- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2041
NEW YORK. Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik 32 sen menjadi US$ 56,71 per barel pada Kamis. Kenaikan harga minyak mentah didorong oleh aksi kelompok suku dan sejumlah militan Al Qaeda yang menguasai terminal minyak di selatan Yaman, setelah pasukan militer yang melindunginya menarik diri.
Terminal tersebut adalah penghubung utama di Hadramout untuk ekspor minyak mentah. Rata-rata ekspor dari wilayah itu mencapai 120.000 sampai 140.000 per hari.
Harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Juni 2015 naik 73 sen menjadi US$ 64,05 barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan dengan harga US$ 57 per barel untuk pertama kalinya sejak Desember 2014.
Harga minyak mentah pada hari sebelumnya turun setelah organisasi eksportir minyak dunia (OPEC) melaporkan lonjakan produksi minyak pada Maret 2015. Kondisi itu meningkatkan pasokan minyak ke pasar sehingga menekan harga, walau sebelumnya sejumlah perusahaan minyak berupaya menurunkan produksinya.
Dalam laporannya pada Rabu lalu, OPEC mengatakan permintaan minyak mentah pada tahun ini akan mencapai 80.000 barel per hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya karena harga yang rendah. Hal itu mengekang pasokan minyak dari Amerika Serikat dan negara non anggota OPEC lainnya.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2161
JAKARTA. Harga minyak mentah menghangat. Seruan anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) agar memangkas produksi menyulut kenaikan harga bahan bakar ini dalam lima hari terakhir.
Mengutip Bloomberg, Rabu (15/4) pukul 16.18 WIB, West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Mei 2015 di New York Merchantile Exchange naik 1,59% menjadi US$ 54,14 per barel. Selama lima hari terakhir, harga sudah mendaki 7,38%.
Pasar minyak mentah diwarnai sentimen positif, setelah Iran mengikuti jejak anggota OPEC lain, yakni Libia untuk meminta organisasi tersebut mengurangi produksi. Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namdar Zanganeh mengatakan, anggota-anggota OPEC perlu memotong volume produksi minimal 5% atau setara 1,5 juta barel per hari dari kuota produksi.
Sikap ini berseberangan dengan keputusan Arab Saudi pada November lalu yang menjaga produksi kolektif sebesar 30 juta barel sehari. Padahal suplai yang melimpah memicu harga jatuh sejak tahun lalu.
Analis SoeGee Futures Nizar Hilmy mengatakan, aksi Iran dan Libia memicu spekulasi suplai mungkin bisa susut. Pasar kian optimistis, Energy Information Administration (EIA) melaporkan, produksi shale oil di North Dakota, Amerika Serikat akan berkurang 57.000 barel per hari mulai Mei nanti. Dus, produksi minyak AS bisa berkurang menjadi 4,9 juta barel per hari.
"Memang, sentimen ini relatif sesaat, sebab stok minyak global masih banyak. Tapi ada harapan OPEC mengurangi produksi dalam jangka panjang," kata Nizar.
Menunggu data stok Harga minyak hingga akhir pekan ini akan dipengaruhi data stok di AS. Sejumlah analis memperkirakan, stok bertambah 3,5 juta barel per pekan lalu. Namun, pertambahannya lebih rendah ketimbang pekan sebelumnya, 10,9 juta barel.
"Jika data sesuai ekspektasi, reli harga minyak bisa berlanjut. Sebaliknya, jika di atas perkiraan, laju kenaikan akan tertahan," tutur Nizar. Ia menebak, hingga akhir pekan ini, harga minyak mentah bergerak di kisaran US$ 52 hingga US$ 55 per barel.
Research and Analyst PT Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar menilai, harga minyak masih rentan turun. "Selama harga belum bisa menembus level US$ 55 per barel, sulit untuk menjaga tren kenaikan," ungkapnya.
Deddy memperkirakan, hari ini, harga minyak akan konsolidasi dengan peluang kenaikan masih terbuka di kisaran US$ 52,78 - US$ 55,08 per barel. Adapun, sepekan ini, harga WTI bisa bergerak antara US$ 52,78 hingga US$ 55,70 per barel.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2213
JAKARTA. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) relatif berhasil melewati berbagai tekanan yang mendera sektor komoditas minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) sepanjang tahun lalu. Tahun lalu, emiten perkebunan milik Grup Salim ini berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 60,75% menjadi Rp 842,28 miliar. Sementara penjualan tumbuh 12,73%, menjadi Rp 14,96 triliun.
Andre Varian, Analis Ciptadana Securities, mengatakan, pertumbuhan tinggi ini terdorong kinerja di kuartal IV-2014. Pada periode itu, laba operasi SIMP melejit 104% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi Rp 830 miliar. Akibatnya, laba bersih naik 377% quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 285 miliar.
Pertumbuhan laba ini karena kenaikan volume penjualan minyak nabati 5% qoq menjadi 180.000 ton di kuartal IV-2014. Ini seiring naiknya penjualan CPO 17% qoq jadi 288.000 ton. Selain itu, SIMP berhasil efisiensi. "Perseroan mampu mengelola harga pokok penjualan (COGS) yang naik 8% qoq ketika beban usaha turun 40% qoq," ujar Andre, dalam riset 2 Maret 2015. Sehingga secara keseluruhan, perolehan laba bersih SIMP mencapai 106% dari target.
Priscilla Tjitra, Analis Credit Suisse, dalam riset 2 Maret 2015 mengatakan, pertumbuhan laba bersih SIMP sudah sesuai estimasi pasar. Dia memprediksi, akan ada kenaikan produksi CPO sekitar 5%.
Estimasi tersebut cenderung konservatif, mengingat cuaca kering sejak kuartal IV-2014. Dia yakin, harga CPO membaik di kuartal tahun ini, karena adanya banjir di Malaysia, kekeringan di Sumatera bagian Utara dan Riau. Belum lagi, persediaan CPO di China, India, dan Malaysia lebih rendah.
Andre memprediksi, harga CPO tahun ini di RM 2.350-RM 2.400 per ton. Menurut Priscilla, kuartal III akan menjadi puncak masa produksi sawit di Indonesia. Jika program biodiesel pemerintah berhasil dilakukan, hal ini bisa menyerap kelebihan persediaan dan bakal berdampak positif pada harga CPO.
Andre mengatakan, SIMP tertolong peningkatan operasional tandan buah segar (TBS). Ekspansi SIMP dengan membangun pabrik baru untuk meningkatkan kapasitas TBS juga berdampak positif. SIMP memang tengah membangun pabrik kelapa sawit baru di Sumatera Selatan dan tiga pabrik di Kalimantan, masing-masing berkapasitas 30 ton -45 ton per jam.
Pabrik itu diharapkan beroperasi di tahun 2016. Saat ini, SIMP sudah mengoperasikan 22 pabrik kelapa sawit di dua daerah tersebut dengan total kapasitas pengolahan TBS 5,7 juta ton per tahun. Tahun ini, SIMP menargetkan penanaman baru kelapa sawit 5.000 hektare (ha) -10.000 ha. Ini akan menambah luas lahan perkebunan tertanam kelapa sawit mencapai 82% dari total 300.050 ha lahan ti tahun lalu.
Andre memprediksi, tahun ini, SIMP bisa mencetak pendapatan Rp 16,24 triliun dan laba bersih Rp 791 miliar. Sementara Priscilla memperkirakan, pendapatan Rp 15,6 triliun dan laba Rp 904 miliar. Andre merekomendasikan hold di Rp 775. Harga ini mencerminkan price earning ratio (PER) 15,5 kali. Priscilla merekomendasikan netral di Rp 780. Namun, analis BNI Securities, Yasmin Soulisa merekomendasikan buy di Rp 800. Rabu (15/4), saham SIMP stagnan di Rp 675.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2023
NEW YORK. Kurs dollar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena data penjualan ritel lebih lemah dari yang diperkirakan dan IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada 2015 dan 2016.
Penjualan ritel AS untuk Maret naik 0,9 % dari bulan sebelumnya, Departemen Perdagangan melaporkan Selasa. Angka terbaru itu di bawah konsensus pasar untuk kenaikan 1,1 %.
"Biasanya, kenaikan penjualan ritel 0,9 % dalam sebulan dapat digambarkan sebagai kuat, tapi tidak kali ini, karena kenaikan gagal membalikkan bahkan setengah dari penurunan tiga bulan sebelumnya. Karena, penjualan pada kuartal pertama luar biasa lemah, yang jatuh 5,0 %," kata Chris Low, kepala ekonom di FTN Financial, dalam sebuah catatan.
Greenback berada di bawah tekanan lebih lanjut setelah perkiraan pertumbuhan lebih lemah. Dalam "World Economic Outlook" dua kali setahun yang dirilis Selasa, IMF memproyeksikan pertumbuhan AS akan mencapai 3,1 % pada 2015 dan 2016, lebih rendah dari ekspektasi Januari masing-masing 3,6 % dan 3,3 %.
Indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,73 % menjadi 98,762 pada akhir perdagangan.
Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi 1,0658 dollar dari 1,0569 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4781 dollar dari 1,4675 dollar. Dollar Australia naik ke 0,7630 dollar dari 0,7587 dollar.
Dollar AS dibeli 119,39 yen Jepang, lebih rendah dari 120,07 yen pada sesi sebelumnya. Dollar AS turun menjadi 0,9728 franc Swiss dari 0,9777 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2491 dollar Kanada dari 1,2597 dollar Kanada.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1881
Bisnis.com, JAKARTA— Kontrak komoditas CPO di Bursa Malaysia pada Selasa (14/4/2015) kembali merosot seiring penguatan nilai tukar ringgit.
Kontrak berjangka CPO untuk Juni 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka melemah 0,33% ke harga 2.124 ringgit per ton. CPO diperdagangkan turun 0,38% ke 2.123 ringgit per ton pada pukul 10.17 WIB.
Komoditas tersebut terus tertekan dan sempat anjlok hingga 0,66% ke 2.117 ringgit atau Rp7,44 juta per ton. CPO kembali melemah setelah ditutup menguat dalam 2 hari terakhir karena anjloknya nilai tukar ringgit.
Ringgit anjlok 2,11% sepanjang 2 hari terakhir ketika harga CPO menguat 0,52%. Hari ini, ringgit terapresiasi hingga 0,48% dan menguat 0,21% ke 3,7010 pada pukul 10.31 WIB.
Intertek menyatakan volume ekspor minyak sawit Malaysia naik dari 262.168 ton pada 1–10 Maret 2015 menjadi 324.545 ton pada 1–10 April 2015.
Pergerakan Harga Kontrak CPO Juni 2015
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
14/4/2015 (10.17 WIB) |
2.123 |
-0,38% |
|
13/4/2015 |
2.131 |
+0,14% |
|
10/4/2015 |
2.128 |
+0,38% |
|
9/4/2015 |
2.120 |
-2,12% |
|
8/4/2015 |
2.187 |
-0,91% |
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com

















Semua Berita