Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat harga jual mobil bekas berkapasitas mesin besar anjlok. Sejumlah pedagang mobil pun mengeluhkan penurunan harga tersebut.

Selain potensi keuntungan yang berkurang, menjual mobil berkapasitas besar pun menjadi lebih lama dari biasanya.

“Mobil bekas berkapasitas besar sekarang kurang diminati karena konsumsi BBM- nya boros dan kurang cocok sebagai kendaraan operasional. Sekarang penjualan per bulannya pun masih stagnan,” ujar Herjanto Kosasih, Senior Manager Marketing Bursa Mobil Bekas Mangga Dua, Jumat (21/11).

Herjanto memberi contoh. Sebelumnya Toyota Kijang Innova lansiran tahun 2005 yang bermesin 2.000 cc mengalami penurunan harga jual 18%. “Biasanya dijual sekitar Rp 160 juta, sekarang dijual sekitar Rp 130 juta,” katanya.

Contoh lainnya yaitu Toyota Fortuner. Mobil berkapasitas mesin 2.700 cc keluaran tahun 2008 kini hanya dihargai sekitar Rp 175 – 180 juta. “Padahal sebelumnya harganya masih di atas Rp 200 juta,” keluh Herjanto.

Pada bulan Oktober 2014 kemarin, pusat penjualan mobil Mangga Dua mampu menjual sebanyak 2.430 unit mobil. Sedangkan sejak awal November hingga saat ini penjualannya tercatat sudah mencapai 2.000 unit.

“Sekarang orang cenderung menyimpan mobil berkapasitas besarnya dan lebih memilih kendaraan city car untuk kendaraan operasional,” Tambah Herjanto.

Editor: Hendra Gunawan


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Akhir pekan lalu harga tembaga ditutup menguat. Pemicunya adalah kepercayaan konsumen di Amerika Serikat (AS) sebagai pengguna logam industri terbesar kedua di dunia naik ke level tertinggi dalam tujuh tahun. Kenaikan harga tembaga ini merupakan yang terbesar selama dua bulan terakhir.

Mengutip data Bloomberg, Jumat (14/11), harga tembaga untuk pengiriman Desember 2014 di London Metal Exchange (LME) naik 0,72% menjadi US$ 6.705 per ton. Namun dalam sepekan harga masih turun 0,15%.

Data Prelim UoM consumer sentiment AS per Oktober naik menjadi 89,4 dari 86,9 bulan sebelumnya. Angka ini juga lebih tinggi dibanding perkiraan analis di 87,3. Data tersebut menjadi sinyal kenaikan belanja AS dan permintaan peralatan elektronik yang menggunakan kabel tembaga.

Graham Leigton, Trader Marex Spectron Group di New York kepada Bloomberg mengatakan, kenaikan kepercayaan konsumen ini berdampak positif bagi ekonomi dan industri secara keseluruhan. Namun, Bart Melek, Kepala Strategi Komunikasi TD Securities di Toronto menilai, kenaikan tingkat kepercayaan konsumen AS tidak terlalu penting karena pengguna tembaga terbesar adalah China.

Data produksi pabrik di Oktober melemah sejak tahun 2009. Produksi hanya tumbuh 7,7%, turun dari bulan sebelumnya 8%. Ini mengindikasikan permintaan tembaga China akan melambat.

Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibirium Komoditi Berjangka, mengatakan, kenaikan harga tembaga karena tingkat kepercayaan konsumen di AS meningkat. Namun, secara fundamental harga tembaga masih tertekan akibat perlambatan ekonomi Tiongkok. Dia memperkirakan, harga tembaga masih akan jatuh karena indeks dollar AS terus menguat.

Padahal, stok tembaga masih cukup besar, terutama di Filipina, Indonesia dan Australia. Ibrahim menilai, penguatan yang ada saat ini masih terbatas. "Produsen belum mau memangkas produksi karena ingin membayar biaya operasional, terutama membayar pekerja," jelas Ibrahim.

Secara teknikal ia melihat harga tembaga masih bakal melemah. Ini nampak pada bollinger band yang berada 60% di atas bollinger bawah menujukkan potensi turun. Moving Average (MA) 60% di atas bollinger bawah menandakan harga turun.

Stochastic di level 55% area negatif mengindikasikan harga turun. Relative Strength Index (RSI) 70% di area positif berpotensi naik. Sedangkan Moving Average Convergence Divergence (MACD) 60% di area negatif. Ibrahim memperkirakan, harga tembaga akan bergerak di US$ 6.430-US$ 6.720 per ton dan dalam sepekan akan di US$ 6.600-US$ 6.800.

Editor: Barratut Taqiyyah


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

INILAHCOM, Jakarta - Tren harga batu bara di pasar global yang kini mengalami penurunan tak selamanya memberi dampak negatif terhadap pelaku usaha tambang nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menyebut produksi batu bara nasional dapat dimanfaatkan dengan rencana pemerintah yang ingin membangun pembangkit listrik mencapai 35 ribu megawatt (Mw).

"Batu bara saya yakin nanti ada keseimbangan. Sebab, nanti ada upaya untuk menambah kapasitas listrik sebesar 35.000 Mw," ujar dia di Jakarta, Jumat (14/11/2014).

Ia menyadari produksi batu bara nasional memang berorientasi ekspor. Sebab, kata dia, kebutuhan batubara pasar di domestik hingga kini tak besar.

"Ekspor lebih besar karena konsumsi batubara nasional saja tidak tinggi," tutur dia.

Melalui mega proyek penambahan kapasitas listrik sebesar 35.000, ia yakin kebutuhan batu bara akan meningkat dari biasanya dengan terbangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

"Pembangunan PLTU sejalan dengan penambahan kapasitas listrik sebesar 35.000 Mw. Itu membuat demand domestik meningkat," ucap dia. [aji]


Narasumber : inilah.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Jakarta (ANTARA News) - Peraturan Pemerintah (PP) No.79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional mengamanatkan kepada pemerintah untuk menghentikan ekspor gas dan batubara guna menjamin ketersediaan energi.

Menurut peraturan yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 Oktober 2014 itu, sumber energi tidak lagi dijadikan sebagai komoditas ekspor semata, namun sebagai modal pembangunan nasional untuk kemakmuran rakyat.

Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional itu berlaku selama 2014-2050

Aturan yang disusun oleh Dewan Energi Nasional (DEN) tersebut ditujukan untuk memberi arah pengelolaan energi guna mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi.

Menurut Pasal 10 PP No. 79/2014, salah satu upaya memenuhi ketersediaan energi untuk kebutuhan nasional adalah mengurangi ekspor energi terutama gas dan batubara serta menetapkan batas waktu untuk memulai menghentikan ekspornya.

Cara lainnya adalah meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, meningkatkan pasokan energi dari dalam dan luar negeri, serta meningkatkan kehandalan sistem produksi, transportasi, dan distribusi penyediaan energi.

Terkait nuklir, PP itu menyebutkan bahwa pemanfaatan energi alternatif tersebut merupakan pilihan terakhir setelah energi baru dan terbarukan lainnya dengan memperhatikan keselamatan secara ketat.

PP juga mengamanatkan penerapan tarif listrik secara progresif dan mekanisme feed in tariff untuk harga jual energi terbarukan.

Menurut peraturan itu, sasaran rasio elektrifikasi ditargetkan 85 persen pada 2015 dan mendekati 100 persen pada 2020. Sedangkan, rasio gas rumah tangga 2015 direncanakan 85 persen.

Sementara soal target bauran energi, PP mengamanatkan pada 2025 porsi energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen, minyak 25 persen, batubara 30 persen, dan gas 22 persen.

Pada 2050 penggunaan energi baru terbarukan ditargetkan 31 persen, minyak 20 persen, batubara 25 persen, dan gas 24 persen.

Terkait subsidi, PP menyebutkan, subsidi diperuntukkan bagi golongan masyarakat tidak mampu. Namun pengurangan subsidi bahan bakar minyak dan listrik terus dilakukan secara bertahap sampai kemampuan daya beli masyarakat tercapai.

Menurut peraturan itu, subsidi bisa diberikan pemerintah dan pemerintah daerah.

Kebijakan Energi Nasional merupakan amanat Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi.

DEN menyusun Kebijakan Energi Nasional. Pada 28 Januari 2014, Komisi VII DPR menyepakati penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional.

Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional itu mencabut Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Editor: Maryati

 

Narasumber : antaranews.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Potret pelemahan harga jual batubara sepanjang tahun ini menjadi dasar PT United Tractors Tbk mematok target kinerja tahun 2015. Perusahaan itu hanya berani mematok target penjualan alat berat pertambangan sebanyak 4.000 unit saja.

Jika dibandingkan dengan realisasi penjualan alat berat pertambangan tahun 2013 sebanyak 4.200 unit, berarti target itu melorot 4,76%. Sementara, jika dibandingkan target penjualan alat berat pertambangan tahun 2014 yang sebesar 3.700-3.800 unit alat berat, target 2015 itu masih lebih besar 5,26%-8,12%.

Namun, perlu dicatat, target 2014 itu adalah target revisi. Semula United Tractors optimistis bisa melego 4.494 unit alat berat pertambangan.

United Tractors merevisi target lantaran melihat animo pasar alat berat pertambangan loyo. Musabab loyo animo pasar adalah pelemahan harga jual batubara. "Pengusaha batubara semula optimistis mematok target perkembangan bisnis, tapi akhirnya terpaksa menunda rencana ekspansinya," terang Sarah Loebis, Sekretaris Perusahaan United Tractors kepada KONTAN, Rabu (5/11).

Mengintip data Bloomberg, harga jual kontrak batubara di pasar Newcastle Coal Futures sejak akhir tahun lalu alias year to date (ytd) memang melemah. Harga kontrak batubara pada 4 November 2014 pukul 18.00 wib untuk pengiriman Desember 2014, tercatat US$ 62,65 per metrik ton. Harga itu sekaligus menjadi harga terendah periode itu.

Sementara harga kontrak batubara pada 31 Desember 2013 masih US$ 84,75 per metrik ton. Catatan harga itu sekaligus menjadi harga tertinggi para periode itu.

Nah, United Tractors memprediksi tren pelemahan harga jual batubara masih terus berlanjut tahun depan. Maka dari itu, perusahaan berkode UNTR di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini hanya menganggarkan belanja modal Rp 350 miliar, sama dengan 2014.

Namun perusahaan yang 59,5% sahamnya dimiliki PT Astra International itu masih berharap ada secercah harapan pada kinerjanya tahun depan. Jika pada penjualan alat berat, United Tractors pasrah, tidak demikian dengan proyeksi penjualan alat berat konstruksi dan perkebunan.

Sarah bilang, fokus pemerintahan Presiden Joko Widodo yang banyak menggenjot proyek infrastruktur akan memberikan peluang lebih besar bagi UNTR untuk menambah porsi penjualan alat berat konstruksi. Perusahaan itu berharap bisa mengail untung pada proyek jalan tol, pelabuhan dan jembatan.

Sarah belum bisa menyebut target penjualan tahun depan. Dia beralasan, baru bisa memprediksi target penjualan pasca proyek itu melewati proses pembebasan lahan.

Editor: Uji Agung Santosa


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita