Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Yen jatuh di level terendah dalam tujuh tahun terhadap dollar AS. Ini setelah selama empat bulan, inflasi Jepang melambat.

Mengutip Bloomberg, Jumat (26/12), pasangan EUR/JPY turun 0,16% dibanding hari sebelumnya ke 146,6. Pasangan USD/JPY naik 0,17% menjadi 120,31. Sementara pasangan AUD/JPY naik 0,22% menjadi 97,7320.

Yen melemah terhadap sebagian besar dari 16 mata uang utama. Ini memicu spekulasi Bank Sentral Jepang (BoJ) bakal menggelontorkan stimulus tambahan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Bahkan, BoJ tengah menyiapkan paket stimulus baru ¥ 3,5 triliun.

Data Biro Statistik Jepang Jumat (26/12) menunjukkan, inflasi di luar konsumsi Jepang pada bulan November (year on year) lalu hanya mencatatkan pertumbuhan 2,7%. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya di angka 2,9%. Sementara inflasi inti turun dari 0,9% menjadi 0,7%.

Selain itu, upah rata-rata tenaga kerja pada periode yang sama minus 1,5%. Angka ini lebih rendah ketimbang estimasi 0,5%. "Tren membeli dollar AS dan menjual yen tetap kuat, sehingga ini level nyaman," ujar Kengo Suzuki, Kepala Strategi Currency Mizuho Securities Co di Tokyo kepada Bloomberg.

Endro Singgih, Analis PT Millenium Penata Futures, mengatakan, pasangan EUR/JPY relatif bergerak mendatar untuk hari keempat. Tampaknya, para pelaku pasar tak terlalu merespons buruknya indikator ekonomi Jepang, sebab perdagangan beberapa pasar saham tutup. Data ekonomi Jepang juga tidak ada yang berdampak signifikan.

Di jangka pendek, pasangan EUR/JPY berpeluang koreksi. Pergerakan EUR/JPY yang menyentuh level 146,45 berpotensi membalikkan keadaan menuju rebound. “Hari ini, pelaku pasar juga menanti angka penjualan ritel Jerman. Jika data ini positif, maka EUR/JPY berpeluang berbalik arah," ujar Endro.

Alwy Assegaf, Analis PT SoeGee Futures, menuturkan, dollar AS melemah karena tidak ada lagi data penting yang ditunggu pelaku pasar pada akhir tahun ini. Namun, secara jangka panjang pasangan USD/JPY akan tetap menjaga tren naik.

Ini lantaran kebijakan moneter Bank Sentral AS alias The Fed dan Bank Sentral Jepang (BoJ). "Perekonomian Jepang mulai memasuki resesi. Jepang masih perlu menambah stimulus. Sementara The Fed telah bersiap-siap menaikkan suku bunga pada tahun depan," ujar Alwy.

Zulfirman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menjelaskan, pasangan AUD/JPY menguat lantaran inflasi Jepang   melambat.

Kondisi pasangan ini berdampak pada semakin sulitnya BoJ dalam mencapai target inflasi sekitar 2%. Kondisi ini menunjukkan ekonomi Jepang masih rapuh. "Kondisi ini membuka peluang bagi BoJ menambahkan stimulus moneter pada tahun depan," ujar dia.

Editor: Avanty Nurdiana


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga tembaga di London Metal Exchange (LME) terseret ke level terendah sejak April 2010. Harga terjun bebas akibat spekulasi pelaku pasar terhadap kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve yang semakin dekat untuk menaikkan suku bunga. Kondisi ini melemahkan harga tembaga yang diperdagangkan dalam dollar AS.

Mengutip Bloomberg, Rabu (24/12) harga tembaga pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,4% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 6.302 per metrik ton. Harga tergerus 1% dalam sepekan terakhir. Tidak ada perdagangan di London Metal Exchange (LME) pada akhir pekan karena libur.

Merosotnya harga tembaga juga ditengarai akibat positifnya indikator ekonomi AS. Sepanjang kuartal III-2014, pendapatan domestik bruto (PDB) AS tumbuh 5%. Ini merupakan laju tercepat selama lebih dari satu dekade. Kondisi tersebut bisa mendorong The Fed mempertahankan tingkat suku bunga. Kokohnya PDB AS kuartal III-2014 menggiring dollar AS menuju level tertinggi dalam lima tahun terhadap 10 mata uang utama.

Hal ini mengikis daya tarik komoditas, termasuk tembaga sebagai alternatif investasi. Tahun ini, tembaga telah terperosok 17%.

Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, menilai, semua komoditas masih akan bergerak negatif hingga akhir tahun. Salah satu penyebab utama jatuhnya harga tembaga adalah pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang kian melambat.

Hal itu tercermin dari data manufaktur China yang membukukan angka di bawah 50. Melesetnya indeks manufaktur di bawah level 50 ini kemungkinan berdampak pada data PDB China kuartal IV-2014 yang lebih rendah dari kuartal III-2014.

"PDB China tahun 2014 ditargetkan sebesar 7,1%. Tapi, kemungkinan realisasinya hanya mencapai 7%," duga Ibrahim. Ganjalan lain bagi tembaga adalah kokohnya indeks dollar AS yang telah menembus level 90. Menurutnya, indeks dollar masih berpotensi terus menanjak hingga menyentuh level 90,50 pada penutupan tahu 2014.

Secara teknikal, harga tembaga mengonfirmasi penurunan. Bollinger band dan moving average berada 10% di atas bollinger bawah. Kondisi ini menandakan pergerakan tembaga masih rawan tekanan. MACD berada 60% dengan arah negatif. Stochastic berada 70% dengan arah negatif. Sementara RSI masih wait and see.

Hingga akhir tahun, Ibrahim memprediksi, harga tembaga berada di rentang US$ 6.150 hingga US$ 6.320 per metrik ton. Sementara hingga akhir kuartal I-2015, harga tembaga berada di antara US$ 5.900 sampai US$ 6.370 per metrik ton.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA— Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) diperkirakan masih terpuruk hingga tahun depan karena pasokan global yang masih cukup tinggi.

“Dengan kondisi ekonomi China pada 2015 yang diperkirakan masih lebih rendah ini akan berpengaruh pada permintaan,” kata Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka Ibrahim pada Bisnis.com, Sabtu (27/12/2014).

Pada penutupan perdagangan pekan ini kontrak CPO untuk pengiriman Maret menghijau 32 poin ke level 2.249 ringgit per ton di Bursa Malaysia Derivatives. Adapun CPO untuk pengiriman April naik 31 poin menjadi 2.248 ringgit per ton.

Ibrahim memprediksi, selain pengaruh dari perlambatan ekonomi di sejumlah negara konsumen terbesar di dunia, permintaan CPO juga terganggu oleh peraturan dari Eropa. Bahkan dia mengatakan volume ekspor CPO ke Eropa pada tahun depan akan menyusut 10% dari total 4 juta ton.

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Setelah Indonesia resmi melakukan pembatasan ekspor bijih sejak Januari 2014 dan disahkan melalui persidangan pada Desember 2014 ini, Filipina bersiap untuk menggenjot produksinya. Langkah Filipina diprediksi akan kembali melempar jatuh harga nikel di akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015 mendatang.

“Larangan di Indonesia merupakan sinyal yang positif bagi kami. Kami akan segera memaksimalkan jeda yang ada dan memanfaatkan kapal sebanyak yang kami bisa” kata Defensor, Ketua Pertambangan Pax Libera Inc. Pax Libera sudah menyiapkan empat lokasi baru di tahun 2015 mendatang. Setelah pada 2014 ini membuka dua lokasi pertambangan baru.

Mengutip Bloomberg, Kamis (24/12), pukul 04.16 am Shanghai, harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 1,3% dari hari sebelumnya) menjadi US$ 15.450 per MT. Dalam sepekan terakhir harga nikel telah tergerus 1,1% dari US$ 15.625 per MT pada Selasa (16/12) lalu yang menjadi US$ 15.450 per MT.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, pun menduga bahwa ekspor nikel dari Filipina pada 2015 mendatang akan naik menjadi 26%, padahal di tahun 2014 ini hanya 24%. “Ini menekan pergerakan harga nikel hingga tahun depan,” katanya.

Pelemahan harga nikel juga diperburuk dengan data Gross Domestic Product AS yang ternyata membukukan pertumbuhan 5% untuk periode Juli-September 2014. Angka ini jauh dari prediksi yang hanya 4,3% dan dari kuartal sebelumnya yang hanya 3,9%.

Data ekonomi ini membuat index dollar AS menguat. Saat ini index dollar AS sudah menyentuh level 90,14. Mencatat level tertinggi baru. “Sehingga ini membuat kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada Q1 2015 semakin kuat,” kata Ibrahim. Index dollar AS yang perkasa membuat pasar menjauhi komoditas. Penghujung 2014 yang semakin dekat membuat pasar memilih aksi taking profit maka harga komoditas termasuk nikel pun terhempas.

“Prediksi di 2015 harga nikel hanya akan bergerak di level US$ 17.500 per MT karena index dollar AS diduga menyentuh level 92,” kata Ibrahim. Jauh dari dugaan awal sebelum Filipina memutuskan membuka 4 pertambangan baru.

Sebelumnya ketika Indonesia melakukan peredaman ekspor nikel, pasar global memprediksi stok akan defisit 62.400 ton pada 2015 dari sebelumnya surplus 25.100 ton pada 2014. Ini membuat Citigroup memprediksi harga nikel akan bergerak di US$ 21.625 per MT di 2015 dan US$ 25.250 per MT pada 2016.

Nyatanya prediksi tersebut terkapar di pasar global. Pada 19 Desember 2014 stok nikel di London Metal Exchange(LME) melonjak menjadi rekor baru karena naik sebanyak 55% menjadi 406.812.

“Lonjakan stok ini karena perlambatan ekonomi global termasuk China yang menyentuh terlemah sejak 1990. Belum lagi perlambatan di zona Eropa yang juga terjadi,” kata Ibrahim. Selain itu jelas, pembukaan 2 tambang baru di Filipina membuat stok ikut bertambah. Tren harga nikel sampai akhir tahun 2014 dan awal 2015 akan bearish.

Secara teknikal, Ibrahim memaparkan, saat ini harga bergerak di moving average (MA) 20% di atas Bollinger bawah. Sedangkan relative strength index (RSI) dan garis moving average convergence divergence (MACD) keduanya 60% negatif, mengindikasikan arah yang bergerak masih akan turun kembali. Terakhir stochastic 70% negatif, semakin memperkuat tren bearish pada harga nikel.

Ibrahim menduga harga sepekan ke depan di kisaran US$ 15.200 – US$ 15.460 per MT. “Harga akhir tahun di level US$ 15.200 per MT,” tutup Ibrahim.

 

Editor: Sofyan Nur Hidayat

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

SINGAPURA. Harga kontrak minyak dunia diperdagangkan mendekati level tertingginya dalam dua pekan terakhir pada transaksi perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, pada pukul 13.09 waktu Singapura, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 56,64 per barel atau turun 48 sen.

Kemarin, harga kontrak minyak naik US$ 1,86 menjadi US$ 57,12 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak 12 Desember lalu.

Pergerakan harga minyak kali ini dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang mengalami pertumbuhan tercepat dalam satu dekade terakhir. Hal ini memberikan sinyal bahwa tingkat permintaan minyak akan mendaki di Negeri Paman Sam itu.

"Data PDB AS yang positif mendorong harga minyak. Reli saat musim liburan memberikan sentimen yang cukup positif bagi harga komoditas," jelas Phil Flynn, senior market analyst Price Futures Group di Chicago.

Sementara itu, harga kontrak minyak Brent untuk pengantaran Februari turun 48 sen menjadi US$ 61,21 per barel di ICE Futures Europe exchange.

Editor: Barratut Taqiyyah
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita