Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Tembaga menuju kenaikan harga mingguan kedua akibat spekulasi kenaikan permintaan dari Amerika Serikat (AS) sebagai pengguna logam terbesar di dunia. Spekulasi tersebut muncul karena parlemen AS hampir mengesahkan anggaran belanja sebesar US$ 1,1 triliun untuk menjalankan pemerintahan sebelum anggaran habis.

Mengutip Bloomberg, Jumat (12/12), kontrak pengiriman tembaga tiga bulan di London Metal Exchange berada di level US$ 6.490 per metrik ton. Harga naik 0,42% dibandingkan hari sebelumnya. Selama sepekan terakhir, harga tembaga naik 0,6%.

Analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka Ibrahim mengatakan, kenaikan harga tembaga ditopang oleh membaiknya postur anggaran Amerika Serikat (AS). Defisit anggaran AS November 2014 (year on year) tercatat sebesar US$ 56,8 miliar. Defisit ini turun 58% dibandingkan dengan  November 2013 yang sebesar US$ 135,2 miliar.

Positifnya data ekonomi AS ini mengimbangi pelemahan ekonomi China. Untuk diketahui, produksi industri China November hanya tumbuh 7,2%. Angka ini lebih rendah dibanding ekspektasi sebesar 7,5%. “Selain perbaikan data ekonomi AS, tembaga juga diuntungkan dengan perbaikan tenaga kerja Australia. Di tengah musim dingin seperti saat ini, tenaga kerja Australia justru meningkat,” ungkap Ibrahim.

Secara teknikal, Ibrahim mengatakan, harga tembaga berpotensi naik dalam jangka pendek. Pergerakan bollinger band dan moving average berada 80% di atas bollinger tengah. Ini memberi ruang kenaikan harga lanjutan.

Moving average convergence divergence (MACD) berada di level 65% dengan arah positif. Stochastic masih wait and see. Sementara, indikator relative strength index (RSI) berada di level 65% dengan arah positif.

Ibrahim memprediksi, harga tembaga hari ini akan bergulir di kisaran US$ 6.430,50-US$ 6.500 per metrik ton. Namun, harga tembaga sepekan ke depan berpotensi kembali melemah di kisaran US$ 6.380,20-US$ 6.500 per metrik ton.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga tembaga saat ini memberikan kesempatan bagi pelaku pasar untuk melakukan penjualan di harga tertinggi alias profit taking. Sebab, harga tembaga akan kembali jatuh di akhir bulan.

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

TOKYO. Bursa Asia kembali memerah di awal pekan ini (15/12). Data Bloomberg menunjukkan, pada pukul 10.01 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific turun 0,8%. Ini merupakan level terendah sejak 21 Oktober lalu.

Sementara itu, indeks Topix Jepang turun 1%. Sedangkan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,6%, dan indeks NZX 50 Selandia Baru turun 0,8%.

Penurunan indeks acuan yang terjadi di kawasan regional dipicu oleh anjloknya harga minyak dunia. Asal tahu saja, harga minyak sudah melorot lebih dari US$ 40 per barel pada tahun ini. Salah satu pemicunya adalah produksi minyak serpih AS yang melonjak di tengah rendahnya permintaan.

Faktor lainnya adalah penguatan yen Jepang setelah Perdana Menteri Shinzo Abe memenangkan pemilihan umum pada pemilu Jepang. Partai koalisi Abe juga memenangkan lebih dari dua per tiga kursi di parlemen.

"Penurunan harga minyak memicy kecemasan mengenai pertumbuhan ekonomi global serta risiko kredit. Pasar tidak dapat mengabaikannya begitu saja. Pemerintah Abe akan kembali memerintah untuk periode yang lama, yang akan sangat positif bagi Abenomics," jelas Shoji Hirakawa, chief equity strategist Okasan Securities Co di Tokyo.

Editor: Barratut Taqiyyah
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

KOMPAS.com - Harga minyak dunia kembali melemah setelah Badan Energi Internasional, IEA, menurunkan perkiraan permintaan minyak dunia untuk tahun depan.

Harga minyak Brent turun menjadi US$60,50 per barel sebelum naik ke posisi US$62,67 pada hari Jumat (12/12), sementara minyak mentah Amerika diperdagangkan di bawah US$59 per barel. Untuk minyak Brent ini adalah harga terendah sejak Juli 2009.

IEA, organisasi konsultatif beranggotakan 29 negara, memperkirakan, permintaan minyak dunia pada 2015 turun 230.000 barel per hari menjadi 900.000 per hari, karena perkiraan turunnya konsumsi minyak di Rusia dan negara-negara pengekspor minyak.

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam sejak Juni lalu karena melemahnya permintaan dan juga disebabkan oleh peningkatan produksi minyak nonkonvensional (shale oil) di Amerika Serikat yang membuat pasok global bertambah.

"Akar penyebab penurunan harga adalah melonjaknya pasok dari negara-negara non-OPEC ... sementara pertumbuhan permintaan global mencapai titik terendah dalam lima tahun," demikian pernyataan IEA.

Wartawan ekonomi BBC mengatakan turunnya harga minyak dunia bisa menyebabkan deflasi, satu perkembangan yang kurang menguntungkan bagi Jepang, negara-negara yang menggunakan mata uang euro, dan Tiongkok.

Editor : Hindra Liauw
Sumber: BBC Indonesia


Narasumber : kompas.com


Editor : Hindra Liauw
Sumber: BBC Indonesia
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. PT Nissan Motor Indonesia (NMI),  agen pemegang merek (APM) Nissan terus berusaha mendongkrak penjualan mobilnya dengan mengeluarkan mobil niaga. Untuk segmen ini, Nissan akan mendatangkan versi terbaru pikap dobel kabin Navara. Rencananya Nevara baru ini meluncur Maret 2015.

Versi terbaru Navara ini diharapkan bisa mendongkrak penjualan Nissan yang melambat. "Nissan mencoba peruntungan di kendaraan komersial," jelas Budi Nur Mukmin, General Marketing Strategy and Communication Division PT NMI, Rabu (10/12).

Untuk pasar pikap dobel kabin ini, Budi tak mau muluk-muluk memasang target. Banyak pertimbangan untuk mematok penjualan di segmen pikap dobel kabin ini. Apalagi, kompetitor Navara terbilang cukup banyak dan tangguh, antara lain: Mitsubishi Strada Triton, Toyota Hilux dan Isuzu Dmax.

Adapun dari sisi penjualan, sepanjang tahun ini penjualan Navara tidak begitu kencang. Pada periode Januari sampai Oktober 2014 lalu, penjualan Navara hanya 270 unit. Namun begitu, kehadiran versi terbaru Navara diharapkan bisa mendongkrak penjualan menjadi 1.500 unit per tahun.

Agar penjualan bisa berkibar, Nissan akan melakukan pendekatan ke perusahaan tambang dan migas. Tak hanya itu, Nissan juga akan menyasar segmen pasar ritel, yang selama ini menggunakan mobil pikap single cabin.

Untuk diketahui, sepanjang tahun 2014 ini Nissan telah melakukan beragam cara untuk mengerek penjualan. Termasuk melakukan cuci gudang dan memberikan diskon besar untuk produk lama. Namun karena kompetitor melakukan strategi diskon serupa, membuat cara Nissan ini kurang ampuh mengerek jualan.

Kondisi penjualan Nissan bertambah berat saat pemerintah memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada bulan November 2014 lalu. Namun, manajemen Nissan realistis melihat kondisi pasar ini dengan cara memangkas target penjualannya.

Pada periode penjualan tahun fiskal ini (April 2014 - Maret 2015), Nissan memutuskan untuk menurunkan target penjualan dari patokan semula sebanyak 50.000 unit per tahun. "Perkiraan saya penjualan kurang dari target, turun sekitar 10% dari target menjadi 45.000 unit," jelas Budi.

Adapun pada periode Januari-Oktober 2014, penjualan Nissan keseluruhan baru mencapai 29.840 unit atau turun 42% dari periode yang sama tahun 2013 sebanyak 51.742. Walaupun penjualan Nissan turun, namun perusahaan masih bisa berharap dari penjualan mobil low cost green car merek Datsun yang sudah terjual 15.035 unit sampai Oktober 2014.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak mentah semakin tergelincir. Untuk pertama kali selama lebih dari tiga tahun, harga minyak lebih murah dibandingkan harga batubara. Meskipun harga kedua komoditas energi ini sama-sama tergerus, minyak jatuh lebih dalam.

Pada Kamis (11/12) pukul 16.00 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pengiriman Januari 2015 di US$ 61,28 per barel. Harga minyak naik 0,87% dibandingkan hari sebelumnya yang menyentuh US$ 60,94. Sementara harga batubara di bursa Ice Futures pengiriman Januari 2015 pada Rabu (10/12) di US$ 62,8 per metrik ton, naik 0,40% dibandingkan hari sebelumnya.

Sekadar mengingatkan, terakhir kali harga minyak lebih murah dari harga batubara pada semester pertama 2011. Saat itu harga minyak bertengger di US$ 91 per barel. Sementara harga batubara di US$ 139 per metrik ton. Pada bulan Januari-Februari 2009, harga minyak bahkan pernah menyentuh US$ 33 per barel. Saat itu, harga batubara sekitar US$ 65 per metrik ton.

Wahyu Tribowo Laksono, analis Central Capital Futures mengatakan, harga minyak dan batubara sulit naik hingga akhir tahun ini. Laju harga minyak terhadang oleh dua faktor utama. Pertama, kekhawatiran melambatnya ekonomi Eropa dan China.

Kedua, faktor perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) mengakibatkan penguatan dollar. Hal ini berdampak negatif terhadap komoditas yang dijual dalam dollar AS. "Saat ini demand sedang lesu. Sementara supply melimpah," jelas Wahyu.

Guntur Tri Hariyanto, analis PT Pefindo, menilai, harga minyak terbebani karena anggota OPEC enggan memangkas produksi. Namun, musim dingin bisa sedikit mengerek harga minyak. "Outlook harga minyak masih bisa turun karena demand belum kuat," ujar Guntur.

Tahun depan, Guntur cukup optimistis memandang harga minyak seiring perbaikan ekonomi global. Harga batubara juga berpotensi naik. Maklum, Indonesia berwacana akan memangkas produksi batubara. Tujuannya, untuk mengangkat harga si hitam.

Wahyu memprediksi, harga minyak kuartal I-2015 di kisaran US$ 45-US$ 76 per barel. Sementara Guntur menduga, harga batubara di US$ 62- US$ 66 per metrik ton.


Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita