Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



NEW YORK - Harga minyak global naik setelah mendapat dorongan dari dolar yang lebih lemah karena para pedagang menunggu laporan persediaan minyak mentah terbaru Amerika Serikat.

Seperti dilansir AFP, Rabu (13/5/2015), patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, naik 1,50 dolar AS menjadi ditutup pada 60,75 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juni, patokan minyak dunia, maju menjadi menetap di 66,86 dolar AS per barel di perdagangan London, naik 1,95 dolar AS dari penutupan Senin.

Kedua kontrak telah merosot pada Senin karena berlanjutnya kekhawatiran kelebihan pasokan global.

"Harga minyak mentah berbalik naik (rebound) kuat ... didukung oleh dolar AS yang lebih lemah, sementara investor tetap berhati-hati menjelang rilis laporan persediaan minyak mingguan," kata analis broker Sucden, Myrto Sokou.

Dolar diperdagangkan terhadap euro di 1,1221 dolar pada sore hari, turun dari 1,1154 dolar pada Senin sore di tengah aksi jual di pasar obligasi global. Sebuah greenback yang lemah cenderung membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar seperti minyak mentah lebih menarik bagi pembeli.

Pasar minyak menunggu laporan mingguan pada Rabu tentang persediaan minyak AS dari Departemen Energi AS (DoE) untuk petunjuk tentang permintaan di konsumen minyak mentah terbesar dunia itu.

Pekan lalu, DoE secara tak terduga melaporkan penurunan pertama dalam stok minyak mentah komersial dalam 16 minggu, tetapi stok yang masih di 487,0 juta barel, tetap pada tingkat tertinggi pada catatan sepanjang tahun ini.

Para analis memperkirakan penurunan lagi dalam laporan Rabu, dengan konsensus memperkirakan penurunan 500.000 barel dalam pekan yang berakhir 8 Mei, menurut survei Bloomberg News.

Selain itu harga minyak juga naik karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkatkan proyeksi permintaan dalam laporan bulanannya.

Permintaan minyak dunia pada 2015 kini diproyeksikan meningkat sedikit lebih tinggi 1,18 juta barel per hari, dibandingkan dengan pertumbuhan 0,96 juta barel per hari pada tahun sebelumnya, kata OPEC dalam laporan yang dirilis, Selasa.

Revisi sedikit naik ke angka pertumbuhan 2015, terutama mencerminkan sedikit kenaikan dalam persyaratan minyak di OECD Amerika.

Permintaan minyak mentah OPEC pada 2015 diperkirakan pada 29,3 juta barel per hari. Ini menyusul sedikit penyesuaian naik dari bulan sebelumnya dan merupakan kenaikan 0,3 juta barel per hari atas perkiraan untuk 2014 di 29,0 juta barel per hari.

Pada April, produksi minyak mentah OPEC meningkat marjinal 18 juta barel per hari menjadi rata-rata 30,84 juta barel per hari.

Pertumbuhan pasokan minyak non-OPEC pada 2015 diperkirakan akan tumbuh sebesar 0,68 juta barel per hari, dibandingkan dengan peningkatan 2,17 juta barel per hari pada tahun sebelumnya.

Ketegangan geopolitik di Yaman juga membantu mendukung harga minyak. Yaman berbatasan dengan produsen minyak utama Arab Saudi. Kekhawatiran geopolitik Yaman membayangi dampak negatif dari kelebihan pasokan global.

(rzk)


Narasumber : okezone.com
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan  usaha logistik nasional melambat bahkan cenderung mengalami penurunan 7% - 8% selama periode Januari-April 2015 akibat lesunya kegiatan perdagangan ekspor-impor maupun antar pulau.

Ketua Umun Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan kondisi terpuruknya kegiatan ekonomi global maupun domestik saat  ini yang kemudian berimbas pada merosotnya kegiatan logistik melalui angkutan laut di Tanah Air.

“Indikator yang paling sederhana yakni hampir 45% armada truk maupun trailer berbagai jenis di pelabuhan utama di Indonesia saat ini tidak beroperasi karena tidak ada muatan yang bisa diangkut".


“Kalau aktivitas logistik sudah terkena imbasnya otomatis hampir semua sektor usaha lainnya ikut melambat. Faktor dominan akibat pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (12/5).

Dia mengatakan pelambatan aktivitas logistik di suatu negara menjadi indikator melambatnya pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan sebab usaha logistik dan transportasi merupakan urat nadi perekonomian.

Menurutnya, penurunan aktivitas logistik di Indonesia hingga 8% itu berdasarkan laporan pelaku  usaha anggota ALFI yang menangani kegiatan logistik angkutan laut.

Sedangkan untuk kegiatan logistik melalui angkutan udara, masih relatif tumbuh karena adanya aktivitas pembelian secara langsung (e-commerce).

“Indikator yang paling sederhana yakni hampir 45% armada truk maupun trailer berbagai jenis di pelabuhan utama di Indonesia saat ini tidak beroperasi karena tidak ada muatan yang bisa diangkut,” paparnya.

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga aluminium mencoba bangkit di akhir pekan lalu. Namun langkahnya masih berat, mengingat secara fundamental permintaan masih lesu. Mengutip Bloomberg, Jumat (8/5), harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik tipis 0,32% menjadi US$ 1.889 per metrik ton (MT).

Padahal, di awal perdagangan, harga aluminium sempat tumbang ke level US$ 1.871,5 per MT. Dalam sepekan terakhir, aluminium masih terpangkas 1,1%.

Analis Equilibrium Komoditi Berjangka Ibrahim menilai, kenaikan aluminum pada sesi akhir perdagangan karena faktor teknikal. Maklum, harga sudah turun tajam selama beberapa hari sebelumnya. Menurut Ibrahim, prospek harga aluminium dalam jangka panjang masih suram. Pelaku pasar berspekulasi permintaan semakin lemah, terutama dari Tiongkok.

Data perekonomian, terutama sektor manufaktur menunjukkan perlambatan. Padahal, Negeri Panda adalah salah satu pengguna logam industri terbesar di dunia. Administrasi Bea Cukai mencatat, total impor aluminium China bulan April turun 16%.

Penurunan permintaan sudah terjadi selama enam bulan berturut-turut. "Belum ada tanda-tanda pemulihan. Padahal, biasanya awal kuartal kedua harganya sudah lebih kuat," kata Helen Lau, analis pertambangan Argonaut Securities Ltd kepada Bloomberg, Jumat (8/5).

Ibrahim menambahkan, dana moneter internasional (IMF) sudah memberikan sinyal perlambatan ekonomi China. Pertumbuhan domestik bruto (PDB) tahun ini diperkirakan hanya 6,8%, lebih rendah dari estimasi Pemerintah China sebesar 7%. "Kontraksi perekonomian China dikhawatirkan menyeret ekonomi Amerika Serikat dan Eropa. Efeknya, permintaan aluminium dari wilayah itu juga turun," paparnya.

Harga aluminium kian sulit bangkit, karena dollar AS menguat. Asal tahu saja, Jumat lalu, indeks dollar naik 0,17% ke level 94,79. Pemicunya, rilis data tenaga kerja AS sangat solid. Tingkat pengangguran bulan April turun dari level 5,5% menjadi 5,4%. Ini rekor terendah sejak Mei 2008.

Secara teknikal, kata Ibrahim, harga aluminium juga masih dalam sinyal penurunan. Bollinger band dan moving average (MA) berada 20% di atas bollinger bawah. Indikator MACD di level 60% dan stochastic level 70%. Keduanya menunjukkan arah penurunan. Hanya, relative strength index (RSI) berada di level 70% area positif.

Prediksinya, sepekan ini, harga aluminium bisa menuju support US$ 1.710 dengan resistance US$ 1.900 per MT. Adapun, hari ini, harganya bisa bergerak di kisaran US$ 1.810-US$ 1.895 per MT.

 

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Kurs dollar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Senin (Selasa pagi WIB), setelah pejabat Federal Reserve mengangkat ekspektasi kenaikan suku bunga tahun ini.

Presiden Federal Reserve Bank San Francisco, John Williams, pada Senin mengatakan bahwa para pembuat kebijakan Fed bisa menaikkan suku bunga pada setiap pertemuan mendatang, selama data ekonomi yang keluar dari negara itu positif.

Selain itu, ia memperkirakan pasar tenaga kerja stabil dan tingkat pengangguran pada tingkat 5,4 % hingga mencapai 5,0 % pada akhir tahun ini. Kata-kata Williams mendukung greenback pada Senin.

Dengan tidak adanya data utama pada Senin, investor masih mencerna laporan penggajian (payroll) non pertanian AS oleh Departemen Tenaga Kerja pada Jumat lalu.

Jumlah penggajian tenaga kerja non pertanian naik 223.000 pada April dari bulan sebelumnya, dan pertumbuhan penggajian non pertanian pada Maret direvisi turun dari 126.000 menjadi 85.000, tingkat terendah sejak Juni 2012.

Indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,22 % menjadi 94,999 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan di New York, euro turun menjadi 1,1158 dollar dari 1,1206 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,5590 dollar dari 1,5458 dollar di sesi sebelumnya. Dollar Australia turun ke 0,7901 dollar dari 0,7918 dollar.

Dollar AS dibeli 120,10 yen Jepang, lebih tinggi dari 119,79 yen pada sesi sebelumnya. Dollar AS naik ke 0,9335 franc Swiss dari 0,9217 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,2096 dollar Kanada dari 1,2094 dollar Kanada.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: Xinhua


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

CHICAGO. Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir lebih rendah pada Senin (Selasa pagi WIB), karena greenback yang lebih kuat memberikan tekanan pada logam mulia.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni turun 5,9 dollar AS, atau 0,50 %, menjadi menetap di 1.183,00 dollar AS per ounce.

Indeks dollar AS, ukuran greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,13 % menjadi 94,99 dalam perdagangan tengah hari. Emas dan dollar biasanya bergerak berlawanan arah, yang berarti jika dollar naik, emas berjangka akan jatuh karena emas yang diukur dengan dollar menjadi lebih mahal bagi investor.

Pedagang sedang menunggu sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pekan ini untuk mendapatkan beberapa indikasi kapan waktu The Fed menaikkan suku bunganya.

Sebuah laporan penjualan ritel akan dirilis pada Rabu, dan laporan klaim pengangguran mingguan serta laporan Indeks Harga Produsen akan diumumkan pada Kamis. Laporan produksi industri juga akan keluar pada Jumat.

Perak untuk pengiriman Juli turun 15,1 sen, atau 0,92 %, menjadi ditutup pada 16,314 dollar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun 16,2 dollar AS, atau 1,42 %, menjadi ditutup pada 1.127,30 dollar AS per ounce.

Editor: Yudho Winarto
Sumber: Xinhua


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita