- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2050
Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini bertumbuh pada kisaran 5,4% hingga 5,8%.
Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengatakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini akan ditopang oleh ekspansi investasi pemerintah yang sejalan dengan peningkatan kapasitas fiskal untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif.
"Termasuk pembangunan infrastruktur sebagaimana anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2015 yang telah disetujui oleh DPR," ujarnya saat konferensi pers di Gedung BI, Selasa (17/2/2015).
Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV/2014 sebesar 5,01% year on year (yoy) meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 4,92% yoy.
"Itu menandai siklus perlambatan ekonomi yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir telah melewati titik terendah pada kuartal III/2014," kata Agus.
Dia menuturkan perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut didorong adanya peningkatan permintaan domestik, khususnya investasi bangunan dan konsumsi pemerintah.
"Konsumsi rumah tangga masih tetap kuat meski melambat sejalan dengan kebijakan stabilisasi ekonomi. Dari sisi eksternal, kinerja ekspor mencatat konstraksi cukup dalam terutama akibat lemahnya permintaan negara emerging dan turunnya harga komoditas," terangnya.
Kendati demikian, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu mencapai 5,02% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya akibat lemahnya pertumbuhan ekonomi global dan kebijakan stabilisasi makro ekonomi.
Perlambatan ekonomi, lanjutnya, terjadi di sejumlah daerah penghasil tambang seperti provinsi Aceh, Kalimantan Timur Riau, dan Papua.
"Kinerja daerah yang mengandalkan sektor manufaktur seperti Jawa dan Jakarta masih tumbuh relatif cukup kuat," ucap Agus.
Sebelumnya, para ekonom menilai pemerintah terlalu optimistis mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7%.
Ekonom dari Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2015 hanya sebesar 5,5%.
"Pertumbuhan tahun ini saya perkirakan hanya 5,5% tidak terlalu jauh dari target pemerintah 5,7%. Saya kira pemerintah sangat optimis dengan target itu," ujarnya.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani juga memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 5,2% hingga 5,5%.
"Kalau target pertumbuhan 5,7% itu sulit karena harus diingat bahwa pertumbuhan ekonomi global juga sedang bergejolak," ucapnya
Kepala Ekonom dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Anggito Abimanyu mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar 5,2% hingga 5,4%.
"Ada hambatan laju pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan agregat," katanya.
Narasumber : bisnis,com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2253
JAKARTA. Aktivitas industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) di daerah terancam mandek. Penyebabnya adalah tumpang tindih aturan serta tidak jelasnya proses pelimpahan wewenang antara bupati dan gubernur. Alhasil, pengusaha kesulitan memperoleh izin usaha pertambangan.
Peralihan wewenang ini tertuang dalam pasal 14 Undang-undang (UU) Nomor 2/2015 tentang Pemerintah Daerah. Beleid ini menyebutkan perizinan bidang energi dan sumber daya mineral hanya berada di pemerintah pusat dan provinsi (lihat tabel).
Dampak dari peralihan wewenang ini, sedikitnya ada 25 jenis perizinan ataupun rekomendasi yang dikeluarkan pemerintah kabupaten/kota beralih ke provinsi. Misalnya, penerbitan izin usaha pertambangan (IUP), IUP operasi khusus pengolahan dan pemurnian, rekomendasi izin pinjam pakai hutan, izin penggunaan bahan peledak, ataupun izin tenaga kerja.
Persoalannya, hingga saat ini belum ada peraturan pelaksana UU No 2/2015. Alhasil, pemerintah provinsi belum berani menerbitkan izin.
Supriatna Sahala, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menyatakan, sejak terbitnya UU Nomor 2/2015 tentang Pemerintahan Daerah, kabupaten tidak lagi melayani perizinan ke pengusaha. "Kami datang ke kabupaten, kantornya sudah tutup, namun ketika kami datangi provinsi mereka belum bisa melayani," katanya kepada KONTAN, Senin (16/2).
Kondisi ini tentu mengancam kelanjutan operasi tambang. "Perizinan yang habisnya pada November 2014 hingga Februari 2015 kan bingung, kami tidak bisa berproduksi, jika tetap berproduksi kami justru bisa diperas penegak hukum," kata dia.
Tony Wenas, Wakil Ketua Umum Indonesia Mining Association (IMA) mengatakan, lambannya peralihan ini menghambat investasi di Indonesia. Ia mencontohkan, perusahaan miliknya, yakni PT Berkat Resources Indonesia, masih menanti izin Pemprov Sulawesi Tenggara, meskipun izin prinsip dari Kabupaten Bombana telah resmi keluar. "Kalau dari awal prosesnya juga akan memakan waktu," ujar dia.
Gunawan Palaguna, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulawesi Selatan mengakui belum berani memberikan izin investasi. Dia masih menunggu peraturan pemerintah turunan UU baru. Padahal, sekarang ini ada belasan perusahaan yang tengah mengajukan rekomendasi dan IUP mineral non logam dan batuan.
Sebatas surat edaran
Keterlambatan pemberian izin ini tentu bisa berdampak negatif bagi peningkatan pendapatan asli daerah dari sektor pertambangan. "Kami sudah meminta Kementerian Dalam Negeri, karena sudah banyak proposal periizinan yang masuk tapi belum kami eksekusi," kata dia.
Zudan Fakhrullah, Kepala Biro Hukum Kementerian Dalam Negeri, menyatakan, pihaknya telah memfinalisasi draf PP turunan UU Pemerintahan Daerah. Beleid itu akan terbit secepatnya. Bahkan, pada pertengahan Februari ini telah menerbitkan surat edaran yang menginstruksi provinsi untuk mengambil alih kewenangan kabupaten soal perizinan tambang. "Tidak ada masalah, sudah ada surat edaran untuk transisi kekosongan sebelum terbitnya PP," kata Zudan. Namun tentu surat edaran saja tak sekuat PP.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1749
Bisnis.com, JAKARTA—Harga CPO di Bursa Malaysia melejit pada pembukaan perdagangan Senin (16/2/2015) seiring kabar penurunan produksi kelapa sawit Indonesia.
Kontrak CPO untuk April 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, dibuka melonjak 2,76% ke harga 2.348 ringgit atau Rp8,41 juta per ton. Kontrak kemudian bergerak naik 0,70% ke 2.301 ringgit atau Rp8,24 juta per ton pada pukul 09.49 WIB.
Komoditas tersebut bergerak pada kisaran 2.299—2.348 ringgit per ton pada awal perdagangan hari ini.
Kontrak CPO untuk Mei 2014 bergerak naik 0,61% ke 2.301 ringgit atau Rp8,23 juta per ton pada pukul 09.51 WIB setelah dibuka menguat 0,52% ke 2.299 ringgit per ton.
Bloomberg melaporkan produksi minyak kelapa sawit Indonesia diperkirakan turun 7,2% month to month pada Januari ke 1,92 juta ton. Produksi jatuh ke level terendah dalam 11 bulan akibat hujan deras yang mengganggu panen.
Pergerakan Harga Kontrak CPO April 2015
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Naik |
|
16/2/2015 (Pembukaan) |
2.348 |
+2,76% |
|
13/2/2015 |
2.301 |
+0,31% |
|
12/2/2015 |
2.294 |
+0,70% |
|
11/2/2015 |
2.279
|
-0,87% |
|
10/2/2015 |
2.299 |
-0,78% |
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1902
JAKARTA. Pekan lalu, harga batubara berbalik naik (rebound) setelah menyentuh level terendah pada pertengahan Januari lalu. Namun, kenaikan ini belum mengonfirmasi tren reli harga emas hitam.
Mengutip Bloomberg, Jumat (13/2) kontrak pengiriman batubara bulan April 2015 di ICE Futures Eropa berada di harga US$ 65,7 per metrik ton atau naik 1,94% dibandingkan hari sebelumnya. Selama sepekan terakhir, harga batubara melesat 7%.
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, mengatakan, harga batubara mendapat dukungan dari isu penurunan produksi. Departemen Energi AS (EIA) melaporkan, salah satu produsen batubara terbesar di Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami penurunan produksi batubara mingguan.
Pada periode pekan yang berakhir pada 7 Februari 2015, produksi batubara AS diperkirakan turun menjadi 18,1 juta metrik ton. Padahal, pekan sebelumnya, produksi batubara tercatat sebesar 20,1 juta metrik ton.
Produksi batubara yang merosot sebesar 10% ini, memberikan sentimen positif bagi komoditas tersebut, setelah harga bergerak landai sepanjang tahun lalu. "Kondisi ini mendukung kenaikan harga batubara dalam jangka pendek," ungkap Deddy, Minggu (15/2).
Penguatan harga batubara juga disokong oleh kenaikan harga minyak mentah di pekan lalu. Pada Jumat (13/2), harga minyak bercokol di US$ 52,78 per barel. Minyak mencoba naik perlahan, setelah sempat menjajal level terendah di US$ 44,45 per barel pada 28 Januari. Seiring rebound harga minyak tersebut, batubara ikut terangkat.
Kedati demikian, selama harga minyak belum mampu menembus level resistance baru di US$ 55 per barel, harga batubara masih sulitmenanjak lebih jauh lagi. Tapi bila harga minyak sudah melampaui US$ 55 per barel, harga batubara berkesempatan menguji level resistance baru di US$ 74 per metrik ton.
Harga batubara menuju tren bullish, jika level US$ 74 per metrik ton sudah berhasil dicapai.
Jangka pendek
Kenaikan harga batubara juga masih tertahan oleh faktor domestik. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang telah menurunkan harga acuan batubara Indonesia pada bulan Februari menjadi US$ 62,92 per metrik ton. Harga acuan ini turun US$ 0,92 dibandingkan bulan sebelumnya, yakni US$ 63,84 per metrik ton. Ini juga menjadi harga acuan terendah sepanjang sejarah.
Padahal, produksi batubara dalam negeri bertolak belakang dengan AS. Produksi batubara yang masih melimpah di Indonesia menjadi faktor kuat yang dapat menenggelamkan harga batubara ke depan.
Kiswoyo Adi Joe, Managing Partner Investa Saran Mandiri, menambahkan, harga batubara belum waktunya meroket. Sebab, sentimen negatif masih menghadang.
Salah satunya adalah penurunan permintaan dari Tiongkok dan India sebagai pengguna batubara terbesar. Kedua negara itu tengah berkomitmen mengurangi permintaan batubara demi mengurangi polusi lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan batubara sebagai bahan bakar.
Secara teknikal, Deddy menjelaskan, harga berada di atas moving average (MA) 50 namun masih berada di bawah MA 100 dan MA 200. Moving average convergence divergence (MACD) berada di area positif 0,36.
Indikator stochastic berada di level 61% dengan arah naik. Demikian juga dengan relative strength index (RSI), berada di level 54% dengan pergerakan ke atas. Kondisi ini menunjukkan pergerakan jangka pendek dalam tren bullish.
Deddy memprediksi, harga batubara sepekan mendatang berada di US$ 65-US$ 74 per metrik ton. Sementara Kiswoyo menduga, batubara akan bergerak di kisaran US$ 60-US$ 70 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2129
JAKARTA. PT Timah, Tbk (TINS) mulai berhati-hati menyikapi penurunan harga komoditas. Produsen timah pelat merah ini akan menghentikan penjualan timah di pasar spot hingga harga timah pulih. Hal ini demi mengantisipasi bengkaknya kerugian.
TINS akan kembali menjual timah di pasar spot jika harganya kembali ke level ideal, yakni sebesar US$ 20.000 per metrik ton.
Berdasarkan data Bloomberg, akhir pekan lalu kontrak pengiriman timah tiga bulan di London Metal Exchange (LME) di US$ 18.275 per metrik ton.
Penurunan harga timah di bawah US$ 20.000 per metrik ton terjadi sejak awal tahun 2015. Sejak itu pula, TINS mulai mengerem penjualannya di pasar spot.
Kendati harga timah jauh di bawah harga ideal, TINS tidak menghentikan semua penjualan. Penjualan yang dihentikan hanyalah penjualan baru. TINS tetap melakukan aktivitas pertambangan dan ekspor sesuai kontrak yang sudah ada.
"Harga timah sudah jauh di bawah ekspektasi. Namun, untuk penjualan yang sudah terikat kontrak, akan tetap kami lakukan. Hanya saja tidak melakukan penjualan baru," papar Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan TINS kepada KONTAN, Ahad (15/2).
Menurut Agung, saat ini moratorium kurang tepat. Pasalnya, penurunan harga komoditas kali ini hanya situasional. Artinya, TINS masih berharap harga timah segera pulih.
Penghentian penjualan baru ini jelas berdampak terhadap target penjualan TINS. Agung menjelaskan, penjualan sesuai kontrak hanya 45% dari total penjualan TINS. "Sehingga, ada dampak ke target penjualan dan cash flow," kata Agung.
Tapi dia belum bisa mengkalkulasi efek penghentian penjualan baru terhadap kinerja TINS. Sejauh ini, TINS belum merevisi target penjualan dan ekspansinya.
Prospek TINS
TINS mengalokasikan belanja modal Rp 1,1 triliun untuk mendorong produksi. Emiten ini ingin mempertahankan produksi tahun ini 25.000-30.000 ton. Meski tetap mengeksplorasi, TINS kini fokus pada efisiensi. Dengan begitu, TINS berharap margin laba bersih bisa lebih stabil, meski harga komoditas turun.
Keputusan TINS menghentikan penjualan di pasar spot di tengah penurunan harga komoditas dianggap positif. Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Securities, menilai, saat ini harga timah memang terus merosot.
Sebagai produsen timah terbesar di Indonesia, TINS bisa menghentikan penjualan baru demi menurunkan stok di pasar. Dengan begitu, harga timah bisa kembali pulih.
Mengurangi penjualan pernah dilakukan TINS tahun lalu dan ternyata berefek positif.
Menurut Edwin, mengurangi stok di pasar merupakan strategi TINS untuk menghemat biaya produksi dan memulihkan harga. Suplai timah saat ini pun dalam level aman.
Meski menghentikan penjualan, TINS tetap bisa mempertahankan pertumbuhan pendapatan 15% di tahun ini. Penghentian penjualan hanya sementara.
Di sisi lain, arus kas TINS akan lebih baik. "Penurunan harga ini sepertinya tidak akan berlangsung lama. Jadi pengaruhnya ke kinerja justru menjadi bagus," tutur Edwin.
Edwin masih merekomendasikan buy TINS dengan target harga wajar Rp 1.570 per saham.
Harga saham TINS, Jumat (13/2), menurun 0,93% menjadi Rp 1.070 per saham.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita