- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2298
JAKARTA. Setelah sempat naik ke level tertinggi selama sepuluh pekan pada Kamis (4/12) lalu, harga nikel terus merosot. Harga tertekan karena investor berekspektasi rendah terhadap pertumbuhan ekonomi China sebagai konsumen nikel terbesar.
Mengutip Bloomberg, Selasa (9/12), pada pukul 12.15 WIB harga nikel kontrak pengiriman Maret 2015 di London Metal Exchange (LME) turun 0,34% dari hari sebelumnya menjadi US$ 16.630 per metrik ton. Namun, sepekan terakhir harga masih tumbuh 1,93%.
"Penurunan harga energi dan metal merupakan refleksi rendahnya ekspektasi pertumbuhan China," kata Steven Dooley, Currency Strategist for the Asia Pacific Region, Western Union Business Solutions.
Ibrahim, Analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, memaparkan, ekonomi Tiongkok yang masih resesi memicu pelemahan permintaan nikel. Stimulus dan pemangkasan suku bunga tidak lantas membantu perbaikan ekonomi Tiongkok. Sebab, "Alasan stimulus dan pengurangan suku bunga China adalah karena ada utang pemerintah dan swasta jatuh tempo pada kuartal empat ini sebesar CNY 500 miliar," jelas Ibrahim.
Faktor lain, stok nikel di pasar masih menumpuk. Negara-negara produsen, seperti Filipina dan Rusia terus menggenjot ekspor. "Negara-negara tersebut menghabiskan kuota produksi kuartal empat," kata Ibrahim. Di sisi lain, indeks dollar Amerika Serikat terus menguat di level 89. Para pelaku pasar memilih menahan diri dalam menghadapi situasi ini. "Ini tidak diinginkan pasar, harga jadi terlalu mahal," jelas Ibrahim.
Belum lagi Zona Eropa, sebagai salah satu pengguna komoditas terbesar masih terbelit persoalan ekonomi. Ini menyebabkan permintaan nikel berkurang. Ibrahim menduga, sepanjang pekan ini harga nikel masih akan jatuh. Apalagi jika nanti pada Rabu (10/12), rilis data ekonomi China seperti consumer price index, producer price index, new yuan loans, dan broad money memberikan hasil lebih rendah dari ekspektasi pasar. Harga nikel akan menukik. Secara teknikal, bollinger band 30% di atas bollinger tengah.
Sedangkan stochastic di level 60% positif dan garis moving average convergence divergence (MACD) di level 65% positif. Relative strength index (RSI) masih wait and see. Keadaan ini mengindikasikan bahwa harga nikel masih mampu rebound terbatas. Ibrahim memprediksi, harga nikel hari ini, berada di support US$ 16.530 per metrik ton. Sedangkan resistance di US$ 16.640 per metrik ton.
Sepekan ini, harga bergerak di kisaran US$ 16.420 sampai US$ 16.690 per metrik ton.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2525
JAKARTA. PT Harita Abadi Prima Mineral tengah menggenjot proses pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) meliputi engineering, procurement, and construction (EPC) alumina berkapasitas 2 juta ton per tahun. Hingga awal Desember, pembangunan pabrik yang berlokasi di Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat tersebut telah mencapai 39% dan diproyeksikan rampung akhir 2015.
Ery Sofyan, Direktur Harita Prima Abadi Mineral, mengatakan, saat ini Harita sudah menyiapkan dana investasi senilai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun. "Kegiatan konstruksi sipil sudah mulai dilakukan, bahkan 60 kapal yang membawa perlengkapan mesin pabrik sudah didatangkan dan siap untuk melakukan instalasi," kata Ery kepada KONTAN, pekan lalu.
Harita berencana membangun smelter alumina dengan kapasitas total mencapai 4 juta ton per tahun. Seluruh proyek ini akan berlangsung hingga tahun 2021.
Tahap awal, Harita akan membangun smelter alumina berkapasitas 2 juta ton per tahun. Pabrik tersebut membutuhkan bauksit sekitar 6 juta ton setahun.
Kebutuhan investasi pengerjaan proyek tahap pertama ini mencapai US$ 1 miliar atau setara Rp 12 triliun. Dalam proyek ini, anak usaha PT Cita Mineral Investindo Tbk ini menggandeng China Hongqiao Group Ltd dan Winning Investment Company.
Berikutnya, pada tahap kedua, akan dibangun lagi smelter berkapasitas 2 juta ton, lagi dan ditargetkan beroperasi 2021. Total investasi dua tahapan proyek ini diperkirakan mencapai US$ 2 miliar hingga US$ 2,2 miliar.
Ery optimistis, proyek tahap pertama yang kini sudah berjalannya yang akan menghasilkan bahan baku logam aluminium ini bakal beroperasi pada 2015 mendatang. "Tahun depan, kami mulai memproduksi pabrik dengan kapasitas 1 juta ton, kemudian kapasitasnya akan bertambah 1 juta ton lagi pada 2017," kata dia.
Mengingat investasi yang besar, Harita meminta intensif dari pemerintah berupa pemberian kuota ekspor. Dengan demikian, beban perusahaan menjadi ringan karena adanya pemasukan dari ekspor. "Kalau boleh kami akan ekspor 6 juta ton," ujarnya.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2097
WELLINGTON. Bursa Asia berguguran pagi ini, Selasa (9/12). Saham sektor komoditas dan energi memimpin penurunan.
MSCI Asia Pacific Index turun 0,5% pada pukul 10:23 waktu Tokyo. Saham sektor energi didera penurunan setelah harga minyak mentah kembali merosot.
"Harga minyak turun dalam nilai besar dan cepat. Setiap kali ada pergerakan yang cepat dan besar, itu membuat ketidakpastian di pasar yang besar juga," kata Angus Gluskie, Managing Director di White Funds Management, Sidney pada Bloobmerg.
Sektor energi di acuan MSCI Asia Pacific, turun 1,9% dan menggenapi penurunan 17% sepanjang tahun ini.
Alhasil, sejumlah bursa di kawasan lesu. Indeks S&P/ASX 200 di Australia terkoreksi 1,1%, terseret penurunan sektor energi di negaranya sebesar 4,1%. Sedangkan Kospi di Korea Selatan merosot 0,4%. Indeks Topix di Jepang terkoreksi 0,4% dari level tertingginya sejak Desember 2007.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2214
JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hari ini (9/12) nyaris tak bergerak dari posisi kemarin. Rupiah berada di level terlemah 6 tahun kemarin terhadap greenback.
Mengutip Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hari ini Rp 12.347 per dollar AS, tak banyak bergerak ketimbang posisi kemarin Rp 12.352.
Di pasar spot, nilai tukar rupiah juga melandai. Sampai pukul 12:44 WIB, rupiah di level Rp 12.347 per dollar AS. Rupiah menguat 0,35% dibanding penutupan kemarin Rp 12.390 per dollar AS.
Penguatan dollar AS sedikit mereda sampai siang ini. Bloomberg Dollar Rate Index yang menghitung kekuatan dollar AS terhadap 10 kurs utama dunia, menunjukkan indeks turun tipis dibanding posisi kemarin. Dollar pernah mencapai posisi tertinggi sejak Maret 2009 pada akhir pekan lalu.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2367
LONDON. Harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent masih terus tertekan. Padahal, saat ini, harga minyak sudah berada di level terendahnya dalam lima tahun terakhir.
Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, harga kontrak minyak jenis WTI turun 1,8% di New York. Sedangkan harga minyak Brent turun 1,9% di London.
Minyak jatuh ke pasar bearish di tengah sinyal bahwa produksi minyak AS masih akan tetap naik meski setelah Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) memutuskan untuk tidak mengurangi target produksi mereka. Saat ini, OPEC menyumbang sekitar 40% suplai minyak dunia.
"Pergerakan harga minyak murni disebabkan oleh isu suplai minyak. Suplai minyak saat ini sudah terlalu besar, di sisi lain, permintaan masih sangat rendah," jelas Ric Spooner, chief strategist CMC Markets di Sydney.
Catatan saja, siang tadi, harga kontrak minyak jenis WTI untuk pengantaran Januari turun sebesar US$ 1,21 menjadi US$ 64,63 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada pukul 15.00 waktu Singapura, harga kontrak yang sama berada di level US$ 65,20 per barel.
Sedangkan harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran Januari turun sebesar US$ 1,34 menjadi US$ 67,73 per barel di ICE Futures Europe exchange.

















Semua Berita