- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2169
Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada awal perdagangan Selasa (30/12/2014) kembali bergerak menguat.
Perdagangan CPO untuk kontrak Februari 2015 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.309 ringgit Malaysia per ton.
Harga tersebut sudah menguat 0,65% dibandingkan dengan penutupan pada Senin (29/12/2014) yang melejit 1,87% ke 2.294 ringgit/ton.
Pada pukul 09.33 WIB atau sekitar 10.33 waktu Kuala Lumpur, harga CPO masih naik 0,57% ke level 2.307 ringgit/ton. Sampai dengan waktu tersebut, CPO bergerak di kisaran harga 2.302-2.309 ringgit/ton.
Pergerakan Harga CPO*
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
30/12 (09.33 WIB) |
2.307 |
+0,57% |
|
29/12 |
2.294 |
+1,87% |
|
26/12 |
2.252 |
+1,53% |
|
25/12 |
(Libur) |
(Libur) |
|
24/12 |
2.218 |
+0,36% |
|
23/12 |
2.210 |
+1,84% |
|
22/12 |
2.170 |
+0,79% |
*Kontrak Februari 2014
Sumber: Bloomberg 2014
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2214
NEW YORK. Harga minyak dunia kembali anjlok pada akhir transaksi Senin (29/12) kemarin. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, harga minyak jenis West Texas Intermediate turun US$ 1,12 atau 2,1% menjadi US$ 53,61 per barel. Ini merupakan level terendah sejak 1 Mei 2009 lalu.
Sedangkan harga minyak Brent ditutup dengan penurunan US$ 1,6% menjadi US$ 58 sebarel. Pada transaksi sebelumnya, harga minyak Brent ini sempat menyentuh level US$ 57,61 sebarel yang merupakan level terendah sejak 26 Mei 2009.
Harga minyak dunia kembali bergerak turun setelah sebelumnya sempat naik. Rupanya, investor merasa yakin bahwa adanya gangguan suplai dari Libya tidak akan mempengaruhi suplai minyak global.
Sekadar informasi, sebelumnya, investor sempat mencemaskan adanya gangguan suplai minyak di Libya setelah pemerintah negara tersebut mengatakan dua kilang minyak terbesar yakni Es Sider dan Ras Lanuf, ditutup. Harga minyak sempat bergerak naik akibat sentimen ini. Namun, kondisi itu tak berlangsung lama setelah investor mengambil kesimpulan bahwa gangguan suplai minyak di Libya tidak akan berpengaruh banyak kepada pasar minyak global.
"Setiap saat pasar berusaha naik, ternyata, akan terjadi gelombang aksi jual lagi. Sepertinya kecemasan pasar mengenai suplai minyak berlebih belum akan hilang dalam beberapa waktu ke depan," jelas Gene McGillian, senior analyst Tradition Energy di Stamford.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2196
JAKARTA. Pergerakan harga komoditas logam sepanjang 2014 cenderung melambat. Faktor penguatan dollar AS di tengah kokohnya perekonomian Amerika Serikat (AS) menjadi pukulan terberat bagi komoditas logam.
Di antara tiga komoditas logam yakni timah, nikel dan tembaga, hanya nikel yang harganya bertumbuh. Secara umum prospek harga logam tahun depan masih teradang oleh rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Keputusan The Fed itu dapat memperkuat otot dollar AS dan menggerus harga komoditas.
Pasar juga masih lesu karena permintaan komoditas dari China selaku pengguna logam terbesar dunia belum pulih. Berikut pergerakan harga logam dan prospeknya pada tahun depan.
Timah
Pergerakan harga timah pada tahun ini masih tertekan. Hal ini disebabkan oleh permintaan yang kian menurun di tengah rapuhnya perekonomian global.
Mengutip data Bloomberg, Rabu (24/12), harga timah di London Metal Exchange (LME) ditutup di level
US$ 19.050 per metrik ton naik 3,5% dibandingkan dengan hari sebelumnya. Tapi sepanjang tahun ini, harga sudah terpangkas 14,7%.
Harga timah sempat menyentuh posisi terendah tahun ini pada Selasa (23/12) di posisi US$ 18.395 per metrik ton. Sedangkan harga tertinggi timah tercapai pada Rabu (2/7) yakni di posisi US$ 23.025 per metrik ton.
Deddy Yusuf, Market Strategist dan Analis PT Fasting Futures mengatakan, tekanan harga timah datang dari melambatnya pertumbuhan industri China dan Eropa yang menjadi pasar komoditas logam. Meski begitu, harga timah sempat terkerek akibat kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah Indonesia. Kondisi ini memicu terganggunya suplai global.
"Sentimen negatif masih membayangi harga timah tahun depan, namun ada harapan harga timah terangkat oleh perbaikan ekonomi dan data manufaktur AS, sehingga menumbuhkan permintaan timah," jelas Deddy.
Deddy menduga harga timah hingga kuartal I-2015 naik di kisaran US$ 18.000-US$ 23.700 per metrik ton. Sementara prediksi harga timah hingga semester I-2015 berada di US$ 22.000-US$ 24.000 per metrik ton.
Nikel
Sepanjang tahun 2014, harga nikel bergerak cukup fluktuatif. Pada Rabu (24/12), harga nikel di LME kontrak pengiriman tiga bulan senilai US$ 15.335 per metrik ton atau turun tipis 0,74% dibanding hari sebelumnya. Namun sepanjang tahun ini harga nikel naik sebesar 10,32%.
Harga nikel terendah sepanjang tahun 2014 di level US$ 13.413 per metrik ton pada 9 Januari 2014. Sedangkan harga tertinggi di US$ 21.000 per metrik ton pada 13 Mei 2014.
Ibrahim, analis dan Direktur Equilibirium Komoditi Berjangka mengatakan, selain konflik geopolitik di Ukraina harga nikel kenaikan harga nikel tersokong penerapan Undang-Undang Minerba di Indonesia sehingga ekspor nikel turun. "Bahan baku dari Indonesia banyak dikirim ke smelter Jepang untuk diolah lalu dikirim kembali ke dalam negeri," tambahnya.
Setelah konflik Ukraina dengan Rusia berakhir September, harga nikel turun. Sentimen kuat justru datang dari spekulasi kenaikan suku bunga The Fed. Dollar AS pun naik sehingga menekan harga komoditas. Di sisi lain, perlambatan ekonomi global terutama China membuat permintaan nikel menyusut.
Ibrahim memprediksi harga nikel hingga semester I-2015 masih akan tertekan di kisaran US$ 11.000-US$ 16.000 per metrik ton. Namun setelah bunga The Fed naik, harga nikel akan kembali menguat di US$ 15.000-US$ 17.000 per metrik ton.
Tembaga
Harga tembaga di tahun 2014 juga tergerus keperkasaan dollar AS. Pada Senin (29/12), pukul 15.03 waktu Hong Kong, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di LME senilai US$ 6.270 per metrik ton. Harga turun 0,51% dari penutupan hari Rabu (24/12) yang senilai US$ 6.302 per metrik ton atau terendah sejak Juni 2010. Sepanjang tahun ini, harga tembaga telah tergerus 14,81%.
Walaupun begitu lalu harga tembaga sempat menyentuh level tertinggi di US$ 7.175 per metrik ton pada 3 Juli 2014.
Menurut Wahyu Tri Wibowo, analis PT Central Capital Futures, faktor utama penurunan harga tembaga ke level terendah sejak empat tahun ini karena indeks dollar AS yang menyentuh level tertingginya di 90,14.
"Faktor seperti recovery perekonomian AS, rencana kenaikan suku bunga The Fed dan menguatnya index dollar AS menjadikan harga komoditas termasuk tembaga roboh di pasar," papar Wahyu.
Selain faktor AS, perlambatan ekonomi di China juga menahan laju tembaga. Ekonomi China kurang memuaskan di tahun ini jika tidak disebut jelek. Ada kecemasan pasar soal keadaan ekonomi China yang cenderung masuk ke fase krisis.
Wahyu memprediksikan trend bearish pada tembaga masih akan berlanjut di tahun 2015. Pada kuartal I-2015, harga mungkin akan bergulir di level optimistis US$ 6.000–US$ 7.000 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1937
Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada awal perdagangan Senin (29/12/2014) kembali bergerak menguat signifikan.
Perdagangan CPO untuk kontrak Februari 2015 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.294 ringgit Malaysia per ton.
Harga tersebut sudah menguat 1,87% dibandingkan dengan penutupan pada Jumat (26/12/2014) yang melejit 1,53% ke 2.252 ringgit/ton.
Pada pukul 09.46 WIB atau sekitar 10.46 waktu Kuala Lumpur, harga CPO masih melejit 2,09% ke level 2.299 ringgit/ton. Sampai dengan waktu tersebut, CPO bergerak di kisaran harga 2.280-2.299 ringgit/ton.
Pergerakan Harga CPO*
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
29/12 (09.46 WIB) |
2.299 |
+2,09% |
|
26/12 |
2.252 |
+1,53% |
|
25/12 |
(Libur) |
(Libur) |
|
24/12 |
2.218 |
+0,36% |
|
23/12 |
2.210 |
+1,84% |
|
22/12 |
2.170 |
+0,79% |
*Kontrak Februari 2014
Sumber: Bloomberg 2014
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2258
JAKARTA. Harga minyak kembali merosot, di tengah kekhawatiran banjir pasokan akibat penolakan organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) memangkas produksi. Sedangkan stok minyak di Amerika Serikat (AS) menunjukkan peningkatan.
Mengutip data Bloomberg, Jumat (26/12) harga West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Februari 2015 di New York Merchantile Exchange menurun 1,99% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 54,73 per barel. Dalam sepekan harga minyak telah terpangkas 4,2%. Sedangkan minyak Brent di bursa Ice Futures Europe kontrak pengiriman Februari 2015 senilai US$ 59,45 per barel, melorot 1,31% dalam sehari.
Sepekan harga melemah 3,14%. Sepanjang tahun ini, harga WTI dan Brent anjlok lebih dari 40%, yang merupakan penurunan terbesar sejak tahun 2008.
Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago mengatakan, pasar masih belum pulih akibat kelebihan pasokan. “Benar-benar sulit untuk menggapai reli besar, sampai kita tahu bagaimana menggunakan semua minyak ini," kata Phil Flynn kepada Bloomberg.
Sementara berdasarkan Badan Administrasi Informasi Energi (EIA), stok minyak mentah AS naik 7,27 juta barel pada 19 Desember 2014 menjadi 387,2 juta barel. Ini merupakan level tertinggi sejak Juni 2014.
Nanang Wahyudin, analis SoeGee Futures, menduga, penurunan harga minyak masih akan terus berlanjut. Harga menyentuh US$ 54 per barel karena permasalahan utama yakni soal kelebihan pasokan belum terselesaikan. Akhir pekan lalu minyak sempat rebound karena indeks dollar AS terkoreksi, di tengah kondisi pasar yang sepi lantaran libur Natal.
“Kenaikan harga mungkin juga akibat pengeboman kilang minyak yang terjadi di Libia beberapa waktu lalu,†tutur Nanang. Sebelumnya diberitakan ISIS menyerang Libia sehingga beberapa tangki minyak terbakar di terminal Es Sider, pelabuhan minyak terbesar Libia. Arab Saudi menduga, kejadian ini bisa menopang kenaikan harga minyak.
Namun, harga minyak kembali ditutup melemah lantaran data AS yang menginformasikan bahwa cadangan minyak mentahnya terus naik, bahkan mencapai level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Ini memicu kekhawatiran banjir pasokan.
Pergerakan harga minyak akan cenderung konsolidasi karena minimnya data penunjang fundamental. Namun, harga akan melanjutkan penurunan setelah pasar kembali normal di awal tahun. “Kalau melihat secara jangka pendek sampai awal tahun 2015 saja, tren harga minyak masih bearish,†jelas Nanang.
Masih bearish
Albertus Christian, analis Monex Investindo Futures, juga berpendapat, penurunan harga minyak karena suplai berlebih sedangkan permintaan menurun di tengah perlambatan ekonomi global. “Sebelumnya harga sempat rebound, tapi itu sifatnya hanya teknikal,†kata Christian.
Ia mengatakan, harga minyak akan bergerak konsolidasi lantaran aktivitas pasar yang sepi. Menurutnya, kemungkinan pergerakan harga komoditas baru akan normal pada bulan Januari 2015. Secara teknikal Nanang mencatat, harga minyak mentah bergerak di bawah moving average (MA) 13 mengindikasikan tren bearish atau turun.
Moving average convergence divergence (MACD) bergulir di garis minus negatif. Kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak merosot. Sementara relative strength index (RSI) di level 30 cenderung turun, mengindikasikan harga masih dalam tekanan. Stochastic tengah berada di level 47,08 menunjukkan pergerakan naik tapi cenderung mendatar atau flat.
Hari ini, Nanang menduga, harga minyak akan bergulir dengan level support di kisaran US$ 55,05 sampai US$ 54,05 per barel. Sedangkan level resistance di US$ 56,25–US$ 56,84 per barel. Selama sepekan ke depan, harga diperkirakan bergerak di antara US$ 50 hingga US$ 60 per barel.
Adapun Christian memperkirakan, harga minyak akan bergerak di kisaran US$ 54,2 sampai US$ 56,95 per barel pada hari ini. Selama sepekan ke depan, harga di kisaran US$ 54 hingga US$ 57,75 per barel.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita