- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2095
NEW YORK. Harga minyak dunia rebound pada akhir transaksi Jumat (19/12) kemarin. Data Reuters menunjukkan, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berakhir di level US$ 56,52 per barel atau naik US$ 2,41. Demikian juga harga kontrak minyak Brent yang ditutup di atas level US$ 61 atau 4% lebih.
Dalam basis hitungan mingguan, harga minyak WTI dan Brent mencatatkan penurunan selama empat pekan berturut-turut. Selama Desember ini, harga minyak Brent sudah tergerus hampir 14%. Sedangkan harga minyak WTI turun hampir 16%. Kedua jenis minyak ini bahkan sudah melorot 50% dari posisi tertingginya pada Juni lalu.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh meredanya tekanan jual akibat aksi short covering oleh trader.
"Setidaknya saya sudah yakin, dengan minyak Brent di level US$ 60 dan WTI di atas US$ 55, kita sudah melihat level bottom harga minyak," jelas Tariq Zahir, managing member Tyche Capital Advisors di Laurel Hollow, New York.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1975
Pandangan ini diutarakan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, saat dihubungi Media Indoensia, Sabtu (20/12/2014).
"Kita perlu mampu mengeluarkan, mencanangkan, mendesain, dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang betul-betul mendukung ke arah memajukan yakni kebijakan yang smart, cerdik, pandai, bukan kebijakan publik yang bisa memberdayakan kita," ujar Suryo.
Dia melihat kondisi sekarang ini banyak kebijakan yang membuat pelaku usaha tidak berdaya, terpuruk, mundur, bahkan jalan di tempat.
Seperti kebijakan ekspor, bea keluar, yang dikeluarkan pada saat harga komoditas terpuruk yang menurunkan ekspor dna tidka menambah devisa. Iklim usaha yang tidak kondusif ini dalam pandangan Suryo karena kebijakan antarkementerian atau lembaga masih tidak terintegrasi.
"Justru mereka memikirkan pendaptan dari pajak, pajak inilah, itulah, padahal itu juga bisa buat kondisi enggak kondusif," tambah Suryo.
Dia pun menekankan pembenahan internal seharusnya yang menjadi fokus untuk mendapatkan pertumbuhan internal. Kualitas Sumber Daya Manusia juga menjadi hal yang perlu diperhatikan menurutnya untuk menjawab semua tantangan. Namun SDM Indonesia belum siap untuk itu jadi tidak ada salahnya untuk mengirim tenaga-tenaga ahli dari manapun ke Indonesia.
Kedatangan tenaga kerja asing ke Indonesia bagi Suryo dapat memberikan pelajaran dan pengetahuan lebih banyak. Selagi dibutuhkan, impor tenaga kerja asing tidak menjadi masalah.
"Kan bisa batasi waktunya suatu saat kita enggak butuh kita putusin izin kerjanya, enggak diperpanjang," lanjut Suryo.
Contoh gamblangnya seperti di bidang kesehatan, dokter-dokter asing dilarang praktik di Indonesia tapi orang Indonesia dibiarkan untuk berobat ke Singapura atau Thailand.
Pola pikir masyarakat pun jadi seakan-akan lebih baik menghabiskan uang berobat di luar negeri daripada dokter-dokter tersebut berpraktik di sini sehingga devisa negara bertambah. Sebaiknya Indonesia tidak berpikiran dan memiliki nasionalisme sempit karena akan terus kehilangan banyak peluang seperti dikemukakan Suryo.
AHL
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2222
Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada pertengahan perdagangan Jumat (18/12/2014) bergerak melemah.
Perdagangan CPO untuk kontrak Februari 2015 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.144 ringgit Malaysia per ton.
Harga tersebut sudah terkoreksi 0,14% dibandingkan dengan penutupan pada Kamis (18/12/2014) yang menguat 0,99% ke 2.147 ringgit/ton.
Pada pukul 09.39 WIB atau sekitar 10.39 waktu Kuala Lumpur, harga CPO masih melemah 0,7% ke level 2.132 ringgit/ton. Sampai dengan waktu tersebut, CPO bergerak di kisaran harga 2.131-2.144 ringgit/ton.
Pergerakan Harga CPO*
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
19/12 (09.39 WIB) |
2.132 |
-0,7% |
|
18/12 |
2.147 |
+0,99% |
|
17/12 |
2.126 |
+0,28% |
|
16/12 |
2.120 |
-2,21% |
|
15/12 |
2.168 |
-0,14% |
|
12/12 |
2.171 |
-1,09% |
|
11/12 |
2.195 |
+0,92% |
*Kontrak Februari 2014
Sumber: Bloomberg 2014
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2065
JAKARTA. Ekonomi China yang terus melambat menjadi sentimen negatif bagi harga nikel. Hingga akhir tahun ini, harga nikel diperkirakan terus menurun ke US$ 15.350 per metrik ton.
Mengutip data, Bloomberg, Kamis (18/12), pukul 12.55 waktu Hong Kong, harga nikel pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) US$ 15.576 per metrik ton (MT) turun 0,3% dibandingkan hari sebelumnya. Sepekan terakhir, harga tergerus 4,3%.
Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan, harga nikel dipengaruhi oleh data ekonomi China yang semakin memperlihatkan perlambatan. Misalnya, harga rumah pada bulan November turun 0,4% dibanding Oktober 2014.
Perlambatan industri manufaktur di China turut menekan harga nikel. "Angka indeks manufaktur China sebesar 49,5 atau di bawah ekspektasi pasar 49,8 dan di bawah data bulan Oktober lalu yakni 50," kata Ibrahim.
Sebelumnya Pemerintah China kembali mengguyur stimulus ekonomi senilai
CNY 250 miliar. Namun upaya ini tidak berefek banyak, mengingat Tiongkok memiliki utang jatuh tempo (pemerintah dan swasta) bernilai total CNY 500 miliar.
Pemangkasan suku bunga Bank Sentral China juga tidak mampu menolong negara dari perlambatan ekonomi. "Sedangkan isu kenaikan suku bunga The Fed masih akan terus menghangat hingga tahun depan," kata Ibrahim. Ini bisa menyebabkan indeks dollar AS kembali menguat. Harga nikel juga terus tergerus mengikuti harga minyak mentah yang loyo.
Faktor lain, stok nikel di November 2014 melimpah karena aktivitas impor melambat dua kali lipat dibandingkan dengan November 2013 lalu.
Secara teknikal, saat ini indikator bollinger dan moving average (MA) bergerak di level 30% di atas garis bawah yang artinya pergerakan harga masih negatif. Relative strength index (RSI) 60% negatif serta stochastic 65% negatif. Hanya garis moving average convergence divergence (MACD) yang bergerak di level 60%. "Ini artinya, pergerakan harga nikel terus bearish," kata Ibrahim.
Hari ini Ibrahim menduga, harga nikel akan bergerak di kisaran support US$ 15.485 per MT dan resistance US$ 15.590 per MT. Sedangkan selama sepekan harga bakal bergerak di level US$ 15.400-15.610 per MT.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2189
JAKARTA. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7% bisa tercapai pada tahun 2016 nanti. Untuk mencapai target itu pemerintah akan mengandalkan kegiatan penanaman modal, baik dari pengusaha domestik maupun luar negeri.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menghitung, dana investasi yang dibutuhkan untuk menyokong target pertumbuhan itu sebesar Rp 700 triliun per tahun. Asumsinya, setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi 1%, perlu investasi langsung Rp 100 triliun.
Tahun 2015, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,8%, seperti ditetapkan di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2015. Untuk mencapai target itu, target penanaman modal Rp 550 triliun. "Agar tumbuh 7% perlu tambahan lagi sekitar 1,5%, jadi kebutuhan total dana investasinya sekitar Rp 700 triliun" ujar JK, Kamis (18/12).
Oleh karenanya Kalla ingin pemerintah daerah membantu pemerintah pusat dalam menyederhanakan perizinan. Saat ini perizinan investasi masih melibatkan pemerintah daerah. Antara lain seputar izin lingkungan, izin lokasi, dan izin prinsip dari bupati/walikota dan dinas di daerah.
Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro mengatakan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7% bisa tercapai pada tahun 2016. Dengan catatan semua skenario rencana pembangunan tahun 2015 berjalan mulus. Misalnya, kebijakan yang mendorong pertumbuhan lapangan kerja, hingga pembangunan infrastruktur.
Jika pada tahun 2016 pemerintah tidak dapat mencapai target pertumbuhan tersebut, Bambang akan menolelirnya setahun selanjutnya atau 2017. "Yang penting, sebelum 2019 sudah tercapai target yang dijanjikan Pak Jokowi agar pertumbuhan mencapai 7%," papar Bambang.

















Semua Berita