Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



NEW YORK. Harga minyak dunia turun pada Senin (Selasa pagi WIB), karena kekhawatiran tentang kelebihan pasokan kembali ke permukaan setelah data AS menunjukkan pengeboran minyak meningkat di beberapa daerah.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 14 sen menjadi berakhir pada 59,25 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni, turun 48 sen menjadi 64,91 dollar AS per barel di perdagangan London.

Commerzbank mengatakan melonjaknya harga minyak telah "terasa melambat" tren perusahaan-perusahaan minyak memotong kembali pada rig mereka karena kelebihan pasokan.

Hitungan rig minyak AS turun hanya 11 rig pada pekan lalu, penurunan terkecil sejak awal April, dan terjadi ketika beberapa cekungan minyak penting mengalami kenaikan pertama dalam jumlah rig mingguan sepanjang tahun ini, kata bank dalam sebuah catatan.

"Oleh karena itu patut dipertanyakan apakah saat ini tingkat harga minyak bisa dipertahankan. Setelah semua, dengan taruhan bahwa produksi minyak AS akan jatuh, banyak spekulan memainkan peranan utama dalam mendorong harga minyak naik 50 % dalam empat bulan lalu," kata Commerzbank.

Tim Evans, analis di Citi Futures, mengatakan pasokan minyak mentah yang tinggi diimbangi berita tambahan stimulus moneter Tiongkok dan keputusan oleh raja Saudi untuk melewatkan pertemuan puncak dengan Presiden Barack Obama pekan ini.

Raja Salman dari Saudi menolak undangan untuk menghadiri pertemuan puncak yang diselenggarakan Presiden Barack Obama, di tengah kecemasan terkait negosiasi nuklir AS-Iran.

Obama telah mengundang enam raja, emir dan sultan Teluk ke tempat peristirahatan kepresidenan di Camp David, dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan yang sedang goyah saat Washington melakukan negosiasi dengan Teheran.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir, mengatakan Salman akan absen dari pertemuan itu "karena waktu pertemuan tersebut, jadwal gencatan senjata kemanusiaan di Yaman dan pembukaan Pusat Bantuan Kemanusian Raja Salman".

"Namun demikian, dalam hal gambaran fundamental yang lebih besar, kami terus melihat pasokan melampaui permintaan, dengan hasil peningkatan persediaan mempertahankan tekanan mendasar turun pada harga," kata Evans.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: AFP


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Liputan6.com, Jakarta - Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Harga Batu bara Acuan (HBA) untuk penjualan langsung (spot) yang berlaku 1 April 2015-30 April 2015 pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel) US$ 64,48 per ton.

Seperti dikutip dari situs resmi Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (8/5/2015). Setelah naik pada Maret 2015, HBA kembali turun pada April 2015. HBA  April 2015 turun US$ 3,28 atau turun 4,8 persen dibandingkan dengan HBA Maret 2015 US$ 67,76 per ton.

Sedangkan jika dibandingkan dengan HBA yang sama pada 2014 (year on year) yaitu April 2014 US$ 74,81 maka HBA April 2015 turun sebesar US$ 10,33 atau turun 14 persen.

Nilai HBA adalah rata-rata dari 4 indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan batu bara yaitu: Indonesia Coal Index, Platts Index, New Castle Export Index, dan New Castle Global Coal Index.

HBA menjadi acuan harga batu bara pada kesetaraan nilai kalori batu bara 6.322 kkal/kg Gross As Received (GAR), kandungan air (total moisture) 8 persen, kandungan sulphur 0,8 persen as received (ar), dan kandungan abu (ash) 15 persen ar.

Berdasarkan HBA selanjutnya dihitung Harga Patokan Batu bara (HPB) yang dipengaruhi kualitas batu bara yaitu: nilai kalori batu bara, kandungan air, kandungan sulfur, dan kandungan abu sesuai dengan merek dagang batu bara yang disebut HPB Maker. HPB Maker terdiri dari 8 merek dagang batu bara yang sudah umum dikenal dan diperdagangkan.

HPB Marker April 2015 untuk 8 merek dagang utama dalam US$/Ton adalah sebagai berikut :

Gunung Bayan I             :   69,04  turun 4,9 persen dibandingkan HPB Maret 2015
Prima Coal                     :   70,16  turun 4,5 persen dibandingkan HPB Maret 2015
Pinang 6150                 :   63,37  turun 4,5 persen dibandingkan HPB Maret 2015
Indominco IM_East        :   52,89  turun 4,8 persen dibandingkan HPB Maret 2015
Melawan Coal                :   52,00  turun 4,3 persen dibandingkan HPB Maret 2015
Enviro Coal                    :   49,34  turun 4,1 persen dibandingkan HPB Maret 2015
Jorong J-1                    :   39,71  turun 4,1 persen dibandingkan HPB Maret 2015
Ecocoal                        :   36,43  turun 4 persen dibandingkan HPB Maret 2015

 

(Pew/Ahm)

 

Narasumber : liputan6.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA— Perdagangan kontrak komoditas CPO di Bursa Malaysia masih tertekan pada awal perdagangan Jumat (8/5/2015).

Kontrak berjangka CPO untuk Juli 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka turun 0,87% ke harga 2.154 ringgit atau Rp 7,86 juta per ton.

CPO diperdagangkan di angka 2.157 ringgit per ton pada pukul 10.19 WIB, atau merosot 0,74% dari harga penutupan kemarin.

Komoditas tersebut kembali diperdagangkan di zona merah setelah kemarin ditutup terkoreksi 0,46% ke 2.173 ringgit per ton.

Sentimen negatif terhadap perdagangan harga CPO muncul dari kenaikan produksi sawit Malaysia sepanjang April. Produksi sawit Malaysia melonjak 12% ke 1,67 juta ton pada April, volume terbesar dalam 5 bulan terakhir.

Tekanan pada harga CPO juga muncul dari anjloknya harga minyak mentah, bahan campuran CPO dalam produksi biodisel.

Minyak WTI pengiriman Juni 2015 anjlok 3,27% ke US$58,94/barel pada penutupan perdagangan kemarin. Hari ini, minyak tersebut diperdagangkan turun 0,17% ke US$58,84/barel pada pukul 10.27 WIB.

 

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO Juli 2015

 

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

8/5/2015

(10.19 WIB)

2.157

-0,74%

7/5/2015

2.168

-0,69%

6/5/2015

2.183

+1,21%

5/5/2015

2.157

+2,62%

30/4/2015

2.102

+0,96%

Sumber: Bloomberg

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga minyak dunia turun pada Kamis (Jumat pagi WIB), sehari setelah mencapai tingkat tertinggi 2015 karena kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global muncul kembali ketika para pedagang mengamati laporan persediaan AS yang bervariasi.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, turun 1,99 dollar AS menjadi berakhir di 58,94 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent North Sea untuk Juni, patokan Eropa, jatuh menjadi 65,54 dollar AS per barel di perdagangan London, turun 2,23 dollar AS dari penutupan Rabu.

WTI dan Brent telah menguat ke tingkat tertinggi tahun ini pada Rabu, setelah Departemen Energi AS secara tak terduga melaporkan penurunan pertama dalam persediaan minyak mentah dalam empat bulan terakhir.

Stok minyak mentah turun 3,9 juta barel pekan lalu, tetapi stok pada 487,0 juta barel masih pada tingkat tertinggi pada catatan untuk kali tahun ini.

"Laporan kemarin, kecuali angka minyak mentah utama, sebenarnya sangat, sangat bearish," kata Kyle Cooper dari IAF Advisors.

Cooper mencatat bahwa penurunan stok minyak mentah sebagian besar karena tingkat impor yang lemah, bukan karena sedikit penurunan dalam produksi AS.

"Kami menumpuk 40 juta barel selama beberapa minggu terakhir dan harga naik 20 dollar," katanya. "Kenaikan harga ini tidak sesuai dengan perbaikan aktual dalam fundamental."

Editor: Yudho Winarto
Sumber: AFP


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Pelambatan ekonomi di kuartal I-2015 turut menggerus kinerja emiten media. Dari tiga grup besar media, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), hanya VIVA yang mampu mencetak pertumbuhan pendapatan double digit.

EMTK hanya mampu membukukan kenaikan pendapatan 2,1% year on year (yoy) pada kuartal I-2015. Meski demikian, laba bersih EMTK berhasil tumbuh hingga 400,2% menjadi Rp 553,4 miliar karena ada laba kurs senilai Rp 264 miliar. EMTK juga tertolong laba penjualan investasi sebesar Rp 123,8 miliar.

Kinerja anak usaha EMTK, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) masih lesu. Lirik saja, pendapatan SCMA yang turun 0,8% yoy menjadi Rp 945,7 miliar. Sementara laba bersih hanya naik 1,9% menjadi Rp 324,6 miliar.

Kinerja Grup MNC juga tersungkur. Grup media MNC melalui BMTR memang mencetak pertumbuhan pendapatan sebesar 9,2% yoy menjadi Rp 2,6 triliun. Namun, laba bersih merosot hingga 70,29% menjadi Rp 90,4 miliar pada Kuartal-I 2015. Ini lagi-lagi efek dari nilai tukar dollar AS.

BMTR menderita rugi selisih kurs serta kenaikan beban umum yang tinggi. Anak usaha BMTR, yakni PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) juga melambat. Pendapatan MNCN hanya naik 1,2% yoy pada kuartal-I 2015 menjadi Rp 1,5 triliun.

Sementara laba bersih merosot hingga 26,7% menjadi Rp 285,16 miliar. Emiten televisi berbayar MSKY malah membukukan rugi bersih hingga Rp 130,01 miliar. Padahal pada kuartal I tahun lalu, pemilik televisi berbayar merek Indovision ini masih mencetak laba Rp 135,7 miliar.

Semester II membaik

Namun, emiten media milik grup Bakrie terlihat tumbuh cukup stabil. Pendapatan VIVA tumbuh 34% yoy dan anak usahanya PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) mencetak pertumbuhan pendapatan 55% dan laba 63%.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, mengatakan, pertumbuhan emiten media masih cukup stabil tahun ini. Dia memproyeksikan, belanja iklan bakal membesar pada semester II. Paling tidak, emiten media diprediksi bisa tumbuh 10% pada tahun ini.

Perlambatan kinerja pada kuartal I tahun ini karena belum banyak emiten yang merealisasikan belanja iklan dan cenderung menahan ekspansi lantaran perlambatan ekonomi Indonesia. "Seharusnya pertumbuhan masih bisa sama dengan tahun lalu," ujar Reza. Namun, yang menjadi fokus investor adalah kue iklan kini semakin tersebar.

Jika sebelumnya MNC Grup yang banyak menguasai kue iklan, namun, kini munculnya banyak media membuat persaingan di industri ini pun makin ketat. MNC misalnya, masih harus melakukan berbagai inovasi untuk merebut kembali pangsa pasar pemirsa.

William Surya Wijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities mengatakan, belum banyak momentum di kuartal I. Biasanya, pendapatan iklan akan tumbuh pada momentum Idul Fitri dan libur Lebaran. "Di situ media akan meraih pendapatan dari iklan yang lebih besar," imbuh William.

Tapi memang, pertumbuhan pendapatan iklan emiten media pada tahun ini tak akan sekencang tahun lalu. Maklum, pada 2014 emiten media menuai berkah dari belanja Pemilu dan juga momentum Piala Dunia. Sehingga kinerja emiten media terlihat lebih mentereng. Bagi William, ketiga grup media masih memiliki fundamental baik.

Dia merekomendasikan saham MNCN dan MDIA dengan target harga masing-masing Rp 2.700 dan Rp 4.200 per saham. Sementara Reza merekomendasikan saham SCMA dan VIVA.

Editor: Uji Agung Santosa


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita