Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Tak seperti biasanya, di musim dingin yang melanda negara empat musim kali ini, harga minyak semakin loyo. Akhir pekan lalu (28/11), dalam sehari harga terjun bebas 10,81%  ke US$ 66,15 per barel. Ini  level terendah lebih dari empat tahun. Pemicunya, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menolak mengurangi produksi.

Dan harga minyak sepertinya masih betah dalam tren penurunan. Pada Selasa (2/11) pukul 17.30 WIB, harga West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Januari 2015 di New York Merchatile Exchange turun 0,8% dibanding hari sebelumnya ke US$ 68,46 per barel. Bahkan Jonathan Barratt, Chief Investment Officer Ayers Alliance Securities kepada CNBC, mengeluarkan ramalan nan menyeramkan: harga WTI berpeluang menembus US$ 40 per barel. "Itu terjadi jika perang harga ini tidak terkendali," katanya.

Isu perang harga minyak mengemuka setelah salah satu produsen minyak kelas paus, Arab Saudi, memotong harga jual resmi ke beberapa pelanggan empat bulan berturut-turut sampai November.

Tapi, Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, memprediksi, harga minyak berpeluang menguat terbatas di akhir tahun lantaran penurunannya sudah cukup tajam. Apalagi ada katalis positif, berlangsungnya musim dingin, sehingga permintaan energi naik.

Akhir tahun ini, harga bergulir di US$ 65–US$ 70 per barel. Namun tahun depan, harga bisa melemah lagi. “Harga bisa jatuh di bawah US$ 60 per barel,” ungkap Hans. Anjloknya harga minyak mentah karena perlambatan ekonomi global, terutama China, sebagai salah satu konsumen terbesar, sehingga permintaan turun. Sementara stok minyak  Amerika Serikat (AS) meningkat, setelah menemukan teknologi shale oil. Ini adalah teknologi pengeboran untuk memproduksi minyak yang terperangkap dalam batuan serpih.

Minyak mentah oversupply tapi OPEC ngotot menolak pengurangan produksi. Hans menduga, OPEC sengaja agar harga kian jatuh dan AS berhenti memproduksi shale oil. Jika harga tinggi, AS terus menggenjot shale oil dan bisa menjadi pengekspor minyak tahun depan. OPEC tak mau itu terjadi dan tetap ingin mendominasi pasar minyak.

Ariston Tjendra, Head of Reserch and Analysis Division PT Monex Investindo Futures memprediksi harga minyak akhir tahun di US$ 60,30-US$ 72 per barel. “Harga minyak masih melemah, kecuali ada perbaikan ekonomi China," ujarnya.

Kuartal I-2015, harga masih tertekan akibat perlambatan ekonomi China dan kenaikan indeks dollar AS karena ekspektasi suku bunga The Fed naik. Prediksi Ariston, harga minyak  di US$ 62-US$ 75 per barel. “Minyak baru menguat pertengahan tahun depan,” ujarnya.

Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Aktivitas manufaktur China yang melambat menyebabkan harga tembaga tergelincir ke level terendah empat tahun terakhir. Maklum, Tiongkok merupakan negara importir logam terbesar saat ini.

Mengutip Bloomberg Senin (1/12), harga tembaga pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 1,91% dari Jumat (28/11) menjadi US$ 6.230,75 per metrik ton. Ini merupakan level terendah sejak 10 Juni 2010.

Persediaan tembaga LME meningkat menjadi 164.300 metrik ton pada 28 November 2014. Dilihat dari data bursa harian, ini merupakan level tertinggi sejak Juni 2014.
Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan indeks manufaktur China yang hanya 50,3 lebih rendah ketimbang ekspektasi pasar menjadi sentimen negatif bagi tembaga. Tidak hanya itu, indeks manufaktur HSBC juga stagnan di level 50.

China menggelontorkan stimulus CNY 250 miliar dengan basis suku bunga. Tapi menurut Ibrahim, langkah ini tidak sesuai dengan utang China baik pemerintahan maupun swasta yang sebesar CNY 500 miliar. "Ketidaksesuaian ini menyebabkan pelaku pasar apatis sehingga pasar tidak terstimulus," kata Ibrahim.

Secara teknikal, bollinger band dan moving average (MA) masih 40% di atas bollinger bawah. Stochastic 60% negatif serta garis MACD 60% di area negatif. Tapi relative strength index (RSI) 65% di area positif.

Hari ini Ibrahim menduga, harga tembaga bergerak dengan support US$ 6.250 dan  resistance US$ 6.360 per metrik ton. Di akhir tahun, tembaga bisa menguat karena ada potensi dollar AS melemah. Harga tembaga bisa terangkat ke US$ 6.700 per metrik ton.

Editor: Sanny Cicilia

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

MELBOURNE. Harga minyak mentah dunia tak mampu mempertahankan rebound hari ini (2/12). Padahal, kemarin harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat terbesar sejak Agustus 2012.

Harga minyak WTI di pasar berjangka merosot 0,3% di pasar New York. WTI untuk pengiriman Januari turun 20 sen ke level US$ 68,80 per barel di bursa elektronik NYMEX pada pukul 12:15 waktu Sidney. Harga minyak di kontrak ini kemarin menguat 4,3% menjadi US$ 69 per barel.

"Risiko terhadap harga minyak mentah adalah karena produksi minyak di AS masih tinggi," kata David Lennox, Resource Analist di Fat Prophets di Sidney pada Bloomberg. Dia bilang, pasar akan memperhatikan hasil laporan bulanan OPEC. Harga minyak mentah dunia selama ini tertekan karena negara penghasil minyak yang tergabung dalam Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) enggan memangkas target kuota minyak yang selama ini di kisaran 30 juta barel per hari.

Sedangkan harga Brent untuk pengiriman Januari turun 5 sen menjadi US$ 72,49 per barel di bursa ICE Futures Europe, London.

Editor: Sanny Cicilia
Sumber: Bloomberg



Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Harga CPO menanjak seiring melonjaknya harga minyak dunia pada Senin (1/12) malam. Namun meski demikian, harga CPO jangka menengah panjang masih terperangkap dalam sentimen negatif.

Mengutip Bloomberg, Selasa (2/12) pukul 15.00, pengiriman CPO bulan Februari 2015 berada di level RM 2.130 per metrik ton. Harga naik 1% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga CPO tumbang 3,9%.

Zulfirman Basir, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, kenaikan harga CPO disebabkan oleh aksi bargain hunting (aksi beli di harga murah). Selain itu, CPO juga naik mengikuti harga minyak dunia yang melesat tajam. Meski tengah menanjak, namun Firman menilai harga CPO masih dibayangi tekanan. Karena kenaikan harga minyak dunia diduga hanya bersifat sementara. Minyak masih akan tergerus hingga akhir tahun, sehingga pelaku pasar masih cemas dengan efek penurunan harga minyak dunia belakangan yang dapat mengurangi minat terhadap CPO untuk biodiesel.

“Outlook permintaan CPO tidak terlalu bagus. Hal ini ditunjukkan oleh menurunnya aktivitas manufaktur China dan melambatnya ekspor CPO Malaysia,” ujar Firman.

Sepekan mendatang, Firman menduga harga CPO bergerak di kisaran RM 2.080-RM 2.200 per metrik ton. Hingga akhir tahun harga CPO diprediksi berada di level RM 2.060-RM 2.250 per metrik ton.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) berencana akan membangun jalan tol dari Pelabuhan Bakauheni sampai Palembang. Adapun panjang jalan tol di Sumatera ini diperkirakan mencapai lebih dari 500 kilometer (km).

Menteri PU-Pera Basuki Hadi Muljono menuturkan, guna mengembangkan proyek tersebut, pemerintah akan menggandeng PT Hutama Karya dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Nantinya, dua BUMN konstruksi tersebut akan bekerja sama dengan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry.

"Hari ini kami diundang sama Menteri BUMN untuk membicarakan proyek ini yang merupakan untuk menindaklanjuti perintah dari bapak Presiden terkait kunjungan kemarin," katanya di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (1/12/2014).

 

Narasumber : okezone.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita