Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia kembali merosot pada Selasa (19/5/2015), jatuh selama 3 hari berturut-turut.

Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka turun 0,78% ke harga 2.165 ringgit atau 7,98 juta per ton.

CPO kemudian sempat jatuh hingga 0,92% ke 2.162 ringgit per ton dan ditransaksikan turun 0,73% ke harga 2.166 ringgit per ton pada pukul 09.58 WIB.

Komoditas meneruskan pelemahan yang terjadi sejak Jumat pekan lalu. Kenaikan suplai Malaysia dan potensi peningkatan tajam produksi di Indonesia membawa sentimen negatif ke pasar komoditas CPO.

Bloomberg melaporkan stok CPO di Malaysia naik 18% ke 2,19 juga ton pada April, persediaan paling banyak dalam 8 bulan terakhir.

Pada saat yang sama, produksi perkebunan sawit di Indonesia diperkirakan melonjak ke volume terbesar dalam 3 tahun yaitu 2,6 juta ton.

Pelemahan harga minyak kedelai, komoditas subtitusi CPO dalam produksi pengolahan makanan dan kosmetik, juga menekan harga CPO. Minyak kedela diperdagangkan turun 0,31% ke US$32,68/pound pada 10.01 WIB.

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO Agustus 2015

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

19/5/2015

(09.58 WIB)

2.166

-0,73%

18/5/2015

2.182

-0,27%

15/5/2015

2.188

-0,86%

14/5/2015

2.207

+0,32%

13/5/2015

 

2.200

-1,12%

Sumber: Bloomberg


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Kurs dollar AS menguat terhadap euro pada Senin (Selasa pagi WIB), di tengah meningkatnya kekhawatiran atas masalah utang Yunani.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengatakan pada Senin bahwa Yunani "dalam peregangan akhir" untuk mencapai kesepakatan tentang resolusi krisis utang Yunani dengan para kreditor internasionalnya di hari-hari berikutnya.

Namun, memo yang dibocorkan baru-baru ini dari Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa ada sedikit peluang bagi Yunani untuk membuat penjadwalan pembayaran pada 5 Juni.

Mata uang bersama turun 1,23 % terhadap dollar AS selama sesi. Indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya, naik 1,20 % menjadi 94,249 pada akhir perdagangan.

Di sisi ekonomi, kepercayaan pengembang AS di pasar untuk pembangunan baru rumah keluarga tunggal pada Mei turun dua poin ke tingkat 54, menurut Indeks Pasar Perumahan Asosiasi Pengembang Perumahan Nasional/Wells Fargo yang dirilis pada Senin.

Pada akhir perdagangan di New York, euro jatuh menjadi 1,1303 dollar dari 1,1461 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,5658 dollar dari 1,5752 dollar pada sesi sebelumnya. Dollar Australia turun ke 0,7980 dollar dari 0,8047 dollar.

Dollar AS dibeli 120,01 yen Jepang, lebih tinggi dari 119,29 yen di sesi sebelumnya. Greenback naik ke 0,9258 franc Swiss dari 0,9144 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,2164 dollar Kanada dari 1,2009 dollar Kanada.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Pelambatan pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2015 ternyata berdampak signifikan pada posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia. Data Bank Indonesia (BI) memperlihatkan, posisi ULN di akhir triwulan I menunjukan pelambatan karena hanya tumbuh sebesar 7,6% menjadi sebesar US$ 298,1 miliar. Padahal di kuartal IV-2014 lalu, ULN naik 10,20% (yoy).

Komposisi ULN Indonesia masih didominasi oleh sektor swasta yang mencapai US$ 165,3 miliar setara dengan 55,5% dari total ULN Indonesia. Walaupun masih mendominasi, pelambatan pertumbuhan terjadi di sektor swasta. Di tiga bulan pertama 2015, pertumbuhan pinjaman luar negeri swasta tumbuh 12,7% dari kuartal sebelumnya sebesar 14,6%. Namun pelambatan paling kentara terjadi di ULN publik yang hanya naik 1,7% dari 5% pada kuartal IV 2014.

ULN sektor swasta di triwulan I-2015 kali ini terpusat pada sektor keuangan yang berkontribusi hingga 29,5%. Di posisi berikutnya ialah industri pengolahan, pertambangan dan listrik, gas dan air bersih. Meskipun masih mendominasi, ternyata pertumbuhan tahunan ULN untuk sektor keuangan dan industri pengolahan tercatat melambat dibandingkan pertumbuhan di kuartal sebelumnya.

BI pun memandang perkembangan ULN pada tiga bulan pertama 2015 kali ini sejalan dengan perekonomian domestik yang tengah melempem. BI akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN swasta. BI berjanji mengawasi ULN agar dapat berperan optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan resiko yang dapat mengganggu stabilitas makro ekonomi.

Ekonom Bank Internasional Indonesia Juniman sepakat dengan BI, bahwa pelambatan ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi di kuartal 1 2015 yang hanya 4,7%. Akibatnya sektor swasta mengerem rencana ekspansi sehingga pertumbuhan utangnya minim.

Ke depan, perkembangan ULN lebih banyak terjadi pada sektor pemerintah. Mengingat, penerimaan pajak meleset dari target, sedangkan keperluan pemerintah untuk membiayai belanja modal dan infastruktur tergolong tinggi.

Apalagi kegiatan pemerintah di kuartal II bakal lebih banyak ketimbang di kuartal I kemarin. Mengingat proses tender biasanya sudah selesai di kuartal II. "Untuk menutupi kekurangan dari penerimaan pajak, pemerintah menambah utang secara bilateral dan multilateral," jelas Juniman.

Sektor swata pun diperkirakan masih akan mengerem rencana pelebaran sayap bisnisnya di kuartal II 2015. Selain itu, kebijakan BI yang mengharuskan swasta melakukan lindung nilai atawa hedging atas ULN serta melaporkannya, turut mempengaruhi pelambatan pertumbuhan ULN swasta di kuartal II.


Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41
JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi baru akan terlihat menanjak pada kuartal kedua dan keempat tahun 2015, seiring mulai direalisasikannya pembangunan infrastruktur vital di beberapa wilayah di Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), Panangian Simanungkalit, pertumbuhan ekonomi pada kuartal dua diperkirakan bisa mencapai 5 persen. Hal ini disebabkan, sebagian besar menteri-menteri pada Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla baru memulai kerjanya bulan ini.

"Sejak nomenklatur diubah, tidak ada yang mau ambil risiko. Mereka baru bekerja efektif mulai Mei," ujar Panangian kepada Kompas.com, Ahad (17/5/2015).

Panangian menuturkan, keuntungan fiskal dari kenaikan bahan bakar minyak (BBM), telah dialokasikan untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mendapatkan alokasi terbesar yaitu Rp 118 triliun.

Meski begitu, sebagian besar proyek fisik baru dimulai pada Mei 2015, karena APBN sendiri sempat molor pengesahannya. Hal tersebut yang membuat para menteri dan jajaran di bawahnya tidak mau mengambil risiko dengan memulai proyek terlebih dahulu.

Dengan pekerjaan yang dimulai pada Mei atau kuartal II/2015, maka dampak pertumbuhan ekonomi baru terasa pada kuartal ketiga dan keempat. "Efeknya baru setelah Lebaran. Ekonomi akan lebih baik sekitar 5 persen," kata Panangian.

Lebih jauh lagi, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi akan terus merangkak naik di tahun depan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi menurut Bank Indonesia (BI) sendiri adalah 5,2 persen, sementara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi sekitar 5,7 persen.

Panangian mengatakan, pertumbuhannya bisa melampaui 5 persen dengan mengacu pada BI, yaitu sekitar 5,2 persen. "Kalau dikatakan Jokowi resmi (dilantik Presiden) bulan Oktober, pada Lebaran atau praktis 5 bulan menjelang satu tahun Jokowi, pertumbuhannya mencapai 5 persen. Tahun 2016 akan lebih tinggi lagi dibandingkan 2015," jelas Panangian.

Ia juga mengatakan, nantinya, BI rate dimungkinkan turun sampai menyentuh level 7 persen. Untuk saat ini, hal tersebut sulit tercapai akibat pelemahan ekonomi. Sementara itu, terkait ambisi pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen, Panangian menganggapnya memang sulit tercapai.

Namun, momen Jokowi bertandang ke Tiongkok memberikan respon positif investasi. Di ranah internasional, Indonesia dinilai masih memiliki prospek. Terlebih di saat ekonomi negara-negara Amerika dan Eropa sedang terengah-engah, Indonesia, bersama dengan Tiongkok dan India, menjadi motor penggerak ekonomi global.


Narasumber : kompas.com
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, PALEMBANG -- Harga komoditas kelapa sawit di Sumatra Selatan menurun sekitar 2% pada periode pertama Mei 2015  dibanding periode kedua April 2015.

Berdasarkan data yang dilansir Dinas Perkebunan Sumsel, penurunan harga tersebut terjadi pada tandan buah segar (TBS) maupun minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO).

Adapun rata-rata harga CPO pada periode I Mei 2015 senilai Rp6.985 per kilogram atau menurun tipis Rp154 dari periode sebelumnya yang tercatat senilai Rp7.139 per kg.

Sementara itu harga TBS tahun ke 10—20 saat ini berada di posisi Rp1.510 per kg turun dari periode sebelumnya Rp1.552 per kg.

Berdasarkan catatan Bisnis, penurunan harga CPO dan TBS itu telah terjadi sejak Maret 2015 setelah beberapa periode sebelumnya terus mencatat kenaikan harga.


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita