- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1672
JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melonggarkan kewajiban pembangunan smelter untuk produsen mineral. Dari semula wajib selesai tahun 2017 menjadi 2019 mendatang.
Keputusan ini diambil pasca Kementerian ESDM bertemu PT Freeport Indonesia, PT Newmont Nusa Tenggara, PT Gorontalo Mineral, dan PT Kalimantan Surya Kencana Rabu lalu (18/9). Mereka bertemu guna menyusun ulang roadmap proyek smelter.
Dari kajian ulang itu, ESDM akhirnya memutuskan untuk memundurkan proyek smelter. "Peraturannya seharusnya selesai 2017.Namun jika smelter tidak selesai, berarti kami akan memberikan perpanjangan," ujar Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Rabu (18/2).
Berita ini jelas mengejutkan. Sebab, pada Maret 2014, Kementerian ESDM dan perusahaan tambang besar itu sepakat akan menyelesaikan proyek smelter di 2017. Sebagai garansinya, Freeport dan Newmont bahkan menyetorkan uang jaminan.
Iktikad itu menjadikan pemerintah membolehkan mereka ekspor. Bahkan, pemerintah juga mengubah kebijakan pengenaan tarif bea keluar ekspor konsentrat tembaga.
Misalnya, dari awalnya bea keluar konsentrat tembaha 25% daru harga patokan ekspor (HPE) dan naik secara progresif menjadi 60%, menjadi 7,5% dan akan terus menurun hingga 0% sesuai perkembangan smelter. Jika menelisik perkembangan pembangunan smelter tembaga Freeport misalnya, hingga saat ini belum menunjukan progres signifikan.
Lihat saja proyek smelter Freeport di Gresik, tak kunjung beres. Belakangan, pemerintah berubah arah dengan mengharuskan Freeport membangun smelter di Papua dengan alasan Pemda Papua menginginkannya.
Anehnya, bukan Freeport yang akan membangun smelter di sana, tapi investor China dengan proyeksi kapasitas 900.000 ton konsentrat per tahun. Kementerian ESDM menghitung, smelter di Timika, Papua membutuhkan waktu 52 bulan dari 2015.
Ini artinya, smelter tersebut akan beroperasi Juli 2019 atau telat dua tahun dari instruksi Peraturan Menteri ESDM No 1/2014. "Sekarang lokasinya harus pasti dulu di Timika. Yang lain jadi alternatif," kata Sukhyar.
Bukan cuma pembangunan smelter tembaga dilonggarkan, Sukhyar bilang, kelonggaran smelter juga akan berlaku bagi produsen mineral. "Kami akan panggil pengusaha nikel dan komoditas lain karena tak semua IUP bangun smelter sendiri," ujarnya.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1818
JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (USD) tetap berpeluang berkibar, meski Bank Sentral AS alias The Federal Reserve (The Fed) meredam wacana menaikkan suku bunga pada Juni mendatang.
Data Bloomberg, Kamis (19/2) pukul 16.30 WIB menunjukkan, The Greenback bergerak bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama dunia lain. Dollar AS menguat 0,64% terhadap dollar Aussie (AUD) ke level 0,7761.
Dollar AS juga menguat tipis 0,04% melawan yen Jepang (JPY) ke posisi 118,84. Namun, dollar AS tertekan sebanyak 0,11% terhadap euro (EUR) menjadi 1,1409.
Pemicu bervariasinya pergerakan dollar AS adalah rapat komite federal (FOMC) yang ternyata meleset dari perkiraan para pelaku pasar. Awalnya, banyak pengamat yakin, bank sentral AS alias The Fed akan memberikan sinyal yang memperkuat rumor kenaikan suku bunga akan dilakukan bulan Juni mendatang. Namun, para pejabat The Fed justru memberikan indikasi kebijakan kenaikan suku bunga acuan mungkin tidak akan dilakukan pada bulan Juni.
Langkah aman yang ditempuh The Fed berdasarkan pada kecemasan terhadap penurunan inflasi dan data upah pekerja yang belum sesuai harapan. Seperti diketahui, producer price index (PPI) AS pada Januari 2015, minus 0,8%, lebih buruk dibanding prediksi minus 0,4%. Ini mengindikasikan daya beli masyarakat melemah.
Meski demikian, Analis Senior PT Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, otot dollar AS masih unggul ketimbang aussie. Secara umum, perekonomian Negeri Paman Sam masih bagus. Bahkan, rencana kenaikan suku bunga di sana masih akan tetap bergulir, sekalipun ditunda.
Apalagi, pelaku pasar memperkirakan, indikator ekonomi yang akan diumumkan AS pada akhir pekan ini, bakal membaik. Pengangguran mingguan diprediksi sekitar 293.000 klaim, turun dibandingkan pekan sebelumnya mencapai 304.000 klaim.
Kondisi sebaliknya justru terjadi di Australia. Sebagian indikator ekonominya malah memburuk. Tingkat pengangguran Australia bulan Januari meningkat menjadi 6,4%, dibandingkan bulan sebelumnya, di angka 6,1%. Australia juga "kehilangan" 12.200 lapangan kerja pada bulan pertama tahun ini.
AUD dalam tekanan karena Bank Sentral Australia (RBA) membuka kemungkinan menurunkan lagi suku bunga. "Tapi, secara teknikal, pairing AUD/USD masih berpeluang menguat meski hanya jangka pendek," prediksi Albertus.
Analis PT Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar memperkirakan, pasangan USD/JPY masih bergerak positif. Yen relatif tak memiliki katalis kuat untuk naik. Bank Sentral Jepang (BoJ) memilih mempertahankan kebijakan berupa pelonggaran moneter demi menggenjot perekonomian. "Indikator teknikal juga memperkuat peluang bullish pasangan USD/JPY," kata Deddy.
Adapun, pasangan EUR/USD diperkirakan bergerak di kisaran terbatas alias sideways hingga akhir pekan ini. Chief Invesment Strategic PT Astronacci International, Gema Goeyardi mengatakan, belum ada katalis signifikan yang bisa mempengaruhi kedua mata uang ini.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2195
INDRAMAYU (Pos Kota) – Tol Cikapali (Cikampek-Palimanan) di wilayah Kabupaten Indramayu sepanjang 17,6 Km menjelang arus mudik Lebaran direncanakan bisa dilalui kendaraan pemudik.
Kadishubkominfo Indramayu Ir.Joko Hartawan dihubungi Pos Kota, Rabu (18/2) mengemukakan, pada April 2015 salah satu dari dua jalur tol Cikapali di wilayah Indramayu itu sudah bisa dilalui kendaraan arah Cikampek-Palimanan.
Jalan tol Cikapali secara keseluruhan bisa dilalui kendaraan pada Juni 2015. Artinya kendaraan pemudik Lebaran sudah bisa melalui tol Cikapali. Tol Cikapali diharapkan mengurangi volume kendaraan di Jalur Pantura.Sebagaimana dimaklumi, setiap menjelang Lebaran, volume kendaraan di Pantura meningkat, sehingga kerap macet. Tol Cikapali diharapkan mengurangi kemacetan.
Seorang pengguna jalan Yusuf, 53 mengemukakan, pengguna jalan menyambut positif dibukanya tol Cikapali karena selama ini bosan hadapi kemacetan di Jalur Pantura. “Jalan tol itu kan solusi atasi macet,†katanya.
(taryani/sir)
Narasumber : poskotanews.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2023
Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia rebound pada Rabu (18/2/2015) seiring kabar gelombang kering yang akan menyelimuti Semenanjung Malaysia dalam beberapa pekan ke depan.
Kontrak CPO untuk April 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, dibuka naik 0,17% ke harga 2.294 ringgit atau Rp8,17 juta per ton. Kontrak kemudian menguat 0,61% ke 2.304 ringgit atau Rp8,20 juta per ton pada pukul 09.52 WIB.
Komoditas tersebut bergerak pada kisaran 2.292—2.305 ringgit per ton pada awal perdagangan hari ini.
Kontrak CPO untuk Mei 2014 bergerak naik 0,70% ke 2.302 ringgit atau Rp8,20 juta per ton pada pukul 10.05 WIB setelah dibuka naik ke 2.290 ringgit per ton.
Bloomberg pagi ini melaporkan curah hujan di Malaysia dalam beberapa bulan terakhir merosot dari rata-rata 30 tahun. Curah hujan rendah tersebut diperkirakan mengganggu pertumbuhan kelapa sawit di kebun yang berlokasi di Semenanjung Malaysia.
Pergerakan Harga Kontrak CPO April 2015
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
18/2/2015 |
2.306 |
+0,70% |
|
17/2/2015 |
2.290 |
-1,04% |
|
16/2/2015 |
2.314 |
+1,27% |
|
13/2/2015 |
2.285 |
-0,39% |
|
12/2/2015 |
2.290 |
+0,53% |
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1805
SINGAPURA. Untuk kali pertama dalam empat hari terakhir, harga kontrak minyak dunia tertekan pada hari ini (18/2). Berdasarkan data Bloomberg, pagi tadi, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengantaran Maret turun 49 sen menjadi US$ 53,04 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada pukul 11.08 waktu Singapura, harga kontrak yang sama berada di level US$ 53,36 sebarel.
Pada Selasa (17/2) kemarin, harga kontrak yang sama ditutup di level US$ 53,53 sebarel atau naik 75 sen.
Kenaikan harga minyak terjadi sebelum pemerintah AS merilis data cadangan minyak yang diprediksi melonjak ke rekor tertingginya. Sekadar informasi, hasil survei Bloomberg menunjukkan, suplai minyak diprediksi akan naik mencapai 417,9 juta, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Kenaikan suplai minyak AS akan memberikan kontribusi terhadap tingginya cadangan minyak global yang sudah menekan harga minyak hampir 50% pada tahun lalu.
"Data suplai minyak AS yang akan dirilis nanti akan menjadi sentimen utama yang mempengaruhi harga minyak. Ada sejumlah sinyal bahwa harga minyak akan menemukan dasarnya," jelas Ric Spooner, chief strategist CMC Markets di Sydney.
Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran April turun 13 sen menjadi US$ 62,40 per barel di ICE Futures Europe exchange.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita