Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Melihat geliat pasar otomotif di Indonesia yang masih terus berputar, produsen elektronik asal Jepang, Hitachi Ltd. pun tergoda. Lewat anak usaha PT Hitachi Automotive Systems Indonesia, perusahaan ini siap membangun pabrik komponen otomotif di Tanah Air.

Menurut Kazuko Amamoto, Corporate Communications Manager Hitachi Asia Ltd, pihaknya sudah mulai membangun pabrik komponen otomotif yang dikelola Hitachi Automotive System Indonesia pada 17 Februari 2015. Anak usaha ini baru berdiri November 2014 lalu.

Ia menilai industri otomotif di pasar domestik terus berkembang. Hal ini ditunjang oleh jumlah penduduk Indonesia yang masuk dalam urutan empat besar dunia. Inilah yang membuat sejumlah pemain otomotif global mau berinvestasi di Indonesia. "Untuk memperkuat dukungan ke produsen otomotif domestik, Hitachi Automotive Systems memutuskan membangun pabrik baru di Indonesia," ujar Kazuko kepada KONTAN, Minggu (22/2).

Menurut Kunihiko Ohnuma, Chairman dan Chief Executive Officer Hitachi Automotive Systems Ltd., Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting bagi mereka. "Industri otomotif memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Karena itu Hitachi membangun pabrik untuk memperluas jangkauan ke pasar Indonesia," ujar Kunihiko dalam rilis tertulis yang terbit akhir pekan lalu.

Untuk memuluskan rencana ini, Hitachi sudah menyetor modal awal ¥ 1,4 miliar atau setara sekitar Rp 150 miliar. Namun, perusahaan ini tidak menyebut nilai investasi membangun pabrik tersebut.

Pabrik di Bekasi

Yang jelas, Hitachi Automotive Systems Indonesia akan membangun pabrik di lahan seluas 55.000 meter persegi (m²) di kawasan industri Greenland International Industrial Center, Bekasi.

Namun perusahaan ini tidak membeberkan kapasitas produksi pabrik baru tersebut dan jenis komponen otomotif yang akan diproduksinya. Yang pasti pabrik tersebut akan siap beroperasi pertengahan 2016.

Menurut Kazuko, jika pabrik ini sudah beroperasi, kebanyakan hasil produksinya akan dilepas ke pasar otomotif domestik. Sayang, ia tidak merinci persentase hasil produksi yang dijual ke pasar domestik dan pasar ekspor.

Begitu pula,  bahan baku untuk komponen tersebut tidak dijelaskan secara rinci. Yang pasti, sebagian ada yang berasal dari impor dan sebagian lagi dari dalam negeri.

Catatan saja, Hitachi Automotive Systems Ltd memiliki 94,4% saham Hitachi Automotive Systems Indonesia. Lantas PT Dirgantara Mitramahardi mengempit 5% saham dan sisanya, 0,6% saham milik Hitachi Automotive Systems Asia, Ltd.

Sedangkan Hitachi sendiri sudah berkiprah sejak 1932 di Indonesia. Hingga kini, perusahaan Jepang ini sudah memiliki 21 perusahaan di berbagai sektor industri. Sektor itu antara lain  listrik, industri, air, infrastruktur perkotaan, teknologi informasi, medis kesehatan, konsultasi dan layanan bisnis, perangkat elektronik dan material, rumah dan hunian.

Editor: Hendra Gunawan

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Walaupun laju penjualan alat berat di tahun kambing kayu diprediksi akan melambat, PT United Tractors Tbk tidak gentar mengejar kinerja. Produsen alat berat itu optimistis bisa mencapai penjualan alat berat sebanyak 4.000 unit di tahun ini.

Perusahaan itu akan memaksimalkan penjualan alat berat ke perusahaan di dua sektor. Pertama, sektor konstruksi. "Tahun ini sektor konstruksi yang akan kami utamakan," kata Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan United Tractors ke KONTAN, beberapa waktu lalu.

Lalu sektor kedua yang menjadi andalan perusahaan berkode UNTR di Bursa Efek Indonesia itu adalah sektor kehutanan dan perkebunan.

Bukan tanpa alasan United Tractors memilih dua sektor tadi. Berangkat dari catatan penjualan pada tahun 2014, dua sektor tadi  masih mampu menunjukkan peningkatan penjualan dibandingkan dengan tahun 2013.

Meski, pertumbuhan penjualannya tak sampai double digit. Selain itu, kontribusi penjualan sektor konstruksi serta kehutanan dan perkebunan ini sebenarnya juga masih kalah ketimbang penjualan alat berat untuk kebutuhan pertambangan.

Dari penjualan alat berat United Tractors sebanyak 3.513 unit alat berat di tahun 2014, penjualan alat berat sektor konstruksi berkontribusi 28%, atau sekitar 983 unit alat berat saja. Namun persentase kontribusi 28% itu lebih besar dibandingkan dengan porsi kontribusinya di tahun 2013 yang sebesar 23%.

Lalu, kontribusi penjualan alat berat kehutanan dan perkebunan adalah 14%, atau sekitar 491 unit alat berat saja. Hanya saja, persentase kontribusi 14% itu masih lebih besar dibandingkan dengan porsi kontribusinya di tahun 2013 yang baru 8%.

Sementara kontribusi penjualan alat berat dari dua sektor tersisa, yakni pertambangan dan agribisnis kompak menurun. Penjualan alat berat pertambangan turun dari 43% di tahun 2013 menjadi 35% di tahun 2014, atau sekitar 1.229 unit alat berat.

Kalau kontribusi penjualan alat berat agribisnis turun dari 26% di 2013 menjadi 23% tahun 2014. Jika dihitung, penjualan alat berat itu tahun lalu adalah 878 unit alat berat.

Perluas jangkauan

Selain fokus ke dua sektor yang masih potensial untuk tumbuh, United Tractors menerapkan strategi memperluas jangkauan pasar. Setelah membuka cabangnya yang
ke-30 di Semarang, Jawa Tengah, perusahaan itu akan melanjutkan pembukaan cabang atawa point support di  Pulau Jawa. "Pokoknya di manapun sektor pembeli berada, di situ kami  akan cover," tandas Sara.

Untuk memuluskan rencana pengembangan bisnis alat berat, United Tractors menyediakan dana US$ 50 juta. Dana tersebut adalah bagian dari alokasi belanja modal sekitar US$ 300 juta tahun ini.

Sisa dana yakni US$ 250 juta dialokasikan untuk bisnis kontraktor penambangan. Meski mengalokasikan dana besar untuk bisnis kontraktor penambangan, tetapi manajemen United Tractors menilai bisnis itu belum akan moncer seiring harga jual batubara dunia yang masih berada dalam tren pelemahan.

United Tractors berharap aneka strategi itu bisa mendukung pertumbuhan pendapatan tahun ini ketimbang tahun lalu. "Secara over all kami yakin masih ada pertumbuhan tapi tidak agresif," kata Sara tanpa menyebutkan target pendapatan yang dimaksud.

Asal tahu saja, tahun lalu United Tractors gagal mengejar target penjualan 3.700 unit alat berat. Sepanjang 2014, perusahaan itu hanya bisa menjual alat berat sebanyak 3.513 unit. Angka itu di bawah realisasi penjualan alat berat sepanjang 2013, yang mencapai 4.203 unit.

Editor: Hendra Gunawan

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA - Harga minyak mentah WTI bergerak melemah pada akhir pekan ini. Minyak yang ditransaksikan di Amerika Serikat (AS) ini turun 82 sen menjadi USD50,34 per barel.

Anjloknya harga minyak WTI dipengaruhi oleh angka drilling dari rig di AS lebih rendah ketimbang pekan lalu. Demikian seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (21/2/2015).

Sebaliknya, harga minyak jenis brent malah menguat. Minyak yang ditransaksikan di London , Inggris ini naik satu sen lebih tinggi menjadi USD60,22. Padahal, level terendah pada pekan ini ada di USD57,80.

Perusahaan konsultan jasa peminyakan, Baker Hughes menunjukkan rig turun menjadi 37. Jumlah rig sendiri berada di level terendah dalam lebih dari tiga tahun.

Sementara itu, harga heating oil di AS melonjak 6 persen setelah musim dingin yang parah, dan membuat tiga kilang minyak tidak dapat beroperasi.

(wdi)


Narasumber : okezone.com
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Jakarta - Awal tahun 2015 ini merupakan awal yang suram bagi pasar minyak nabati dunia. Menurut laporan badan pangan PBB (FAO), harga minyak nabati dunia, mulai dari minyak biji-bijian hingga minyak sayur mengalami penurunan terendah khususnya minyak sayuran tercatat pada level terendah sejak Oktober 2009.

Jatuhnya harga minyak nabati dunia disebabkan rendahnya permintaan pasar global, pengurangan pasokan ke pasar biodiesel, rendahnya harga minyak mentah dunia dan melimpahnya stok minyak nabati di negara-negara produsen, demikian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam rilis yang diterima redaksi Jumat (20/2).

Harga CPO di pasar global yang terus tergerus tidak mampu mengerek permintaan minyak sawit mentah (CPO) di pasar global. Volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia pada Januari ini menurun 8% dibandingkan dengan ekspor Desember tahun lalu atau dari 1,97 juta ton pada Desember 2014 turun menjadi 1,8 juta ton pada Januari 2015. Jika dibandingkan secara year-on-year, kinerja ekspor CPO dan turunannya mengalami kenaikan sekitar 240.000 ton atau 15% pada Januari 2015 dibandingkan dengan Januari 2014 yaitu sebesar 1,57 juta ton.

Hampir semua pasar utama ekspor Indonesia mengurangi permintaannya pada awal tahun ini. Khususnya volume ekspor ke Tiongkok dan India mengalami penurunan yang signifikan. Volume ekspor CPO dan turunannya ke Tiongkok tercatat turun 40% dari 328,45 ribu ton pada Desember 2014 menjadi 196.840 ton pada Januari 2015.
Disusul India yang membukukan penurunan 39,7% dibandingkan bulan lalu atau dari 494.720 ton pada Desember 2014 menjadi 298.270 ton di Januari 2014.

Penurunan volume ekspor juga dibukukan Amerika Serikat 15%, negara-negara Afrika 8%, Uni Eropa 3,6% dibandingkan dengan volume ekspor bulan lalu.

Peningkatan volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia yang signifikan datang dari Pakistan meskipun dalam hitungan kuantitasnya masih kecil. Pakistan mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 59% atau dari 78.800 ton di Desember 2014 menjadi 125.610 ton di Januari 2015.

Pasar baru, negara Timur Tengah juga mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 9% atau dari 174.360 ton pada Desember 2014 menjadi 190.200 ton di Januari 2015.

Harga rata-rata CPO global sepanjang Januari 2015 hanya mampu bergerak di kisaran US$ 610 – US$ 707,5 per metrik ton. Banjir di Malaysia yang sangat parah sehingga mengganggu panen dan mengurangi pasokan tak mampu mengerek harga, yang justru terjerembab terutama pada pekan terakhir dimana harga tersungkur ke US$ 610 per metrik ton.

Harga rata-rata Januari 2015 adalah US$ 669,6 per metrik ton atau turun 1% dibandingkan harga rata-rata bulan Desember 2014 yaitu US$ 677,6 per metrik ton.
Sementara itu, harga di bulan dua pekan pertama Februari mulai merangkak naik meskipun masih sulit untuk menembus US$ 700 per metrik ton. Sampai pada akhir bulan harga diperkirakan masih akan sulit menembus US$ 700 per metrik ton. Hal ini karena kondisi di Malaysia mulai pulih pasca banjir dan turunnya nilai mata uang Malaysia terhadap dollar, keadaan ini menyulitkan harga CPO pasar global terdongkrak.

GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Oktober akan cenderung bergerak di kisaran harga US$ 650 - US$ 700 per metrik ton. Sementara itu Harga Patokan Ekspor Februari 2014 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar US$ 648 dan Bea Keluar 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar US$ 719.05 per metrik ton. Dengan melihat tren harga CPO global yang menurun dan bergerak dibawah US$ 750 per metrik ton, GAPKI memperkirakan harga Bea Keluar untuk Maret akan tetap 0%.

Penulis: /HA

Sumber:PR


Narasumber : beritasatu.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, NEW YORK -- Kelebihan pasok dan melubernya stok membuat harga minyak dunia masih terseok-seok di garis bawah.

Harga minyak dunia turun pada Kamis (Jumat pagi WIB), setelah pemerintah Amerika Serikat melaporkan persediaan minyak mentahnya meningkat lagi ke rekor tertinggi, menambah kekhawatiran tentang membanjirnya pasokan global.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret di New York Mercantile Exchange, turun 98 sen menjadi ditutup pada 51,16 dolar AS per barel, setelah merosot hampir 1,40 dolar AS pada Rabu.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman April menetap di 60,21 dolar AS per barel, turun 32 sen dari sesi perdagangan sebelumnya.

WTI berjangka turun tajam di awal perdagangan, tenggelam di bawah 50 dolar AS, tetapi menghapus sebagian besar kerugiannya setelah Departemen Energi (DoE) melaporkan persediaan minyak mentah AS meningkat hampir delapan juta barel dalam pekan yang berakhir 13 Februari.

"Kami jelas melihat ini terjadi karena kami telah mengalami penurunan (harga) besar kemarin, sehingga sebagian dari itu sudah dihargakan di pasar dan sekarang berusaha untuk menemukan nilai wajar," kata Carl Larry dari Frost & Sullivan.

Meskipun persediaan minyak mentah berada di tingkat tertinggi pada catatan, dan kenaikan ini lebih besar dari perkiraan para analis, kenaikan itu hanya setengah dari jumlah yang diumumkan Rabu oleh American Petroleum Institute dalam laporan mingguannya.

Laporan DoE ditunda sehari menjadi Kamis karena libur publik pada Senin.

Harga minyak mentah telah kehilangan sekitar 50% sejak Juni karena kelebihan pasokan di pasar dunia, ekonomi global yang lemah dan dolar yang kuat.

Sementara harga telah meningkat dari posisi terendah mereka dalam beberapa pekan terakhir di tengah berita bahwa jumlah rig minyak AS dalam operasi telah jatuh, serta raksasa energi memotong kembali investasi mereka, pengamat pasar mengatakan fluktuasi kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa waktu.

"Suatu hal yang menarik adalah produksi AS pada rekor tertinggi pada basis minggu-ke-minggu, meskipun faktanya kita sudah meletakkan banyak rig dan memotong banyak biaya," kata Larry.

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita