- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2306
TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berhasil mengembangkan baja berbahan dasar nikel rendah. Meski berkadar rendah, baja ini diklaim lebih kuat ketimbang baja berkadar besi tingi.
“Disebut baja laterit,†kata Andika Widya Pramono, Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, saat memaparkan penelitian tim ilmuwan di Gedung LIPI, Rabu, 17 Desember 2014.
Andika mengatakan, besar kandungan nikel baja laterit ini tak mencapai angka 3 persen yang biasa terdapat pada baja biasa. Kandungan nikel baja jenis ini hanya 0.8-1.5 persen dan bijih besinya sekitar 45 persen.
Selain menghasilkan kandungan nikel yang setara, dia menambahkan, jika kedua kandungan tersebut dilebur akan menghasilkan ketahanan melebihi baja biasa. Di antaranya, yaitu lebih tahan korosi dan perubahan cuaca, sifat las yang baik, serta tahan di temperatur minus derajat selsius.
Nikel, bahan dasar baja, diambil dari lapisan tanah bagian atas (limonit). “Selama ini lapisan tersebut dianggap kurang produktif,†ujar Andika. Namun jumlah ketersediaan nikel kadar rendah ini mencapai dua miliar ton.
Nikel limonit ini dapat dijumpai di beberapa pertambangan baja di Indonesia, seperti Kalimantan Tengah, Maluku Utara, dan Sulawesi Selatan. Jumlah tersebut, kata dia, dapat mencukupi permintaan baja nasional dalam beberapa ratus tahun ke depan. “Jika dimanfaatkan skala nasional, Indonesia dapat mandiri di sektor bahan baku baja.â€
Baja ini sudah diujicoba sampai kelayakan proses pembuatan. Dalam ujicoba proses tersebut LIPI dibantu PT Indoferro sejak proses peleburan, pencetakan, hingga pembuatan lempengan baja. “Sudah layak diproduksi,†kata Andika. Untuk itu LIPI membutuhkan peran pemerintah dalam pengembangan sektor industri tersebut.
Yusuf, peneliti senior di Puslit Material LIPI, mencatat ada lima hal yang setidaknya dapat pemerintah lakukan dalam pengembangan baja laterit ini. Yakni, pengembangan penelitian; penyaiapan regulasi produksi; pelaksana produksi; pemasaran produk pengembangan; dan mendorong sinergi semua sektor pemerintah.
“Pembangunan infrastruktur nasional bisa menggunakan bahan baku baja laterit,†kata Yusuf kepada Tempo, di tempat yang sama. Berdasarkan ujicoba proses dan kelayakan tersebut, dia mengatatakan, baja laterit juga cocok digunakan sebagai bahan dasar alat utama sistem persenjataan nasional.
AMRI MAHBUB
Narasumber : tempo.co
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2360
JAKARTA. Meski belum mampu menggeser dominasi dollar AS, poundsterling (GBP) unggul di hadapan mata uang utama lain. Maklum, indikator ekonomi Inggris cukup stabil.
Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (17/12) pukul 18.20 WIB, pairing EUR/GBP turun 0,27% menjadi 0,7923. Pasangan GBP/JPY naik 0,45% ke level 184,16. Hanya, GBP/USD turun 0,19% menjadi 1,5720.
Alwy Assegaf, analis SoeGee Futures, menilai, pasangan EUR/GBP bergerak dalam range sempit. Meski demikian, poundsterling lebih unggul, sebab ekonomi Inggris relatif bagus.
Misalnya, pendapatan rata-rata tiga bulan hingga Oktober naik 1,4%, melampaui ekspektasi tumbuh 1,3%. Lalu, jumlah masyarakat yang mengajukan tunjangan pengangguran bulan November berkurang 23.900 orang, melebihi perkiraan, minus 19.800. Meski demikian, tingkat pengangguran bulan Oktober stagnan di level 6%.
Dari sisi Eropa data ekonomi masih lemah. "Tren ke depan, GBP lebih unggul versus EUR. Apalagi, Inggris berpeluang menaikkan suku bunga," papar Alwy.
Tonny Mariano, analis Harvest International Futures, mengatakan, pasangan GBP/JPY naik, karena poundsterling lebih stabil setelah tertopang data ekonomi yang mayoritas positif. "Apalagi setelah sepekan, pasangan ini terkoreksi," kata Tonny.
Namun, mata dunia tertuju pada kebijakan Bank Sentral AS (The Fed). Pasar berekspektasi suku bunga AS akan naik. Ini bisa menekan GBP. "Maka, GBP/JPY bakal bergerak terbatas. Yen malah punya peluang naik, karena tidak terganggu sentimen penurunan harga minyak," ungkap Tonny.
Sementara, Suluh Adil Wicaksono, analis Millenium Penata Futures, menyebut, pergerakan pairing GBP/USD terbatas, karena pasar menanti hasil pertemuan The Fed pada Kamis (18/12) dini hari.
Hasil pertemuan itu akan menentukan arah pergerakan pasangan ini. Prediksi Suluh, jika The Fed tidak memberikan kepastian waktu kenaikan, pasar akan bereaksi dengan melepas dollar AS. "Ini bisa menjadi momentum bagi GBP rebound," prediksinya.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2403
JAKARTA. Hujan berkah bagi anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM). Harga minyak mentah yang terjun signifikan membuat anggaran pemerintah dalam pos subsidi BBM susut.
Nilai susutnya pun tidak sedikit. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan penyusutannya mencapai Rp 17 triliun di bawah pagu. "Kemarin hitungan terakhir begitu," ujarnya di Jakarta, Kamis (18/12).
Asal tahu saja, anggaran subsidi BBM dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014 adalah sebesar Rp 246,5 triliun. Kalau ada penyusutan Rp 17 triliun, berarti realisasi anggaran subsidi bisa sebesar Rp 229,5 triliun.
Untuk tahun depan, ia mengakui penyusutan anggaran subsidi akan lebih tajam lagi. "Tahun depan kecil sekali subsidi BBM kalau ukurannya US$ 60-US$ 70 per barel," tandasnya.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2265
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menyatakan pertumbuhan ekonomi 7 persen, paling cepat dapat direalisasikan pada 2016.
Menurut dia, dalam kondisi ekonomi global yang terintegrasi saat ini, ada dua syarat bagi negara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi. Pertama, kata Bambang, tidak ada mini krisis yang sifatnya global. Dia mengatakan, pada 2008 Indonesia juga ingin terus tumbuh tinggi. Namun, ada krisis menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat.
"Syarat kedua, karena kita terpengaruh global, maka kita harus perkuat fundamental ekonomi," imbuh dia, Kamis (18/12/2014).
Selain itu, kapitalisasi modal perbankan perlu diperkuat dan dana pihak ketiga harus digenjot. Dengan begitu, negara tidak perlu mencari pembiayaan dari luar negeri untuk mendanai pembangunan. Di sisi lain, segala macam defisit neraca harus dikurangi.
"Kenapa paling cepat 2016? Karena kita tahu 2015 ini awal penerapan kebijakan ekonomi Amerika," kata Bambang.
Dia menambahkan, jika reformasi struktural berjalan maka pertumbuhan ekonomi tahun depan masih optimis bisa dicapai di level 5,8 persen. Kemudian, jika 2015 berjalan mulus, belanja bisa menyerap tenaga kerja, dan investasi masuk dengan lancar, maka sangat dimungkinkan pertumbuhan ekonomi jauh lebih tinggi dari 2015.
"Kalau mau cepat (kerjanya), perkiraannya 2016. Kalaupun belum tercapai mudah-mudahan itu sudah dekat 7 persen," pungkas Bambang.
Narasumber : kompas.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2362
JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sumringah, setelah empat hari berturut-turut melemah. Kenaikan harga tersokong peningkatan ekspor Malaysia selama bulan Desember 2014. Kinerja ekspor diharapkan semakin membaik, setelah Malaysia memperpanjang pajak ekspor CPO 0% hingga Januari tahun depan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu (17/12), harga CPO kontrak pengiriman Maret 2015 di Malaysia Derivative Exchange naik 0,47% ketimbang hari sebelumnya menjadi RM 2.131 per metrik ton. Tapi, dalam sepekan harga masih jatuh sebesar 2,2%.
Laporan Intertek Testing Service (ITS) memperlihatkan, ekspor CPO Malaysia periode 1-15 Desember 2014 naik sebesar 2,9% dari periode yang sama bulan sebelumnya menjadi 615.805 metrik ton, karena permintaan Eropa meningkat dua kali lipat.
Dian Agustina, Analis MNC Securities, mengatakan, harga CPO hanya rebound terbatas. Kenaikan harga terjadi setelah ekspor CPO Malaysia naik dan pajak ekspor tetap 0%. "Selain itu, kenaikan harga merupakan technical rebound, karena sudah turun beberapa hari," ujarnya.
Dari Indonesia, ekspor CPO ke Amerika Serikat diproyeksikan naik tahun ini, menjadi 500.000 ton dibandingkan dengan rata-rata tahunan sebesar 100.000 ton. Ini memberikan sentimen positif pada harga CPO.
Kendati demikian, Dian menilai, tekanan terhadap minyak sawit masih sangat besar, di tengah merosotnya harga minyak mentah. Anjloknya harga minyak dunia akan menambah seru persaingan di pasar energi. Permintaan biofuel akan semakin menurun.
Tekanan lebih besar
Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibirium Komoditi Berjangka, menyebut, harga CPO cenderung melemah , kendati kemarin ditutup menguat. Ia juga menilai, kenaikan harga hanya bersifat teknikal dan memberikan kesempatan pelaku pasar mengambil posisi jual. "Selain itu memang sedikit tersokong dengan kenaikan ekspor Malaysia," ungkapnya.
Namun ia memperkirakan, harga CPO masih akan jatuh. Tekanan terhadap komoditas ini masih besar karena perlambatan ekonomi di negara pengimpor CPO terbesar seperti China dan India. Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia dan kedelai sebagai bahan substitusi memicu turunya permintaan CPO.
Secara teknikal Ibrahim mengatakan, harga CPO masih akan melemah. Bollinger band dan moving average (MA) 60% di atas bollinger bawah mengindikasikan penurunan.
Stochastic berada di level 70% area negatif mengindikasikan tekanan masih cukup besar. Moving average convergence divergence (MACD) dan relative strength index (RSI) di level 50% area negatif menunjukkan tekanan.
Hari ini Ibrahim memprediksi, harga CPO bergerak di kisaran RM2.090–RM 2.145 per metrik ton. Dalam sepekan, harga di kisaran RM 1.900–RM 2160 per metrik ton. Adapun Dian menduga, harga akan bergerak di RM 2.080–RM 2.150 hari ini. Dalam sepekan, harga di RM 2.050–RM 2.180 per metrik ton

















Semua Berita