- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2274
JAKARTA. Masa waktu pembahasan Memorandum of understanding (MoU) amandemen kontrak PT Newmont Nusa Tenggara akan segera berakhir pada Selasa, 3 Maret 2015.
Sempitnya waktu yang tersisa untuk menghasilkan draf kontrak karya (KK) perubahan membuat pemerintah dan perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat tersebut sepakan untuk memperpanjang jangka waktu MoU amandemen kontrak.
Hal tersebut diungkapkan Martiono Hadianto, Presiden Direktur Newmont Nusa Tenggara usai menggelar pertemuan dengan R Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, pada Jumat (27/2) akhir pekan lalu.
"Nanti sebelum tanggal 3 Maret, kami akan buat kesepakatan untuk memperpanjang MoU," kata Martiono. Namun, ia enggan menjelaskan jangka waktu perpanjangan MoU amandemen kontrak tersebut.
Asal tahu saja, pada 3 September silam, Kementerian ESDM dan Newmont menggelar penandatangan MoU amandemen kontrak. Kedua pihak sepakat untuk merevisi KK Newmont terkait enam poin yang diamanatkan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara.
Jangka waktu nota kesepahaman tersebut berlaku selama enam bulan sejak ditandatanangi atau habis pada Selasa (3/3) depan untuk ditingkatkan tahapannya menjadi amandemen KK.
Adapun beberapa poin yang disepakati dalam MoU amandemen kontrak Newmont di antaranya kenaikan tarif royalti emas, perak, dan tembaga menjadi 3,75%, 3,25% dan 4%, pengurangan luas wilayah menjadi 66.422 hektare.
Perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat itu juga bersedia mendepositokan jaminan kesungguhan senilai US$ 25 juta. Jaminan tersebut sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk melakukan kegiatan pemurnian di dalam negeri sebelum 2017 mendatang.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2121
JAKARTA. Harga minyak diproyeksikan masih dalam tren bearish meski kemarin sempat naik lumayan. Belum ada faktor fundamental baru yang signifikan menyebabkan harga minyak sulit naik secara konsisten. Berdasarkan data Bloomberg, pada Jumat (27/2) pukul 16:25 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April di New York Mercantile Exchange (NYMEX) memang menguat 1,97% dibandingkan sehari sebelumnya menjadi US$ 49,12 per barel. Harga minyak mentah kemarin meningkat setelah sehari sebelumnya sempat terkoreksi ke level US$ 48,17 per barel.
"Pasar juga mungkin sedang melakukan penyesuaian yang memang biasa terjadi di akhir bulan seperti sekarang," kata Tonny Mariano, analis Harvest International Futures, kepada KONTAN, kemarin.
Namun, rebound harga minyak tidak dapat dijadikan tolok ukur bahwa harga komoditas energi tersebut akan terus bergerak naik. Harga komoditas, kata Tonny, justru masih dalam tekanan lantaran para eksportir minyak terutama yang tergabung dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) tidak mengambil tindakan nyata untuk menstabilkan harga minyak. OPEC bahkan tetap bersikukuh mempertahankan kuota produksi sebanyak 30 juta barel minyak per hari.
Suluh Adil Wicaksono, analis Millenium Penata Futures, menyatakan, kebijakan produksi OPEC ini menjadi kunci yang bisa membuat tren bearish harga minyak berakhir. "Kalau OPEC mau memangkas kuota produksinya, harga minyak kemungkinan besar bakal naik lagi," ungkap Suluh.
Tren bearish minyak ini sebenarnya merugikan banyak pengekspor minyak. Banyak perusahaan minyak, terutama yang berbasis di Amerika Serikat (AS), mulai memangkas jumlah tenaga kerjanya. Toh, harga minyak tentu akan tetap rendah apabila OPEC selaku kumpulan eksportir terbesar minyak di dunia tak mau menurunkan kuota produksinya.
Suluh bilang, dari sisi permintaan memang agak susah diharapkan untuk melonjak pada tahun ini lantaran perekonomian global melambat. Sejak awal tahun kemarin, Bank Dunia sudah memangkas estimasi pertumbuhan ekonomi global sepanjang 2015 menjadi 3%.
Pangkas target
Padahal, sebelumnya, Bank Dunia optimistis akan kondisi pasar dan memproyeksikan perekonomian global tumbuh 3,4% sepanjang 2015. Bank Dunia juga sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 untuk China, dari sebelumnya 7,2% menjadi 7%.
Tidak lama setelah itu, Dana Moneter International (IMF) turut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global selama 2015 menjadi 3,5%. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 yang ditetapkan IMF pada Oktober 2014 sebesar 3,8%. Di waktu bersamaan, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari 7,1% menjadi 6,8% di tahun ini.
Ketimpangan antara pasokan dan permintaan inilah yang membuat harga minyak sulit beranjak naik. Dengan beberapa faktor itu, kedua analis memprediksi harga minyak cenderung terkoreksi di awal pekan depan.
Prediksi ini diperkuat beberapa indikator teknikal yang memancarkan sinyal koreksi. Suluh bilang, harga minyak saat ini masih di bawah moving average (MA) 50. Indikator stochastic memperkuat peluang koreksi lantaran berada di posisi 38.
Sementara, relative strength index (RSI) di area netral 48. Suluh memprediksi, harga minyak di awal pekan depan turun di support US$ 46,45-US$ 47,80 dan resistance US$ 50-US$ 52,10 per barel AS. Adapun, Tonny memprediksi, harga minyak turun di rentang US$ 48-US$ 50 per barel.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1940
JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) melemah setelah komentar bernada negatif (dovish) dari Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Janet Yellen. Dalam testimoninya, Yellen memberi sinyal waktu yang fleksibel untuk menaikkan suku bunga.
Mengutip Bloomberg, Rabu (25/2) pukul 17.10 WIB, pasangan EUR/USD naik 0,25% dibandingkan dengan hari sebelumnya ke 1,1368. AUD/USD naik 0,68% menjadi 0,7884. Sementara USD/JPY turun 0,18% ke 118,7600.
Dalam testimoninya di hadapan Senate Banking Committee kemarin, Yellen mengatakan bahwa inflasi dan pertumbuhan upah masih sangat rendah meskipun pasar tenaga kerja membaik.
Dus, kenaikan suku bunga The Fed tidak terpaku pada waktu tertentu. Yellen juga memberi sinyal The Fed akan menjaga suku bunga rendah setidaknya hingga beberapa pertemuan mendatang.
Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, testimoni Yellen cenderung dovish untuk meredam rumor kenaikan suku bunga The Fed terjadi Juni nanti. Ini membuat dollar AS tertekan, termasuk terhadap euro.
Namun, investor perlu mencermati langkah bank sentral Eropa (ECB) yang mulai menggelontorkan stimulus ekonomi sebesar € 80 miliar pada Maret mendatang. "Stimulus biasanya akan melemahkan mata uang bersangkutan," kata Faisyal.
Senada, analis PT Esandar Arthamas Berjangka Tonny Mariano menjelaskan, AUD/USD bergerak naik akibat testimoni Yellen, kemarin. Ini memberikan peluang bagi pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking). Tapi, dollar akan kembali menguat karena prospek kenaikan suku bunga masih terbuka pada tahun ini.
Di sisi lain, sambung Tonny, dollar Australia menguat karena tertopang data manufaktur PMI China Februari membukukan angka 50,1. Ini menunjukkan, ada ekspansi ekonomi di China.
Angka ini lebih besar dibandingkan dengan estimasi sebesar 49,6. China merupakan mitra dagang utama Australia.
Analis PT SoeGee Futures Nizar Hilmy menilai, USD/JPY tidak menunjukkan pergerakan berarti. Pernyataan Yellen soal kenaikan bunga menggerus nilai tukar dollar AS.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2059
NEW YORK. Harga minyak global "rebound" (berbalik naik) tajam pada Rabu (Kamis pagi WIB), setelah laporan persediaan minyak AS bervariasi meninggalkan para pedagang fokus pada elemen-elemen positif untuk permintaan, penurunan stok bensin dan hasil sulingan.
Kontrak acuan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, melonjak 1,71 dollar AS menjadi ditutup pada 50,99 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman April, kontrak acuan global, menetap di 61,63 dollar AS per barel, naik 2,97 dollar AS dari penutupan Selasa.
Departemen Energi pemerintah AS (DoE), Rabu, mengatakan bahwa persediaan minyak mentah naik 8,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Februari ke rekor 434,1 juta barel, lebih dari dua kali lipat peningkatan yang diharapkan.
Namun, DoE juga melaporkan bahwa timbunan sulingan, yang termasuk minyak diesel dan bahan bakar pemanas, meluncur turun 2,7 juta barel, sedangkan cadangan bensin merosot 3,1 juta.
"Reli ... didorong oleh berita bahwa kedua stok bensin dan distilasi (hasil sulingan) mengalami penurunan tajam pekan lalu," kata analis Forex.com Fawad Razaqzada.
Persediaan jatuh dapat menunjukkan penguatan permintaan di konsumen minyak mentah terbesar dunia itu.
Untuk Gene McGillian dari Tradition Energy, "penarikan dalam produk-produk dan bensin menunjukkan penurunan yang telah kita lihat dalam harga minyak mentah mulai diterjemahkan ke dalam peningkatan permintaan, dan saya pikir itu sebabnya pasar menguat." Harga minyak mentah telah kehilangan sekitar setengah dari nilai mereka sejak Juni tahun lalu.
"Minyak mentah Brent mendapat dukungan moderat dari pembicaraan penguatan permintaan ketika data PMI pendahuluan Tiongkok melengkapi komentar dari Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi mengutip pergeseran konstruktif ke pasar minyak yang lebih tenang didukung oleh pertumbuhan konsumsi," kata Tim Evans dari Citi Futures.
Brent juga menarik dukungan dari laporan bahwa ladang minyak Sarir Libya, yang menghasilkan 185.000 barel per hari, ditutup karena tidak mendapat pasokan listrik, kata dia.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1971
JAKARTA. Sepanjang 2014, kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melambat. Pendapatan ITMG menyusut 11% year-on-year (yoy) menjadi US$ 1,94 miliar.
Penurunan pendapatan itu diikuti melemahnya laba bersih ITMG. Pada tahun lalu, produsen batubara itu meraih laba bersih US$ 200,21 juta, menurun 13% ketimbang laba bersih tahun sebelumnya.
Analis Panin Sekuritas Fajar Indra, dalam riset pada 23 Februari 2015, menyebutkan, kinerja ITMG di 2014 sejalan dengan ekspetasinya. "Volume penjualan ITMG cenderung flat pada level 29,1 juta ton," tulis dia. Bahkan, Fajar memperkirakan, volume penjualan bakal sulit untuk tumbuh di masa mendatang.
Andre Varian, analis Ciptadana Sekuritas, berpendapat, kinerja ITMG pada tahun lalu menurun lantaran harga jual rata-rata batubara turun menjadi US$ 62,6 per ton pada kuartal keempat tahun lalu, dibandingkan kuartal sebelumnya, US$ 67,1 per ton. Namun, penurunan itu diiringi menyusutnya biaya produksi ke US$ 56,5 per ton di 2014.
Dari sisi produksi batubara, saat ini ITMG lebih mengandalkan tambang Indominco untuk mengimbangi produksi di Trubaindo dan Td Mayang. Selama tahun lalu, Indominco berkontribusi 53% terhadap total produksi ITMG. Jumlah itu naik dari 2013 yang menyumbang 51% produksi.
Andre memprediksi, produksi ITMG tahun ini stagnan di kisaran 29 juta ton. Hal itu lantaran rasio kupas diprediksi lebih rendah.
Tantangan berat
Tahun ini, ITMG ingin penurunan rasio kupas menjadi di bawah 9,0 kali. Fajar berpendapat, hal itu demi efisiensi. Tapi, menurut dia, kebijakan itu akan mengurangi cadangan batubara yang ekonomis ke depannya. "Kami memperkirakan, penurunan rasio kupas bisa menghemat biaya kas perusahaan hingga US$ 2 per ton," papar Fajar.
Andre bilang, tahun ini masih berat bagi produsen batubara. Sebab, harga jual komoditas energi itu belum membaik. "Kelebihan pasokan dan penurunan pertumbuhan permintaan dari China dan Eropa menyebabkan harga batubara sulit naik," kata dia.
Di saat yang sama, tren harga minyak mentah di pasar dunia masih rendah. Kondisi ini menambah sentimen negatif bagi prospek harga batubara. Andre memperkirakan, tren penurunan bisnis batubara pada tahun lalu bakal berlanjut di tahun ini. "Kuartal I-2015 akan turun signifikan," ungkap Andre.
Dia menduga, pendapatan ITMG pada tahun ini turun 5,67% (yoy) menjadi US$ 1,83 miliar. Sedangkan, laba bersihnya menyusut 21% (yoy) menjadi US$ 158 juta.
Analis Danareksa Sekuritas Steffanus Darmagiri memproyeksikan pendapatan ITMG di tahun ini US$ 1,78 miliar dan laba bersih US$ 152 juta.
Andre merekomendasikan sell ITMG di target harga wajar Rp 16.500 per saham, Fajar merekomendasikan neutral di harga Rp 18.200, sedang Steffanus merekomendasikan hold dengan target Rp 18.500. Penutupan bursa kemarin, harga ITMG tetap di posisi Rp 16.700 per saham.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita