Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada awal perdagangan Rabu (31/12/2014) kembali bergerak menguat.

Perdagangan CPO untuk kontrak Februari 2015 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.296 ringgit Malaysia per ton.

Harga tersebut stagnan dibandingkan dengan penutupan pada Selasa (30/12/2014) yang naik tipis 0,09% ke 2.296 ringgit/ton.

Pada pukul 10.08 WIB atau sekitar 11.08 waktu Kuala Lumpur, harga CPO naik 0,09% ke level 2.298 ringgit/ton. Sampai dengan waktu tersebut, CPO bergerak di kisaran harga 2.290-2.301 ringgit/ton.

 

Pergerakan Harga CPO*

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

31/12 (10.08 WIB)

2.298

+0,09%

30/12

2.296

+0,09%

29/12

2.294

+1,87%

26/12

2.252

+1,53%

25/12

(Libur)

(Libur)

24/12

2.218

+0,36%

*Kontrak Februari 2014

Sumber: Bloomberg 2014

 

Narasumber : bisnis.com
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga kontrak minyak dunia berakhir rebound dari posisi terendahnya dalam 5,5 tahun terakhir tadi malam (30/12). Berdasarkan data yang dihimpun Reuters, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup dengan kenaikan 51 sen menjadi US$ 54,12 per barel. Padahal, pada Selasa pagi, harga kontrak yang sama sempat jatuh hingga ke level US$ 52,70 sebarel.

Sedangkan harga kontrak minyak Brent naik 12 sen menjadi US$ 58 sebarel. Harga minyak Brent juga sempat menyentuh posisi terendahnya dalam 5,5 tahun pada transaksi pagi dengan melorot US$ 1,14 per barel menjadi US$ 56,74 per barel. Ini merupakan level terendah sejak Mei 2009.

Kenaikan harga minyak disebabkan oleh adanya kecemasan baru yang dirasakan investor di mana gangguan produksi minyak di Libya akan mempengaruhi suplai di pasar global.

Pasar minyak dunia memang mengalami oversuplai produksi pada tahun ini seiring meningkatnya minyak dengan kualitas tinggi, produksi minyak serpih di AS, menurunnya konsumsi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan kompetisi dari bahan bakar alternatif.

Di Libya, adanya pertikaian antara sejumlah pihak yang bertikai menyebabkan ditutupnya tempat pelabuhan pengantaran minyak dan terminal pada bulan ini. Kondisi itu menyebabkan tingkat ekspor dari salah satu negara anggota OPEC tersebut berkurang.

PMV Oil Associates analyst Tamas Varga mengatakan, pasar minyak masih akan dilanda aksi jual, di mana faktor bearish masih mengontrol pasar. "Tren harga minyak masih turun dan tidak direkomendasikan untuk tidak mengikuti tren ini," jelasnya.

Sedangkan analis teknikal Reuters Wang Tao memprediksi, harga minyak Brent akan turun ke level US$ 54,98. Sedangkan harga minyak WTI diprediksi turun ke posisi US$ 52,10 sebarel.

Editor: Barratut Taqiyyah
Sumber: Bloomberg

Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41


JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perdagangan Rachmat Gobel telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 97/M-DAG/PER/12/2014 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan (EPTIK). Beleid ini dikeluarkan untuk meningkatkan nilai ekspor produk kayu 300 persen selama lima tahun ke depan.

Ada beberapa hal yang diatur dalam beleid tersebut. Berikut poin-poin utamanya.
Pertama, definisi IKM pemilik ETPIK adalah industri pemilik Tanda Daftar Industri (TDI) dan Izin Usaha Industri (IUI) yang telah mendapat pengakuan sebagai ETPIK tetapi belum memiliki Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK) dengan batasan nilai investasi sampai dengan Rp 10 miliar.

Kedua, IKM pemilik ETPIK yang belum memiliki S-LK dapat melakukan ekspor produk industri kehutanan dengan menggunakan Deklarasi Ekspor sebagai pengganti Dokumen V-Legal.

Ketiga, setiap 1 (satu) Deklarasi Ekspor hanya dapat digunakan untuk 1 (satu) kali penyampaian pemberitahuan pabean ekspor.

Keempat, IKM pemilik ETPIK mengirimkan Deklarasi Ekspor melalui Sistem Informasi Legalitas Kayu Online (SILK Online) ke portal Indonesia National Single Window (INSW) secara elektronik melalui http://inatrade.kemendag.go.id.

Kelima, Ketentuan mengenai Deklarasi Ekspor yang digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean berlaku sampai dengan 31 Desember 2015.

Sebelumnya, Permendag No. 64/M-DAG/PER/10/2012 menetapkan bahwa sejak 1 Januari 2013 ekspor produk industri kehutanan hanya dapat dilakukan oleh ETPIK yang telah memiliki sertifikat legalitas kayu (S-LK) kecuali produk mebel.

Setiap kali melakukan ekspor, ETPIK pemilik S-LK melampirkan Dokumen V-Legal yang merupakan dokumen pelengkap Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), yang sekaligus merupakan bukti legalitas produk perkayuan yang diekspornya.

Dengan diterbitkannya Permendag No. 97/M-DAG/PER/12/2014 maka Permendag No.64/M-DAG/PER/10/2012 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 81/M-DAG/PER/12/2013, dinyatakan dicabut dan tidak berlaku.

“Inti dari Permendag yang baru ini adalah mengatur penyertaan dokumen Deklarasi Ekspor bagi IKM pemilik ETPIK yang belum memiliki S-LK pada saat melakukan ekspor sebagai pengganti Dokumen V-Legal,” ucap Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, Senin (29/12/2014).

Rachmat menambahkan, Kemendag segera akan mengeluarkan daftar IKM pemilik ETPIK yang diperbolehkan mengekspor produk industri kehutanan yang tercantum dalam Permendag tersebut. Apabila dalam daftar tersebut IKM belum terdaftar, maka dapat diusulkan untuk ditambahkan dalam daftar.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : Erlangga Djumena

 

Narasumber : kompas.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada awal perdagangan Selasa (30/12/2014) kembali bergerak menguat.

Perdagangan CPO untuk kontrak Februari 2015 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.309 ringgit Malaysia per ton.

Harga tersebut sudah menguat 0,65% dibandingkan dengan penutupan pada Senin (29/12/2014) yang melejit 1,87% ke 2.294 ringgit/ton.

Pada pukul 09.33 WIB atau sekitar 10.33 waktu Kuala Lumpur, harga CPO masih naik 0,57% ke level 2.307 ringgit/ton. Sampai dengan waktu tersebut, CPO bergerak di kisaran harga 2.302-2.309 ringgit/ton.

 

Pergerakan Harga CPO*

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

30/12 (09.33 WIB)

2.307

+0,57%

29/12

2.294

+1,87%

26/12

2.252

+1,53%

25/12

(Libur)

(Libur)

24/12

2.218

+0,36%

23/12

2.210

+1,84%

22/12

2.170

+0,79%

*Kontrak Februari 2014

Sumber: Bloomberg 2014

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga minyak dunia kembali anjlok pada akhir transaksi Senin (29/12) kemarin. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, harga minyak jenis West Texas Intermediate turun US$ 1,12 atau 2,1% menjadi US$ 53,61 per barel. Ini merupakan level terendah sejak 1 Mei 2009 lalu.

Sedangkan harga minyak Brent ditutup dengan penurunan US$ 1,6% menjadi US$ 58 sebarel. Pada transaksi sebelumnya, harga minyak Brent ini sempat menyentuh level US$ 57,61 sebarel yang merupakan level terendah sejak 26 Mei 2009.

Harga minyak dunia kembali bergerak turun setelah sebelumnya sempat naik. Rupanya, investor merasa yakin bahwa adanya gangguan suplai dari Libya tidak akan mempengaruhi suplai minyak global.

Sekadar informasi, sebelumnya, investor sempat mencemaskan adanya gangguan suplai minyak di Libya setelah pemerintah negara tersebut mengatakan dua kilang minyak terbesar yakni Es Sider dan Ras Lanuf, ditutup. Harga minyak sempat bergerak naik akibat sentimen ini. Namun, kondisi itu tak berlangsung lama setelah investor mengambil kesimpulan bahwa gangguan suplai minyak di Libya tidak akan berpengaruh banyak kepada pasar minyak global.

"Setiap saat pasar berusaha naik, ternyata, akan terjadi gelombang aksi jual lagi. Sepertinya kecemasan pasar mengenai suplai minyak berlebih belum akan hilang dalam beberapa waktu ke depan," jelas Gene McGillian, senior analyst Tradition Energy di Stamford.

Editor: Barratut Taqiyyah
Sumber: Reuters

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita