- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2363
JAKARTA. Pergerakan harga minyak sejak awal pekan ini terus terkoreksi. Harga minyak di level konsolidasi setelah sentimen positif dan negatif di pasar bergerak tarik menarik.
Mengutip Bloomberg, Selasa (5/5) pukul 13.45 WIB, harga minyak kontrak pengiriman Juni 2015 di New York Merchantile Exchange menukik tipis 0,08% ke level US$ 58,88 per barel dibanding hari sebelumnya. Namun harga minyak dalam sepekan terakhir masih melesat 3,18%.
Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Faisyal menjelaskan, pergerakan harga minyak saat ini lebih flat. Belum ada sentimen utama yang menjadi dasar bergeraknya harga.
“Rig pengeboran minyak Amerika Serikat terus berkurang sementara Irak mengklaim bahwa suplai ekspornya pada April 2015 melonjak ke level tertinggi dalam tiga dekade,†jelasnya.
Pengurangan pengeboran minyak AS terus terjadi bahkan rig yang beroperasi kini sudah menyentuh level terendah sejak September 2010. EOG Resources Inc, produsen shale minyak terbesar di AS juga berencana menjaga level produksi di tahun 2015 ini tetap flat. Ini dilakukan setelah pada kuartal satu 2015 ini EOG mengalami kerugian yang cukup besar akibat anjloknya harga minyak dunia.
Di sisi lain, faktor Irak yang menggenjot ekspornya pada April 2015 menjadi penekan harga minyak sehingga tidak bisa kembali menguat. “Sekarang ini pasar sedang fokus dengan rilis data cadangan minyak mingguan AS pada Rabu (6/5),†tambah Faisyal.
Survei Bloomberg menunjukkan persediaan minyak mentah mingguan AS diperkirakan bertambah 1,2 juta barel atau lebih rendah dari pertambahan minggu sebelumnya yakni 1,9 juta barel. Dengan masih adanya pertambahan produksi ini, cadangan minyak AS melonjak ke level 490,9 juta barel atau tertinggi sejak 1930.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2130
JAKARTA. Reli panjang harga batubara didukung oleh menurunnya jumlah produksi batubara Amerika Serikat dan meningkatnya impor batubara India.
Mengutip Bloomberg, Senin (4/5) pukul 14.15 WIB harga batubara kontrak pengiriman Juni 2015 di bursa ICE Futures Europe naik 0,58% ke level US$ 59,90 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Harga ini juga sudah melesat 0,92% dalam sepekan terakhir.
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures memaparkan bahwa kenaikan harga batubara didukung oleh beberapa faktor meningkatnya permintaan dan menyusutnya produksi. Faktor-faktor fundamental ini berasal baik dari India, Amerika Serikat dan Indonesia.
Seperti yang dilansir oleh Bloomberg, 60% sumber listrik di India berasal dari batubara. Menurut laporan Mjunction Services Ltd. Maret 2015 impor batubara India melonjak 33,5% menjadi 242,4 juta metrik ton. Yang mana diprediksi pada tahun 2015 ini angka tersebut bisa melonjak hingga 260 juta metrik ton.
Sedangkan dari AS, berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA) AS pada Maret 2015 produksi batubara AS menurun 1,7% menjadi 18,2 juta ton. “Angka ini 7,9% lebih rendah dari perkiraan produksi mingguan dibanding tahun 2014,†kata Deddy.
Tidak hanya itu, wilayah tambang AS untuk produksi East of Mississippi River hanya mencapai 7,6 juta ton atau turun 1,29% dari minggu ke minggu di bulan Maret 2015. Padahal sebelumnya sempat mencapai 7,7 juta ton. Sedangkan untuk wilayah West of Mississippi River juga turun 1,85% menjadi 10,6 juta ton.
“Penurunan produksi yang cukup signifikan di beberapa produsen AS jelas memberikan pengurangan produksi yang dirasakan pasar global. Ini positif bagi harga,†papar Deddy.
Indonesia juga memberikan sumbangsih pada pengurangan produksi global. Sepanjang kuartal satu 2015 produksi batubara Indonesia hanya mencapai 97 juta ton atau turun 21% dari kuartal satu 2014 yang memproduksi sebanyak 124 juta ton.
Ditambah lagi, “Langkah pemerintah RI untuk mencanangkan pembangkit listrik tenaga uap berbahan batubara juga mengangkat harga,†ujar Deddy.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2584
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia telah sepakat menaikkan bea impor baja untuk tarif Most Favoured Nation (MFN) sebesar 15 persen. Kenaikan ini bertujuan untuk melindungi industri baja dalam negeri dari gempuran impor.
Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan, banjirnya baja impor membuat utilitas produksi perusahaan baja di Tanah Air merosot hingga 40 persen. Dengan menaikkan tarif bea masuk ini, diharapkan dapat meningkatkan utilisasi produk baja nasional dan memberikan nafas lega kepada para pengusaha baja di dalam negeri.
"Ibarat obat, ini baru paracetamolnya saja, ada upaya-upaya lain yang terus kita lakukan untuk meningkatkan utilisasi baja di dalam negeri," kata Harjanto di Jakarta, Ahad (3/5).
Meski tarif bea masuk telah dinaikkan, impor baja tidak bisa langsung dihilangkan. Pasalnya, masih ada negara-negara eksportir baja yang tidak termasuk dalam MFN, dan memiliki Free Trade Agreement (FTA) dengan Indonesia. Menurut Harjanto, porsi impor antara negara MFN dan non MFN besarnya sama yakni masing-masing 50 persen. Negara yang termasuk MFN dan mengekspor baja ke Indonesia diantaranya India, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Sedangkan negara non MFN yakni Jepang, Cina, dan Korea.
Harjanto mengimbau kepada industri baja di hulu maupun hilir agar tidak memanfaatkan kenaikan bea masuk ini, untuk menaikkan harga setinggi-tingginya. Sehingga biaya pembangunan menjadi mahal dan proyek pembangunan infrastruktur tidak dapat berjalan dengan baik.
"Kami mendorong perusahaan baja untuk meningkatkan utilisasi sehingga daya saing juga bisa meningkat," kata Harjanto.
Harjanto tidak memungkiri bahwa ada beberapa hal mendasar kebutuhan sektor manufaktur yang masih sulit disesuaikan, seperti bahan baku dan energi. Menurutnya, Kementerian Perindustrian tetap berupaya untuk menyampaikan permasalahan tersebut kepada stakeholder pemerintah agar bisa disesuaikan, sehingga industri manufaktur dalam negeri bisa berdaya saing dengan negara lain.
Pada dasarnya, industri manufaktur harus berkembang dan berdampingan dari hulu ke hilir. Akan tetapi, dengan kondisi keuangan negara yang sulit, pemerintah mencoba mencari terobosan sementara agar industri baja hulu bisa survive dan utilisasinya meningkat.
Narasumber : republika.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2192
Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) pada kuartal I/2015 tercatat sebesar Rp8 juta per ton.
Besaran tersebut mengalami sedikit penurunan sebesar 3,6% jika dibandingkan dengan harga rata-rata yang berlaku pada kuartal I/2015 yang mencapai Rp8,3 juta per ton.
"Bagaimanapun karena terjadi penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, pada kuartal I/2015 ini harga CPO lebih rendah di kisaran US$624 per ton," kata perseroan dalam keterangan resmi, Minggu (3/5/2015).
Kendati terdapat tekanan pada harga CPO pada saat ini, perseroan menilai bisnis akan tetap menguntungkan untuk jangka panjang.
"Permintaan akan di dorong oleh meningkatnya kebutuhan minyak nabati baik untuk kebutuhan konsumsi atau bahan bakar," tulis perseroan.
Sementara itu, tingkat produksi tandan buah segar pada kuartal I/2015 mencapai 218.567 ton, naik 3,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 211.142 ton.
Adapun yield perseroan mengalami penurunan signifikan pasca akusisi PT Sawit Mandiri Lestari dan PT Tanjung Sawit Abadi.
Hingga akhir 2014, yield SSMS mencapai 24,5 ton/ha, sementara pada kuartal I/2015 ini yield tercatat hanya 4,9 ton/ha.
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2860
JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan terdapat 12 pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) baik yang telah beroperasi maupun akan mulai berproduksi mulai tahun 2015.
R Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM mengatakan, total kebutuhan bijih nikel untuk para smelter tersebut akan mencapai 6,47 juta ton. Adapun perincian smelter tersebut yaitu,
1. PT Indoferro di Cilegon, Banten yang sudah berprosuksi sejak pertengahan 2012. Dengan kapasitas bahan baku 1,5 juta ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 250.000 ton NPI per tahun.
2. PT Cahaya Metal Modern Industri di Konawe Utara, Sulawesa Tenggara. Dengan kapasitas bahan baku 48.000 ton bijih nikel dan kapasitas produksi sebesar 8.640 ton NPI per tahun. Perusahaan ini sudah beroperasi sejak pertengahan 2014 lalu.
3. PT Sambas Mineral Mining di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Dengan kapasitas bahan baku 180.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 12.000 ton ferronickel (kadar Ni 25%) per tahun.
4. PT Macika Mineral Industri di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Dengan kapasitas bahan baku 290.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 53.000 ton ferronickel (kadar Ni 10%) per tahun.
5. PT Karyatama Konawe Utara di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Dengan kapasitas bahan baku 250.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 50.000 ton NPI per tahun.
6. PT Bintang Delapan Mineral di Morowali, Sulawesi Tengah. Dengan kapasitas bahan baku 1,6 juta ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 300.000 ton NPI per tahun.
7. PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara di Gebe, Maluku Utara. Dengan kapasitas bahan baku 500.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 100.000 ton ferronickel (kadar Ni 10%-16%) per tahun.
8. PT Gebe Industri Nikel di Gresik, Jawa Timur. Dengan kapasitas bahan baku 300.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 6.000 ton logam nikel (kadar Ni 99%) per tahun.
9. PT Aneka Tambang Tbk di Halmahera Timur, Maluku Utara. Dengan kapasitas bahan baku 800.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 10.000 ton ferronickel (kadar Ni 30%) per tahun.
10. PT Asia Mineral Mining, di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dengan kapasitas bahan baku 600.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 60.000 ton NPI per tahun.
11. PT Pernick di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dengan kapasitas bahan baku 100.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 10.000 ton NPI per tahun.
12. PT Mapan Asri Sejahtera di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dengan kapasitas bahan baku 300.000 ton bijih nikel per tahun dan kapasitas produksi 30.000 ton NPI per tahun.
Total kebutuhan seluruh smelter akan mencapai 6,47 juta ton bijih nikel per tahun. Adapun total produksi nikel paduan yaitu berupa NPI dengan total kapasitas produksi mencapai 708.640 ton per tahun, ferronickel sebanyak 175.000 ton per tahun, serta 6.000 ton logam nikel murni per tahun.
Pada tahun-tahun sebelumnya, smelter yang beroperasi di Indonesia cuma PT Vale Indonesia Tbk dengan pabrik nickelmatte berkapasitas 80.000 ton per tahun dan PT Aneka Tambang Tbk dengan kapasitas 20.000 ton ferronickel per tahun. Kedua perusahaan membutuhkan total pasokan sekitar 5,3 juta ton bijih nikel untuk pengoperasian smelter.

















Semua Berita