Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) rontok lagi. Pasar minyak sawit lesu, seiring ekspor Malaysia merosot.

Mengutip Bloomberg, Selasa (10/2), pukul 17.00 WIB, harga CPO  pengiriman April 2015 di Malaysia Derivative Exchange turun 0,70% menjadi RM 2.301 atau setara US$ 642,04 per metrik ton (MT). Ini koreksi hari kedua pasca minyak sawit bertengger di level tertinggi 28 bulan, yaitu RM 2.346 per MT.

Malaysian Palm Oil Broad (MPOB) melaporkan, volume ekspor Januari lalu turun 22% menjadi 1,18 juta MT. Ini penurunan terbesar sejak Januari 2008. Lesunya ekspor berlanjut pada bulan ini. Intertek merilis, ekspor Malaysia periode 1-10 Februari melorot 16% dibanding bulan sebelumnya menjadi 1,16 juta MT.

“Ekspor lesu lantaran permintaan untuk biodiesel turun seiring harga minyak mentah anjlok. Data ekspor tidak menguntungkan bagi  harga CPO, ada potensi koreksi," kata Gnanasekar Thiagarajan, Kepala Perdagangan Kaleesuwari Intercontinental kepada Bloomberg, Selasa (10/2). Ia memperkirakan, harga minyak sawit bisa jatuh ke bawah RM 2.300.

Namun, Analis Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar menilai, koreksi harga tidak tajam. Pasar minyak sawit tertopang kebijakan subsidi bahan bakar biodiesel di Indonesia. Mulai Maret nanti, Pemerintah Indonesia menaikkan besaran subsidi biodiesel dari semula Rp 1.500 menjadi Rp 4.000. Hal ini dinilai bisa mengerek permintaan CPO.

Secara fundamental, pasar CPO masih cukup kuat untuk menjaga tren bullish. Seperti dilaporkan MPOB, volume produksi minyak sawit bulan Januari 2015 juga turun 15% menjadi 1,16 juta MT, dan stok menyusut 12% menjadi 1,77 juta MT.

Jadi, meski pelaku pasar merespons data MPOB, penurunan harga bakal tipis, bahkan cenderung konsolidasi. “Sebelum menembus ke bawah RM 2.300, harga tidak akan jatuh lebih tajam. Begitu pun jika tidak bisa melampaui RM 2.350, CPO akan sulit naik tinggi," proyeksi Deddy.

Permintaan lesu

Namun, Analis Monex Investindo Futures Ariana Nur Akbar menilai, penurunan produksi belum tentu mampu mendongkrak harga. Ia menduga, konsumen akan menahan pembelian CPO karena meragukan kualitasnya.

Seperti diketahui, kualitas buah sawit akan menurun seiring tingginya curah hujan. Sejumlah kebun sawit di Malaysia bahkan terendam banjir. Padahal, curah hujan tinggi di Malaysia dan Indonesia diperkirakan masih berlanjut hingga Maret mendatang.

Sementara dari sisi permintaan juga belum ada perbaikan. Terlebih perekonomian di Eropa dan Tiongkok belum pulih. “Tren kenaikan hanya jangka pendek. Pergerakan harga pun cenderung  tipis, bahkan berpotensi koreksi," prediksi Ariana.

Ia menduga, sepekan ini, CPO bisa bergulir antara RM 2.300-RM 2.340 per MT. Sementara, Deddy menebak, hari ini, masih ada peluang naik tipis di kisaran RM 2.250-RM 2.350 per MT.

Editor: Yudho Winarto
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Pada Senin (9/2), harga komoditas timah berhasil rebound, pasca tenggelam di level terendah. Tapi jangan happy dulu, analis menilai, rebound  ini sementara, mengingat sentimen negatif masih menyergap komoditas tersebut.

Mengutip Bloomberg, Selasa (10/2) pukul 12.22 WIB, harga kontrak pengiriman timah tiga bulan di angka US$ 18.410 per metrik ton. Harga timah di London Metal Exchange (LME) menanjak 0,87% dibandingkan hari sebelumnya. Selama sepekan, harga timah tergerus 3,2%.

Ibrahim, Direktur dan Analis PT Equilibrium Komoditi Berjangka, menilai, rebound harga timah wajar, karena sudah berada di level terendah di hari Senin lalu. Meski demikian, harga timah masih rawan koreksi.

Menurut Ibrahim, serangkaian sentimen akan menjaga timah di level rendah. Ini karena, konflik antara Ukraina dengan Rusia ternyata disikapi Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama dengan cara diplomasi. Hal ini meredam spekulasi terjadinya perang atau kenaikan tensi, sehingga harga timah konsisten melemah. "Kemungkinan harga timah akan menguji level US$ 17.000 per ton," proyeksi Ibrahim.

Selain itu, Myanmar sedang rajin melakukan eksplorasi timah. Padahal di saat bersamaan, Indonesia menghentikan ekspor mineral mentah, Harga timah yang dipatok LME berada di US$ 17.000-US$ 21.000 per metrik ton. Sementara harga jual PT Timah, Tbk  antara US$ 22.000-US$ 22.500 per metrik ton.

Itu sebabnya, karena harga jual lebih tinggi dibandingkan harga pasar, mengakibatkan PT Timah  menahan barang. Kondisi ini berdampak pada penurunan ekspor. Bisa jadi, ekspor timah tahun ini menurun dari 70.000 ton  ke 60.000 ton.

Myanmar melakukan ekspor bahan mentah secara besar-besaran. "Akibatnya, importir yang awalnya membeli timah dari Indonesia kini mulai beralih ke Myanmar," papar Ibrahim. Akibatnya, pasokan timah di pasar global tetap berlimpah dan harga timah terus melemah.

Belum lagi ada sentimen negatif tentang ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve). Ini membuat indeks dollar AS melambung, sehingga pelaku pasar mengalihkan aset mereka ke dollar AS.

Harga komoditas yang menukik sepanjang tahun ini sudah diamini Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia. Menurut kedua institusi tersebut, tahun ini merupakan tahun sulit bagi komoditas.

Secara teknikal, menurut Ibrahim, harga timah masih akan melemah. Hal tersebut ditunjukkan dari indikator bollinger band dan moving average yang berada 30% di atas bollinger bawah. Moving average convergence divergence (MACD) dan relative strength index (RSI) pun di 70% dengan arah negatif. Stochastic wait and see.

Ibrahim memprediksi, hari ini harga timah di US$ 18.330-US$ 18.430 per ton. Sementara dalam sepekan di US$ 18.120-US$ 18.380.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

SINGAPURA. Citigroup Inc memprediksi, harga minyak dunia kemungkinan bisa jatuh ke level US$ 20. Jika itu terjadi, maka dapat dikatakan hal itu menandakan kejatuhan Organization Petroleum Exporting Countries (OPEC) semakin dekat.

Menurut Analis Citigroup Edward Morse, kenaikan harga minyak sejak akhir bulan lalu tak lebih dari sekadar aksi ambil untung dan merupakan respon rencana pemangkasan produksi oleh sejumlah perusahaan energi.

"Sangat mustahil untuk memprediksi level bottom harga minyak, di mana terjadinya kelebihan produksi dan tingginya cadangan menyebabkan harga minyak WTI jatuh ke bawah level US$ 40 per barel. Bahkan bukan tidak mungkin mencapai posisi US$ 20 untuk sementara waktu," urainya.

Sekadar informasi, harga minyak WTI sudah melambung hingga 22% hingga hampir menuju level US$ 53 per barel sejak jatuh di bawah posisi US$ 44 pada 29 Januari lalu. Jika dikalkulasikan, harga minyak sudah anjlok 46% dalam enam bulan terakhir.

Citi meramal, harga minyak WTI akan berakhir di level US$ 35 pada kuartal kedua. Angka tersebut turun dari prediksi sebelumnya yakni US$ 47 sebarel. Kemudian, lanjut Citi, harga minyak akan mengalami rebound dan berakhir di posisi US$ 57 pada akhir tahun. Pada 2016. lanjut Morse, harga minyak WTI bisa kembali ke level US$ 66 pada akhir 2016.

Sebelumnya, Goldman Sachs Group Inc pada akhir bulan lalu juga memprediksi bahwa harga minyak akan melorot ke level US$ 39 per barel pada paruh pertama tahun ini, untuk kemudian pulih ke posisi US$ 65 pada akhir tahun mendatang.

 

Editor: Barratut Taqiyyah
Sumber: CNBC


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

TEMPO.CO, Jakarta - Melonjaknya impor baja paduan mendorong pemerintah mengenakan bea masuk tambahan untuk impor baja paduan selama tiga tahun terhitung mulai 21 Januari 2015. "Peraturan Menteri Keuangannya sudah terbit," kata Ketua Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Ernawati di kantornya, Selasa 10 Februari 2015.

Keluarnya kebijakan pengenaan bea masuk tambahan ini, kata Ernawati, berdasarkan hasil penyelidikan Komite Pengamanan Perdagangan. Dalam penyelidikan ditemukan adanya lonjakan volume impor baja paduan lainnya selama 2010-2013 dengan tren sebesar 175 persen. Impor baja paduan ini berasal dari tiga negara, yaitu Cina sebanyak 96,62 persen, Korea Selatan 1,56 persen, dan Singapura 0,96 persen.

Menurut Ernawati, lonjakan impor ini berdampak negatif pada pemohon, yakni PT Gunung Garuda. Hal ini terlihat dari pangsa pasar pemohon yang menurun, persediaan yang meningkat, dan keuntungan yang menurun yang berujung kerugian. "Terdapat hubungan sebab-akibat antara lonjakan volume impor dan ancaman kerugian yang dialami pemohon," katanya.

Bea masuk tambahan ini ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12/PMK.010/2015 tanggal 19 Januari 2015 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) terhadap Impor Baja Paduan. Peraturan menteri ini didasarkan pada hasil penyelidikan KPPI atas tindakan pengamanan perdagangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada 2009, impor barang yang dimintakan perlindungan sebesar 14.450,137 ton. Selanjutnya, pada periode 2010-2012, impor terus mengalami lonjakan, yaitu menjadi sebesar 20.330,989 ton pada 2010; 104.083,006 ton pada 2011, dan 348.477,237 ton pada 2012. Bahkan ada kecenderungan impor melonjak terus pada Januari-Juni 2013 dengan jumlah 243.929,487 ton.

PINGIT ARIA

 

Narasumber : tempo.co

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara melanjutkan penguatannya, dan tetap berada di jalur relinya dalam 6 hari perdagangan yang berkarpet hijau seluruhnya.

Pada penutupan perdagangan Senin (9/2/2015), harga batu bara untuk kontrak Maret 2015, melejit 1,53% ke US$62,9/metrik ton.

Seperti diketahui harga batu bara terus melejit sejak perdagangan 26 Januari 2015, setelah harga ke level terendahnya pada Jumat (16/1/2015) ke US$53,85/metrik ton.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal

US$/ton

9 Februari

62,90

(+1,53%)

6 Februari

61,95

(+0,81%)

5 Januari

61,45

(+3,89%)

 

 

 

 

 

*Kontrak Maret 2015

Sumber: Bloomberg

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita