubara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang kontradiksi dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan cadangan batubara nasional.

Di mana, besaran harga jual batubara harus mengikuti ketentuan acuan biaya produksi serta tidak boleh melebihi US$ 30 per ton untuk kalori rendah yaitu 3.000 kkal/kg (GAR).

"Dari sisi pemilik tambang, tentu akan disulitkan dengan adanya acuan biaya produksi dan pembatasan harga maksimum US$ 30 per ton," kata Budi Santoso, Ketua Working Group Kebijakan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) ketika dihubungi KONTAN, Senin (9/3).

Asal tahu saja, baru-baru ini pemerintah merilis Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Nomor 466.K/32/DJB/2015 tentang Biaya Produksi untuk Penentuan Harga Batubara. Pemerintah menetapkan 13 komponen biaya dan ditambah iuran produksi alias royalti sebesar 20,3% dan margin sebesar 25% untuk menentukan harga jual batubara ke PLTU mulut tambang.

Selain itu, pemerintah juga menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 3/2015 terkait prosedur pembelian tenaga listrik sekaligus harga patokannya. Dalam Beleid tersebut, harga jual maksimal batubara kalori rendah ke PLTU mulut tambang ditetapkan sebesar US$ 30 per ton.

Budi mengatakan, dengan penetapan ini para penambang tentu akan menekan biaya pengupasan tanah atawa striping ratio untuk menjaga keekonomian tambang. "Kalau striping ratio diturunkan, maka jumlah cadangan akan turun sehingga umur tambang tidak maksimal dan juga akan berdampak pada keekonomian PLTU," kata dia.

Seharusnya, lanjut Budi, pemerintah tidak perlu membatasi harga jual maksimal dan menyerahkannya secara business to business (B to B) antar pengusaha dan pembangkit. "Setiap tambang punya struktur biaya sendiri dan tidak bisa disamaratakan," kata dia.

Editor: Hendra Gunawan

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita