- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2284
JAKARTA. Harga minyak mentah kembali jatuh ke level di bawah US$ 45 per barel. Harga karam, setelah produksi dan stok minyak Amerika Serikat (AS) melesat. Sedangkan dollar AS mencapai rekor tertinggi.
Mengutip data Bloomberg, Jumat (13/3), harga minyak kontrak pengiriman April 2015 di New York Mercantile Exchange di level US$ 44,85 per barel turun 4,7% dibandingkan hari sebelumnya. Ini merupakan level terendah, setidaknya sejak akhir Januari 2015. Sepekan terakhir, harga minyak anjlok 9,6%.
Penurunan harga minyak turut menekan indeks komoditas atau Bloomberg Commodity Index ke level terendah dalam 12 tahun. Per 6 Maret 2015, stok minyak mentah AS mencapai 448,9 juta barel.
Menurut catatan Energy Information Administration (EIA), ini merupakan cadangan tertinggi sejak Agustus 1982. Stok minyak di Cushing, Oklahoma juga naik 2,32 juta barel menjadi 51,5 juta pekan lalu atau level tertinggi sejak Januari 2013. Lalu, produksi minyak AS mencapai 9,37 juta barel per hari menjadi level tertinggi sejak 1983.
Sementara indeks dollar AS yang mencapai level tertinggi sejak tahun 2008, juga mengurangi daya tarik investasi komoditas. Tonny Mariano, analis PT Esandar Arthamas Berjangka, mengatakan, terjun bebasnya harga minyak akibat empat faktor utama.
Pertama, belum ada kesepakatan antara negara eksportir minyak untuk menetapkan kuota produksi. Kedua, persediaan minyak AS mencapai rekor. Ketiga, kegaduhan politik di Libia dan Timur Tengah tak mampu menopang harga minyak. Keempat, penguatan dollar AS. Indeks dollar AS pada Jumat (13/3) bertengger di level 100,32 atau naik 1,2% dalam sehari.
Masih bearish
Agus Chandra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menilai, harga minyak belum dapat keluar dari zona penurunan (bearish). Menurutnya, pertemuan pejabat Bank Sentral AS (The Federal Reserve) pada Kamis (19/3) dini hari memberikan ekspektasi kenaikan suku bunga semakin dekat. Dollar AS akan semakin kokoh dan menggempur harga minyak. “Harga minyak cenderung akan turun sepekan ke depan,†ujar Agus.
Secara teknikal, Tonny melihat harga minyak tengah bergerak, di bawah moving average 50, 100 dan 200. MACD berada di area negatif. Stochastic sudah memasuki area jenuh jual atau oversold di level 9%.
Indikator RSI juga hampir memasuki area jenuh jual di level 30%. Tonny memprediksi, harga minyak sepekan mendatang berada di US$ 44-US$ 54 per barel. Sementara Agus menduga, harga minyak bakal bergerak di antara US$ 43,5-US$ 51,6 per barel.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2245
JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang drop menyebabkan penerimaan negara dari pos bea keluar turun. Kini Kementerian Keuangan (Kemkeu) ingin menurunkan batas referensi harga CPO yang dikenai bea keluar agar pos ini bisa menambah penerimaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu Suahasil Nazara mengatakan, saat ini ada wacana mengubah aturan bea keluar terhadap CPO. Soalnya, harga CPO kini dalam tren melemah dan sudah di bawah harga referensi pengenaan bea keluar sebesar US$ 750 per ton sejak Juli 2014.
Inilah salah satu penyebab realisasi penerimaan bea keluar hingga 28 Februari 2015 hanya Rp 544,75 miliar. Padahal, target pemerintah di periode tersebut Rp 2,01 triliun.
Selain itu, pemerintah masih perlu membatasi ekspor CPO agar industri hilir di dalam negeri tak kekurangan pasokan. Apalagi, pemerintah ingin meningkatkan porsi biodiesel dari 10% menjadi 15%.
Namun, Suahasil merahasikan detail rencana review kebijakan ini. Yang jelas, kebijakan ini nanti tak akan terlalu membebani pengusaha.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Oza Olavia menambahkan, target setoran penerimaan negara dari pos bea keluar tahun ini Rp 12,05 triliun. Target itu akan gagal tercapai jika tidak ada perubahan referensi harga CPO untuk pengenaan bea keluar.
Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengingat, pemerintah harus hati-hati menurunkan harga refensi pengenaan bea keluar CPO. Saat ini pengusaha CPO sudah tertekan dengan penurunan harga jual, ekspor lesu dan biaya produksi yang terus meningkat. Penurunan harga referensi semakin menurunkan keuntungan pengusaha.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2186
JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan kekuatannya terhadap sejumlah mata uang dunia. Ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika (The Fed) masih menjadi faktor utama bagi penguatan dollar AS.
Mengutip Bloomberg, Jumat (13/3), pasangan EUR/USD turun 1,31% menjadi 1,0496. Pasangan GBP/USD turun 0,93% menjadi 1,4744. Sementara itu, pasangan USD/JPY naik 0,09% menjadi 121,4000.
Analis PT Soe Gee Futures, Nizar Hilmi mengatakan melemahnya euro terhadap dollar AS disebabkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) yang mulai menggelontorkan stimulus moneter berupa pembelian obligasi. “Dengan pembelian obligasi euro akan tetap bearish,†kata Nizar
Masalah utang Yunani yang tak kunjung selesai pun turut berpengaruh “Ini turut memberi tekanan terhadap euro†kata dia.
Nizar memprediksi hari ini pasangan EUR/USD akan bergerak konsilidasi sampai menjelang rapat The Fed yang dijadwalkan Selasa (17/3). Adapun menurut Nizar, data index harga produsen (PPI) dan tingkat kepercayaan konsumen yang dirilis Jumat, apapun hasilnya tidak punya punya pengaruh signifikan.
“Yang menjadi pusat perhatian bagi pasar adalah hasil rapat The Fed,†kata dia
Ariston Tjendra, Head of Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan pairing GBP/USD mengalami penurunan disebabkan oleh data produksi manufaktur Inggris bulan Januari 2015, dan produksi industri Inggris, yang dirilis Rabu (13/3) keduanya menunjukkan hasil buruk atau di bawah ekspektasi.
Ditambah lagi dengan kebijakan Bank Sentral Inggris yang belum mengetatkan kebijakan moneter lantaran tingkat inflasi yang terus turun, juga ikut menekan poundsterling. Sedangkan dari sisi AS potensi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor utama bagi penguatan dollar AS.
Ariston memprediksi hari ini pasangan GBP/USD masih akan terjadi penurunan tetapi dalam koridor yang terbatas, jika belum menembus level support 1,4800. “Penurunannya masih tertahan jika belum menembus level support 1,4800,†kata dia.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2099
Metrotvnews.com, New York: Harga minyak dunia jatuh sebesar sembilan persen pada pekan ini. Pelemahan ini dipicu reli dolar Amerika Serikat (AS) dan peringatan Badan Energi Internasional (IEA) mengenai pasokan minyak yang meningkat.
Reuters melansir, Sabtu (14/3/2015), data menunjukkan penurunan tajam dalam jumlah rig pengeboran minyak AS gagal menginspirasi pasar saham Amerika. Harga patokan minyak Brent menetap di dekat level terendah satu bulan yakni di bawah USD55 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah AS menetap nyaris menuju level terendahnya di bawah USD45 per barel. Sedangkan mata uang dolar mencapai level tertingginya dalam 12 tahun yang seimbang dengan gerak euro.
Harga minyak Brent LCOc1 ditutup ke level USD54,67 atau turun USD2,41 sertara dengan 4,2 persen pada hari itu. Sedangkan minyak mentah AS CLc1 melemah USD44,84, atau turun USD2,21, sertara dengan 4,7 persen. Keduanya turun sembilan persen pada pekan ini.
Adapun harga minyak mulai lebih rendah setelah IEA, menyarankan negara-negara penghasil energi, memperingatkan pasokan yang membanjir secara global di mana Amerika Serikat akan segera kehabisan tank untuk menyimpan minyak mentah.
Selain itu, beberapa pedagang juga khawatir tentang prospek Iran yang mencapai kesepakatan nuklir parsial dengan kekuatan dunia pada akhir Maret dan kesepakatan penuh pada Juni. Kesepakatan ini bisa mengakhiri sanksi terhadap Teheran, memungkinkan untuk mengekspor lebih banyak minyak mentah, yang akan menekan harga.
AHL
Narasumber : metrotvnews.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1938
Metrotvnews.com, Jakarta: Head of Education Monex Investindo Futures‎, Johanes Ginting, mengatakan, Bank Indonesia (BI) belum memiliki alasan yang kuat dalam menurunkan suku bunga acuan (BI rate) dalam waktu dekat. Sebab, saat ini ekonomi Indonesia masih sangat baik.
"Kalau ekonomi kita turun baru BI rate diturunkan, sekarang ini masih bagus. Inflasi sesuai target kan kemarin dan proyek pembangunan infrastruktur juga terus didorong untuk berjalan," kata Johanes, kepada wartawan di Komplek SCBD Sudirman, Jakarta, Jumat (13/3/2015).
Menurut Johanes, posisi BI rate yang saat ini di level 7,5 persen harus dipertahankan, bahkan bisa dinaikkan kembali pada saat The Fed menaikkannya pada pertengahan tahun ini.
"Mungkin The Fed naikkan suku bunganya 0,25 persen di Juni tahun ini. Ini sesuai kabar yang ada di pasar, jika kenaikan fed rate di Juni ini," jelas dia.
Ketika ditanya respons Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla yang meminta BI untuk memotong BI ratenya dalam mendorong ekspansi kredit yang dampaknya memacu ekonomi Indonesia. Dia menegaskan, respon itu akan selalu dipantau pelaku pasar (investor), baik yang datang dari domestik dan asing. Dari situlah asing melihat BI secara langsung, bisa teguh pada pendirian atau tidak.
AHL
Narasumber : metrotvnews.com

















Semua Berita