Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Pergerakan harga komoditas logam sepanjang 2014 cenderung melambat. Faktor penguatan dollar AS di tengah kokohnya perekonomian Amerika Serikat (AS) menjadi pukulan terberat bagi komoditas logam.

Di antara tiga komoditas  logam yakni timah, nikel dan tembaga, hanya nikel yang harganya bertumbuh. Secara umum prospek harga logam tahun depan masih teradang oleh rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Keputusan The Fed itu dapat memperkuat otot dollar AS dan menggerus harga komoditas.

Pasar juga masih lesu karena permintaan komoditas dari China selaku pengguna logam terbesar dunia belum pulih. Berikut pergerakan harga logam dan prospeknya pada tahun depan.

Timah

Pergerakan harga timah pada tahun ini masih tertekan. Hal ini disebabkan oleh permintaan yang kian menurun di tengah rapuhnya perekonomian global.

Mengutip data Bloomberg, Rabu (24/12), harga timah di London Metal Exchange (LME) ditutup di level
US$ 19.050 per metrik ton naik 3,5% dibandingkan dengan hari sebelumnya. Tapi sepanjang tahun ini, harga sudah terpangkas 14,7%.

Harga timah sempat menyentuh posisi terendah tahun ini pada Selasa (23/12) di posisi US$ 18.395 per metrik ton. Sedangkan harga tertinggi timah tercapai pada Rabu (2/7) yakni di posisi US$ 23.025 per metrik ton.

Deddy Yusuf, Market Strategist dan Analis PT Fasting Futures mengatakan, tekanan harga timah datang dari melambatnya pertumbuhan industri China dan Eropa yang menjadi pasar komoditas logam. Meski begitu, harga timah sempat terkerek akibat  kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah Indonesia. Kondisi ini memicu terganggunya suplai global.

"Sentimen negatif masih membayangi harga timah tahun depan, namun ada harapan harga timah terangkat oleh perbaikan ekonomi dan data manufaktur AS, sehingga menumbuhkan permintaan timah," jelas Deddy.

Deddy menduga harga timah hingga kuartal I-2015 naik di kisaran US$ 18.000-US$ 23.700 per metrik ton. Sementara prediksi harga timah hingga semester I-2015 berada di US$ 22.000-US$ 24.000 per metrik ton.

Nikel

Sepanjang tahun 2014, harga nikel bergerak cukup fluktuatif. Pada Rabu (24/12), harga nikel di LME kontrak pengiriman tiga bulan senilai US$ 15.335 per metrik ton atau turun tipis 0,74% dibanding hari sebelumnya. Namun sepanjang tahun ini harga nikel naik sebesar 10,32%.

Harga nikel terendah sepanjang tahun 2014 di level US$ 13.413 per metrik ton pada 9 Januari 2014. Sedangkan harga tertinggi di US$ 21.000 per metrik ton pada 13 Mei 2014.

Ibrahim, analis dan Direktur Equilibirium Komoditi Berjangka mengatakan, selain  konflik geopolitik di Ukraina harga nikel kenaikan harga nikel tersokong penerapan Undang-Undang Minerba di Indonesia sehingga ekspor nikel turun. "Bahan baku dari Indonesia banyak dikirim ke smelter Jepang untuk diolah lalu dikirim kembali ke dalam negeri," tambahnya.

Setelah konflik Ukraina dengan Rusia berakhir September, harga nikel turun. Sentimen kuat justru datang dari spekulasi kenaikan suku bunga The Fed. Dollar AS pun naik sehingga menekan harga komoditas. Di sisi lain, perlambatan ekonomi global terutama China membuat permintaan nikel menyusut.

Ibrahim memprediksi harga nikel hingga semester I-2015 masih akan tertekan di kisaran US$ 11.000-US$ 16.000 per metrik ton. Namun setelah bunga The Fed naik, harga nikel akan kembali menguat di US$ 15.000-US$ 17.000 per metrik ton.

Tembaga

Harga tembaga di tahun 2014 juga tergerus keperkasaan dollar AS. Pada Senin (29/12), pukul 15.03 waktu Hong Kong, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di LME senilai US$ 6.270 per metrik ton. Harga turun 0,51%  dari penutupan hari Rabu (24/12) yang senilai US$ 6.302 per metrik ton atau terendah sejak Juni 2010. Sepanjang tahun ini, harga tembaga telah tergerus 14,81%.

Walaupun begitu lalu harga tembaga sempat menyentuh level tertinggi di US$ 7.175 per metrik ton pada 3 Juli 2014.
Menurut Wahyu Tri Wibowo, analis PT Central Capital Futures, faktor utama penurunan harga tembaga ke level terendah sejak empat tahun ini karena indeks dollar AS yang menyentuh level tertingginya di 90,14.

"Faktor seperti recovery perekonomian AS, rencana kenaikan suku bunga The Fed dan menguatnya index dollar AS menjadikan harga komoditas termasuk tembaga roboh di pasar," papar Wahyu.
Selain faktor AS, perlambatan ekonomi di China juga menahan laju tembaga. Ekonomi China kurang memuaskan di tahun ini jika tidak disebut jelek. Ada kecemasan pasar soal keadaan ekonomi China yang cenderung masuk ke fase krisis.

Wahyu memprediksikan trend bearish pada tembaga masih akan berlanjut di tahun 2015. Pada kuartal I-2015, harga mungkin akan bergulir di level optimistis US$ 6.000–US$ 7.000 per metrik ton.

Editor: Sofyan Nur Hidayat

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada awal perdagangan Senin (29/12/2014) kembali bergerak menguat signifikan.

Perdagangan CPO untuk kontrak Februari 2015 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.294 ringgit Malaysia per ton.

Harga tersebut sudah menguat 1,87% dibandingkan dengan penutupan pada Jumat (26/12/2014) yang melejit 1,53% ke 2.252 ringgit/ton.

Pada pukul 09.46 WIB atau sekitar 10.46 waktu Kuala Lumpur, harga CPO masih melejit 2,09% ke level 2.299 ringgit/ton. Sampai dengan waktu tersebut, CPO bergerak di kisaran harga 2.280-2.299 ringgit/ton.

 

Pergerakan Harga CPO*

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

29/12 (09.46 WIB)

2.299

+2,09%

26/12

2.252

+1,53%

25/12

(Libur)

(Libur)

24/12

2.218

+0,36%

23/12

2.210

+1,84%

22/12

2.170

+0,79%

*Kontrak Februari 2014

Sumber: Bloomberg 2014

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga minyak kembali merosot, di tengah kekhawatiran banjir pasokan akibat penolakan organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) memangkas produksi. Sedangkan stok minyak di Amerika Serikat (AS) menunjukkan peningkatan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat (26/12) harga West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Februari 2015 di New York Merchantile Exchange menurun 1,99% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 54,73 per barel. Dalam sepekan harga minyak telah terpangkas 4,2%. Sedangkan minyak Brent di bursa Ice Futures Europe kontrak pengiriman Februari 2015 senilai US$ 59,45 per barel, melorot 1,31% dalam sehari.

Sepekan harga melemah 3,14%. Sepanjang tahun ini, harga WTI dan Brent anjlok lebih dari 40%, yang merupakan penurunan terbesar sejak tahun 2008.

Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago mengatakan, pasar masih belum pulih akibat kelebihan pasokan. “Benar-benar sulit untuk menggapai reli besar, sampai kita tahu bagaimana menggunakan semua minyak ini," kata Phil Flynn kepada Bloomberg.

Sementara berdasarkan Badan Administrasi Informasi Energi (EIA), stok minyak mentah AS naik 7,27 juta barel pada 19 Desember 2014 menjadi 387,2 juta barel. Ini merupakan level tertinggi sejak Juni 2014.

Nanang Wahyudin, analis SoeGee Futures, menduga, penurunan harga minyak masih akan terus berlanjut. Harga menyentuh US$ 54 per barel karena permasalahan utama yakni soal kelebihan pasokan belum terselesaikan. Akhir pekan lalu minyak sempat rebound karena indeks dollar AS terkoreksi, di tengah kondisi pasar yang sepi lantaran libur Natal.

“Kenaikan harga mungkin juga akibat pengeboman kilang minyak yang terjadi di Libia beberapa waktu lalu,” tutur Nanang. Sebelumnya diberitakan ISIS menyerang Libia sehingga beberapa tangki minyak terbakar di terminal Es Sider, pelabuhan minyak terbesar Libia. Arab Saudi menduga, kejadian ini bisa menopang kenaikan harga minyak.

Namun, harga minyak kembali ditutup melemah lantaran data AS yang menginformasikan bahwa cadangan minyak mentahnya terus naik, bahkan mencapai level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Ini memicu kekhawatiran banjir pasokan.

Pergerakan harga minyak akan cenderung konsolidasi karena minimnya data penunjang fundamental. Namun, harga akan melanjutkan penurunan setelah pasar kembali normal di awal tahun. “Kalau melihat secara jangka pendek sampai awal tahun 2015 saja, tren harga minyak masih bearish,” jelas Nanang.

Masih bearish

Albertus Christian, analis Monex Investindo Futures, juga berpendapat, penurunan harga minyak karena suplai berlebih sedangkan permintaan menurun di tengah perlambatan ekonomi global. “Sebelumnya harga sempat rebound, tapi itu sifatnya hanya teknikal,” kata Christian.

Ia mengatakan, harga minyak akan bergerak konsolidasi lantaran aktivitas pasar yang sepi. Menurutnya, kemungkinan pergerakan harga komoditas baru akan normal pada bulan Januari 2015. Secara teknikal Nanang mencatat, harga minyak mentah bergerak di bawah moving average (MA) 13 mengindikasikan tren bearish atau turun.

Moving average convergence divergence (MACD) bergulir di garis minus negatif. Kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak merosot. Sementara relative strength index (RSI) di level 30 cenderung turun, mengindikasikan harga masih dalam tekanan. Stochastic tengah berada di level 47,08 menunjukkan pergerakan naik tapi cenderung mendatar atau flat.

Hari ini, Nanang menduga, harga minyak akan bergulir dengan level support di kisaran US$ 55,05 sampai US$ 54,05 per barel. Sedangkan level resistance di US$ 56,25–US$ 56,84 per barel. Selama sepekan ke depan, harga diperkirakan bergerak di antara US$ 50 hingga US$ 60 per barel.

Adapun Christian memperkirakan, harga minyak akan bergerak di kisaran US$ 54,2 sampai US$ 56,95 per barel pada hari ini. Selama sepekan ke depan, harga di kisaran US$ 54 hingga US$ 57,75 per barel.

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Yen jatuh di level terendah dalam tujuh tahun terhadap dollar AS. Ini setelah selama empat bulan, inflasi Jepang melambat.

Mengutip Bloomberg, Jumat (26/12), pasangan EUR/JPY turun 0,16% dibanding hari sebelumnya ke 146,6. Pasangan USD/JPY naik 0,17% menjadi 120,31. Sementara pasangan AUD/JPY naik 0,22% menjadi 97,7320.

Yen melemah terhadap sebagian besar dari 16 mata uang utama. Ini memicu spekulasi Bank Sentral Jepang (BoJ) bakal menggelontorkan stimulus tambahan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Bahkan, BoJ tengah menyiapkan paket stimulus baru ¥ 3,5 triliun.

Data Biro Statistik Jepang Jumat (26/12) menunjukkan, inflasi di luar konsumsi Jepang pada bulan November (year on year) lalu hanya mencatatkan pertumbuhan 2,7%. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya di angka 2,9%. Sementara inflasi inti turun dari 0,9% menjadi 0,7%.

Selain itu, upah rata-rata tenaga kerja pada periode yang sama minus 1,5%. Angka ini lebih rendah ketimbang estimasi 0,5%. "Tren membeli dollar AS dan menjual yen tetap kuat, sehingga ini level nyaman," ujar Kengo Suzuki, Kepala Strategi Currency Mizuho Securities Co di Tokyo kepada Bloomberg.

Endro Singgih, Analis PT Millenium Penata Futures, mengatakan, pasangan EUR/JPY relatif bergerak mendatar untuk hari keempat. Tampaknya, para pelaku pasar tak terlalu merespons buruknya indikator ekonomi Jepang, sebab perdagangan beberapa pasar saham tutup. Data ekonomi Jepang juga tidak ada yang berdampak signifikan.

Di jangka pendek, pasangan EUR/JPY berpeluang koreksi. Pergerakan EUR/JPY yang menyentuh level 146,45 berpotensi membalikkan keadaan menuju rebound. “Hari ini, pelaku pasar juga menanti angka penjualan ritel Jerman. Jika data ini positif, maka EUR/JPY berpeluang berbalik arah," ujar Endro.

Alwy Assegaf, Analis PT SoeGee Futures, menuturkan, dollar AS melemah karena tidak ada lagi data penting yang ditunggu pelaku pasar pada akhir tahun ini. Namun, secara jangka panjang pasangan USD/JPY akan tetap menjaga tren naik.

Ini lantaran kebijakan moneter Bank Sentral AS alias The Fed dan Bank Sentral Jepang (BoJ). "Perekonomian Jepang mulai memasuki resesi. Jepang masih perlu menambah stimulus. Sementara The Fed telah bersiap-siap menaikkan suku bunga pada tahun depan," ujar Alwy.

Zulfirman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menjelaskan, pasangan AUD/JPY menguat lantaran inflasi Jepang   melambat.

Kondisi pasangan ini berdampak pada semakin sulitnya BoJ dalam mencapai target inflasi sekitar 2%. Kondisi ini menunjukkan ekonomi Jepang masih rapuh. "Kondisi ini membuka peluang bagi BoJ menambahkan stimulus moneter pada tahun depan," ujar dia.

Editor: Avanty Nurdiana


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga tembaga di London Metal Exchange (LME) terseret ke level terendah sejak April 2010. Harga terjun bebas akibat spekulasi pelaku pasar terhadap kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve yang semakin dekat untuk menaikkan suku bunga. Kondisi ini melemahkan harga tembaga yang diperdagangkan dalam dollar AS.

Mengutip Bloomberg, Rabu (24/12) harga tembaga pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,4% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 6.302 per metrik ton. Harga tergerus 1% dalam sepekan terakhir. Tidak ada perdagangan di London Metal Exchange (LME) pada akhir pekan karena libur.

Merosotnya harga tembaga juga ditengarai akibat positifnya indikator ekonomi AS. Sepanjang kuartal III-2014, pendapatan domestik bruto (PDB) AS tumbuh 5%. Ini merupakan laju tercepat selama lebih dari satu dekade. Kondisi tersebut bisa mendorong The Fed mempertahankan tingkat suku bunga. Kokohnya PDB AS kuartal III-2014 menggiring dollar AS menuju level tertinggi dalam lima tahun terhadap 10 mata uang utama.

Hal ini mengikis daya tarik komoditas, termasuk tembaga sebagai alternatif investasi. Tahun ini, tembaga telah terperosok 17%.

Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, menilai, semua komoditas masih akan bergerak negatif hingga akhir tahun. Salah satu penyebab utama jatuhnya harga tembaga adalah pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang kian melambat.

Hal itu tercermin dari data manufaktur China yang membukukan angka di bawah 50. Melesetnya indeks manufaktur di bawah level 50 ini kemungkinan berdampak pada data PDB China kuartal IV-2014 yang lebih rendah dari kuartal III-2014.

"PDB China tahun 2014 ditargetkan sebesar 7,1%. Tapi, kemungkinan realisasinya hanya mencapai 7%," duga Ibrahim. Ganjalan lain bagi tembaga adalah kokohnya indeks dollar AS yang telah menembus level 90. Menurutnya, indeks dollar masih berpotensi terus menanjak hingga menyentuh level 90,50 pada penutupan tahu 2014.

Secara teknikal, harga tembaga mengonfirmasi penurunan. Bollinger band dan moving average berada 10% di atas bollinger bawah. Kondisi ini menandakan pergerakan tembaga masih rawan tekanan. MACD berada 60% dengan arah negatif. Stochastic berada 70% dengan arah negatif. Sementara RSI masih wait and see.

Hingga akhir tahun, Ibrahim memprediksi, harga tembaga berada di rentang US$ 6.150 hingga US$ 6.320 per metrik ton. Sementara hingga akhir kuartal I-2015, harga tembaga berada di antara US$ 5.900 sampai US$ 6.370 per metrik ton.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita