- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1973
JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) melemah setelah komentar bernada negatif (dovish) dari Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Janet Yellen. Dalam testimoninya, Yellen memberi sinyal waktu yang fleksibel untuk menaikkan suku bunga.
Mengutip Bloomberg, Rabu (25/2) pukul 17.10 WIB, pasangan EUR/USD naik 0,25% dibandingkan dengan hari sebelumnya ke 1,1368. AUD/USD naik 0,68% menjadi 0,7884. Sementara USD/JPY turun 0,18% ke 118,7600.
Dalam testimoninya di hadapan Senate Banking Committee kemarin, Yellen mengatakan bahwa inflasi dan pertumbuhan upah masih sangat rendah meskipun pasar tenaga kerja membaik.
Dus, kenaikan suku bunga The Fed tidak terpaku pada waktu tertentu. Yellen juga memberi sinyal The Fed akan menjaga suku bunga rendah setidaknya hingga beberapa pertemuan mendatang.
Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, testimoni Yellen cenderung dovish untuk meredam rumor kenaikan suku bunga The Fed terjadi Juni nanti. Ini membuat dollar AS tertekan, termasuk terhadap euro.
Namun, investor perlu mencermati langkah bank sentral Eropa (ECB) yang mulai menggelontorkan stimulus ekonomi sebesar € 80 miliar pada Maret mendatang. "Stimulus biasanya akan melemahkan mata uang bersangkutan," kata Faisyal.
Senada, analis PT Esandar Arthamas Berjangka Tonny Mariano menjelaskan, AUD/USD bergerak naik akibat testimoni Yellen, kemarin. Ini memberikan peluang bagi pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking). Tapi, dollar akan kembali menguat karena prospek kenaikan suku bunga masih terbuka pada tahun ini.
Di sisi lain, sambung Tonny, dollar Australia menguat karena tertopang data manufaktur PMI China Februari membukukan angka 50,1. Ini menunjukkan, ada ekspansi ekonomi di China.
Angka ini lebih besar dibandingkan dengan estimasi sebesar 49,6. China merupakan mitra dagang utama Australia.
Analis PT SoeGee Futures Nizar Hilmy menilai, USD/JPY tidak menunjukkan pergerakan berarti. Pernyataan Yellen soal kenaikan bunga menggerus nilai tukar dollar AS.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2091
NEW YORK. Harga minyak global "rebound" (berbalik naik) tajam pada Rabu (Kamis pagi WIB), setelah laporan persediaan minyak AS bervariasi meninggalkan para pedagang fokus pada elemen-elemen positif untuk permintaan, penurunan stok bensin dan hasil sulingan.
Kontrak acuan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, melonjak 1,71 dollar AS menjadi ditutup pada 50,99 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman April, kontrak acuan global, menetap di 61,63 dollar AS per barel, naik 2,97 dollar AS dari penutupan Selasa.
Departemen Energi pemerintah AS (DoE), Rabu, mengatakan bahwa persediaan minyak mentah naik 8,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Februari ke rekor 434,1 juta barel, lebih dari dua kali lipat peningkatan yang diharapkan.
Namun, DoE juga melaporkan bahwa timbunan sulingan, yang termasuk minyak diesel dan bahan bakar pemanas, meluncur turun 2,7 juta barel, sedangkan cadangan bensin merosot 3,1 juta.
"Reli ... didorong oleh berita bahwa kedua stok bensin dan distilasi (hasil sulingan) mengalami penurunan tajam pekan lalu," kata analis Forex.com Fawad Razaqzada.
Persediaan jatuh dapat menunjukkan penguatan permintaan di konsumen minyak mentah terbesar dunia itu.
Untuk Gene McGillian dari Tradition Energy, "penarikan dalam produk-produk dan bensin menunjukkan penurunan yang telah kita lihat dalam harga minyak mentah mulai diterjemahkan ke dalam peningkatan permintaan, dan saya pikir itu sebabnya pasar menguat." Harga minyak mentah telah kehilangan sekitar setengah dari nilai mereka sejak Juni tahun lalu.
"Minyak mentah Brent mendapat dukungan moderat dari pembicaraan penguatan permintaan ketika data PMI pendahuluan Tiongkok melengkapi komentar dari Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi mengutip pergeseran konstruktif ke pasar minyak yang lebih tenang didukung oleh pertumbuhan konsumsi," kata Tim Evans dari Citi Futures.
Brent juga menarik dukungan dari laporan bahwa ladang minyak Sarir Libya, yang menghasilkan 185.000 barel per hari, ditutup karena tidak mendapat pasokan listrik, kata dia.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2001
JAKARTA. Sepanjang 2014, kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melambat. Pendapatan ITMG menyusut 11% year-on-year (yoy) menjadi US$ 1,94 miliar.
Penurunan pendapatan itu diikuti melemahnya laba bersih ITMG. Pada tahun lalu, produsen batubara itu meraih laba bersih US$ 200,21 juta, menurun 13% ketimbang laba bersih tahun sebelumnya.
Analis Panin Sekuritas Fajar Indra, dalam riset pada 23 Februari 2015, menyebutkan, kinerja ITMG di 2014 sejalan dengan ekspetasinya. "Volume penjualan ITMG cenderung flat pada level 29,1 juta ton," tulis dia. Bahkan, Fajar memperkirakan, volume penjualan bakal sulit untuk tumbuh di masa mendatang.
Andre Varian, analis Ciptadana Sekuritas, berpendapat, kinerja ITMG pada tahun lalu menurun lantaran harga jual rata-rata batubara turun menjadi US$ 62,6 per ton pada kuartal keempat tahun lalu, dibandingkan kuartal sebelumnya, US$ 67,1 per ton. Namun, penurunan itu diiringi menyusutnya biaya produksi ke US$ 56,5 per ton di 2014.
Dari sisi produksi batubara, saat ini ITMG lebih mengandalkan tambang Indominco untuk mengimbangi produksi di Trubaindo dan Td Mayang. Selama tahun lalu, Indominco berkontribusi 53% terhadap total produksi ITMG. Jumlah itu naik dari 2013 yang menyumbang 51% produksi.
Andre memprediksi, produksi ITMG tahun ini stagnan di kisaran 29 juta ton. Hal itu lantaran rasio kupas diprediksi lebih rendah.
Tantangan berat
Tahun ini, ITMG ingin penurunan rasio kupas menjadi di bawah 9,0 kali. Fajar berpendapat, hal itu demi efisiensi. Tapi, menurut dia, kebijakan itu akan mengurangi cadangan batubara yang ekonomis ke depannya. "Kami memperkirakan, penurunan rasio kupas bisa menghemat biaya kas perusahaan hingga US$ 2 per ton," papar Fajar.
Andre bilang, tahun ini masih berat bagi produsen batubara. Sebab, harga jual komoditas energi itu belum membaik. "Kelebihan pasokan dan penurunan pertumbuhan permintaan dari China dan Eropa menyebabkan harga batubara sulit naik," kata dia.
Di saat yang sama, tren harga minyak mentah di pasar dunia masih rendah. Kondisi ini menambah sentimen negatif bagi prospek harga batubara. Andre memperkirakan, tren penurunan bisnis batubara pada tahun lalu bakal berlanjut di tahun ini. "Kuartal I-2015 akan turun signifikan," ungkap Andre.
Dia menduga, pendapatan ITMG pada tahun ini turun 5,67% (yoy) menjadi US$ 1,83 miliar. Sedangkan, laba bersihnya menyusut 21% (yoy) menjadi US$ 158 juta.
Analis Danareksa Sekuritas Steffanus Darmagiri memproyeksikan pendapatan ITMG di tahun ini US$ 1,78 miliar dan laba bersih US$ 152 juta.
Andre merekomendasikan sell ITMG di target harga wajar Rp 16.500 per saham, Fajar merekomendasikan neutral di harga Rp 18.200, sedang Steffanus merekomendasikan hold dengan target Rp 18.500. Penutupan bursa kemarin, harga ITMG tetap di posisi Rp 16.700 per saham.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2153
JAKARTA. Pada tahun 2013, Mercedes-Benz Indonesia mampu mencatatkan penjualan 945 uniit untuk busnya. Sayangnya, di 2014 penjualannya justru mengalami penurunan.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan bus Mercedes-Benz pada 2014 lalu hanya tercatat 462 unit. Itu artinya ada penurunan sekitar 51%.
"Tahun 2013 pasar bus sangat baik. Di 2014 terjadi penurunan dikarenakan oleh banyak hal. Hal itu berpengaruh terhadap bisnis Mercedes-Benz," kata Olaf Peterson, Director of Sales Commercial Vehicle Mercedes-Benz Indonesia, Kamis (26/2).
Diantaranya adalah faktor politik, ekonomi, dan juga sempat terputusnya jembatan Comal yang mengakibatkan distribusi menjadi sulit.
Olaf mengatakan tahun ini pun pihaknya tidak bisa memastikan akan lebih baik ataupun stagnan bahkan menurun untuk penjualan Mercedes-Benz. Olaf bilang konsumen saat ini masih mengamati keadaan dan menunggu.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin di tahun ini, terutama dengan diluncurkannya Bus 2542. Dengan demikian portofolio kami semakin lengkap. Di mana kami memiliki empat tipe bus," ungkap Olaf.
Mercedes-Benz memanfaatkan peluang dari pemerintah. Misalnya saja ada rencana Bus Rapid Transportation (BRT) yang rencananya akan dilakukan besar-besaran. Ini akan berpengaruh pada pasar perpetaan bus di Indonesia.
"jadi kami senantiasa melihat berbagai kesempatan yang dapat kami berikan, agar banyak masyarakat yang bisa menikmati keunggulan dari Mercedes-Benz. Dan tidak hanya di sektor swasta, kalau ini dibutuhkan pemerintah kami akan mendukung," tambah Elvera N. Makki, Deputy Director Corporate Communication dan External Affairs.
Nah, untuk bisa memenuhi permintaan pemerintah, Mercedes Benz sudah menyiapkan model-model yang sesuai kebutuhan. Bus itu sudah diteliti semenjak 4-5 tahun. Khususnya untuk bus yang berbahan bakar gas.
Mercedes-Benz sudah meneliti dan menyesuaikan busnya sesuai dengan karakter yang ada di Indonesia. Misalnya suhu untuk kendaraan disesuaikan. "Tahun ini kami akan keluarkan varian baru, tapi belum bisa diinformasikan," tutup Olaf.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1998
NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia turun pada Selasa (24/2/2015) waktus setempat (Rabu pagi WIB), karena para pedagang memperkirakan laporan utama akan menunjukkan peningkatan pada persediaan minyak mentah AS yang sudah berada pada tingkat rekor, sehingga memperburuk kelebihan pasokan global.
Kontrak acuan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 17 sen, menjadi ditutup pada 49,28 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April, kontrak acuan global, ditutup pada 58,66 dollar AS per barel, turun 24 sen dari tingkat penutupan Senin.
Kedua kontrak berjangka telah turun tajam pada Senin dan Jumat karena para pedagang khawatir tentang melimpahnya pasokan global di tengah pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, dengan tidak ada tanda-tanda pelambatan dalam kenaikkan stok minyak mentah di Amerika Serikat.
Pada Rabu, Departemen Energi AS (DoE) akan menerbitkan laporan mingguan AS tentang stok minyak mentah dan produk-produknya.
"Kami mungkin akan memiliki tumpukan lain dalam persediaan AS yang akan menempatkan tekanan turun pada harga," kata James Williams dari WTRG Economics.
Para ahli yang disurvei oleh Bloomberg News, menyatakan persediaan proyek telah meningkat 3,75 juta barel pada pekan lalu, dari total 425,6 juta barel minggu sebelumnya.
Secara global, pasokan minyak mentah meningkat karena ladang minyak di Libya timur memulai kembali pemompaan ke pelabuhan Hariga setelah jaringan pipanya diperbaiki.
"Kembalinya sebagian pasokan dari Libya membebani harga Brent meskipun keberlanjutannya tak pasti," kata analis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada klien.
Harga minyak mentah telah jatuh lebih dari 50 persen sejak Juni. Harga telah meningkat dari posisi terendah Januari menyusul pelambatan dalam kegiatan pengeboran AS, tetapi para analis mengatakan volatilitas kemungkinan akan berlanjut untuk beberapa waktu.
"Sangat jelas mulai sekarang bahwa pengeboran minyak di AS akan melambat, pertumbuhan produksi global diperkirakan akan lebih rendah, dan permintaan, setidaknya di AS, bereaksi secara positif terhadap harga yang lebih rendah," kata bank Inggris Barclays dalam sebuah laporan.
"Singkatnya, pasar diperkirakan akan tetap kelebihan pasokan untuk sebagian besar tahun 2015, tetapi harapan di luar itu adalah fundamental yang lebih seimbang," tambahnya.
| Editor | : Erlangga Djumena |
| Sumber | : AFP/ANTARA |
Narasumber : kompas.com

















Semua Berita