- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2061
NEW YORK. Kurs dollar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada Senin (Selasa pagi WIB), karena investor menunggu kesaksian Ketua Federal Reserve Janet Yellen di hadapan Kongres pada Selasa waktu setempat.
Keterangan kebijakan moneter semi-tahunan ini diperkirakan dapat memberikan pasar lebih banyak petunjuk tentang kapan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuannya.
Euro mengupas keuntungan minggu lalu terhadap dollar di tengah keraguan investor apakah perjanjian Yunani baru yang dicapai akan mempertahankan negara itu mengapung (tidak tenggelam). Indeks dollar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang lainnya, naik 0,33% menjadi 94,564 pada akhir perdagangan.
Di sisi ekonomi, penjualan rumah AS menurun pada Januari ke tingkat terendah dalam sembilan bulan, kata National Association of Realtors pada Senin. Total penjualan "existing-home" turun 4,9% ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 4,82 juta unit pada Januari dari angka dirivisi naik 5,07 juta unit pada Desember.
Pada akhir perdagangan di New York, euro turun menjadi 1,1335 dollar dari 1,1411 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,5455 dollar dari 1,5406 dollar. Dollar Australia turun menjadi 0,7798 dollar dari 0,7847 dollar.
Dollar AS dibeli 118,87 yen Jepang, lebih rendah dari 119,07 yen dari sesi sebelumnya. Dollar AS naik tipis menjadi 0,9506 franc Swiss dari 0,9421 franc Swiss, dan naik menjadi 1,2577 dollar Kanada dari 1,2532 dollar Kanada.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2206
JAKARTA. Nikel jatuh untuk hari kedua, melanjutkan penurunan dari penutupan terendah dalam satu tahun. Kejatuhan harga ini disebabkan oleh melebarnya kelebihan pasokan logam global.
Mengutip data Bloomberg, Jumat (20/2) kontrak pengiriman nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) di tutup di level US$ 13.955 per metrik ton. Ini merupakan harga terendah sejak Juni 2013. Nikel melanjutkan pergerakan turun (bearish) dari Kamis (19/2) yang mengakhiri perdagangan di level US$ 13.985 per metrik ton. Ini merupakan level terendah sejak 6 Februari 2014. Logam menuju penurunan mingguan terbesar dalam dua bulan. Dalam sepekan terakhir, nikel tergerus 4,7%.
Data International Nickel Study Group yang dirilis Jumat (20/2) menunjukkan surplus nikel pada bulan Desember 2014 sebesar 12.700 metrik ton. Angka ini meningkat dari surplus bulan sebelumnya sebesar 6.500 metrik ton. Persediaan nikel melebihi tahun lalu sebesar 94.300 ton, atau turun 47% dari surplus tahun 2013 sebesar 178.000 metrik ton. Goldman Sachs Group Inc dan Australia & New Zealand Banking Group Ltd memperkirakan harga nikel akan naik pada akhir tahun ini pasca defisitnya pasokan global akibat pelarangan ekspor mineral mentah.
“Dalam jangka pendek, tentu akan dianggap sebagai sinyal bearish bagi nikel. Pelebaran surplus akan menunda harapan naiknya harga nikel di tengah ketatnya pasokan global,†kata Daniel Hynes, analis senior komoditas di ANZ.
Nikel juga tersengat oleh penurunan permintaan dari pengguna logam terbesar di dunia, yakni China. Sebab, pasar China di tutup hingga tanggal 24 Februari dalam rangka memperingati Tahun Baru Imlek.
Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditas Berjangka mengatakan, harga nikel masih akan tenggelam dalam jangka waktu lama. Menurutnya, ada dua faktor yang meredupkan harga nikel. Pertama, penundaan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS tidak serta merta merontokkan kinerja dollar. Dollar memang sempat terkoreksi pasca The Fed mengambil sikap berhati-hati dalam menaikkan suku bunga di tengah perekonomian global yang belum solid. Nmaun, tekanan pada indeks dollar hanya bersifat sementara. Indeks dollar sempat naik ke level 94,64 pada Jumat (20/2) meski ditutup melemah di level 94,40.
Faktor kedua, lanjut Ibrahim, terjadi peralihan dana asing dari negara berkembang ke dollar AS. Tren peralihan dana asing ini diperkirakan masih terus berlanjut mengingat seluruh harga komoditas, termasuk nikel masih akan tumbang.
“Jika harga nikel menanjak ke depannya, ini lantaran aksi profit taking saja. Sebab tren secara umum masih tertekan,†ungkap Ibrahim.
Penurunan nikel juga diamini secara teknikal. Indikator moving average dan bollinger band berada 40% di atas bollinger bawah. Moving average convergence divergence (MACD) masih wait and see. Indikator lainnya yaitu stochastic berada di level 60% dengan arah negatif. Sementara relative strength index (RSI) berada di level 65% dengan arah negatif. Empat indikator mengonfirmasi tren bearish nikel. Sementara satu indikator yaitu MACD belum menentukan arah.
Ibrahim memprediksi harga nikel sepekan mendatang berkisar antara US$ 13.650-US$ 14.100 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2106
LONDON. Minyak mentah dunia diperdagangan pada kisaran US$ 60 per barel di ICE Futures Europe exchange London. Minyak Brent untuk pengiriman April 2015 berada di level US$ 60,37 per barel, naik 15 sen.
Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2015, naik 6 sen menjadi US$ 50,87 per barel dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange.Harga minyak berjangka bergerak fluktuatif setelah turun 2,1% pada pekan lalu.
Walau ada sedikit kenaikan, namun harga minyak masih dibayangi tren pelemahan. Hal itu terjadi karena Libia selesai memperbaiki pipa-pipa produksi minyak. Sedangkan negara produsen minyak yang lain yaitu Oman, juga mengatakan bakal meningkatkan produksi semampu mereka.
Selain karena kekhawatiran adanya pasokan yang berlebih dari dua negara di luar OPEC yaitu Libia dan Oman. Organisasi 12 negara penghasil minyak (OPEC) yang saat ini menguasai 40% pasokan minyak dunia, juga telah mengeluarkan sinyal akan terus membiarkan harga minyak jatuh.
"Begitu banyak produksi, sehingga harga minyak sangat dipengaruhi oleh suplai," kata Mark Pervan, Kepala riset komoditas Australia & New Zealand (ANZ) Banking Group Ltd seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (23/2).
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2395
JAKARTA. Melihat geliat pasar otomotif di Indonesia yang masih terus berputar, produsen elektronik asal Jepang, Hitachi Ltd. pun tergoda. Lewat anak usaha PT Hitachi Automotive Systems Indonesia, perusahaan ini siap membangun pabrik komponen otomotif di Tanah Air.
Menurut Kazuko Amamoto, Corporate Communications Manager Hitachi Asia Ltd, pihaknya sudah mulai membangun pabrik komponen otomotif yang dikelola Hitachi Automotive System Indonesia pada 17 Februari 2015. Anak usaha ini baru berdiri November 2014 lalu.
Ia menilai industri otomotif di pasar domestik terus berkembang. Hal ini ditunjang oleh jumlah penduduk Indonesia yang masuk dalam urutan empat besar dunia. Inilah yang membuat sejumlah pemain otomotif global mau berinvestasi di Indonesia. "Untuk memperkuat dukungan ke produsen otomotif domestik, Hitachi Automotive Systems memutuskan membangun pabrik baru di Indonesia," ujar Kazuko kepada KONTAN, Minggu (22/2).
Menurut Kunihiko Ohnuma, Chairman dan Chief Executive Officer Hitachi Automotive Systems Ltd., Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting bagi mereka. "Industri otomotif memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Karena itu Hitachi membangun pabrik untuk memperluas jangkauan ke pasar Indonesia," ujar Kunihiko dalam rilis tertulis yang terbit akhir pekan lalu.
Untuk memuluskan rencana ini, Hitachi sudah menyetor modal awal ¥ 1,4 miliar atau setara sekitar Rp 150 miliar. Namun, perusahaan ini tidak menyebut nilai investasi membangun pabrik tersebut.
Pabrik di Bekasi
Yang jelas, Hitachi Automotive Systems Indonesia akan membangun pabrik di lahan seluas 55.000 meter persegi (m²) di kawasan industri Greenland International Industrial Center, Bekasi.
Namun perusahaan ini tidak membeberkan kapasitas produksi pabrik baru tersebut dan jenis komponen otomotif yang akan diproduksinya. Yang pasti pabrik tersebut akan siap beroperasi pertengahan 2016.
Menurut Kazuko, jika pabrik ini sudah beroperasi, kebanyakan hasil produksinya akan dilepas ke pasar otomotif domestik. Sayang, ia tidak merinci persentase hasil produksi yang dijual ke pasar domestik dan pasar ekspor.
Begitu pula, bahan baku untuk komponen tersebut tidak dijelaskan secara rinci. Yang pasti, sebagian ada yang berasal dari impor dan sebagian lagi dari dalam negeri.
Catatan saja, Hitachi Automotive Systems Ltd memiliki 94,4% saham Hitachi Automotive Systems Indonesia. Lantas PT Dirgantara Mitramahardi mengempit 5% saham dan sisanya, 0,6% saham milik Hitachi Automotive Systems Asia, Ltd.
Sedangkan Hitachi sendiri sudah berkiprah sejak 1932 di Indonesia. Hingga kini, perusahaan Jepang ini sudah memiliki 21 perusahaan di berbagai sektor industri. Sektor itu antara lain listrik, industri, air, infrastruktur perkotaan, teknologi informasi, medis kesehatan, konsultasi dan layanan bisnis, perangkat elektronik dan material, rumah dan hunian.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1975
JAKARTA - Harga minyak mentah WTI bergerak melemah pada akhir pekan ini. Minyak yang ditransaksikan di Amerika Serikat (AS) ini turun 82 sen menjadi USD50,34 per barel.
Anjloknya harga minyak WTI dipengaruhi oleh angka drilling dari rig di AS lebih rendah ketimbang pekan lalu. Demikian seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (21/2/2015).
Sebaliknya, harga minyak jenis brent malah menguat. Minyak yang ditransaksikan di London , Inggris ini naik satu sen lebih tinggi menjadi USD60,22. Padahal, level terendah pada pekan ini ada di USD57,80.
Perusahaan konsultan jasa peminyakan, Baker Hughes menunjukkan rig turun menjadi 37. Jumlah rig sendiri berada di level terendah dalam lebih dari tiga tahun.
Sementara itu, harga heating oil di AS melonjak 6 persen setelah musim dingin yang parah, dan membuat tiga kilang minyak tidak dapat beroperasi.

















Semua Berita