- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2298
Jakarta - Awal tahun 2015 ini merupakan awal yang suram bagi pasar minyak nabati dunia. Menurut laporan badan pangan PBB (FAO), harga minyak nabati dunia, mulai dari minyak biji-bijian hingga minyak sayur mengalami penurunan terendah khususnya minyak sayuran tercatat pada level terendah sejak Oktober 2009.
Jatuhnya harga minyak nabati dunia disebabkan rendahnya permintaan pasar global, pengurangan pasokan ke pasar biodiesel, rendahnya harga minyak mentah dunia dan melimpahnya stok minyak nabati di negara-negara produsen, demikian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam rilis yang diterima redaksi Jumat (20/2).
Harga CPO di pasar global yang terus tergerus tidak mampu mengerek permintaan minyak sawit mentah (CPO) di pasar global. Volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia pada Januari ini menurun 8% dibandingkan dengan ekspor Desember tahun lalu atau dari 1,97 juta ton pada Desember 2014 turun menjadi 1,8 juta ton pada Januari 2015. Jika dibandingkan secara year-on-year, kinerja ekspor CPO dan turunannya mengalami kenaikan sekitar 240.000 ton atau 15% pada Januari 2015 dibandingkan dengan Januari 2014 yaitu sebesar 1,57 juta ton.
Hampir semua pasar utama ekspor Indonesia mengurangi permintaannya pada awal tahun ini. Khususnya volume ekspor ke Tiongkok dan India mengalami penurunan yang signifikan. Volume ekspor CPO dan turunannya ke Tiongkok tercatat turun 40% dari 328,45 ribu ton pada Desember 2014 menjadi 196.840 ton pada Januari 2015.
Disusul India yang membukukan penurunan 39,7% dibandingkan bulan lalu atau dari 494.720 ton pada Desember 2014 menjadi 298.270 ton di Januari 2014.
Penurunan volume ekspor juga dibukukan Amerika Serikat 15%, negara-negara Afrika 8%, Uni Eropa 3,6% dibandingkan dengan volume ekspor bulan lalu.
Peningkatan volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia yang signifikan datang dari Pakistan meskipun dalam hitungan kuantitasnya masih kecil. Pakistan mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 59% atau dari 78.800 ton di Desember 2014 menjadi 125.610 ton di Januari 2015.
Pasar baru, negara Timur Tengah juga mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 9% atau dari 174.360 ton pada Desember 2014 menjadi 190.200 ton di Januari 2015.
Harga rata-rata CPO global sepanjang Januari 2015 hanya mampu bergerak di kisaran US$ 610 – US$ 707,5 per metrik ton. Banjir di Malaysia yang sangat parah sehingga mengganggu panen dan mengurangi pasokan tak mampu mengerek harga, yang justru terjerembab terutama pada pekan terakhir dimana harga tersungkur ke US$ 610 per metrik ton.
Harga rata-rata Januari 2015 adalah US$ 669,6 per metrik ton atau turun 1% dibandingkan harga rata-rata bulan Desember 2014 yaitu US$ 677,6 per metrik ton.
Sementara itu, harga di bulan dua pekan pertama Februari mulai merangkak naik meskipun masih sulit untuk menembus US$ 700 per metrik ton. Sampai pada akhir bulan harga diperkirakan masih akan sulit menembus US$ 700 per metrik ton. Hal ini karena kondisi di Malaysia mulai pulih pasca banjir dan turunnya nilai mata uang Malaysia terhadap dollar, keadaan ini menyulitkan harga CPO pasar global terdongkrak.
GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Oktober akan cenderung bergerak di kisaran harga US$ 650 - US$ 700 per metrik ton. Sementara itu Harga Patokan Ekspor Februari 2014 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar US$ 648 dan Bea Keluar 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar US$ 719.05 per metrik ton. Dengan melihat tren harga CPO global yang menurun dan bergerak dibawah US$ 750 per metrik ton, GAPKI memperkirakan harga Bea Keluar untuk Maret akan tetap 0%.
Penulis: /HA
Sumber:PR
Narasumber : beritasatu.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2145
Bisnis.com, NEW YORK -- Kelebihan pasok dan melubernya stok membuat harga minyak dunia masih terseok-seok di garis bawah.
Harga minyak dunia turun pada Kamis (Jumat pagi WIB), setelah pemerintah Amerika Serikat melaporkan persediaan minyak mentahnya meningkat lagi ke rekor tertinggi, menambah kekhawatiran tentang membanjirnya pasokan global.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret di New York Mercantile Exchange, turun 98 sen menjadi ditutup pada 51,16 dolar AS per barel, setelah merosot hampir 1,40 dolar AS pada Rabu.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman April menetap di 60,21 dolar AS per barel, turun 32 sen dari sesi perdagangan sebelumnya.
WTI berjangka turun tajam di awal perdagangan, tenggelam di bawah 50 dolar AS, tetapi menghapus sebagian besar kerugiannya setelah Departemen Energi (DoE) melaporkan persediaan minyak mentah AS meningkat hampir delapan juta barel dalam pekan yang berakhir 13 Februari.
"Kami jelas melihat ini terjadi karena kami telah mengalami penurunan (harga) besar kemarin, sehingga sebagian dari itu sudah dihargakan di pasar dan sekarang berusaha untuk menemukan nilai wajar," kata Carl Larry dari Frost & Sullivan.
Meskipun persediaan minyak mentah berada di tingkat tertinggi pada catatan, dan kenaikan ini lebih besar dari perkiraan para analis, kenaikan itu hanya setengah dari jumlah yang diumumkan Rabu oleh American Petroleum Institute dalam laporan mingguannya.
Laporan DoE ditunda sehari menjadi Kamis karena libur publik pada Senin.
Harga minyak mentah telah kehilangan sekitar 50% sejak Juni karena kelebihan pasokan di pasar dunia, ekonomi global yang lemah dan dolar yang kuat.
Sementara harga telah meningkat dari posisi terendah mereka dalam beberapa pekan terakhir di tengah berita bahwa jumlah rig minyak AS dalam operasi telah jatuh, serta raksasa energi memotong kembali investasi mereka, pengamat pasar mengatakan fluktuasi kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa waktu.
"Suatu hal yang menarik adalah produksi AS pada rekor tertinggi pada basis minggu-ke-minggu, meskipun faktanya kita sudah meletakkan banyak rig dan memotong banyak biaya," kata Larry.
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1849
JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (USD) tetap berpeluang berkibar, meski Bank Sentral AS alias The Federal Reserve (The Fed) meredam wacana menaikkan suku bunga pada Juni mendatang.
Data Bloomberg, Kamis (19/2) pukul 16.30 WIB menunjukkan, The Greenback bergerak bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama dunia lain. Dollar AS menguat 0,64% terhadap dollar Aussie (AUD) ke level 0,7761.
Dollar AS juga menguat tipis 0,04% melawan yen Jepang (JPY) ke posisi 118,84. Namun, dollar AS tertekan sebanyak 0,11% terhadap euro (EUR) menjadi 1,1409.
Pemicu bervariasinya pergerakan dollar AS adalah rapat komite federal (FOMC) yang ternyata meleset dari perkiraan para pelaku pasar. Awalnya, banyak pengamat yakin, bank sentral AS alias The Fed akan memberikan sinyal yang memperkuat rumor kenaikan suku bunga akan dilakukan bulan Juni mendatang. Namun, para pejabat The Fed justru memberikan indikasi kebijakan kenaikan suku bunga acuan mungkin tidak akan dilakukan pada bulan Juni.
Langkah aman yang ditempuh The Fed berdasarkan pada kecemasan terhadap penurunan inflasi dan data upah pekerja yang belum sesuai harapan. Seperti diketahui, producer price index (PPI) AS pada Januari 2015, minus 0,8%, lebih buruk dibanding prediksi minus 0,4%. Ini mengindikasikan daya beli masyarakat melemah.
Meski demikian, Analis Senior PT Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, otot dollar AS masih unggul ketimbang aussie. Secara umum, perekonomian Negeri Paman Sam masih bagus. Bahkan, rencana kenaikan suku bunga di sana masih akan tetap bergulir, sekalipun ditunda.
Apalagi, pelaku pasar memperkirakan, indikator ekonomi yang akan diumumkan AS pada akhir pekan ini, bakal membaik. Pengangguran mingguan diprediksi sekitar 293.000 klaim, turun dibandingkan pekan sebelumnya mencapai 304.000 klaim.
Kondisi sebaliknya justru terjadi di Australia. Sebagian indikator ekonominya malah memburuk. Tingkat pengangguran Australia bulan Januari meningkat menjadi 6,4%, dibandingkan bulan sebelumnya, di angka 6,1%. Australia juga "kehilangan" 12.200 lapangan kerja pada bulan pertama tahun ini.
AUD dalam tekanan karena Bank Sentral Australia (RBA) membuka kemungkinan menurunkan lagi suku bunga. "Tapi, secara teknikal, pairing AUD/USD masih berpeluang menguat meski hanya jangka pendek," prediksi Albertus.
Analis PT Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar memperkirakan, pasangan USD/JPY masih bergerak positif. Yen relatif tak memiliki katalis kuat untuk naik. Bank Sentral Jepang (BoJ) memilih mempertahankan kebijakan berupa pelonggaran moneter demi menggenjot perekonomian. "Indikator teknikal juga memperkuat peluang bullish pasangan USD/JPY," kata Deddy.
Adapun, pasangan EUR/USD diperkirakan bergerak di kisaran terbatas alias sideways hingga akhir pekan ini. Chief Invesment Strategic PT Astronacci International, Gema Goeyardi mengatakan, belum ada katalis signifikan yang bisa mempengaruhi kedua mata uang ini.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2229
INDRAMAYU (Pos Kota) – Tol Cikapali (Cikampek-Palimanan) di wilayah Kabupaten Indramayu sepanjang 17,6 Km menjelang arus mudik Lebaran direncanakan bisa dilalui kendaraan pemudik.
Kadishubkominfo Indramayu Ir.Joko Hartawan dihubungi Pos Kota, Rabu (18/2) mengemukakan, pada April 2015 salah satu dari dua jalur tol Cikapali di wilayah Indramayu itu sudah bisa dilalui kendaraan arah Cikampek-Palimanan.
Jalan tol Cikapali secara keseluruhan bisa dilalui kendaraan pada Juni 2015. Artinya kendaraan pemudik Lebaran sudah bisa melalui tol Cikapali. Tol Cikapali diharapkan mengurangi volume kendaraan di Jalur Pantura.Sebagaimana dimaklumi, setiap menjelang Lebaran, volume kendaraan di Pantura meningkat, sehingga kerap macet. Tol Cikapali diharapkan mengurangi kemacetan.
Seorang pengguna jalan Yusuf, 53 mengemukakan, pengguna jalan menyambut positif dibukanya tol Cikapali karena selama ini bosan hadapi kemacetan di Jalur Pantura. “Jalan tol itu kan solusi atasi macet,†katanya.
(taryani/sir)
Narasumber : poskotanews.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2055
Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia rebound pada Rabu (18/2/2015) seiring kabar gelombang kering yang akan menyelimuti Semenanjung Malaysia dalam beberapa pekan ke depan.
Kontrak CPO untuk April 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, dibuka naik 0,17% ke harga 2.294 ringgit atau Rp8,17 juta per ton. Kontrak kemudian menguat 0,61% ke 2.304 ringgit atau Rp8,20 juta per ton pada pukul 09.52 WIB.
Komoditas tersebut bergerak pada kisaran 2.292—2.305 ringgit per ton pada awal perdagangan hari ini.
Kontrak CPO untuk Mei 2014 bergerak naik 0,70% ke 2.302 ringgit atau Rp8,20 juta per ton pada pukul 10.05 WIB setelah dibuka naik ke 2.290 ringgit per ton.
Bloomberg pagi ini melaporkan curah hujan di Malaysia dalam beberapa bulan terakhir merosot dari rata-rata 30 tahun. Curah hujan rendah tersebut diperkirakan mengganggu pertumbuhan kelapa sawit di kebun yang berlokasi di Semenanjung Malaysia.
Pergerakan Harga Kontrak CPO April 2015
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
18/2/2015 |
2.306 |
+0,70% |
|
17/2/2015 |
2.290 |
-1,04% |
|
16/2/2015 |
2.314 |
+1,27% |
|
13/2/2015 |
2.285 |
-0,39% |
|
12/2/2015 |
2.290 |
+0,53% |
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com

















Semua Berita