Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Kamis (9/4) Dinas Perkebunan Provinsi Jambi dan pihak perusahaan kelapa sawit serta asosiasi menetapkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, crude palm oil (CPO).

Untuk harga CPO harga di Jambi mengalami penurunan.

Jika sebelumnya harga rata-ratanya Rp 7.229,09 kini menjadi Rp 7.227,58.

Sama halnya dengan Rata-rata inti sawit dari Rp 5.046,87 menjadi Rp 5.018,14. Namun selisih penurunannya tidak begitu signifikan.


Narasumber : tribunnews.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) berfluktuasi. Indeks Standard & Poor’s 500 turun 0,1% menjadi 2,080.40 pada 10:38 a.m. di New York. Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 22,72 point atau 0,1% menjadi 17.879,79.

Fluktuasi bursa di AS terjadi setelah saham-saham perusahaan energi naik seiring dengan menguatnya harga minyak mentah.Saham Halliburton Co dan Anadarko Petroleum Corp menguat lebih dari 2,1%.

Sementara saham Alcoa Inc turun 4,7%. Saham Altera Corp juga turun 1,6% setelah kesepakatan pembelian saham oleh Intel Corp tidak tercapai."Pasar saat ini sedang menunggu  earnings," kata Jim Paulsen, chief investment strategist di Wells Capital Management.

Sebelumnya S&P 500 menguat pasca rapat FOMC. Bursa AS juga dipengaruhi oleh masih buruknya data ketenagakerjaan di Negeri Paman Sam tersebut.

Tujuh dari 10 grup industri di S&P 500's pada perdagangan hari ini melemah. Sektor saham yang paling melemah adalah keuangan dan industri aneka. Sejumlah saham perusahaan telekomunikasi juga melemah. Sementara itu saham perusahaan energi naik setelah harga minyak menguat 1%.

Editor: Uji Agung Santosa
Sumber: Bloomberg

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Penguatan index USD pasca pertemuan FOMC menekan harga komoditas termasuk aluminium. Ditambah lagi prediksi memburuknya stok aluminium yang tidak diiringi dengan membaiknya permintaan global membuat harga aluminium ambruk.

Mengutip Bloomberg, Kamis (9/4) pukul 10.03 am Shanghai harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange tercatat menukik 0,28% ke level US$ 1.766 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Harga ini juga sudah merosot 0,89% dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan laporan kuartal satu 2015 Alcoa Inc, produksi aluminium global akan berlebih 326.000 metrik ton di tahun 2015. Permintaan aluminium diduga hanya naik 6,5% tahun ini atau menjadi kenaikan terendah sejak 2012 silam.

Sementara di sisi lain, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg Intelligence Kamis (9/4) produksi aluminium China tahun 2014 sudah naik 9,1% . Ekspor nasional China membuat terjadinya kelebihan stok walaupun beberapa smelter aluminium seperti Alcoa dan Co Rusal Inggris sudah melakukan pemangkasan produksi.

“Tidak bisa dilupakan bahwa penguatan index USD setelah FOMC memberikan tekanan terhadap harga aluminium,” kata Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka. Sampai Kamis (9/4) pukul 14.50 WIB index USD naik ke level 98,30.

Notulensi FOMC membentuk opini pasar bahwa kenaikan suku bunga AS masih bisa terjadi di tahun ini. Hal ini terlihat dari tidak digunakannya kata sabar dalam pernyataan tersebut. Walaupun beberapa pejabat The Fed masih memiliki persepsi berbeda mengenai waktu yang pas untuk menaikkan suku bunga tersebut.

“Pelaku pasar kembali fokus pada index USD. Perlu diingat juga peluang index USD untuk kembali naik ke level 100 di bulan April ini masih terbuka,” jelas Ibrahim.

Faktor lainnya yang menyeret langkah aluminium adalah perlambatan properti yang terjadi di China. “Perlu diingat bulan Februari 2015 terjadi perlambatan 60% dalam transaksi properti China,” kata Ibrahim. Sebagai salah satu bahan utama industri properti, maka tidak mengherankan kalau harga aluminium masih sulit pulih.

Apalagi Menteri Tanah dan Sumber Daya China telah memerintahkan beberapa kota dan kabupaten untuk menunda dan mengurangi pasokan lahan baru. Berdasarkan publikasi kementerian China seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (27/3) bahwa kebijakan ini dilakukan guna mengontrol fase konstruksi pembangunan rumah baru yang sudah kelebihan stok diChina.

Ibrahim menduga penurunan ini masih akan berlanjut pada Jumat (10/4). Walaupun rilis data ekonomi AS diprediksi kurang memuaskan, namun faktor keadaan ekonomi global jelas lebih berpengaruh.

“Saat ini terjadi tarik ulur antara The Fed dan bank sentral negara lainnya seperti ECB, BOJ, dan China,” papar Ibrahim. Sementara bank sentral lainnya sedang berupaya melonggarkan stimulus untuk mendongkrak perekonomian, The Fed justru berpeluang melakukan pengetatan kebijakan moneter.

Efeknya, terjadi penyerapan USD yang tinggi di pasar oleh negara-negara yang membeli obligasi. Dollar AS kembali menjadi incaran dan tentunya ini mendorong penguatan USD.

Tentu keadaan ini membuat tidak ada peluang bagi harga komoditas termasuk aluminium untuk menguat. “Walaupun mungkin pelemahan yang terjadi tipis karena laju index USD tertahan jika data buruk sesuai prediksi,” ujar Ibrahim.

Adapun data ekonomi yang dinanti adalah rilis jobless claim mingguan AS yang kembali diduga mengalami pembengkakan dari 268 ribu menjadi 283 ribu.

Secara teknikal, indikator moving average (MA) dan bollinger band bergerak 70% di atas bollinger bawah yang artinya memberikan peluang untuk turun lanjutan meski tipis. Garis moving average convergence divergence (MACD) juga 60% negatif yang mengindikasikan pergerakan ke bawah. Stochastic 70% negatif mengajak turun tajam. Hanya relative strength index (RSI) yang masih wait and see.

“Jumat (10/4) harga aluminium bisa bergulir di antara US$ 1.700 – US$ 1.722 per metrik ton,” prediksi Ibrahim. Sedangkan untuk sepekan mendatang harga aluminium diduga bergulir di kisaran support US$ 1.670 per metrik ton dan resistance US$ 1.725 per metrik ton. - NAMIRA DAUFINA

Editor: Hendra Gunawan

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan awal pekan ini. Penguatan ini dipicu ekspektasi bank sentral AS (Federal Reserve) yang kemungkinan menunda lebih lama lagi untuk menaikkan suku bunga menyusul loyonya laporan data pekerjaan negeri paman sam tersebut.

Dow Jones Industrial Average naik 117,61 poin atau 0,66% ke 17.880,85. Indeks S7P 500 ditutup naik 13,66 poin atau 0,66% ke 2.080,62, dan Nasdaq Composite menguat 30,38 poin atau 0,62% ke 4.917,32.

Asal tahu saja, laporan data nonfarm payrolls menunjukkan penambahan tenaga kerja AS di luar sektor pertanian AS hanya 126.000 orang, lebih rendah dari estimasi 246.000 orang. Ini merupakan penambahan tenaga kerja terendah sejak Desember 2013.

"Akhir pekan lalu memungkinkan para pelaku pasar untuk melihat sisi positif dari yang lemah data pekerjaan. Di mana memungkinkan suku bunga tidak akan meningkat dengan sangat cepat,” kata Rick Meckler, president of investment firm LibertyView Capital Management.

Sebelumnya, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade pada tahun ini jika ekonomi, khususnya pasar tenaga kerja, terus membaik.

Data ekonomi yang loyo juga mengurangi kekhawatiran bahwa dollar AS akan terus menguat. "Sejauh ini data yang terus menunjukkan perekonomian masih lemah, tidak kuat," kata Adam Sarhan, CEO Sarhan Capital di New York.

Penguatan bursa AS juga dipicu pernyataan New York Fed President William Dudley yang menuturkan bank sentral perlu menilai apakah laporan pekerjaan yang loyo sebagai pertanda perlambatan ekonomi yang lebih besar di pasar tenaga kerja. Dudley menambahkan langkah untuk menaikkan suku bunga relatif dangkal.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga minyak dunia melesat lebih tinggi pada Senin (Selasa pagi WIB), karena investor meragukan kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia pekan lalu akan segera meningkatkan pasokan minyak mentah.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, naik tiga dollar AS menjadi ditutup pada 52,14 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei, bertambah 3,17 dollar AS menjadi menetap di 58,12 dollar AS per barel di London.

Harga minyak telah jatuh pada Kamis lalu di tengah berita kesepakatan awal antara Iran dan kekuatan internasional yang membuka jalan bagi Teheran untuk mengurangi kegiatan nuklirnya dalam pertukaran untuk keringanan hukuman sanksi ekonomi, termasuk pada investasi minyak.

Tetapi pada Senin, para pedagang menyimpulkan perjanjian itu dalam waktu dekat tidak akan memiliki dampak terhadap pasokan minyak mentah.

"Ada kesadaran bahwa minyak Iran tidak akan mengalir ke pasar dunia dalam waktu dekat," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.

Phil Flynn, seorang analis Price Futures Group, mengatakan masih ada banyak rintangan sampai sanksi-sanksi terhadap Iran dicabut. Langkah tersebut akan memerlukan negosiasi tambahan dengan Iran, serta izin dari pengawas senjata internasional dan semacam resolusi di DPR AS, di mana Partai Republik telah menolak keras perjanjian tersebut.

"Mungkin satu tahun di awal bahwa kita akan melihat bahwa minyak mentah Iran melanda pasar dan pada saat itu kelebihan pasokan minyak akan berkurang," kata Flynn.

Kesepakatan Iran adalah "judul bearish untuk harga minyak," kata sebuah catatan Morgan Stanley. "Namun demikian, penyelesaian rincian pada Juni akan sulit. Sekalipun sukses, sedikit minyak diperkirakan pada akhir tahun." Para analis mengatakan pasar minyak juga mendapat dukungan dari berita bahwa Arab Saudi menaikkan harga pengiriman minyak mentah ke Asia.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: AFP


Narasumber: kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita