- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2120
JAKARTA. Pada tahun 2013, Mercedes-Benz Indonesia mampu mencatatkan penjualan 945 uniit untuk busnya. Sayangnya, di 2014 penjualannya justru mengalami penurunan.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan bus Mercedes-Benz pada 2014 lalu hanya tercatat 462 unit. Itu artinya ada penurunan sekitar 51%.
"Tahun 2013 pasar bus sangat baik. Di 2014 terjadi penurunan dikarenakan oleh banyak hal. Hal itu berpengaruh terhadap bisnis Mercedes-Benz," kata Olaf Peterson, Director of Sales Commercial Vehicle Mercedes-Benz Indonesia, Kamis (26/2).
Diantaranya adalah faktor politik, ekonomi, dan juga sempat terputusnya jembatan Comal yang mengakibatkan distribusi menjadi sulit.
Olaf mengatakan tahun ini pun pihaknya tidak bisa memastikan akan lebih baik ataupun stagnan bahkan menurun untuk penjualan Mercedes-Benz. Olaf bilang konsumen saat ini masih mengamati keadaan dan menunggu.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin di tahun ini, terutama dengan diluncurkannya Bus 2542. Dengan demikian portofolio kami semakin lengkap. Di mana kami memiliki empat tipe bus," ungkap Olaf.
Mercedes-Benz memanfaatkan peluang dari pemerintah. Misalnya saja ada rencana Bus Rapid Transportation (BRT) yang rencananya akan dilakukan besar-besaran. Ini akan berpengaruh pada pasar perpetaan bus di Indonesia.
"jadi kami senantiasa melihat berbagai kesempatan yang dapat kami berikan, agar banyak masyarakat yang bisa menikmati keunggulan dari Mercedes-Benz. Dan tidak hanya di sektor swasta, kalau ini dibutuhkan pemerintah kami akan mendukung," tambah Elvera N. Makki, Deputy Director Corporate Communication dan External Affairs.
Nah, untuk bisa memenuhi permintaan pemerintah, Mercedes Benz sudah menyiapkan model-model yang sesuai kebutuhan. Bus itu sudah diteliti semenjak 4-5 tahun. Khususnya untuk bus yang berbahan bakar gas.
Mercedes-Benz sudah meneliti dan menyesuaikan busnya sesuai dengan karakter yang ada di Indonesia. Misalnya suhu untuk kendaraan disesuaikan. "Tahun ini kami akan keluarkan varian baru, tapi belum bisa diinformasikan," tutup Olaf.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1967
NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia turun pada Selasa (24/2/2015) waktus setempat (Rabu pagi WIB), karena para pedagang memperkirakan laporan utama akan menunjukkan peningkatan pada persediaan minyak mentah AS yang sudah berada pada tingkat rekor, sehingga memperburuk kelebihan pasokan global.
Kontrak acuan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 17 sen, menjadi ditutup pada 49,28 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April, kontrak acuan global, ditutup pada 58,66 dollar AS per barel, turun 24 sen dari tingkat penutupan Senin.
Kedua kontrak berjangka telah turun tajam pada Senin dan Jumat karena para pedagang khawatir tentang melimpahnya pasokan global di tengah pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, dengan tidak ada tanda-tanda pelambatan dalam kenaikkan stok minyak mentah di Amerika Serikat.
Pada Rabu, Departemen Energi AS (DoE) akan menerbitkan laporan mingguan AS tentang stok minyak mentah dan produk-produknya.
"Kami mungkin akan memiliki tumpukan lain dalam persediaan AS yang akan menempatkan tekanan turun pada harga," kata James Williams dari WTRG Economics.
Para ahli yang disurvei oleh Bloomberg News, menyatakan persediaan proyek telah meningkat 3,75 juta barel pada pekan lalu, dari total 425,6 juta barel minggu sebelumnya.
Secara global, pasokan minyak mentah meningkat karena ladang minyak di Libya timur memulai kembali pemompaan ke pelabuhan Hariga setelah jaringan pipanya diperbaiki.
"Kembalinya sebagian pasokan dari Libya membebani harga Brent meskipun keberlanjutannya tak pasti," kata analis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada klien.
Harga minyak mentah telah jatuh lebih dari 50 persen sejak Juni. Harga telah meningkat dari posisi terendah Januari menyusul pelambatan dalam kegiatan pengeboran AS, tetapi para analis mengatakan volatilitas kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa waktu.
"Sangat jelas mulai sekarang bahwa pengeboran minyak di AS akan melambat, pertumbuhan produksi global diperkirakan akan lebih rendah, dan permintaan, setidaknya di AS, bereaksi secara positif terhadap harga yang lebih rendah," kata bank Inggris Barclays dalam sebuah laporan.
"Singkatnya, pasar diperkirakan akan tetap kelebihan pasokan untuk sebagian besar tahun 2015, tetapi harapan di luar itu adalah fundamental yang lebih seimbang," tambahnya.
| Editor | : Erlangga Djumena |
| Sumber | : AFP/ANTARA |
Narasumber : kompas.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2293
JAKARTA. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih rawan jatuh. Sentimen negatif mengepung pasar, lantaran permintaan masih lesu sementara suplai masih banyak.
Mengutip Bloomberg, Selasa (24/2), CPO kontrak pengiriman Mei 2015 di Malaysia Derivatives Exchange (MDE) ditutup seharga RM 2.257 atau setara US$ 618,75 per metrik ton (MT).
Harga minyak sawit berhasil naik 0,8%, meski pada perdagangan pagi sempat jatuh ke level RM 2.216 per MT. Ini harga terendah sejak 5 Februari lalu.
Sehari sebelumnya, harga CPO juga tumbang 2,65%. Meski demikian, harganya sudah naik tipis 0,5% dibandingkan akhir tahun lalu.
Analis Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar menilai, kenaikan itu bersifat teknikal. Meski, ia tak memungkiri ada ekspektasi positif terhadap kebijakan pemerintah Indonesia menaikkan besaran subsidi biodiesel mulai Maret nanti. Program ini dinilai bisa mengerek permintaan CPO untuk campuran biofuel.
Namun, Deddy bilang, prospek harga minyak sawit masih loyo. Saat ini, pelaku pasar beralih menggunakan minyak kedelai sebab harganya lebih murah. Apalagi, Malaysia dikabarkan berencana memberlakukan kembali pajak ekspor CPO sebesar 4,5% mulai Maret. Pemberlakukan pajak ekspor bisa menekan aktivitas penjualan ke luar negeri.
Padahal, permintaan global belum pulih. SGS melaporkan, ekspor Malaysia ke China periode 1-20 Februari 2015 merosot 72% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. "Permintaan China tidak begitu besar pada Tahun Baru Imlek, sebab masih memiliki stok," ujar David Ng, analis Phillip Futures di Kuala Lumpur kepada Bloomberg, Selasa (24/2).
Deddy menambahkan, penurunan ekspor Malaysia tidak diimbangi penurunan produksi. Total produksi CPO Indonesia dan Malaysia tahun ini diperkirakan mencapai 51,1 juta ton. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun lalu, 49,2 juta ton.
Tren masih turun
Analis MNC Securities Dian Agusti menduga, tren penurunan harga CPO masih bertahan selama harga minyak mentah dunia masih rapuh. Penurunan harga minyak bakal berimbas tak kunjung berjalannya program penggunaan biofuel sebagai energi alternatif. Akibatnya, permintaan CPO untuk campuran biofuel juga berkurang.
Secara teknikal, kata Deddy, harga CPO juga terlihat masih kesulitan menanjak. Apabila terjadi rebound, lebih bersifat teknikal.
Harga berada di atas moving average (MA) 50, namun masih terperangkap di bawah MA 100 dan 200. Lalu, indiaktor RSI berada di area 47%. Pergerakan di bawah level 50% menunjukkan tren penurunan masih terbuka. Namun, MACD sudah berada di area positif 6, dan stochastic berada di level 58%.
Prediksi Deddy, hingga akhir pekan ini, harga CPO bergerak di kisaran RM 2.100-RM 2.350 per MT. Sementara Dian menduga, harga minyak sawit bergulir antara RM 2.200-RM 2.280 per MT.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2109
NEW YORK. Pimpinan the Federal Reserve Janet Yellen menegaskan, bank sentral AS sangat fleksibel dalam memutuskan kapan akan menaikkan suku bunga acuan yang sudah mendekati level nol sejak 2008 silam.
Yellen bilang, meski saat ini perekonomian AS sudah membaik, namun situasi pasar tenaga kerja AS masih sangat rentan.
"Banyak warga Amerika yang masih menganggur dan tidak mendapatkan pekerjaan... pertumbuhan tingkat upah juga masih memprihatinkan," jelasnya.
Dia juga mengatakan, perkembangan ekonomi negara asing juga dapat menimbulkan risiko atas outlook pertumbuhan ekonomi AS.
Namun, dia menambahkan, adanya upaya untuk menstimulasi pertumbuhan di zona eropa dapat membantu ekonomi AS. Selain itu, dia mencatat, penurunan harga minyak dunia dapat mendorong nilai produksi minyak AS.
Ini merupakan testimoni pertama Yellen di hadapan Kongres yang dikontrol oleh Partai Republik. Banyak politisi dari partai Republik yang mempertanyakan pilihan langkah the Fed dalam menangani krisis finansial.
Pernyataan the Fed medongkrak pasar saham AS, di mana indeks Dow Jones dan S&P 500 tadi malam ditutup di level rekor baru.
Memang, investor sepertinya tidak mengharapkan dilakukannya pengetatan kebijakan oleh the Fed dalam waktu dekat.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2091
Bisnis.com, JAKARTA— Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia untuk kontrak April 2015 pada hari ini, Selasa (24/2/2015) dibuka melemah.
CPO, dari data Bloomberg, dibuka melemah 0,13% ke 2.239 ringgit/ton. Pada pk. 11:16 WIB, CPO melemah 0,76% ke 2.225 ringgit/ton.
Harga CPO sampai pk. 11:16 WIB bergerak di kisaran 2.224—2.239 ringgit/ton.
Pergerakan harga CPO*
|
Tanggal |
Ringgit/M ton |
|
Pk. 11:16 WIB (24 Februari) |
2.225 (-0,76%) |
|
Buka (24 Februari) |
2.239 (-0,13%) |
|
23 Februari |
2.242 (-2,65%) |
*Kontrak April 2015
Sumber: Bloomberg, 2015
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita