- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2195
JAKARTA. Penjualan mobil bekas tahun 2015 diprediksikan lebih kencang jika dibandingkan dengan tahun 2014. Tren kenaikan penjualan mobil bekas ini akan mengikuti tren penjualan mobil baru pada tahun 2012 dan 2013.
Penjualan mobil baru tahun 2012 mencetak angka fenomenal, yakni 1,1 juta unit. Begitu pula dengan penjualan mobil baru sepanjang tahun 2013 yang menembus angka 1,2 juta unit. "Kenaikan penjualan mobil pada dua tahun dan tiga tahun lalu ini akan diikuti pasar mobil bekas tahun 2015," kata Holomoan Fischer, General Manajer diler mobil bekas Mobil88 kepada KONTAN, pekan lalu.
Melihat peluang pasar mobil bekas ini, anak usaha Astra Group ini membidik kenaikan penjualan sebanyak 15% pada tahun ini ketimbang tahun lalu. Tahun 2014, Mobil88 menjual sekitar 25.000 unit mobil bekas.
Untuk mencapai target ini, Mobil88 akan menambah dua diler lagi di Jabodetabek. Saat ini, Mobil88 telah memiliki 18 diler dan tujuh di antaranya berada di Jabodetabek. "Kami tambah diler di Jakarta karena sebaran mobil baru banyak di Jakarta,†kata Fischer.
Saat ini, penjualan Mobil88 didominasi oleh produk Astra, Toyota dan Daihatsu. " Produk Astra sekitar 85% dan sisanya merek Jepang," jelas Fischer.
Walaupun pasar bergerak positif, bisnis mobil bekas dihantui oleh perang diskon yang dilakukan oleh Agen Pemegang Merek (APM) mobil baru. Fischer menyatakan, jika diskon mobil baru mencapai Rp 20 juta, harga mobil bekasnya juga akan turun senilai Rp 20 juta.
Herjanto Kosasih, Senior Manager Marketing Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua Jakarta, memandang, pasar mobil bekas tahun ini masih menghadapi tekanan, terutama dari dampak diskon harga mobil baru pada akhir tahun 2014. "Perang diskon 2014 itu marak sekali," kata Herjanto kepada KONTAN, Senin (5/1).
Melihat tantangan ini, Herjanto tak mau mematok kenaikan penjualan tahun ini. "Target penjualan kami masih sama dengan tahun lalu di angka 35.000 unit per tahun," ujar dia realistis.
Adapun mobil bekas yang diprediksi menjadi primadona atau banyak diburu konsumen adalah mobil city car. "Seperti tahun lalu, tahun ini pasar mobil bekas didominasi oleh city car, karena naik turunnya harga bahan bakar minyak (BBM),†jelasnya.
Selain mobil city car, penjualan mobil bekas yang akan banyak diburu adalah mobil diesel. Herjanto bilang, mobil diesel yang paling dicari adalah Toyota Kijang Innova Diesel, Toyota Fortuner Diesel, dan Mitsubishi Pajero Sport.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2083
JAKARTA – Kementerian Perdagangan menetapkan bea keluar (BK) ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada Januari 2015 sama dengan Desember 2014, yaitu nol persen. Kebijakan tersebut diambil dengan pertimbangan harga CPO internasional masih tetap rendah, bahkan turun lima persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
’’Penurunan harga referensi dan harga patokan ekspor (HPE) untuk produk CPO dan biji kakao disebabkan melemahnya harga internasional untuk komoditas itu,’’ ujar Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan akhir pekan lalu.
Dia menuturkan, penetapan HPE Januari 2015 dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan instansi terkait dan menyikapi perkembangan harga komoditas. Baik nasional maupun internasional yang terjadi saat ini. ’’Harga anjlok karena oversupply minyak nabati dunia. Terutama minyak nabati yang bersumber selain dari CPO sebagai kompetitor utama,’’ tambahnya.
Harga CPO saat ini masih berada di bawah tingkat ambang batas pengenaan bea keluar, yakni di level USD 750. Itulah yang menjadi alasan komoditas ekspor tersebut tetap dikenai bea keluar nol persen. ’’Harga referensi dan HPE CPO saat ini rendah karena lemahnya harga CPO internasional yang disebabkan oversupply,’’ katanya.
Penetapan HPE didasarkan pada harga referensi CPO yang saat ini berada di kisaran USD 696,6 per metrik ton (MT) yang turun USD 36,56 atau 4,99 persen dari bulan sebelumnya, yaitu USD 733,16 per MT. Dengan angka itu, HPE CPO mencapai USD 625 per MT. ’’Produk pertanian dan kehutanan yang dikenai bea keluar (BK) saat ini, antara lain, CPO, biji kakao, kayu, dan kulit,’’ papar dia.
Harga referensi biji kakao untuk penetapan HPE telah turun USD 44,18 atau 1,51 persen. Awalnya, harganya menembus USD 2.929,75 per MT menjadi USD 2.885,57 per MT. Akibatnya, HPE biji kakao juga turun pada Januari, USD 43 per MT. ’’BK biji kakao tidak berubah kalau dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya, yakni tetap 10 persen,’’ jelasnya.
Sebagaimana diwartakan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengeluhkan minimnya permintaan CPO meski harga saat ini sangat rendah. Penurunan permintaan CPO terbesar justru terjadi dari Tiongkok dan India yang selama ini merupakan negara tujuan ekspor utama produk CPO dan turunannya.
Berdasar data Gapki, tahun lalu sampai September, volume ekspor CPO dan produk turunannya ke Tiongkok rata-rata berkurang 10 persen. Volume ekspor ke India turun signifikan di atas 25 persen pada periode yang sama 2014.
Permintaan CPO dari Tiongkok lesu lantaran Negeri Panda tersebut mengeluarkan regulasi standar residu pestisida, termasuk untuk minyak makan. Perusahaan Indonesia pun mengalami hambatan karena adanya regulasi itu.
Sementara itu, ekspor ke India turun karena pemerintahannya menaikkan tarif bea masuk impor minyak sawit, nilai tukar rupee terhadap dolar AS lemah, serta inflasi tinggi. (wir/c14/oki)
Narasumber : jawapos.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1947
SEOUL. Harga minyak mentah meluncur turun di hari ketiga, Senin (5/1). Pasokan berlimpah yang menjadi penyebab turunnya harga minyak di tahun lalu, diperkirakan masih menjadi ancaman di tahun ini.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengantaran Februari turun 54 sen atau 1% menjadi US$ 52,15 per barel di bursa elektronik New York Mercantile Exchange pada pukul 9:20 waktu Seoul.
Sedangkan harga Brent untuk pengiriman Februari turun 71 sen ke harga US$ 55,71 per barel di bursa ICE Futures Europe.
Irak yang menjadi produsen minyak terbesar kedua di Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) berencana mendorong produksi minyak, menurut kementerian minyak setempat. Sedangkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akan bertandang ke beberapa negara member OPEC untuk mengembangkan strategi patokan harga minyak yang baru.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2140
JAKARTA. Mata uang euro (EUR) bergerak beragam terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Namun secara umum, mengawali tahun 2015 mata uang kawasan Eropa ini masih melemah tajam. Penyebabnya, presiden bank sentral eroa (ECB) kemungkinan akan memperluas stimulus moneter.
Selain itu, data ekonomi kawasan eropa yang di rilis akhir pekan lalu juga tercatat negatif. Indeks manufaktur Spanyol dan Italia mengalami penurunan di bulan Desember dan lebih rendah dari prediksi analis. PMI (Purchase Manager Index) spanyol turun menjadi 53,8 dari bulan sebelumnya sebesar 54,7 serta lebih rendah dari prediksi analis 54,9. Adapun PMI Italia 48,8 turun dari level bulan sebelumnya 49,0.
Mengutip data Bloomberg, Jumat (2/1) pasangan EUR/USD turun 0,84% dari perdagangan sebelumnya menjadi 1,2002. Pairing EUR/JPY turun 0,21% menjadi 144,630 dan pasangan EURGBP naik 0,81% menjadi 0,7830.
Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibirium Komoditi Berjangka mengatakan Euro tertekan terhadap dollar AS lantaran terjadi gejolak politik di Italia. Presiden Italia mengundurkan diri sehingga terjadi ketidakjelasan di Eropa dan kemungkinan besar akan dilakukan pemilihan presiden di kuartal I bersamaan dengan pemilihan presiden di Yunani.
Selain itu, kata Ibrahim, data manufaktur Spanyol dan dan Italia juga menuruin sehingga menambah sentimen negatif terhadap pergerakan nilai tukar euro. Sementara dari sisi USD, terjadi penguatan setelah data manufaktur China Desember melemah menjadi 50,1 dari sebelumnya 50,3.
Ibrahim memprediksi pasangan ini masih akan melanjutkan tekanan lebih dalam. Kendati data ISM Manufaktur PMI AS bulan Desember menurun dari 58,7 menjadi 55,5 tidak akan banyak mempengaruhi pergerakan dollar AS.“ Manufakturnya wajar turun karena bulan desember samapai Februari meruapakan musim dingin di AS,†kata dia.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1859
LONDON. Harga minyak mentah dunia kembali merosot di tengah berlimpahnya suplai dari Rusia dan Irak. Di sisi lain, sinyal pelambatan ekonomi di China dan Eropa menunjukkan permintaan tak akan mengimbangi belimpahnya pasokan.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada hari Jumat (2/1) untuk pengiriman Februari turun 58 sen atau 1,1% menjadi US$ 52,69 per barel, di bursa Nymex. Ini merupakan harga minyak termurah sejak 30 April 2009.
Sedangkan harga minyak jenis Brent untuk kontrak Februari turun 91 sen atau 1,6% menjadi US$ 56,42 per barel di bursa ICE Futures Europe di London. Ini pun level settlement terendah dalam 5,5 tahun terakhir.
Pemerintah Rusia dan Irak masing-masing mengumumkan produksi minyak mentah mereka di level tertinggi pada bulan Desember. Dari data awal CDU-TK, unit dari Kementerian Energi Rusia, produksi minyak Negeri Beruang Merah bulan Desember naik 0,3% dan menyentuh rekor 10,67 juta barel perhari.
Negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam Petroleum Exporting Countries (OPEC) memproduksi 30,24 juta barel per hari pada bulan Desember. Sedangkan produksi minyak AS rata-rata 9,12 juta barel per hari, yang dihitung dalam sepekan hingga 26 Desember, menurut data Energy Information Administration.
Sepanjang tahun lalu, harga WTI terjun 46%. Ini merupakan penurunan terbesar dalam enam tahun terakhir.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita