Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Menjelang pergantian tahun, industri pembiayaan kembali diramaikan dengan kedatangan dua pemain baru, yaitu PT Hino Finance Indonesia dan PT Hitachi Capital Finance Indonesia. Mengutip situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kedua perusahaan pembiayaan tersebut telah melengkapi segala persyaratan sehingga dapat mengantongi izin dari pihak OJK.

Kondisi usaha pembiayaan sepanjang tahun 2014 yang cukup lesu sepertinya tidak membuat para calon pelaku mengurungkan niat untuk bergabung. Potensi perluasan usaha dan kebijakan pemerintahan baru yang fokus ke pembangunan infrastruktur membuat lini bisnis pembiayaan masih menarik untuk digarap.

Menurut Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Hino Finance akan bermain di lini pembiayaan kendaraan niaga sedangkan Hitachi Capital Finance akan bergerak di alat berat. Hingga saat ini, hanya Hino Finance yang baru mengajukan permohonan untuk mendaftarkan diri ke APPI. “Kalau jadi anggota asosiasi bagi multifinance kan wajib. Hino sudah (mendaftar), saat ini lagi diproses,” jelasnya.

PT Hino Finance Indonesia merupakan afiliasi dari Hino Indonesia (PT Hino Motors Sales Indonesia dan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia), produsen kendaraan niaga seperti truk dan bus yang hadir di Indonesia sejak tahun 1982.

Sedangkan Hitachi Capital Finance adalah afiliasi dari Hitachi Asia Ltd yang memiliki kantor perwakilan di Jakarta. Perusahaan tersebut memasarkan produk dan layanan sektor industri seperti alat pembangkit tenaga listrik, sistem transmisi dan distribusi komponen dan peralatan industrial, hingga eskalator.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

WASHINGTON. Peningkatan suku bunga acuan The Federal Reserve Amerika Serikat (AS) semakin dekat. Sinyal ini ditunjukkan oleh lonjakan penambahan pekerja non sektor pertanian.

Bulan lalu, perusahaan-perusahaan non pertanian menambah 321.000 pegawai. Angka ini jauh melampaui proyeksi paling optimistis. Meski penambahan pekerja melebihi prediksi, tingkat pengangguran AS tetap bertahan di level 5,8%.

Neil Dutta, Kepala Ekonom Renaissance Macro Research LLC mengatakan, The Fed jauh lebih tergantung pada data ketimbang prediksi pasar dan The Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat ketimbang antisipasi pasar. "Ini akan menyebabkan kerugian bagi investor obligasi," kata Dutta kepada Bloomberg.

Pergerakan di produk future eurodollar menunjukkan bahwa para investor sudah bereaksi menyambut kenaikan suku bunga. Kontrak eurodollar mengimplikasikan suku bunga acuan the Fed sebesar 1,75% pada akhir 2016, naik dari posisi 1,58% di hari sebelumnya. Produk futures ini juga mengimplikasikan suku bunga The Fed 0,78% pada akhir 2015, naik dari posisi sebelumnya 0,64%.

Dua pejabat The Fed memberi sinyal perubahan kebijakan suku bunga semakin dekat. Wakil Gubernur The Fed Stanley Fischer, pekan lalu, mengatakan bahwa bank sentral siap mengganti kebijakan mempertahankan suku bunga mendekati nol dan menggantinya dengan panduan sesuai dengan kinerja ekonomi. William C. Dudley, Presiden The Fed New York pun mengungkapkan hal serupa.

Chris Rupkey, Kepala Ekonom Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ di New York mengatakan bahwa Federal Open Market Committee akan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan 16-17 Desember pekan depan. "Jumlah pekerjaan baru tahun ini mencapai 2,65 juta. Angka penciptaan lapangan kerja tidak pernah setinggi ini sejak  tahun 1999," kata Rupkey.

Di sisi lain, inflasi AS yang masih terhitung rendah bisa menahan aksi bank sentral. Ward McCarthy, Kepala Ekonom Jefferies LLC, memprediksikan tingkat inflasi masih akan rendah dalam beberapa waktu mendatang.

Data The Fed menunjukkan, kenaikan harga masih bertahan di level 1,4% dalam 12 bulan hingga Oktober 2014. Tingkat inflasi ini 20 bulan berturut-turut level di bawah target yakni 2%.

Tapi, Rupkey mengatakan, FOMC akan melakukan kesalahan kalau menunggu hingga kenaikan gaji dan kenaikan harga naik cukup kuat. Dia memprediksi, bank sentral akan mulai menaikkan suku bunga pada Maret 2015.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Kelautan dan Perikanan berharap moratorium perizinan kapal tangkap nantinya bisa menata ulang sumber daya ikan tangkap yang saat ini over eksploitasi di beberapa wilayah penangkapan ikan RI.

Direktur Sumber Daya Ikan Ditjen Perikanan tangkap KKP Toni Ruchimat mengatakan seluruh wilayah pengelolaan perikanan (WPP) RI saat ini terpantau over fishing untuk beberapa species yang ditangkap.

"Setiap WPP yang berjumlah sudah ada perhitungan potensi yang ada, saat ini seluruhnya ada yang terdeteksi merah untuk spesies tertentu yang berarti penangkapannya sudah diambang batas," katanya, Jumat, (5/12/2014).

Data KKP menyatakan 8 dari 11 WPP terdeteksi over eksploitasi untuk komoditas udang. WPP tersebut antara lain WPP-RI 571, WPP-RI 572, WPP-RI 711, WPP-RI 712, WPP-RI 573, WPP-RI 713, WPP-RI 715, dan WPP-RI.

Sementara itu, komoditas kakap merah juga mengalami penangkapan berlebih di 4 WPP-RI, yaitu WPP-RI 718, WPP RI-712, WPP-RI 572, dan WPP-RI 571.

Toni mengatakan moratorium tidak hanya untuk melakukan pendataan terhadap kapal eks asing yang diduga melakukan praktek un-reported fishing saja, namun juga untuk keberlanjutan sumber daya ikan wilayah RI agar tidak mengalami kelangkaan karena penangkapan yang berlebihan.

"Itu lah yang mendasari kondisi ikan saat ini, tidak merata dan memerlukan penataan ulang," katanya.


Editor : Rustam Agus


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Selain permintaan tengah melemah, harga minyak semakin murah akibat perang harga (Harian KONTAN, 3 Desember 2014). Yang terbaru, Arab Saudi kembali memberikan harga diskon kepada para pelanggannya demi mempertahankan pangsa pasar. Harga minyak minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent tergelincir.

Mengutip data Bloomberg, Jumat (5/12), pukul 16.05 WIB, harga minyak WTI pengiriman Januari 2015 di New York Merchantile Exchange terpeleset 0,82% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 66,26 per barel. Koreksi harga ini sudah berlangsung selama sepekan lalu. Sejak akhir tahun 2013, harga minyak WTI sudah tergelincir 37%.

Sedangkan kemarin, harga minyak Brent di ICE Futures Europe pengiriman Januari 2015 turun ke level terendah empat tahun di US$ 69,26 per barel. Sejak akhir tahun lalu, harga brent sudah terjun 34,59%. Bulan depan, perusahaan BUMN, Saudi Arabian Oil Co memangkas penjualan Arab Light ke Asia sebesar US$ 2 per barel di bawah harga pasar. Itu merupakan harga terendah dalam 14 tahun.

Daniel Yergin, analis energi dan pemenang Pulitzer, mengatakan, kerajaan Arab Saudi tak ingin memberi subsidi kepada Iran, Irak, dan Venezuela dan membiarkan harga ditentukan mekanisme pasar. “Tampaknya Arab Saudi mendapatkan apa yang diinginkan. Kita akan melihat harga terus berada di bawah tekanan,” ujar Phil Flynn, analis senior Price Futures Group di Chicago kepada Bloomberg.

Zulfi rman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan, kebijakan Arab Saudi kembali menurunkan harga jual minyak di pasar Asia dan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor penting penurunan harga minyak mentah saat ini. Arab Saudi tengah berupaya mempertahankan pangsa pasarnya di tingkat global.

Daripada kehilangan pasar, Arab Saudi memilih menurunkan kembali harga minyak miliknya. Sementara negaranegara non-OPEC seperti Rusia dan AS tetap mempertahankan produksi minyak. “Ini menyebabkan terjadinya oversupply minyak di pasar,” kata Zulfi rman.

Oversupply ini salah satunya juga didorong oleh keputusan OPEC yang memutuskan tetap memproduksi minyak 30 juta barel per hari dalam pertemuan November 2014 lalu. Padahal permintaan minyak sedang lesu. Perlambatan ekonomi China dan Zona Eropa menyebabkan permintaan minyak menurun.

Minyak yang diperdagangkan dalam mata uang dollar AS semakin tak berdaya karena dollar terus menguat. Kenaikan indeks dollar AS mengurangi daya tarik investor pada komoditas seperti minyak.

“Tidak heran harga minyak terlempar ke titik terendah sejak lima tahun lalu,” tambah Zulfi rman.

Musim dingin

Sejatinya harga minyak bisa terkerek akibat berlangsungnya musim dingin. Apalagi jika musim dingin berlangsung panjang. Tapi Tonny Mariano, Analis PT Harvest International Futures menuturkan, harga minyak masih dalam tren turun.

Meski saat ini di AS, Eropa dan Australia tengah memasuki musim dingin, lonjakan permintaan minyak belum tampak. “Minyak perlu mencatatkan penutupan harga di atas level US$ 75 per barel untuk mengonfirmasi tren naik (bullish),” tutur Tonny.

Apalagi data tenaga kerja AS diprediksi positif. Penambahan tenaga kerja di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls AS) pekan lalu diperkirakan sebesar 231.000 pekerja. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 214.000 pekerja.

Secara teknikal Zulfirman memaparkan, harga minyak mentah berada di bawah moving  average (MA) 50,100, dan 200 harian. Ini mengindikasikan bahwa harga minyak masih dalam tren bearish.

Sedangkan indikator stochastic berada di level 25, dengan indikasi jenuh jual (oversold) sebagai potensi untuk bargain hunting.

Relative  strength  index (RSI) juga oversold dengan potensi bargain  hunting di level 28. Terakhir, garis moving average convergence divergence (MACD) di level minus 2,78 dengan indikasi turun menuju bearish.

Sepekan ke depan Firman memprediksi, harga minyak bergerak di kisaran US$ 62 sampai US$ 70 per barel. Hingga akhir tahun, harga minyak berada di US$ 65 per barel.

Sedangkan Tonny menebak harga minyak sepekan bakal bergerak di level US$ 63-US$ 70 per barel. Hingga akhir tahun, harga berkisar di US$ 60–US$ 75 per barel.

Editor: Hendra Gunawan

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Selain permintaan tengah melemah, harga minyak semakin murah akibat perang harga (Harian KONTAN, 3 Desember 2014). Yang terbaru, Arab Saudi kembali memberikan harga diskon kepada para pelanggannya demi mempertahankan pangsa pasar. Harga minyak minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent tergelincir.

Mengutip data Bloomberg, Jumat (5/12), pukul 16.05 WIB, harga minyak WTI pengiriman Januari 2015 di New York Merchantile Exchange terpeleset 0,82% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 66,26 per barel. Koreksi harga ini sudah berlangsung selama sepekan lalu. Sejak akhir tahun 2013, harga minyak WTI sudah tergelincir 37%.

Sedangkan kemarin, harga minyak Brent di ICE Futures Europe pengiriman Januari 2015 turun ke level terendah empat tahun di US$ 69,26 per barel. Sejak akhir tahun lalu, harga brent sudah terjun 34,59%. Bulan depan, perusahaan BUMN, Saudi Arabian Oil Co memangkas penjualan Arab Light ke Asia sebesar US$ 2 per barel di bawah harga pasar. Itu merupakan harga terendah dalam 14 tahun.

Daniel Yergin, analis energi dan pemenang Pulitzer, mengatakan, kerajaan Arab Saudi tak ingin memberi subsidi kepada Iran, Irak, dan Venezuela dan membiarkan harga ditentukan mekanisme pasar. “Tampaknya Arab Saudi mendapatkan apa yang diinginkan. Kita akan melihat harga terus berada di bawah tekanan,” ujar Phil Flynn, analis senior Price Futures Group di Chicago kepada Bloomberg.

Zulfi rman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan, kebijakan Arab Saudi kembali menurunkan harga jual minyak di pasar Asia dan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor penting penurunan harga minyak mentah saat ini. Arab Saudi tengah berupaya mempertahankan pangsa pasarnya di tingkat global.

Daripada kehilangan pasar, Arab Saudi memilih menurunkan kembali harga minyak miliknya. Sementara negaranegara non-OPEC seperti Rusia dan AS tetap mempertahankan produksi minyak. “Ini menyebabkan terjadinya oversupply minyak di pasar,” kata Zulfi rman.

Oversupply ini salah satunya juga didorong oleh keputusan OPEC yang memutuskan tetap memproduksi minyak 30 juta barel per hari dalam pertemuan November 2014 lalu. Padahal permintaan minyak sedang lesu. Perlambatan ekonomi China dan Zona Eropa menyebabkan permintaan minyak menurun.

Minyak yang diperdagangkan dalam mata uang dollar AS semakin tak berdaya karena dollar terus menguat. Kenaikan indeks dollar AS mengurangi daya tarik investor pada komoditas seperti minyak.

“Tidak heran harga minyak terlempar ke titik terendah sejak lima tahun lalu,” tambah Zulfi rman.

Musim dingin

Sejatinya harga minyak bisa terkerek akibat berlangsungnya musim dingin. Apalagi jika musim dingin berlangsung panjang. Tapi Tonny Mariano, Analis PT Harvest International Futures menuturkan, harga minyak masih dalam tren turun.

Meski saat ini di AS, Eropa dan Australia tengah memasuki musim dingin, lonjakan permintaan minyak belum tampak. “Minyak perlu mencatatkan penutupan harga di atas level US$ 75 per barel untuk mengonfirmasi tren naik (bullish),” tutur Tonny.

Apalagi data tenaga kerja AS diprediksi positif. Penambahan tenaga kerja di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls AS) pekan lalu diperkirakan sebesar 231.000 pekerja. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 214.000 pekerja.

Secara teknikal Zulfirman memaparkan, harga minyak mentah berada di bawah moving  average (MA) 50,100, dan 200 harian. Ini mengindikasikan bahwa harga minyak masih dalam tren bearish.

Sedangkan indikator stochastic berada di level 25, dengan indikasi jenuh jual (oversold) sebagai potensi untuk bargain hunting.

Relative  strength  index (RSI) juga oversold dengan potensi bargain  hunting di level 28. Terakhir, garis moving average convergence divergence (MACD) di level minus 2,78 dengan indikasi turun menuju bearish.

Sepekan ke depan Firman memprediksi, harga minyak bergerak di kisaran US$ 62 sampai US$ 70 per barel. Hingga akhir tahun, harga minyak berada di US$ 65 per barel.

Sedangkan Tonny menebak harga minyak sepekan bakal bergerak di level US$ 63-US$ 70 per barel. Hingga akhir tahun, harga berkisar di US$ 60–US$ 75 per barel.

Editor: Hendra Gunawan


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita