Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Harga timah mencoba merangkak naik. Namun sejatinya pergerakan harga timah masih menunggu konfirmasi data China.

Mengutip Bloomberg, Jumat (15/5), harga timah menetap di level US$ 15.775 per ons troi. Harga naik 0,47% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga timah tergerus 0,78%.

Ibrahim, analis dan Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka mengatakan, penguatan harga timah saat ini wajar. Sebab, harga timah sudah terjun bebas selama beberapa pekan terakhir. Bahkan, timah tak kuasa menguat pasca Bank Sentral China (PBoC) memangkas suku bunga acuan.

"Kenaikan timah hanya bersifat sementara. Selanjutnya nasib timah ditentukan oleh data manufaktur China yang akan di rilis pada minggu ini," terang Ibrahim.

Saat ini pelaku pasar tengah menanti data manufaktur China. Data manufaktur China yang akan dirilis pada Kamis (21/5) akan menjadi penentu pergerakan timah selanjutnya. Berdasarkan prediksi, indeks manufaktur China sebesar 49,5. Angka ini sedikit lebih baik dibanding bulan sebelumnya sebesar 48,9. Namun masih di bawah level 50 yang menandakan kontraksi masih berlangsung. Apabila rilis data manufaktur masih di bawah level 50 setelah pemangkasan suku bunga, maka ini mengonfirmasi kejatuhan harga lebih dalam.

Di sisi lain, indeks dollar AS bergerak turun 0,34% di akhir pekan menjadi 93,135. Pemicu penurunan indeks dollar ini adalah buruknya data ekonomi AS pada akhir pekan. Data tersebut adalah data produksi industri AS bulan Mei yang dirilis sebesar 3,1. Angka ini lebih rendah dari estimasi sebesar 5,1. Data manufaktur New York bulan April juga hanya membukukan angka minus 0,3%. Angka ini lebih rendah dari prediksi sebesar 0,1%. Sementara data tingkat kepercayaan konsumen AS bulan Mei meredup di level 88,6. Angka ini meleset dari dugaan 95,9.

"Tumbangnya data AS di akhir pekan menyumbang sedikit tenaga bagi timah. Namun, harga masih menunggu konfirmasi data manufaktur China," imbuh Ibrahim.

Secara teknikal, harga timah relatif wait and see. Hal ini ditunjukkan oleh pergerakan tiga indikator yakni moving average convergence divergence (MACD), stochastic dan relative strength index (RSI) yang belum masih tertahan di level tengah. Kondisi ini menegaskan naik maupun turunnya timah hanya akan tipis sebelum publikasi data manufaktur China. Sementara bollinger band dan moving average berada 30% di bawah bollinger tengah.

Ibrahim menduga harga timah pada Senin (18/5) akan berada di kisaran US$ 15.800-US$ 15.870 per metrik ton. Sementara harga timah sepekan akan terbentang di antara level US$ 15.680-US$ 15.900 per metrik ton.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih susah bangkit. Bahkan, kurs jual dollar AS di sejumlah bank besar sudah di atas Rp 13.200 per dollar AS.

Merujuk data kurs tengah Bank Indonesia (BI), Rabu lalu (13/5), kurs rupiah ditransaksikan di posisi Rp 13.188 per dollar AS. Kurs rupiah tersebut memang sedikit menguat dibandingkan hari sebelumnya di level Rp 13.203 per dollar AS.

Sementara, harga perdagangan dollar AS di pasar spot berdasarkan data Bloomberg saat hingga pukul 17.10 WIB, kemarin, berada di kisaran Rp 13.055. Posisi ini memang masih lebih rendah dari level tertinggi tahun ini yang terjadi pada 16 Maret 2015 lalu di kisaran Rp 13.245.

Toh begitu, sejumlah bank  sudah memasang kurs jual lebih tinggi. Di Bank Permata, semisal,  nilai kurs jual dollar AS sudah mencapai Rp 13.365.  Sementara, kurs jual di dua bank pelat merah, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) masih di level Rp 13.200 (lihat tabel).

Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan, sampai saat ini tidak terjadi perubahan drastis   permintaan dollar AS. "Biasanya yang paling banyak mengajukan permintaan dollar kepada kami adalah Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tapi sejauh ini masih normal permintaannya," kata Budi, Rabu (13/5).

Dia memperkirakan, hingga akhir tahun nanti, permintaan dollar AS tidak akan tumbuh signifikan.

Senada dengan Bank Mandiri, BRI menyatakan bahwa permintaan dollar juga masih stabil kendati kurs jual bank tinggi. "Sampai hari ini belum ada tren peningkatan tajam dalam hal permintaan dollar," ujar Asmawi Syam, Direktur Utama BRI.

Kata Asmawi, mayoritas nasabah BRI tak menggunakan dollar. Itu sebabnya, permintaan dollar tidak sebesar bank-bank lain yang memiliki nasabah korporasi besar.

Sulit menguat

Dari pantauan KONTAN, permintaan dollar pada money changer juga belum naik siginifikan. "Bahkan transaksi kami turun 30% dari saat pelemahan rupiah beberapa bulan silam," ujar Yohanes Budi, Manajer Tri Tunggal Money Changer.

Saat ini, kata Yohanes, transaksi penjualan dollar hanya berkisar US$ 10.000 per hari. Banyak nasabah Tri Tunggal membutuhkan valas untuk memasukkan anaknya sekolah di luar negeri, dan pergi berlibur.

Tri Tunggal menjual dollar di level Rp 13.195. "Idealnya rupiah menguat ke Rp 12.000-an. Tapi dengan kondisi ekonomi seperti ini, rasanya sulit terwujud," ujar Yohanes.

Editor: Hendra Gunawan


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga emas bertahan di atas level US 1.200. Mengendurnya pamor dollar Amerika Serikat (AS) menguntungkan logam mulia. Namun, waspada, kenaikan diperkirakan hanya sementara.

Mengutip Bloomberg, Kamis (14/5) pukul 18.15 WIB, emas kontrak pengiriman bulan Juni 2015 di Commodity Exchange naik tipis 0,06% menjadi US$ 1.218,9 per ons troi. Sepanjang pekan ini, harganya sudah menanjak 2,52%.

Analis SoeGee Futures, Alwi Assegaf menilai, pamor emas menguat seiring pelemahan dollar AS. Mata uang Negeri Paman Sam terkoreksi karena data ekonomi terbaru menunjukkan perlambatan.

Penjualan ritel di AS bulan April 2015 stagnan alias tidak tumbuh. Data ini memburuk karena bulan sebelumnya masih tumbuh 1,1%. Akibatnya, indeks dollar spot turun 0,13% ke level 93,49 pada Kamis (14/5) sore. "Data yang memburuk menekan dollar AS, sehingga pelaku pasar beralih memegang emas," papar Alwy.

Apalagi, emas sedang diburu sebagai alternatif investasi di saat situasi tidak aman alias sebagai safe haven. Analis Monex Investindo Futures Vidi Yuliansyah bilang, ini terjadi karena ketidakpastian penyelesaian utang Yunani. Meski Yunani sudah membayar utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF), namun Negeri Para Dewa ini masih punya kewajiban yang harus dibayarkan kepada kreditur pada Juni nanti.

Kekhawatiran Yunani bakal gagal bayar utang juga memicu melambungnya imbal hasil (yield) obligasi Zona Euro. Alhasil, investor lebih memburu obligasi euro dibandingkan US Treasury, sehingga turut menekan dollar AS. Maka Vidi memperkirakan, harga emas masih berpeluang naik hingga akhir pekan ini.

Jangka panjang lemah

Meski demikian, Alwi mengingatkan, kenaikan harga emas hanya jangka pendek. "Sebab, pasar akan kembali dibayangi faktor jangka panjang, yaitu ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (Ffd fund rate)," ujarnya.

Menurutnya, meskipun The Fed menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, namun rencana itu tetap akan dilaksanakan pada tahun ini. Apalagi, jika data-data ekonomi AS bisa menunjukkan hasil positif dalam beberapa waktu ke depan. Akibatnya pamor emas bisa kembali meredup.

Vidi sependapat. Ia menduga, jangka panjang, pergerakan harga emas masih rentan terkoreksi. Selain terseret penguatan dollar AS, harga emas juga akan terpengaruh faktor fundamental permintaan, terutama dari Tiongkok.

Apabila perekonomian China tak kunjung pulih, logam mulia sulit naik signifikan. Secara teknikal, lanjut Alwy, jangka pendek pergerakan harga emas masih relatif bullish. Ini tercermin dari harga yang bergerak di atas moving average (MA) 10 dan 55.

Indikator stochastic telah membentuk golden cross yang membuka peluang kenaikan. Relative strength index (RSI) dan moving average convergence divergence (MACD) juga bergerak ke area positif. Artinya, masih terbuka peluang kenaikan harga emas.

Prediksi Alwy, hingga sepekan mendatang, emas bergerak di kisaran US$ 1.204 sampai US$ 1.224 per troi ons. "Namun, hari ini, pergerakan relatif sempit antara US$ 1.204-US$ 1.219 per troi ons," ujarnya. Vidi menebak, sepekan, harga si kuning bisa menuju resistance US$ 1.224- US$ 1.234, dengan support di US$ 1.170 hingga US$ 1.192 per troi ons.

 

Editor: Uji Agung Santosa


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia konsisten menguat hingga siang ini, Rabu (13/5/2015), setelah dibuka terkoreksi signfikan. El Nino diprediksi mendorong harga sawit selama 3 bulan ke depan.

Kontrak berjangka CPO untuk Juli 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka terkoreksi 0,40% ke harga 2.216 ringgit setelah melejit 1,37% pada penutupan kemarin.

Namun, harga komoditas tersebut terus diperdagangkan menguat sejak pembukaan dan diperdagangkan lebih mahal 0,18% ke 2.229 ringgit atau Rp8,15 juta per ton pada pukul 10.10 WIB.

Laporan Ong Chee Ting, Analis Maybank Investment Bank, memproyeksikan harga CPO bisa naik hingga 2.500 ringgit per ton dalam 3 bulan ke depan karena cuaca kering bawaan El Nino.

“Di beberapa bulan ke depan, kami memperkirakan ekspor CPO meningkat. Stok yang tipis, misalnya di China, akan meningkatkan permintaan untuk berjaga-jaga produksi anjlok karena El Nino,” kata Ong seperti dikutip Bloomberg.

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO Juli 2015

 

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

13/5/2015

(10.10 WIB)

2.229

+0,18%

12/5/2015

2.225

+1,37%

11/5/2015

2.195

+1,53%

8/5/2015

2.162

-0,51%

7/5/2015

2.168

-0,69%

Sumber: Bloomberg


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah naik pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta) setelah adanya perkiraan kenaikan permintaan akan minyak mentah yang dikeluarkan oleh dua lembaga.

Mengutip Wall Street Journal, Rabu (13/5/2015), minyak mentah jenis Light untuk pengiriman Juni naik US$ 1,50 atau 2,5 persen menjadi US$ 60,75 per barel di New York Mercantile Exchange, Amerika Serikat (AS). Sedangkan minyak mentah jenis Brent, yang menjadi patokan harga global, menguat US$ 1,95 atau 3 persen menjadi US$ 66,86 per barel di ICE Futures Europe exchange.

Organisasi negara-negara pengekspor minyak atau Organization of The Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada Selasa (12/5/2015) mengeluarkan proyeksi permintaan minyak mentah untuk tahun ini. Dalam proyeksi tersebut, OPEC memperkirakan bahwa permintaan minyak berada di level 92,5 juta barel per hari atau naik 50 ribu barel per hari jika dibanding dengan proyeksi yang dikeluarkan pada bulan April 2015 lalu.

Dalam laporan yang terpisah,  Departemen Energi Amerika Serikat atau The U.S. Energy Information Administration mengeluarkan data proyeksi bahwa pada 2015 ini permintaan global akan naik di kisaran 190 ribu barel per hari atau menjadi 93,28 juta barel per hari.

Alasan yang menjadi dasar dua lembaga tersebut menaikkan proyeksi permintaan minyak mentah adalah adanya prospek perbaikan ekonomi di Eropa didorong oleh rendahnya harga minyak yang rendah. Eropa memang sedang menghadapi krisis, namun karena harga minyak cukup rendah setidaknya selama enam bulan ini membuat biaya produksi turun sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Harga minyak di Amerika dan dunia mendekati level tertingi pada tahun ini setelah sebelumnya turun sekitar 40 persen dari level tertinggi yang ditorehkan pada Juni 2014 lalu atau ketika harga masih berada di atas US$ 100 per barel.

Harga minyak telah jatuh pada akhir 2014 lalu karena pertumbuhan produksi yang cukup cepat dan penurunan permintaan. Tetapi pasar kembali pulih dalam beberapa minggu terakhir karena ekspektasi penurunan produksi di Amerika Serikat.

Dalam laporan Departemen Energi Amerika Serikat yang dikeluarkan pada Senin (11/5/2015) kemarin menunjukkan bahwa produksi minyak mentah dari tujuh wilayah turun 54 ribu barel per hari pada Mei 2015. Sedangkan pada Juni 2015 diperkirakan produksi juga akan turun 86 ribu barel per hari.

"Prediksi dari Departemen Energi Amerika tersebut tentu saja memberikan dukungan ke pasar untuk mengantisipasi penurunan produksi minyak mentah selama beberapa bulan ke depan pada saat yang bersamaan terjadi peningkatan permintaan akan minyak global," jelas Direktur Perusahaan konsultan Minyak Lipow Oil Associates, Andy Lipow.

Di awal 2015 ini, persediaan minyak mentah di Amerika sebenarnya terus berada di level tertinggi dalam 80 tahun terakhir. Namun angka persediaan tersebut jatuh untuk pertama kalinya pada pekan yang berakhir pada 1  Mei 2015 lalu. Penyebab jatuhnya persediaan minyak di AS tersebut karena kenaikan permintaan dan penurunan produksi.

Berbeda dari data yang dikeluarkan oleh Departemen Energi AS, analis yang disurvei oleh Wall Street Journal menyebutkan bahwa pasokan minyak mentah akan naik 100 ribu barel pada pekan lalu. Analis juga memperkirakan bahwa persediaan bahan bakar minyak anak naik 400 ribu barel pada minggu lalu.

Pada hari ini, Departemen Energi AS akan mengeluarkan data persediaan mingguan. The American Petroleum Institute, sebuah kelompok industri minyak, menyatakan bahwa pasokan minyak mentah telah turun 2 juta barel. (Gdn)


Narasumber : liputan6.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita