- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1829
JAKARTA. Harga timah berhasil rebound pasca tenggelam menuju level terendah sejak Agustus 2012 pada Senin (9/2). Namun, rebound timah ini bersifat sementara karena serangkaian sentimen negatif masih menyergap harga timah.
Mengutip Bloomberg, Selasa (11/2) pukul 12.22, kontrak pengiriman timah tiga bulan di London Metal Exchange (LME) berada di level US$ 18.410 per metrik ton. Harga menanjak 0,87% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan, timah tergerus 3,2%.
Direktur dan analis PT Equilibrium Komoditi Berjangka, Ibrahim menilai, rebound harga timah merupakan suatu yang wajar. Timah bangkit setelah menyentuh level terendah dua setengah tahun. Meski demikian, timah masih rawan koreksi. Menurut Ibrahim, serangkaian sentimen akan menjaga timah di level rendah.
Misalnya, konflik antara Ukraina dengan Rusia ternyata disikapi Presiden AS, Barack Obama dengan cara diplomasi. Hal ini meredam spekulasi perang, sehingga harga timah konsisten melemah. “Kemungkinan harga timah akan menguji level US$ 17.000 per metrik ton,†duga Ibrahim.
Untuk diketahui, harga timah yang di patok LME berada di kisaran US$ 17.000-US$ 21.000 per metrik ton. Sementara harga jual PT Timah berkisar antara US$ 22.000-US$ 22.500 per metrik ton. Harga jual PT timah yang lebih tinggi dibanding harga pasar mengakibatkan PT Timah akan menahan barangnya. Kondisi ini berdampak pada penurunan ekspor. Bisa jadi, ekspor timah tahun ini akan menurun dari 70.000 ton menjadi 60.000 ton.
Kini, lanjut Ibrahim, Myanmar sedang mengeksplorasi timah. Di saat Indonesia menghentikan ekspor mineral mentah, Myanmar melakukan ekspor bahan mentah secara besar-besaran. Akibatnya, importir yang awalnya membeli timah dari Indonesia kini mulai beralih ke Myanmar. Kondisi ini menutupi pasokan global yang mendorong penurunan harga timah lebih lanjut.
Adapun sentimen negatif lainnya yaitu ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve). Hal ini mendukung melambungnya indeks dollar, sehingga mendorong pelaku pasar mengalihkan aset mereka ke dollar AS.
Menukiknya harga komoditas sepanjang tahun ini juga telah diamini oleh IMF dan World Bank. Menurut kedua institusi ini, tahun 2015 merupakan tahun sulit bagi komoditas.
Secara teknikal, harga timah juga masih terperangkap di area negatif. Hal itu ditunjukkan oleh indikator bollinger band dan moving average yang berada 30% di atas bollinger bawah. Kondisi ini mensinyalkan bahwa harga timah masih berpeluang terbenam. Indikator moving average convergence divergence (MACD) dan relative strength index (RSI) berada di level 70% dengan arah negatif. Adapun stochastic masih wait and see. Ini pertanda belum menentukan arah selanjutnya.
Ibrahim memprediksi harga timah hari ini akan berkisar antara US$ 18.330-US$ 18.430 per metrik ton. Sementara harga timah sepekan diperkirakan terbentang di antara US$ 18.120-US$ 18.380 per metrik ton.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1769
LONDON. OPEC memangkas proyeksi pasokan minyak 2015. Ini merupakan pemangkasan proyeksi minyak paling dalam sejak organisasi negara pengasil minyak ini mempublikasikan pertama kali pada Agustus silam.
Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) memperkirakan, negara-negara non-OPEC akan memangkas pertumbuhan suplai tahun ini sampai 400.000 barel per hari. Amerika Serikat (AS) akan memimpin penurunan produksi minyak sampai 130.000 barel per hari, diikuti produksi di Kolombia, Kanada, dan Yemen.
Harga minyak mentah jenis Brent telah menanjak 20% dalam dua pekan terakhir di bursa London. Harga menanjak ditopang perkiraan suplai akan merosot lantaran produsen minyak raksasa seperti Royal Dutch Shell Plc sampai Chevron Corp menahan belanja modal mereka.
"Alasan proyeksi 2015 lebih rendah adalah ekspektasi harga, penurunan aktivitas rig di Amerika Utara, penurunan izin pengeboran di AS dan pengurangan belanja modal produsen minyak internasional di tahun ini, " tulis laporan bulanan Departemen Riset OPEC di Wina.
Di sisi lain, produksi minyak OPEC juga diperkirakan turun. Produksi dari 12 anggota OPEC per Januari merosot 53.000 barel per hari menjadi total 30,15 juta barel per hari.
Permintaan akan minyak diperkirakan akan naik sebesar 1,17 juta barel per hari atau 1,3% di tahun ini menjadi total 92,32 juta barel per hari.
Harga minyak Brent menanjak 2,2% atau US$ 1,26 menjadi US$ 59,06 per barel di ICE Futures Europe Exchange di London.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1785
Dana Moneter Internasional (IMF) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan untuk Korea Selatan untuk tahun ini seperti yang diumumkan oleh lembaga ini dalam laporannya tentang prospek dan tantangan global terhadap Kebijakan moneternya.
IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dari 4 persen menjadi 3,7 persen, sebelumnya IMF telah memperkirakan dalam laporan World Economic Outlook bulan Oktober bahwa Korea Selatan akan tumbuh empat persen.
Angka terbaru IMF adalah 3/10 dari persentase poin lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan Bank of Korea disajikan bulan lalu, sementara itu sepersepuluh persentase poin lebih rendah dari perkiraan oleh Departemen Keuangan.
Perekonomian Korea Selatan pada kuartal dalam tiga bulan hingga Desember 2014 menguat 0,4 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar tetapi lebih rendah dari kenaikan 0,9 persen pada periode sebelumnya. Raihan PDB kuartal terakhir tahun 2014 ini merupakan pertumbuhan paling lambat sejak kuartal ketiga 2012 karena ekspor dan investasi alami kontraksi dan belanja konsumsi melambat.
Joel/VMN/VBN/Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens
image: wikimedia
Narasumber : vibiznews.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1805
Bisnis.com, JAKARTA— Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia melemah pada perdagangan pagi ini, Senin (9/2/2015).
CPO dibuka melemah 0,04% ke 2.350 ringgit/ton. Pada pk. 09:43 WIB, CPO jadi melemah 0,43% ke 2.341 ringgit/ton.
Pada perdagangan 4—6 Februari 2015, CPO mampu bergerak reli dengan kenaikan yang signifikan.
Pergerakan harga CPO*
|
Tanggal |
Ringgit/M ton |
|
Pk. 09:43 WIB (9 Februari) |
2.341 (-0,43%) |
|
Buka (9 Februari) |
2.350 (-0,04%) |
|
6 Februari |
2.351 (+1,38%) |
*Kontrak Maret 2015
Sumber: Bloomberg, 2015
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1857
JAKARTA. Para pelaku pasar bersorak menyambut keputusan Pemerintah Indonesia menaikkan subsidi biodiesel dari Rp 1.500 menjadi Rp 4.000 per liter. Kenaikan subsidi langsung berimbas pada harga minyak sawit alias crude palm oil (CPO) global.
Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (5/2) pukul 15.05 WIB memperlihatkan, harga CPO kontrak pengiriman April 2015 di Malaysia Derivatives Exchange tumbuh 3% ke level RM 2.263 per metrik ton (MT). Selama sepekan terakhir, harga CPO telah terbang 6%.
Hariyanto Wijaya, analis Mandiri Sekuritas kepada Bloomberg Kamis (5/2) mengatakan, peningkatan subsidi biodiesel seharusnya dapat meningkatkan permintaan minyak sawit. Ini akan menjadi sentimen positif bagi harga CPO ke depan.
Senada dengan Hariyanto, Deddy Yusuf Siregar Research and Analyst PT Fortis Asia Futures mengungkapkan, subsidi biodiesel di Indonesia menjadi faktor utama penguatan harga CPO kemarin. Hal itu juga didukung dengan prediksi kenaikan permintaan dari beberapa negara konsumen CPO.
“Bulan ini permintaan Tiongkok, India dan Uni Eropa meningkat,†papar Deddy. Bahkan dari India, permintaan CPO diperkirakan meningkat sebanyak 8,3 juta ton.
Dian Agustina, analis MNC Securities, menambahkan, kenaikan harga minyak sawit juga terjadi karena semakin dekat dengan perayaan tahun baru Tiongkok atau Imlek. "Selama ini, perayaan Imlek mendorong tingginya permintaan CPO terutama dari China," ujar Dian.
Naik terbatas
Dian menduga, hari ini harga minyak sawit masih berpotensi menguat. “Trennya masih bullish walaupun terbatas,†tambahnya.
Namun Deddy mengingatkan, harga CPO juga terkait dengan harga minyak mentah global. Selagi harga minyak masih rendah, peluang harga CPO untuk naik dalam jangka waktu lama belum terbuka.
Lalu ada juga kekhawatiran kelebihan pasokan. Maklum, produksi CPO dari Indonesia, Malaysia dan Thailand sedang melimpah.
Secara teknikal, Deddy bilang harga bergerak di bawah moving average (MA) 50 namun sudah berada di atas MA 100 dan 200. Ini mengindikasikan arah pergerakan naik. Indikator stochastic naik di level 41 namun masih di bawah level 50, sehingga penguatan belum cukup kuat.
RSI di level 47 juga sudah merangkak naik. Hanya garis MACD masih di area negatif minus 23 yang dapat menahan kenaikan harga. Deddy menduga, harga CPO hari ini cenderung terkoreksi di RM 2.117-RM 2.270 per ton. Sepekan mendatang, Dian menduga, harga bergerak di RM 2.150-RM 2.300 per ton.

















Semua Berita