- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2516
JAKARTA, KOMPAS.com - Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, memboyong investor asal Jepang, IHI Group, ke Indonesia untuk berinvestasi. Namun sebelumnya, investor tersebut minta diperkenalkan pada perusahaan Indonesia yang bisa menjadi rekanan.
"Jadi saya dari Tokyo datang ke sini untuk mempertemukan pihak IHI ini dengan pengusaha Indonesia melalui pertemuan atau seminar hari ini," ujar Yusron ketika ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Senin (1/12/2014).
IHI Group sebenarnya sudah cukup lama berinvestasi di Indonesia. Menurut Yusron, perusahaan tersebut tertarik untuk meningkatkan investasi yang sudah ada dan melebarkan sayapnya dalam industri lain, khususnya industri kapal.
Salah satu faktor pendorong yang membuat investor asal Jepang tersebut tertarik, menurut Yusron, adalah arah kebijakan Presiden Joko Widodo yang gencar menggairahkan sektor maritim.
"Mereka ingin lebih kuatkan lagi investasi yang sudah ada, berinvetasi baru, termasuk juga investasi di bidang lain. Mereka sudah ada, pabrik crane untuk angkat barang di pabrik. Lalu kemungkinan untuk engine mesin kapal mau bangun pabriknya di sini. Presiden Jokowi mau bangun kekuatan maritim kita, jadi saya sebagai dubes Indonesia di Jepang menghubungi ahli kapal, kita coba tarik Jepang untuk mesin kapal," katanya.
Yusron juga menyebutkan, IHI akan tetap berkontribusi dalam infrastruktur, khususnya pembangkit listrik. Selain itu, dia menyebutkan bahwa IHI akan bergerak pula di sektor pemeliharaan pesawat. "Termasuk pengembangan pemeliharaan pesawat kita. Jadi arahnya ke sana," kata Yusron.
Sementara Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan, pihaknya akan menghubungkan IHI dengan perusahaan lokal terkait. "Nanti (kerjasamanya) pasti dikenalkan ke perusahaan lokal yang sejalan dengan mereka misalnya dengan Rekayasa Industri," sebutnya.
Narasumber : kompas.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2627
INILAHCOM, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana membangun Tol Cileunyi-Tasikmalaya (Citas). Keberadaan tol ini nantinya dinilai mampu mendorong roda ekonomi di kawasan priangan timur Jawa Barat.
Dengan begitu, DPRD Jabar berkomitmen guna mendorong jalan tol yang menghubungkan Tol Cileunyi Kabupaten Bandung hingga Kabupaten Tasikmalaya itu.
"Kami terus berkomitmen mendorong pertumbuhan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Jabar, salah satunya priangan timur," ujar Anggota Komisi IV DPRD Jabar Yod Mintaraga, Minggu (30/11/2014).
Yod mengatakan keberadaan tol di kawasan priangan timur sangat penting untuk mendorong moda transportasi dan pertumbuhan ekonomi. Saat ini penyusunan detail engineering design pembangunan jalan tol Cielunyi-Tasikmalaya sudah dimulai.
"Dengan dibuatnya DED pembagian tugas terkait pembangunan jalan tol tersebut menjadi lebih jelas," jelas dia.
Dia berharap pada 2016 sudah dilakukan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya. Untuk pembangunan jalan tol tersebut akan menggunakan dana APBN dan swasta.
"Kan kita punya BUMD Jasa Sarana yang bisa menggarap ini. Kalau tol itu terbangun, bisa memperpendek daya tempuh. Saat ini yang jelas pembebasan lahan bisa terealisasi," ucap dia.
Untuk kawasan priangan timur, pihaknya juga mengalokasikan dana untuk pengembangan Bandara Nusawiru, Kabupaten Pangandaran. "Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan landasan pacu, hanggar, dan air traffic Bandara Nusawiru," jelas dia.
Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman menyatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2013 lalu, angka kemiskinan di daerah yang kini dipimpinnya mencapai 18% dari jumlah penduduk. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di Jabar.
Menurut Budi, tingginya angka kemiskinan ini terjadi karena rendahnya daya beli masyarakat. Oleh karena itu, Budi berharap Pemprov Jabar dan pusat lebih mencurahkan lagi perhatiannya kepada Kota Tasikmalaya.
"Saat ini pendapatan asli daerahnya masih tergolong kecil yakni sekitar Rp250 miliar. Kami berharap ada tambahan pembangunan infrastruktur, terutama untuk transportasi darat," ucapnya.
Dengan penambahan infrastruktur, pembangunan ekonomi di kabupaten/kota lain di sekitarnya akan turut terdorong. Dia sangat berharap wacana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Cileunyi, Kabupaten Bandung dengan Tasikmalaya bisa segera terealisasi.
"Selain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Priangan timur, hadirnya tol tersebut merupakan bentuk pemerataan pembangunan di Jabar. Kan di (Jabar) utara ada tol Cikapali, di tengah ada Cisumdawu. Di selatan juga perlu, Cileunyi-Tasikmalaya," ungkapnya. [yeh]
Narasumber : inilah.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2224
JAKARTA. Nilai penyerapan anggaran belanja modal (capex) PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tahun ini sangat minim. Hal ini terjadi lantaran pasar komoditas, terutama batubara yang masih belum pulih.
"Dari sekitar US$ 32-US$ 33 juta yang kami anggarkan, saat ini yang terealisasi hanya 20%," ujar Wachjudi Martono, Presiden Direktur DEWA, Jumaat (28/11).
Pasalnya, lanjut dia, ada penangguhan pembelian alat menyusul banyaknya permintaan penurunan produksi. Sehingga pengerjaaan pemindahan lapisan penutup tanah (overburden) dan produksi batubara berkurang.
Namun, Wahjudi bilang, sisa dari anggaran capex yang tidak terserap tahun ini akan dilimpahkan ke tahun depan. Tahun 2015, perseroan menganggarkan belanja modal sekitar US$ 40 juta hingga US$ 41 juta. Mayoritas dana akan digunakan untuk pembelian dan sewa alat.
Perseroan menargetkan, total volume produksi batubara yang dikerjakan tahun mencapai 18,74 juta ton. Angka ini meningkat dari estimasi produksi tahun ini yang sebesar 11,13 juta ton.
Adapun, hingga September 2014, total produksi batubara yang sudah terealisasi sebanyak 8,8 juta ton. Selanjutnya, proyeksi volume overburden removal tahun 2015 mendatang sekitar 119,34 juta bank cubic meters (bcm).
Angka ini meningkat dari estimasi akhir 2014 yang sebesar 62,48 juta bcm. Adanya kenaikan volume produksi tersebut membuat perusahaan kontraktor batubara ini berani memasang target optimis untuk tahun depan. Pendapatan diharapkan bisa menyentuh US$ 360,83 juta dan laba bersih sebesar US$ 5,14 juta.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2513
JAKARTA. Harga nikel jatuh dari puncak tertinggi selama enam bulan. Batalnya aksi mogok pekerja tambang di Kolombia, dan stok yang melimpah memicu harga logam industri ini turun gunung.
Mengutip Bloomberg, Selasa (25/11), hingga pukul 10.42 waktu Hong Kong, nikel pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,4% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 16.583 per metrik ton. Padahal, hari sebelumnya, nikel bertengger di US$ 16.650 per metrik ton. Ini harga tertinggi sejak 9 Oktober 2014.
Pelaku pasar bereaksi setelah BHP Billiton Ltd menyatakan, pekerja di tambang Cerro Matoso membatalkan rencana mogok kerja. Serikat pekerja dan perusahaan sedang bernegosiasi terkait kesepakatan jam kerja.
Seperti diketahui, Cerro merupakan tambang fero nikel terbesar kedua di dunia. Makanya, isu pemogokan pekerja ini sempat melambungkan harga nikel dalam beberapa hari terakhir. Harga nikel kian tertekan, sebab stok di LME per 24 Oktober 2014 mencapai rekor tertinggi, 397.236 metrik ton.
“Stok di London kembali memecahkan rekor, penambahan stok terutama dari Asia. Secara umum, pasar kelebihan stok," ungkap Mark Keenan, Kepala Riset Komoditas untuk Asia di Societe Generale SA, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (25/11).
Analis dan Direktur Equilibrium Komoditi Berjangka, Ibrahim, menilai, pelaku pasar kembali fokus pada faktor fundamental, setelah isu mogok tidak terjadi. "Stok masih tinggi, meskipun Indonesia menegaskan larangan ekspor mineral mentah. Sebab, Filipina dan Rusia justru sedang melakukan ekspor besar-besaran," ungkapnya.
Di sisi lain, permintaan masih lesu, terutama dari China dan Eropa. Penurunan permintaan nikel diperkirakan akan berlanjut hingga tahun depan. Bahkan, ada sinyal permintaan dari Amerika Serikat bakal turun pada tahun depan. Ini menyusul ekspektasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS di kuartal III yang direvisi turun menjadi 3,3% dari sebelumnya 3,5%.
Secara teknikal, kata Ibrahim, harga nikel masih dalam tren turun. Tren ini tercermin dari stochastic 60% yang berada di atas bollinger bawah, dan MA 30% di atas bollinger bawah. Dua indikator itu mengindikasikan negatif. Sementara, MACD dan RSI pada posisi wait and see. Prediksinya, hingga akhir pekan ini, nikel akan cenderung melandai di kisaran US$ 16.483-US$ 16.600 per metrik ton. Adapun, hingga penghujung tahun ini, harganya akan bergerak antara US$ 15.500-US$ 16.800 per metrik ton.
Narasumber : kontan,co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2449
JAKARTA. PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) optimistis, harga timah akan pulih pada tahun depan. Bursa berjangka ini memperkirakan, harga timah berpotensi menuju US$ 25.000 per metrik ton. Komisaris BKDI Fenny Widjaja menyebutkan, pergerakan harga tergantung suplai dan permintaan.
Sejauh ini, pasokan timah di pasar global tak banyak berubah. "Makanya, harga timah akan cepat kembali ke US$ 23.000-US$ 24.000 per metrik ton. Bahkan, di akhir tahun 2015, berpeluang ke US$ 25.000," ungkapnya, Selasa (25/11).
Harga tersebut berpeluang tercapai, apabila rata-rata volume transaksi timah di BKDI stabil di kisaran 6.000 ton per bulan. Seperti diketahui, BKDI ditunjuk sebagai bursa yang mengurus transaksi timah batangan sejak Agustus 2013 silam. Fenny berharap, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 44 tahun 2014 tentang Ketentuan Ekspor Timah bisa meminimalisir kebocoran ekspor, karena memuat standar spesifikasi jenis timah.
Dus, diharapkan bisa membantu menjaga harga. Stella Novita Lukman, Head of Product and Services PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), mengatakan, hingga akhir Oktober 2014, rata-rata volume transaksi timah sekitar 4.609 ton per bulan. Sementara, rata-rata volume ekspor sebesar 4.495 ton sebulan.
Menurut Fenny, harga timah di BKDI sangat berpeluang menjadi acuan harga timah dunia. Sebab Indonesia sebagai eksportir terbesar, dengan kontribusi sekitar 40% dari kebutuhan timah dunia. Sebagai gambaran, Selasa (25/11), timah jenis TINPB300 di BKDI diperdagangkan seharga US$ 20.955 per metrik ton.
Sementara, Senin (24/11), harga timah di London Metal Exchange ditutup pada level US$ 20.400 per metrik ton. TINPB300 memiliki kadar kemurnian 99,9%, sedangkan timah LME dengan kadar kemurnian 99,85%. Meski cukup optimistis harga timah bakal pulih, Fenny tak menampik masih ada tantangan BKDI ke depan. Seperti, terhambatnya ekspor akibat persoalan sistem.
Ia mencontohkan, akhir Oktober lalu, sebanyak 57 kontainer (setara 1.300 ton timah) tertahan di Pelabuhan Pangkal Balam, Bangka. Pihak Bea Cukai belum mau mengeluarkan pemberitahuan ekspor barang. Ini terjadi lantaran Permendag No. 40 mensyaratkan standar packaging. Permendag ini berlaku 1 November 2014, menggantikan Permendag No. 32 tahun 2013.
"Bea Cukai langsung berlakukan aturan packaging, padahal transaksi di Oktober. Akibatnya, timah tersebut tak bisa langsung ekspor," paparnya. Fenny berharap, kesalahan seperti itu tidak terjadi lagi, agar investor global yakin bertransaksi di BKDI.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita