- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2075
Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada awal perdagangan Jumat (05/12/2014) bergerak rebound.
Perdagangan CPO untuk kontrak Desember 2014 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.150 ringgit Malaysia per ton.
Harga tersebut sudah menguat 0,14% dibandingkan dengan penutupan pada Kamis (04/12/2014) yang melemah 0,6% ke 2.147 ringgit/ton.
Pada pukul 09.42 WIB atau sekitar 10.42 waktu Kuala Lumpur, harga CPO belum beranjak dari level pembukaan. Sampai dengan waktu tersebut, CPO bergerak di kisaran harga 2.150 ringgit/ton.
Pergerakan Harga CPO*
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
5/12 (09.42 WIB) |
2.150 |
+0,14% |
|
4/12 |
2.147 |
-0,6% |
|
3/12 |
2.160 |
+1,46% |
|
2/12 |
2.129 |
+1,38% |
|
1/12 |
2.116 |
-1,44% |
|
28/11 |
2.147 |
-0,83% |
*Kontrak Desember 2014
Sumber: Bloomberg 2014
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2230
WASHINGTON. Booming shale oil atau minyak serpih yang berasal dari Amerika Serikat turut menyeret harga minyak dunia. Saat pasar komoditas berdebat soal potensi penurunan harga minyak ke level US$ 50, harga minyak di North Dakota terjun ke US$ 50 per barel.
Minyak mentah yang dijual di wilayah shale Bakken, North Dakota bahkan turun ke level US$ 49,69 per barel pada akhir pekan lalu. Ini merupakan data dari unit pemasaran Plains All American Pipeline LP.
Harga ini turun 47% ketimbang level tertinggi Juni lalu dan lebih murah 29% ketimbang harga minyak Brent di level US$ 70,15 per barel. Wilayah shale besar lain seperti Niobrara di Kolorado dan Permian di Texas pun menjual minyak dengan harga diskon besar ketimbang harga minyak Brent dan West Texas Intermediate yang lebih mahal.
Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Association LLC mengatakan, perusahaan shale oil sebenarnya perlu biaya untuk pengumpulan minyak, pengiriman, terminal, jalur pipa dan biaya jalur kereta. "Bila perusahaan-perusahaan ini menjual di harga yang hampir sama dengan harga produksi, maka selisihnya akan sangat jauh dengan harga minyak WTI," kata Lipow kepada Bloomberg.
Bakken memproduksi 1,12 juta barel minyak per hari. Akhir tahun lalu, jaringan pipa baru bisa menampung 583.000 barel minyak per hari. Menurut Pipeline Authority, kapasitas pipa ini akan dinaikkan menjadi 773.000 barel akhir tahun ini dan menjadi 1,7 juta barel minyak per hari pada akhir tahun 2017. Alhasil, booming minyak dari tambang shale masih akan berlanjut beberapa tahun.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2243
SYDNEY. Banyak pihak telah memprediksi Bank Sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) bakal melanjutkan pemangkasan suku bunga karena perlambatan pertumbuhan ekonomi Negeri Kanguru. Goldman Sachs Group Inc dan Deutsche Bank AG merupakan dua institusi yang meramal hal tersebut bakal terjadi.
Goldman dan Deutsche Bank berharap, RBA akan memangkas lagi suku bunga pada tahun depan menjadi 2% dari sebelumnya 2,5%. Padahal dengan bunga sekarang, Australia sudah mengukir rekor suku bunga terendah.
Seperti diberitakan Bloomberg, Rabu (3/12), prediksi Goldman dan Deutsche mengacu pada pengumuman angka pertumbuhan ekonomi Australia yang jauh dari harapan. Pada kuartal ketiga tahun ini, Australia hanya mampu mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 0,3%.
Asal tahu saja, berdasarkan catatan www.tradingeconomics.com, dengan mengutip data dari Australia Bereau of Statistic, pertumbuhan ekonomi Australia selama periode 1959 sampai 2014 rata-rata sebesar 0,88%. Pertumbuhan ekonomi tertinggi Australia sebesar 4,50% dicapai pada kuartal pertama tahun 1976.
Sedangkan pada kuartal kedua tahun 1974, Australia membukukan pertumbuhan minus 2%. Angka ini sekaligus menjadi sejarah terburuk di Australia.
Saat ini, pertumbuhan ekonomi Australia pun tengah menghadapi tekanan. "Pertumbuhan ekonomi yang rendah karena lesunya bisnis pertambangan, konsumsi, serta perumahan," ujar Tim Toohey, Kepala Ekonomi dan Strategi Goldmand Sachs di Merbourne seperti dikutip Bloomberg.
Penurunan harga bijih besi betul-betul memukul perekonomian Australia. Sebab, produk komoditas ini menyumbang seperlima dari pendapatan ekspor Australia.
James Mclntyre dari Macquaire Group Ltd memperkirakan, Australia perlu menggelontorkan lebih banyak stimulus pada tahun depan. "Saya melihat Bank Sentral Australia akan memangkas pertumbuhan ekonomi lagi pada tahun depan," ucap Mclntyre.
Mclntyre kini mempertanyakan, apakah Bank Sentral Australia akan menggelontorkan stimulus pada akhir tahun ini, atau awal tahun depan.\
Dalam pertemuan terakhir, Bank Sentral Australia masih tetap optimistis akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun kebijakan itu sendiri akan dikaji ulang pada pertemuan dewan gubernur yang akan berlangsung pada 3 Februari 2015 mendatang,
Bank Sentral Australia telah berupaya keras mendorong belanja konsumen dan perusahaan untuk mengimbangi jatuhnya investasi pertambangan. Perusahaan-perusahaan di Australia juga telah memutuskan tidak melakukan ekspansi.
Mereka lebih memilih membagikan sedikit hasil keuntungannya menjadi dividen kepada investor, ketimbang berinvestasi. Toyota Motor Corp. misalnya, mengumumkan akan berhenti memproduksi mobil di Australia.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2586
WASHINGTON. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai penurunan harga minyak dunia akan membantu pemulihan ekonomi global sekaligus berisiko ke negara produsen minyak.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Christine Lagarde mengatakan, secara umumm penurunan harga minyak berpengaruh baik pada ekonomi global. Tapi bagi negara seperti Rusia yang merupakan produsen minyak, penurunan harga jadi ancaman serius yang menambah kerentanan ekonomi.
Kata Lagarde, penurunan 30% harga minyak menjadi dorongan 0,8% pertumbuhan bagi sebagian besar negara maju. "Pengaruhnya sekitar 0,6% untuk Amerika Serikat," kata Lagarde seperti dikutip Bloomberg.
Adapun di Rusia, minyak dan gas menyumbang 68% ekspor dan 50% anggaran federal. Sejak awal tahun hingga kini, Rusia kehilangan hampir US$ 90 miliar cadangan devisa, setara dengan 4,5% ekonomi Rusia.
Bank of Rusia kembali intervensi pasar dengan mengguyurkan US$ 700 juta. Ini merupakan intervensi pertama dalam sebulan terakhir.
IMF telah mengingatkan negara-negara Timur Tengah untuk bersiap-siap mencatat defisit fiskal. Selain negara-negara Timur Tengah, Venezuela dan beberapa negara Afrika penghasil minyak bisa kena dampak.
Di sisi lain, negara-negara kawasan mata uang euro bagian selatan yang kena krisis finansial dalam lima tahun terakhir malah perlu bersyukur atas penurunan harga minyak. Penurunan harga minyak yang diikuti menurunnya biaya bensin bisa mendorong permintaan konsumen.
Menteri Keuangan Spanyol Luis de Guindos mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahunan Spanyol bisa bertambah hingga 1% dengan harga minyak antara US$ 80 hingga US$ 90 per barel.
Sedangkan, menurut hitungan BNP Paribas SA, ekonomi Italia yang masuk resesi tahun keempat, bisa naik 0,3% bila harga minyak turun US$ 10 per barel. "Tidak ada keraguan bahwa harga minyak yang lebih rendah bisa menjadi stimulus pertumbuhan wilayah ini," kata Frederik Ducrozet, ekonom Credit Agricole.
Ducrozet menambahkan, Yunani, Spanyol, Portugal dan Italia akan menjadi negara-negara yang jelas diuntungkan. Sebagai pengimpor minyak, negara-negara ini untung karena ongkos energi yang makin murah akan meningkatkan daya beli konsumen. Malah, Jens Weidmann, Presiden Bank Sentral Jerman, Bundesbank mengatakan, penurunan harga minyak ini merupakan paket stimulus mini.
China yang menghadapi perlambatan ekonomi pun turut diuntungkan penurunan sekitar 30% harga minyak. Menurut hitungan Mizuho Bank Ltd, penurunan harga minyak tersebut bisa menambah 0,3% hingga 0,5% pertumbuhan ekonomi China. "Harga minyak yang lebih rendah juga memudahkan bank sentral untuk memangkas lagi suku bunga tahun depan," imbuh Frederic Neumann, Co-head of Asian Economics HSBC Holdings Plc.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2373
Metrotvnews.com, Jakarta: Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, outlook minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) cukup bearish, dimana CPO dapat mengalami pelemahan dengan target penurunan RM2085 dan stop-loss RM2150. "CPO mungkin akan diperdagangkan di kisaran RM2100 hingga RM2140 untuk hari ini," kata Zulfirman dalam risetnya, Rabu (3/12/2014).
Dari sisi fundamental, lanjut Zulfirman, pasar masih cemas dengan efek penurunan harga minyak dunia belakangan yang dapat mengurangi minat terhadap CPO untuk bio-diesel. Investor juga khawatir dengan melimpahnya suplai kedelai dunia, produk substitusi terhadap CPO untuk produk input makanan olahan. "Hal ini dapat memberikan sentimen negatif untuk CPO," ujarnya.
Namun, kata Zulfirman, kebijakan pajak ekspor CPO nol persen yang masih dijalankan Indonesia dan Malaysia dapat meredakan kekhawatiran atas melimpahnya stok CPO di negara produsen. Pelemahan nilai tukar Rupiah dan Ringgit Malaysia juga dapat memberikan harapan akan membaiknya kinerja ekpor CPO dari kedua produsen CPO terbesar di dunia tersebut.
"Data Tiongkok yang dirilis pagi ini yang menunjukkan kenaikan aktivitas sektor jasa Tiongkok dari 52,9 ke 53,0 di November mungkin dapat meredakan kecemasan atas kondisi ekonomi Tiongkok, konsumen CPO terbesar nomor 2 di dunia. "Hal ini mungkin dapat memberikan sentimen positif untuk CPO," tukasnya.
Narasumber : metrotvnews.com

















Semua Berita