- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2062
SINGAPURA. Harga minyak AS bergerak naik pada transaksi pagi ini (14/4). Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, harga minyak WTI naik 24 sen menjadi US$ 52,15 per pukul 08.38 waktu Singapura.
Sedangkan harga minyak jenis Brent naik 26 sen menjadi US$ 58,19 sebarel.
Kenaikan harga si emas hitam disebabkan oleh rasa cemas pelaku pasar mengenai program nuklir Iran dan ketegangan di Timur Tengah. Sekadar informasi, Iran mendesak pembentukan pemerintah Yaman yang baru pada hari Senin dan menawarkan untuk membantu dalam transisi politik.
Pernyataan ini akan memicu kemarahan Arab Saudi, yang mendukung Presiden Yaman melawan kekuatan pemberontak yang bersekutu dengan Iran.
Di sisi lain, stok cadangan minyak masih akan terus menggunung. Berdasarkan hasil polling Reuters, stock cadangan minyak komersil AS naik 3,7 juta barel pada pekan lalu. Dengan demikian, kenaikan cadangan minyak sudah berlangsung selama 14 pekan berturut-turut.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2141
Barat terkait pengembangan nuklir yang belum sepenuhnya tercapai. Embargo Iran yang belum dicabut menyebabkan kekhawatiran pasar atas banjir pasokan minyak dari Iran mereda.
Mengutip Bloomberg Jumat (10/4), harga minyak WTI kontrak pengiriman Mei 2015 di New York Merchantile Exchange naik 1,67% ke US$ 51,64 per barel. Harga ini sudah melesat 5,09% dalam sepekan terakhir. Kenaikan harga mingguan ini merupakan yang tertinggi sejak Februari 2014 silam.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei akhir pekan lalu menyatakan, sanksi terhadap Iran harus segera dilepaskan begitu perjanjian ditandatangani. Hal ini bertentangan dengan keterangan kesepakatan yang disampaikan oleh Amerika Serikat (AS) dan Prancis.
Eugen Weinberg, Kepala Riset Komoditas Commerzbank AG, di Frankfurt mengatakan, jika pencabutan sanksi merupakan syarat dari Iran untuk perjanjian nuklir, maka kemungkinan tidak akan ada kesepakatan yang dicapai.
Nizar Hilmy, analis SoeGee Futures, menyatakan bahwa sengketa yang terjadi dapat memberikan ruang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek. Selama ini pasar khawatir, jika dicapai kesepakatan, pasar global bakal kembali kebanjiran pasokan minyak dari Iran.
Barclays Plc dan Societe Generale SA memprediksi, saat ini Iran mungkin sudah menimbun stok minyak sekitar 7 juta hingga 35 juta barel. "Iran akan menambah pasokan minyak sekitar 1 juta barel per hari," papar Nizar.
Pasokan berlimpah
Namun Nizar kembali mengingatkan, kenaikan harga minyak ini hanya sementara. Secara fundamental belum terjadi perubahan. Tanpa tambahan minyak Iran pun, stok minyak global memang sudah berlebih. "Senin (13/4) harga minyak akan kembali tergelincir," duga Nizar.
Apalagi, pada penutupan akhir pekan lalu, Jumat (10/4) indeks USD kembali naik 0,18% ke 99,33. Ia menilai, kenaikan harga minyak bisa bertahan lama jika indeks USD turun atau stok berkurang drastis.
Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menambahkan, tekanan harga minyak masih cukup besar karena AS dan Arab Saudi terus menggenjot produksi.
Data Energy Information Adminitration (EIA) Rabu (8/4) menunjukkan, stok minyak AS bertambah 10,9 juta barel. Padahal pasar memprediksi, turun 3,3 juta barel karena beberapa rig minyak AS turun terdalam sejak Desember 2010.
Stok minyak Arab Saudi pada Maret 2015 juga naik 10,3 juta barel atau naik 700.000 barel sejak 2002. Secara teknikal, Nizar menuturkan harga minyak bergerak di atas moving average (MA) 25. Namun harga sudah mendekati MA 10, artinya ada kemungkinan turun.
Garis MACD berada di area positif. RSI di level 14 sudah menunjukkan penurunan. Stochastic di level 14,33 membentuk pola deadcross dengan potensi bearish. "Harga minyak Senin (13/4) bergerak di antara US$ 50 hingga US$ 52 per barel," prediksi Nizar.
Sepekan mendatang, Nizar memperkirakan minyak bergerak antara US$ 46-US$ 51 per barel. Prediksi Putu, harga minyak bergerak US$ 47,50-US$ 53,80 per barel.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1999
JAKARTA. Harga nikel berhasil menguat di akhir pekan kemarin. Namun, jalan pendakian harga nikel tampaknya akan menemui banyak rintangan.
Data Bloomberg Jumat (10/4) memperlihatkan, harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) senilai US$ 12.625 per metrik ton atau menguat 0,8% dibandingkan dengan hari sebelumnya. Namun, dalam sepekan terakhir, nikel masih menorehkan kerugian 3%.
Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan, kenaikan harga nikel bersifat semu. Kenaikan ini memberikan kesempatan bagi pelaku pasar mengambil posisi jual saat harga tinggi. Ke depan, harga nikel masih berpotensi terganggu sentimen Tiongkok.
Seperti diketahui, Pemerintah China memproyeksi, angka pertumbuhan ekonomi tahun 2015 hanya 7%. Proyeksi ini mungkin meleset. "Saat ini aktivitas manufaktur China masih kontraksi. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh indeks manufaktur yang di rilis di bawah level 50," ungkap Ibrahim.
Masih dari China, sentimen negatif lain yang menghadang laju nikel adalah anjloknya tingkat penjualan properti di 60 kota besar di Tiongkok. Dari 70 kota besar, hanya 10 kota yang masih menunjukkan pertumbuhan penjualan properti. Kondisi ini turut mendepresiasi harga nikel.
China merupakan negara pengguna nikel terbesar. Rapuhnya ekonomi China dikhawatirkan mengancam permintaan dari Negeri Panda. Sentimen lain datang dari Eropa. Kini, Bank Sentral Eropa (ECB) tengah gencar membeli obligasi berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS). Akibatnya, suplai dollar AS di pasar berkurang.
Kondisi ini berdampak pada melesatnya indeks dollar. Pada Jumat (10/4), indeks dollar kembali merangkak 0,38% menuju level 99,33. Pukulan terberat bagi nikel datang dari komitmen Bank Sentral AS, The Federal Reserve, yang masih membuka kemungkinan menaikkan suku bunga acuan.
Ibrahim bilang, ada peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni 2015. Di akhir tahun akan ada kenaikan lagi 75 basis poin. Secara teknikal, tiga indikator moving average dan bollinger band berada 30% di atas bollinger bawah.
Stochastic 60% di area negatif. Relative strength index (RSI) berada 60% di area positif. Sementara moving average convergence divergence (MACD) masih wait and see. Ibrahim memprediksikan, harga nikel Senin (13/4) ini bergerak dalam kisaran US$ 12.600-US$ 12.650 per metrik ton. Sementara harga nikel sepekan mendatang berada di antara level US$ 12.160- US$ 12.210 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2301
Bisnis.com, JAKARTA - Komoditas minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia akhirnya menguat 10 RM pada perdagangan Jumat (10/4/2015) untuk kontrak Juni 2015.
Kontrak CPO Juni tersebut menguat 0,47% ke level 2.130 RM per ton hingga pukul 10:46 WIB. Sehari sebelumnya, kontrak CPO Juni 2015 ditutup pada level 2.120 RM per ton.
Pada perdagangan hari ini, CPO kontrak Juni dibuka melemah tipis ke level 2.119 RM dengan pergerakan harga 2.119 RM - 2.136 RM.
Berikut pergerakan kontrak CPO Juni 2015:
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase |
|
10 April |
2.130 |
+0,47 |
|
9 April |
2.120 |
-2,12 |
|
8 April |
2.166 |
-1,86 |
|
7 April |
2.207 |
-1,16 |
|
6 April |
2.233 |
+1,92 |
Sumber: Bloomberg.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1986
JAKARTA. Harapan naiknya permintaan global CPO memberikan dorongan bagi harga CPO untuk merangkak naik.
Mengutip Bloomberg, Jumat (10/4) pukul 17.18 WIB, harga CPO kontrak pengiriman Juni 2015 di bursa Malaysia Derivative Exchange tercatat naik tipis 0,71% ke level RM 2.135 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Namun harga ini masih merosot sebesar 2,5% dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan laporan Intertek, pengiriman CPO Malaysia naik 24% menjadi 324.545 ton pada sepuluh hari pertama di bulan April 2015 dibanding dengan bulan sebelumnya. Sedangkan data Palm Oil Broad mencatatkan ekspor naik 21,5% menjadi 1,18 juta ton. Dengan keadaan ini diduga bahwa stok CPO akan terus turun sampai Juni 2015 mendatang hingga berada di bawah 1,5 juta ton.
Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka menuturkan bahwa peraturan pungutan ekspor yang baru ditetapkan oleh pemerintah Indonesia menjadi pendorong naiknya harga CPO. Pasalnya, dana ekspor sebesar US$ 50 per ton itu nantinya akan digunakan untuk mendanai subsidi biodiesel, penanaman kembali dan pengembangan.
“Faktor ini memberikan sentimen di pasar bahwa penggunaan CPO untuk biodiesel akan meningkat,†kata Ibrahim. Jangan lupa juga bahwa Eropa juga menerapkan penggunaan energi terbarukan yang serupa. Sehingga ada sentimen bahwa permintaan global CPO akan meningkat.
Walaupun Eropa merupakan konsumen di urutan keempat secara global, tapi cukup menopang. Hal ini yang cukup membuat pergerakan harga CPO untuk merangkak naik. “Meski dalam range yang sempit dan terbatas,†papar Ibrahim.
Di sisi lain, impor India diperkirakan akan naik ke level tertinggi dalam tiga bulan mendatang. Hal ini merupakan antisipasi yang akan dilakukan oleh pihak penyuling untuk meningkatkan pembelian sebelum Malaysia kembali menetapkan pajak ekspornya. Yang mana sejak Agustus 2014 silam Malaysia membebaskan pajak ekspornya.
Pembelian CPO luar negeri India naik 36% menjadi 687.000 metrik ton pada Maret 2015. Penyuling CPO India akan berusaha untuk menumpuk stok setelah sebelumnya pada Februari 2015 impor India tercatat menurun hingga ke level terendah setahun.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita