- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1840
JAKARTA. Aksi mogok pekerja tambang minyak di Amerika Serikat (AS), menyulut kenaikan harga minyak mentah. Pelaku pasar menilai, mogok yang berkepanjangan bakal menghambat pasokan.
Mengutip Bloomberg, Selasa (3/2) pukul 17.00 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Maret 2015 di New York Merchantile Exchange naik 2,78% menjadi US$ 50,95 per barel. Reli harga minyak telah berlangsung empat hari, pasca tumbang di level terendah enam tahun pada Rabu (28/1). Dalam empat hari, minyak sudah melesat 14,6%.
Aksi mogok pekerja memicu spekulasi, stok bakal menipis sehingga harga terbang. Seperti diketahui, 30.000 pekerja tambang minyak menyetop operasional di sembilan kilang minyak di AS sejak 1 Februari lalu. Serikat pekerja menolak kontrak yang diajukan perusahaan. Mereka mempersoalkan fasilitas kesehatan dan banyaknya pekerja. Kilang ini menyumbang 10% produksi minyak AS.
Analis SoeGee Futures Nizar Hilmy menambahkan, rebound akibat aksi sejumlah perusahaan minyak membatasi kapasitas produksi, karena harga minyak jatuh tajam. "Istilahnya penyesuaian suplai dan permintaan," ujarnya.
Meski demikian, pergerakan harga minyak masih rawan. Permintaan Eropa dan China masih lesu karena pelemahan ekonomi. Selain itu, pasar beralih ke sentimen cadangan minyak AS yang diumumkan hari ini. Analis memprediksi, stok minyak mentah naik 3,75 juta barel per pekan lalu. "Jika cadangan turun, peluang kenaikan terbuka. Namun, jika cadangan masih tinggi, harga akan koreksi," jelas Nizar.
Secara global, suplai minyak masih melimpah. Produksi harian OPEC bulan Januari mencapai 30,91 juta barel, melebihi kuota 30 juta barel sehari. Produksi Rusia memuncak. Januari 2015, Rusia menghasilkan 10,65 juta barel sehari, mendekati rekor 11,48 juta barel pada 1987.
Perusahaan minyak AS, Genscape memperkirakan, stok minyak masih akan berlebih pada tahun ini. Stok diprediksi naik 23 juta barel.
Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal menilai, hari ini masih ada peluang harga minyak naik tipis. Ini terjadi apabila data pesanan pabrik di AS Desember buruk. Ini bisa mengindikasikan permintaan minyak bakal turun.
Secara teknikal, kata Faisyal, harga minyak masih bullish. Harga berada di MA 200 dengan potensi positif. Garis MACD di area positif 0,758 dengan indikasi bisa naik. Namun, stochastic di 85 sudah jenuh beli. "Peluang naik masih ada, tapi jika tidak bisa tembus US$ 51,70, akan terkoreksi," jelasnya.
Prediksi Faisyal, hari ini, WTI bergerak di US$ 47,4-US$ 54,30 per barel. Nizar menebak, sepekan ini, harga minyak bergulir di antara US$ 45-US$ 53 per barel.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1997
JAKARTA. Laju harga batubara tersandung penguatan dollar Amerika Serikat (AS). Sialnya lagi, stok batubara di pasar global masih melimpah.
Mengutip Bloomberg, Senin (2/1) pukul 16.00 WIB, kontrak batubara bulan Februari 2015 di ICE Futures Europe turun 3,44% menjadi US$ 60,93 per metrik ton (MT). Padahal, Jumat lalu, komoditas ini bertengger di US$ 63,1 per MT. Analis PT Pefindo Guntur Tri Hariyanto menjelaskan, harga batubara sempat naik akhir pekan lalu.
Pemicunya, pemangkasan produksi batubara di 13 wilayah pertambangan milik Glencore Plc di Australia. Glencore juga akan memotong jumlah produksi sebanyak 50% di tambang Afrika Selatan. Produsen batubara berbasis di Swiss, Baar juga mengurangi produksi sebanyak 4 juta ton. "Sehingga ini memberi sedikit kelegaan bagi pasar. Tapi kenaikan tidak bertahan lama," ujar Guntur.
Tekanan di pasar batubara belum pudar karena proyeksi stok di pasar masih berlimpah setelah permintaan kian lesu. Lihat saja, permintaan dari Tiongkok yang turun 3,5% pada tahun lalu. Penurunan itu lantaran Pemerintah China mulai beralih menggunakan energi ramah lingkungan. Laporan Deutsche Bank pada bulan Desember 2014 memuat prediksi, permintaan batubara China tahun ini turun 9% menjadi 195 juta ton.
Permintaan dari Eropa juga diprediksi menyusut 1% menjadi 211 juta ton. Suplai masih tinggi Guntur memprediksi, pekan ini harga batubara masih tertekan. Isu membanjirnya suplai masih menjadi sentimen negatif bagi harga batubara. Penguatan dolar AS memicu eksportir batubara menggenjot produksi dan volume ekspor.
Strategi ini untuk mengimbangi kerugian akibat penurunan harga. Deutsche Bank AG memperkirakan, tahun ini, kelebihan pasokan batubara mencapai 30 juta ton. Lebih tinggi dibanding kelebihan stok tahun lalu sebesar 9 juta ton.
Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka Ibrahim sepakat, tekanan pada harga batubara belum sirna. Pasar masih dihantui sederet sentimen negatif. Salah satunya, pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh Bank Dunia dan Dana Moneter International (IMF). Ini sinyal permintaan batubara global akan lesu.
Selain itu, pengucuran stimulus di Eropa kian melemahkan euro, sehingga dollar AS perkasa. Tak ayal, penguatan dollar memicu harga komoditas keok. Ibrahim menduga, harga batubara bisa sedikit membaik pada semester II-2015.
Saat itu, Bank Sentral AS sudah mengumumkan rencana kenaikan suku bunga, sehingga mata uang mulai stabil. Prediksi Ibrahim, pekan ini, batubara cenderung tertekan di kisaran US$ 58,00-US$ 60 per MT. Guntur menebak, pergerakan harga antara US$ 58 -US$ 61 per mMT. Adapun, enam analis yang disurvei Bloomberg memperkirakan, harga rata-rata batubara tahun ini di sekitar US$ 54,54 per ton, turun 5,2% dari rata-rata harga tahun lalu.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2265
JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) alias USD bergerak bervariasi, merespons berbagai indikator ekonomi AS yang hasilnya beragam. Secara umum otot The greenback lebih kokoh di hadapan sejumlah mata uang utama dunia lain.
Mengutip Bloomberg, Jumat (30/1), USD naik 0,26% versus euro (EUR) menjadi 1,1291. USD juga menguat 0,05% terhadap poundsterling (GBP) menjadi 1,5060. Sementara, USD versus dollar aussie (AUD) stagnan di level 0,7762. Tapi, dollar AS melemah 0,68% terhadap yen (JPY), menjadi 117,49.
Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Faisyal menyebutkan, dollar AS masih unggul di hadapan euro, meski data ekonomi Eropa dan AS sama-sama kurang menggembirakan. "Selama EUR/USD masih ditutup di bawah 1,1390, tekanan belum lenyap," katanya.
Jumat (30/1), Eropa mengumumkan deflasi di angka 0,6%. Angka ini lebih buruk dari ekspektasi, deflasi 0,5%. Dari AS, pertumbuhan domestik bruto (PDB) kuartal IV-2014 tumbuh 2,6%. Angka ini meleset dari perkiraan, yakni 3%.
Namun, manufaktur purchasing managers' index (PMI) Chicago yang menunjukkan pertumbuhan industri manufaktur bulan Januari di angka 59,4, melebihi ekspektasi, 57,7. Menurut Faisyal, komitmen Bank Sentral AS (The Fed) tetap berada dalam rencana kenaikan suku bunga, dapat menjaga performa dollar AS.
Analis PT SoeGee Futures Nizar Hilmy menilai, pasangan AUD/USD bergerak stabil, setelah sempat jatuh ke level terendah lima tahun akibat spekulasi pemangkasan suku bunga Bank Sentral Australia (RBA). Aussie juga sempat terpuruk akibat harga komoditas jatuh. "Pasar belum menemukan alasan untuk mengangkat AUD/USD,†jelasnya.
Chief Investment Strategist PT Astronacci International Gema Goeyardi mengatakan, pairing USD/JPY sedang dalam tren sideways. Namun, JPY bisa sedikit bangkit lantaran sentimen data PDB menekan dollar. "Tren sideways akan terjadi hingga 11 Februari," prediksi Gema.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2052
TIMIKA. Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua, menargetkan pembangunan Terminal Bandara Moses Kilangin Timika dan fasilitas pendukung lainnya akan rampung pada akhir 2016, kata Kepala Bidang Perhubungan Udara pada Dishubkominfo Mimika John Rettob.
"Pembangunan terminal umum Bandara Moses Kilangin Timika akan dimulai tahun ini," kata John Rettob kepada Antara di Timika, Senin (2/2).
Ia mengatakan bahwa pengerjaan fasilitas terminal umum tersebut ditangani oleh pihak Kementerian Perhubungan menggunakan dana APBN.
"Untuk fasilitas terminal umum, tahun ini mulai dibangun hingga pemasangan rangka baja dan akan dilanjutkan tahun 2016 hingga rampung. Sesuai target, seluruh fasilitas di Bandara Timika akan rampung pada 2016 sehingga pada 2017 mulai dioperasikan," jelasnya.
Ia menjelaskan fasilitas terminal umum yang dibangun Kemenhub tersebut mencakup tiga lantai dengan luas 15.000 meter persegi Selain terminal umum, tahun ini pihak Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga akan melanjutkan pembangunan fasilitas tempat parkir pesawat (apron). Fasilitas apron yang akan dikerjakan tahun ini seluas 200x100 meter persegi hingga menjadi konstruksi beton rigit.
Sebelumnya, telah dibangun fasilitas apron seluas 200x100 meter persegi berkonstruksi beton rigit.
Dengan kondisi apron yang nantinya mencapai luas 400x100 meter persegi maka akan dapat menampung sejumlah pesawat berbadan lebar dan pesawat berbadan kecil untuk melayani penerbangan baik antar provinsi maupun antarkabupaten terutama ke wilayah pedalaman Papua.
Menurut John, jajarannya masih menunggu kedatangan tim dari Dirjen Perhubungan Udara untuk melakukan verifikasi apron Bandara Moses Kilangin Timika dan terminal VIP yang telah rampung dikerjakan. Pembangunan terminal VIP Bandara Moses Kilangin Timika dibiayai menggunakan dana APBD Mimika.
Setelah proses verifikasi selesai maka sebagian dari apron tersebut sudah bisa digunakan untuk menampung armada pesawat di Bandara Moses Kilangin Timika.
Menyangkut pengelolaan terminal VIP dan apron komersial tersebut, Dishubkominfo Mimika akan segera melakukan rapat koordinasi dengan pihak PT Freeport Indonesia dan PT AVCO selaku pengelola Bandara Moses Kilangin Timika.
Pasalnya, ke depan terdapat dua fasilitas terminal penumpang maupun apron di Bandara Moses Kilangin Timika yakni fasilitas terminal dan apron milik PT Freeport Indonesia dan fasilitas terminal maupun apron komersial yang dibangun oleh pemerintah.
Berbagai fasilitas tersebut dibangun berseberangan dari landas pacu (runway) Bandara Moses Kilangin Timika.
"Tata kelola pengoperasian Bandara Timika yang melibatkan dua tempat pada sisi yang berseberangan ini perlu diatur secara baik termasuk bagaimana pengisian avtur, aspek keamanan, handling dan lainnya. Standar operasi prosedur harus kita buat bersama dengan pihak Freeport dan AVCO," jelas John.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2846
JAKARTA. Pabrik aki milik PT Furukawa Indomobil Battery Manufacturing bakal segera diresmikan.
Panggah Susanto, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian mengatakan jika tak ada halangan pada 5 Februari nanti, Fukurawa akan meresmikan pabrik tersebut. "Lokasi pabriknya di Kawasan Bukti Indah, Cikampek. Investasinya Rp 500 miliar," ujar Panggah, Senin (2/2).
Menurut Panggah, pabrik tersebut akan memproduksi total 3 juta unit baterai per tahun, di mana penjualannya 100% akan difokuskan di dalam negeri.
Soerjono, Direktur Industri Alat Transportasi Darat Kementerian Perindustrian menambahkan, tingkat kandungan dalam negeri baterai tersebut sudah sekitar 80%. "Yang masih impor komponen elektroniknya," ujar Soerjono.
Panggah mengatakan pembangunan pabrik tersebut dikarenakan Fukurawa melihat peluang penjualan aki dari pertumbuhan jumlah mobil dan motor di Indonesia. "Mereka melihat pertumbuhan jumlah mobil dan motor di Indonesia ke depannya akan meningkat terus," ujar Panggah.
Saat ini kepemilikan saham PT Furukawa Indomobil Battery Manufacturing sebesar 51% dimiliki oleh Furukawa Battery Co., Ltd. Sisanya 49% dimiliki oleh PT Central Sole Agency, anak usaha PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS).
Rencananya, perseroan bakal mendirikan anak perusahaan bernama PT Furukawa Indomobil Battery Sales yang dikhususkan untuk penjualan. Sebesar 51% kepemilikan akan di genggam PT Central Sole Agency dan 49% dimiliki oleh Furukawa Battery Co., Ltd.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita