Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia masih merosot pada awal perdagangan Kamis (21/5/2015). Perdagangan kontrak berjangka tersebut terus melemah sejak Jumat pekan lalu.

Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka stagnan di harga 2.142 ringgit per ton.

CPO kemudian diperdagangkan turun 0,14% ke 2.139 ringgit per ton pada pukul 10.06 WIB dengan harga terendah di angka 2.134 ringgit atau Rp7,79 juta per ton.

Harga CPO terus merosot sejak Jumat pekan lalu setelah data menunjukkan suplai CPO di Malaysia meningkat dan produksi sawit di Indonesia berpotensi memuncak pada 2015.

Chandran Sinnasamy dari LT International Futures di Kuala Lumpur, seperti dilaporkan Bloomberg, memperkirakan stok CPO di Malaysia akan bertahan di atas 2 juta ton sampai September.

Produksi perkebunan sawit di Indonesia diperkirakan melonjak ke volume terbesar dalam 3 tahun yaitu 2,6 juta ton.

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO Agustus 2015

 

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

21/5/2015

2.139

-0,14%

20/5/2015

2.142

-0,74%

19/5/2015

2.158

-1,10%

18/5/2015

2.182

-0,27%

15/5/2015

2.188

-0,86%

Sumber: Bloomberg

 

Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Setelah turun lima hari berturut-turut, harga minyak berhasil bangkit (rebound). Namun, penguatan harga belum didukung faktor fundamental yang kuat.

Data Bloomberg, Rabu (20/5) pukul 14.15 WIB menunjukkan harga minyak WTI kontrak pengiriman Juli 2015 di New York Merchantile Exchange tercatat naik 1% ke US$ 58,57 per barel dibandingkan hari sebelumnya. Namun sepekan terakhir, harga minyak sudah tergerus 4,74%.

Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, menjelaskan, kenaikan harga minyak didorong krisis yang masih terjadi di Timur Tengah. Sementara sentimen positif  berasal dari prediksi stok minyak Amerika Serikat (AS) yang kembali menipis. Kemarin, Energy Information Administration (EIA) merilis data posisi stok minyak AS pekan lalu.

Prediksi Deddy, stok minyak pekan ini turun sebesar 1,3 juta barel per hari. Dua pekan lalu, stok minyak AS juga merosot 2,2 juta barel per hari yang menjadi penurunan pertama di tahun 2015.

Per Jumat (8/5), stok minyak AS diprediksikan merosot ke 484,4 juta barel. Ini terlihat dari stok minyak di pusat pengiriman minyak terbesar AS, Cushing, Oklahoma, yang turun 217.000 barel.

Namun Deddy menilai, penguatan harga masih rentan. Walaupun stok AS berkurang, namun penurunannya tak sebesar pekan sebelumnya. "Rilis data ekonomi AS positif membuat USD kembali rebound," kata Deddy.  Pasar juga menanti hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Kamis (21/5). Deddy menilai tren bearish masih membayangi minyak.

Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst Monex Investindo Futures juga sepakan, tekanan pada harga minyak masih besar. "Stok minyak global masih terlampau tinggi," kata Putu.

Menurutnya, meski AS terus memangkas jumlah rig pengeboran yang aktif hingga 58% sejak Desember 2014, produksi masih tinggi. Sampai Jumat (8/5), AS memompa 9,37 juta barel per hari. Sedangkan rata-rata produksi mencapai 9,42 juta barel per hari atau di level tertinggi sejak Januari 1983.

Goldman Sachs Group Inc juga khawatir dengan banjir stok minyak. Ini bisa menyeret turun harga minyak ke posisi US$ 45 per barel pada Oktober 2015.

Deddy melihat, kembalinya harga minyak ke level di atas US$ 60 per barel beberapa waktu lalu merupakan level balik modal bagi biaya produksi. Namun, "Itu level prematur dan harga akan kembali tenggelam karena faktor fundamental," tambahnya.

Secara teknikal, Putu menjelaskan harga bergerak di antara moving average (MA) 200 dan 50. Ini menunjukkan pergerakan stagnan.

Garis moving average convergence divergence (MACD) di level 1,8 mengarah turun. Indikator stochastic level 25 dan relative strength index (RSI) di level 37 mengarah ke bawah. "Harga Kamis (21/5) di kisaran US$ 55,20-US$ 61,00 per barel," kata Putu.

Sepekan ke depan, prediksi Putu, harga minyak bergerak di rentang US$ 54,30-US$ 62,50 per barel. Prediksi  Deddy, laju harganya di US$ 54,26-US$ 60,00 per barel.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id


Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Kebijakan terbaru Bank Indonesia diyakini turut mendongkrak pasar saham domestik. Demi menggerakkan perekonomian, bank sentral memberikan stimulus berupa pelonggaran rasio atas nilai agunan atau loan to value (LTV) atas kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar 10%.

Itu berarti, debitur dapat menyetor uang muka atau down payment (DP) lebih rendah dari sebelumnya. Ambil contoh, semula LTV kredit properti sebesar 70% atau uang muka 30%. Dengan beleid baru, maka LTV menjadi sebesar 80% atau uang muka menjadi 20%. Ini berlaku untuk pembelian rumah pertama (Harian KONTAN, 20 Mei 2015).

Sejumlah analis menilai, stimulus bank sentral akan mendatangkan sentimen positif setidaknya bagi tiga sektor, yakni properti, otomotif dan perbankan.

Analis BNI Securities Thendra Chrisnanda berpendapat, beleid BI berefek cukup besar bagi industri properti nasional. Jika di awal tahun industri properti diperkirakan tumbuh moderat 10%, maka stimulus BI bisa mendongkrak pertumbuhan properti menjadi 12%-14%. Dampak terbesar akan dinikmati emiten yang memiliki porsi penjualan dengan fasilitas KPR besar.

Emiten properti raksasa yang memiliki eksposur penjualan lewat KPR cukup besar pada tahun lalu antara lain Pakuwon Jati (PWON) dengan porsi 25% terhadap total penjualan, Ciputra Development (CTRA) 30% dan Alam Sutera Realty (ASRI) 30%. Sedangkan Summarecon Agung (SMRA) memiliki porsi 5%.

Pasca stimulus BI, Thendra memprediksi laba bersih CTRA hingga akhir 2015 senilai Rp 1,49 triliun, naik dari estimasi sebelumnya Rp 1,42 triliun.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, menilai, efek pelonggaran LTV sangat positif terhadap sektor properti. "Apalagi sebagian besar pengembang mengeluh tak ada pergerakan bisnis properti sejak awal tahun ini," ungkap dia.

Dengan aturan terbaru BI, maka penjualan properti berpotensi naik. Hans memperkirakan, industri properti tumbuh 15% di tahun ini. Proyeksi sebelumnya tumbuh 10%-12%.

Kendati demikian Hans menilai, tantangan sektor properti masih besar, karena kenaikan harga terlalu cepat tak sebanding kenaikan daya beli masyarakat.

Thendra juga bilang, industri properti masih dibayangi tantangan ketidakpastian perhitungan  Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Belum lagi nilai tukar yang berpengaruh pada harga bahan material impor, serta situasi makro ekonomi.

Selain properti, stimulus bank sentral membawa sentimen positif terhadap sektor otomotif. Hanya saja, Thendra maupun Hans kompak menilai, efeknya tak sebesar sektor properti.

Hans melihat, dampak positif pelonggaran LTV tak terlalu besar pada sektor otomotif lantaran selama ini para penjual kendaraan bisa mengakali aturan uang muka dengan cara mendiskon uang muka kredit.

Keuntungan sektor otomotif tak terlalu besar karena daya beli masih melambat ditambah sentimen negatif dari rencana aturan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) jalan tol yang bakal dibebankan ke para pemilik kendaraan. Dia memperkirakan, penjualan kendaran roda empat hanya tumbuh menjadi 1,2 juta hingga akhir 2015 dan roda dua diperkirakan akan turun dari 7 juta unit menjadi 6 juta-6,4 juta unit.

Stimulus BI terhadap dua sektor itu tentu menjadi berkah bagi sektor perbankan. Selama ini, pengetatan aturan LTV menjadi salah satu biang kerok  perlambatan penyaluran kredit. Ini terlihat dari data KPR di kuartal I 2015 hanya tumbuh 12,13%, jauh lebih rendah dari periode sama tahun sebelumnya 23,59%.

Hans memperkirakan, industri perbankan akan tumbuh 15%-16% hingga akhir tahun ini. "Padahal tadinya kami melihat pertumbuhannya flat yakni sebesar 11%," tutur dia.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah memprediksi adanya penurunan volume ekspor timah menyusul diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 33/M-Dag/Per/5/2015 yang mengatur mengenai ekspor komoditas itu.

Dalam aturan baru tersebut, ditambahkan beberapa ketentuan yang memperketat kegiatan ekspor timah diantaranya timah yang akan diekspor harus membayar royalti yang telah diverifikasi Direktorat Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam, memiliki sertifikat Clean and Clear (CnC) serta mendapatkan Persetujuan Ekspor (PE).

"Memang diperkirakan akan berkurang ekspor (timah)nya secara tonase tetapi dengan harga yang tinggi nanti kita harapkan hasilnya akan lebih banyak," tutur Direktorat Jenderal Partogi Pangaribuan dalam konferensi pers di kantornya, Selasa petang (19/5).

Kendati belum dapat menyebutkan berapa besar prediksi penurunan volume ekspor timah, Partogi mengungkapkan tren penurunan volume ekspor timah sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat, tahun 2014 volume ekspor timah Indonesia hanya mencapai 81 ribu ton per tahun atau menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 96 ribu ton.

Dengan adanya aturan ekspor timah yang lebih ketat diharapkan harga timah dapat terdongkrak mengingat Indonesia merupakan eksportir timah terbesar di dunia. Adapun target nilai ekspor timah tahun ini, Partogi belum dapat membeberkan.

"Yang pasti (dengan keluarnya aturan revisi ini), resource kita terjamin dan lingkungan kita lebih terjamin dan kita akan memenuhi aturan aktivitas pertambangan yang disahkan oleh dunia internasional," kata Partogi.

Rendahnya harga timah, telah diantisipasi PT Timah Tbk (TINS) untuk melakukan diversifikasi bisnis ke sektor lain seperti logam tanah jarang dan properti.

Dia berharap perseroan dapat mengurangi porsi penjualan timah menjadi 80-85 persen dari sebelumnya 90-95 persen di saat harga timah global yang belum pulih karena penambangan ilegal dan penyelundupan.

"Tidak hanya bergantung pada timah tetapi akan diversifikasi. Kami rencanakan lima tahun akan lakukan diversifikasi, dan akan masuk properti tahun ini. Harapannya diversifikasi bisa sampai 50-50," kata Sukrisno di Jakarta, akhir bulan lalu.

Di sektor properti, perseroan tengah melakukan pembentukan anak usaha bersama badan usaha milik negara (BUMN) lainnya PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Anak usaha baru itu dibentuk untuk mengelola lahan seluas 176 Ha milik PT Timah.

"Porsi kepemilikan kami, mayoritas 51 persen. Kalau ADHI dan WIKA masing-masing 24,5 persen. Karena mayoritas, pendapatan properti akan masuk dalam konsolidasi perseroan," jelas

Harga Timah Anjlok

Sukrisno mengungkapkan, harga timah sempat menyentuh US$ 13.600 per ton di tahun ini, yang merupakan titik terendah dalam 10 tahun karena berlebihnya pasokan. Dia mengungkapan harga penjualan rata-rata perseroan pun turun menjadi US$ 18.930 per ton pada kuartal pertama tahun ini, dibandingkan dengan harga tiga bulan pertama tahun lalu US$ 23.000.

“Kami akan menahan penjualan meski produksi masih terus berjalan. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, volume penjualan mencapai 5.304 ton, dibandingkan 4.319 ton pada periode sama tahun lalu,” jelasnya

Namun, di sisi lain produksi bijih mencapai 6.653 ton, naik dibandingkan 6.253 ton dan produksi logam pun naik menjadi 7.657 ton, dibandingkan 5.148 ton. "Intinya kami memang sengaja menahan penjualan bila harga masih rendah," kata Sukrisno. (gen)


Narasumber : cnnindonesia.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia turun pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global digabung dengan kenaikan tajam dollar AS.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, turun 2,25 dollar AS menjadi 57,99 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent North Sea untuk Juli, acuan kontrak berjangka Eropa, ditutup pada 64,02 dollar AS per barrel di perdagangan London, turun 2,25 dollar AS dari penutupan Senin.

Dollar AS naik tajam terhadap euro untuk hari kedua berturut-turut setelah seorang pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) mengatakan bank akan meningkatkan program stimulus pembelian asetnya pada Mei dan Juni untuk mengimbangi perkiraan pelambatan pasar di bulan-bulan mendatang.

Dollar AS juga menguat terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa karena data ekonomi yang keluar dari negara itu positif. Indeks dollar AS, yang mengukur mata uang AS terhadap enam mata uang lainnya, naik 1,12 persen menjadi 95,274 pada akhir perdagangan.

Sebuah laporan yang kuat pada pembangunan perumahan AS juga memberi dukungan terhadap greenback, membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dollar AS lebih mahal dan kurang menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

"Penurunan harga minyak mentah juga mengingatkan tingkat kelebihan pasokan pasar saat ini, dengan kelebihan pasokan/permintaan global kuartal kedua diperkirakan di 2,0 juta barrel per hari atau lebih," kata Tim Evans dari Citi Futures.

Departemen Energi AS (DoE) diperkirakan melaporkan persediaan minyak mentah AS turun dua juta barrel dalam pekan yang berakhir 15 Mei, menurut Bloomberg News. Tetapi stok tetap di dekat tingkat rekor tertinggi.

Gene McGillian dari Tradition Energy mencatat bahwa persediaan AS telah jatuh dua minggu sebelumnya. "(Namun) tingkat produksi, yang saya katakan adalah lebih penting,  turun sedikit tetapi masih di atas 9,3 juta barrel per hari di AS," sebutnya.

Editor : Erlangga Djumena
Sumber : Antara


Narasumber : kompas.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita