Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



OTTAWA. Merosotnya harga minyak membawa berkah bagi perekonomian dunia. Biaya energi yang rendah diharapkan mampu mendorong konsumsi dan angka belanja masyarakat. Menurut JP Morgan, jika harga minyak mentah dunia stabil di level US$ 60 per barel akan menambah 0,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) global.

Walaupun demikian, kondisi perekonomian beberapa negara seperti Rusia, Brasil dan konflik geopolitik  yang melibatkan Yunani bisa menjadi penghambat pertumbuhan global. "Orang-orang masih berhati-hati  karena mereka melihat risiko negatifnya. Masih ada tanda tanya di luar sana,"  ujar Bruce Kasman, Kepala  Ekonom  JP Morgan Chase & Co, New York seperti dikutip Bloomberg.

Pada  perkiraan  Juli  2014 lalu, JP Morgan memproyeksikan pertumbuhan global tahun 2015 mencapai 3,3%. Namun, di awal Januari ini, proyeksi pertumbuhan global pada tahun ini dipangkas menjadi hanya 2,9%. Diantara 10 negara ekonomi terbesar, hanya AS yang mampu  tumbuh lebih cepat dengan laju kecepatan sebesar 3,2%.

Sedangkan, pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang hanya 3,9% pada tahun ini.  Sebelumnya,  perekonomian  negara  berkembang diprediksi bisa tumbuh hingga 4,9% pada 2015. Penurunan ini merupakan refleksi dari perlambatan ekonomi Rusia, Brasil dan India.

Stephen King dan Karen Ward, Ekonom HSBC Holdings Plc malah pesimistis terhadap keuntungan yang bisa didapat dari penurunan harga minyak. Tingginya nilai utang di negara maju membuat mereka cenderung mengambil manfaat dari pelonggaran moneter.

Sementara, rendahnya harga minyak dan beberapa komoditas lainnya membuat negara berkembang makin  terpuruk.  "Ekonomi  global kehilangan momentum  dan deflasi mulai terjadi yang berarti daya beli  turun sebelum sesuatu  terjadi  di  pasar minyak," jelas Ward.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, penurunan harga minyak akan menaikkan output global antara 0,3% hingga 0,7% di tahun ini. Pemicunya adalah pendapatan  rumah  tangga melompat dan biaya bisnis menurun.

IMF akan merilis perkembangan ekonomi global, akhir bulan ini. Proyeksi terakhir, ekonomi global tahun ini tumbuh 3,8% atau turun dari prediksi Juli 2014 yakni 4%.

Editor: Hendra Gunawan


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Membuka tahun 2015,  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)  yakin akan ada satu perusahaan yang mengoperasikan smelter. Dia adalah PT Bintang Depalan yang akan mengoperasikan pabrik pemurnian nikel pada April tahun 2015 ini.

Edi Prasodjo, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM mengatakan, saat ini, pembangunan smelter Bintang Delapan sudah lebih dari 80%. Harapan pemerintah, perusahaan ini segera bisa beroperasi. Dengan begitu, akan ada tambahan satu smelter. "Smelter lain masih proses pembangunan," kata dia kepada KONTAN, Rabu (7/1).

Rencananya, tahap pertama Bintang Delapan akan mengoperasikan smelter nikel dengan produk akhir nickel pig iron (NPI) berkapasitas 300.000 ton per tahun. Berikutnya, perusahaan akan akan meningkat kapasitas pengolahan nikel menjadi 500.000 ton.

Menurut Edi, mengambil operasi di Morowali, Sulawesi Tengah, perusahaan ini  di tahap pertama menginvestasikan dana sebesar US$ 320 juta. Pada tahap selanjutnya, perusahaan akan menggelontorkan kembali dana US$ 640 juta untuk meningkatkan kapasitas.

Dalam bisnis ini, Bintang Delapan menggandeng investor asal China yaitu PT Tsingshan, anak usaha PT Dingxin Group dengan membentuk usaha patungan PT Sulawesi Mining Investment (SMI).

Seiring proses konstruksi, kata Edi,  pemerintah juga memproses izin pengalihan kepemilikan saham mayoritas pabrik smelter tersebut. Kelak, operasi perusahaan ini dilakukan oleh PT Sulawesi Mining Investment.  "Mayoritas sahamnya asing, jadi masuk dalam perusahaan modal asing (PMA)," kata dia.

Perinciannya adalah: Bintang Delapan mendekap 45% saham Sulawesi Mining Invesment, sisanya atau  55% dikuasai Dingxin Group. Selain smelter, Sulawesi Mining juga mengaku akan membangun fasilitas pendukung, seperti pembangkit listrik tenaga diesel 2×65 Megawatt di tahap pertama, dan  tahap selanjutnya akan menambah menjadi sebesar 450 MW.

Bintang Delapan mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) sejak tahun 2010 dengan luas wilayah konsesi 21.695 hektare (ha) mencakup sembilan desa di Morowali, yakni Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia. Izin usaha ini akan berakhir di 2025.

Ada mantan jenderal

Belum jelas siapa pemilik Bintang Delapan Grup. Namun dari data Kementerian Perindustrian disebutkan kalau Presiden Komisaris Bintang Delapan Group adalah Sintong Panjaitan.

Makanya, Sintong pernah bertandang ke Kementerian Perindustrian pada Maret 2014 lalu untuk mengenalkan investor dari China yang akan bersama-sama menggarap proyek smelter tersebut.

Edi menambahkan, Jumlah perusahaan yang berencana membangun smelter nikel di Indonesia mencapai 30 perusahaan. Namun hingga saat ini, baru empat perusahaan yang mampu mengoperasikan smelter nikel yaitu PT Vale Indonesia Tbk dengan produk nikel matte, PT Aneka Tambang Tbk dengan produk nikel matte, serta PT Cahaya Modern Metal Industri, dan PT Indoferro dengan produk berupa nickel pig iron.

Editor: Hendra Gunawan


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

BERLIN. Pesanan pabrik Jerman jatuh untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pada November 2014, mencerminkan lambatnya pemulihan ekonomi. Jumlah order pabrik yang disesuaikan dengan inflasi turun 2,4% setelah menyentuh 2,9% di bulan Oktober.

Kementerian ekonomi Jerman merilis data produksi pabrik dalam negeri merosot 4,7% pada November 2014 dari bulan sebelumnya. Catatan saja, pada bulan Oktober 2014, pesanan ekspor Jerman lebih rendah 0,7% ketimbang culan sebelumnya.

"Meskipun ada kejutan penurunan dibandingkan ekspektasi kami, pabrik-pabrik terus menstabilkan pertumbuhan pesanan," ujar Evelyn Herrmann, ekonom Eropa di BNP Paribas SA, London seperti dikutip Bloomberg. Laporan tersebut menyeret nilai tukar euro makin terperosok. Kemarin, euro diperdagangkan turun ke US$ 1,1811 per dollar AS.

Inflasi Jerman melambat ke 0,1% pada bulan Desember 2014, terlemah dalam lima tahun. Namun demikian, angka pengangguran Jerman lebih baik ketimbang negara-negara Eropa lainnya yakni 6,5%. "Kekhawatiran baru termasuk Yunani bisa menghambat rebound," ujar Holger Schmieding, Kepala Ekonom Berenberg Bank.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Indonesia masih jadi tujuan investasi investor global. Salah satu indikatornya, hasil penawaran awal surat utang denominasi dollar AS yang kelebihan permintaan (oversubscribed).

Global bond 2015 berhasil mendapatkan permintaan senilai US$ 19,3 miliar atau oversubscribed 4,8 kali lipat dari realisasi dan target penerbitan yang sebesar US$ 4 miliar.

Pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih mengatakan banjirnya permintaan pada global bond 2015 disebabkan oleh beberapa faktor. "Yang pertama jelas karena likuiditas global sedang sangat tinggi," ujar Lana.

Ia menambahkan, banjir likuiditas terjadi di Eropa dan Jepang yang masing-masing bank sentralnya mengeluarkan stimulus. "Mereka juga tidak masalah menukarkannya ke dollar AS karena mata uang safe haven," kata Lana.

Faktor kedua, harapan investor terhadap peringkat surat utang Indonesia. Harapan ini muncul terkait kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak. Nah kebijakan ini, memicu harapan bahwa lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) akan meningkatkan peringkat surat utang Indonesia dari BB ke level investment grade BBB.

Maka penerbitan Surat Utang Negara (SUN) valas saat ini sangat menarik lantaran masih memberikan kupon relatif tinggi. "Investor global berpikir, SUN valas sekarang kuponnya masih tinggi. Nanti kalau sudah investment grade, Indonesia tidak bakal menawarkan kupon setinggi sekarang," ujar Lana.

Jika dibandingkan dengan negara lain, peringkat utang Indonesia sejajar dengan Turki dan Colombia. Menurut Lana, dibandingkan dua negara tersebut, Indonesia masih paling menarik karena potensi investment grade tadi.

Sebagai perbandingan, global bond Filipina bahkan oversubscribed hingga 7 kali. Menurut Lana, ini karena peringkat utang Filipina yang lebih tinggi yakni BBB. "Investor surat utang itu sangat sensitif terhadap peringat utang," ujarnya.

"Indonesia juga tidak bisa dibandingkan dengan India karena peringkat utang India sudah BBB. Apalagi Malaysia yang sudah A," tambahnya.

Pemerintah masih menyimpan 3 SUN valas lagi pada 2015 ini yakni global sukuk, samurai bond dan euro bond. Dari 3 SUN valas ini menurut Lana yang paling diburu investor adalah global sukuk. Ini karena denominasinya masih dollar AS dan target pasarnya yang merupakan negara timur tengah. Negara di kawasan ini, menurut Lana, selalu dipandang kebanjiran likuiditas karena sebagai produsen minyak.

"Asalkan global sukuk diterbitkan sebelum Fed fund rate naik," ujar Lana. Kebijakan Bank Sentral Amerika tersebut dipandang akan mengalihkan perhatian investor untuk berinvestasi di Amerika Serikat.

Sedangkan pada euro bond dan samurai bond, masih punya potensi oversubcribed asalkan tingkat likuiditas global masih setinggi sekarang.

"Sebenarnya mata uang yen dan euro sedang tidak menarik bagi investor karena melemah terus. Tapi jika kupon yang ditawarkan pemerintah cukup tinggi di tengah banjirnya likuiditas, maka masih punya potensi oversubcribed," lanjutnya.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagian besar mata uang Asia ditransaksikan cenderung melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini, Kamis (8/1/2015).

Dari 11 mata uang Asia, sebanyak tujuh mata uang tertekan dengan yen paling tertekan sebesar 0,32%.

Adapun empat mata uang lainnya menguat terhadap dolar AS yakni dolar Hong Kong, dolar Singapura, rupee, dan ringgit.

Sementara itu, rupiah terpantau melemah tipis 0,04% ke Rp12.740 per dolar AS pada pukul 09.03 WIB.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia, Kamis 8 Januari 2015

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB

Yen

119,6400

+0,32%

09:02:31

$Hong Kong

7,7545

-0,01%

09:02:59

$Singapura

1,3374

-0,17%

09:02:37

$Taiwan

31,9910

+0,04%

09:02:48

Won

1.100,3

+0,04%

09:03:00

Peso

45,0730

+0,01%

09:03:19

Rupiah

12.740

+0,04%

09:03:00

Rupee*

63,1750

-0,63%

06:29:57

Yuan

6,2189

+0,10%

09:03:10

Ringgit

3,5695

-0,34%

09:03:19

Baht

32,8910

+0,06%

09:02:51

Sumber: Bloomberg.


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita