- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2242
Jakarta – Meskipun tahun lalu penjualan PT United Tractors Tbk mengalami penurunan, namun perseroan memastikan akan membagikan dividen kepada pemegang saham. Disebutkan, total dividen yang dibagikan sebesar Rp2,76 triliun untuk tahun buku 2014,â€Kami menyetujui untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp2,76 triliun atau Rp740 per saham yang dibayarkan pada 28 Oktober 2014," kata Presiden Direktur PT United Tractors Tbk, Gidion Hasan, di Jakarta, Selasa (21/4).
Sedangkan laba bersih sebesar Rp2,6 triliun atau Rp545 setiap saham direncanakan akan dibagikan kepada pemegang saham pada 22 Mei 2015. Hingga kuartal pertama tahun ini, kata Gideon, perseroan memperkirakan penjualan alat berat mencapai 760-an unit yang mengalami penurunan pada periode sama tahun sebelumnya dari jumlah sekitar 1.200-an unit.
Dia menjelaskan, penjualan turun akibat harga komoditas yang turun dan sektor infrastruktur yang masih belum berkembang secara signifikan. Sementara sektor konstruksi belum terealisasi dengan baik saat ini. Selanjutnya, belum lama ini perseroan mengakuisisi sekitar 75% saham dari suatu perusahaan tambang emas, PT Sumbawa Jutaraya atau senilai US$ 2,57 juta. Perusahaan itu berada di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Perusahaan tambang emas itu, lanjutnya, masih belum melakukan proses produksi tetapi masih pada tahap eksplorasi cadangan emas yang dimiliki,â€Satu hingga dua tahun untuk eksplorasi 'the real' (sesungguhnya) cadangan emas pada tambang ini," tuturnya.
Dia mengatakan, tahun ini perseroan menganggarkan dana US$ 10-20 juta untuk tahap eksplorasi perusahaan tambang emas itu. Sebagai informasi, penjualan alat berat UNTR tahun 2014 hanya mencapai 3.513 unit, atau menurun 16% dari penjualan tahun sebelumnya yang berada di angka 4.203 unit. Meski begitu, United Tractors tetap optimistis kinerjanya dapat bertahan melalui peningkatan performa anak usaha yakni PT Pama Persada sebagai kontraktor pertambangan yang diklaim akan menopang penjualan alat berat.
Sebagai gambaran, bisnis alat berat UNTR sangat bergantung besar terhadap bisnis pertambangan. Maka tak heran, jika kondisi harga jual batu bara yang belum pulih memberikan imbas berarti terhadap kinerja perseroan. Oleh sebab itu, tahun ini UNTR mematok target kinerja tahun 2015 sangat konservatif dengan menargtkan penjualan alat berat pertambangan sebanyak 4.000 unit saja.
Jika dibandingkan dengan realisasi penjualan alat berat pertambangan tahun 2013 sebanyak 4.200 unit, berarti target itu melorot 4,76%. Sementara, jika dibandingkan target penjualan alat berat pertambangan tahun 2014 yang sebesar 3.700-3.800 unit alat berat, target 2015 itu masih lebih besar 5,26%-8,12%.
Namun, perlu dicatat, target 2014 itu adalah target revisi. Semula United Tractors optimistis bisa melego 4.494 unit alat berat pertambangan.
United Tractors merevisi target lantaran melihat animo pasar alat berat pertambangan loyo. Musabab loyo animo pasar adalah pelemahan harga jual batubara. (bani)
Narasumber : neraca.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1836
"Komoditas CPO saat ini look-nya masih positif, harga CPO naik," kata analis LBP Enterprise Lucky Bayu, dalam Power Breakfast MNC Channel, Rabu (22/4/2015).
Menurutnya, saat ini orientasi pasar masih dilahap oleh komiditi besar seperti minyak dan emas yang menguat. Hal tersebut menjadi refleksi dari komoditi lainnya seperti CPO.
"Orientasi pasar dilahap komoditi oil dan gold yang menguat, ini juga berhasil membuat soft comodity seperti CPO menguat," jelasnya.
Lucky menambahkan, melihat look yang masih positif, maka diperkirakan harga CPO masih akan mengalami kenaikan pada bulan ini.
"Masih ada pontensial up side dari komoditi ini, ada kenaikan 2-3 persen di bulan ini," tambah dia.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2139
JAKARTA. Mengekor kondisi global, perekonomian nasional diprediksi melambat pada tahun ini. Indikasinya, pertumbuhan kredit perbankan melambat. Salah satu penyebabnya, mayoritas perusahaan di Indonesia tengah mengerem ekspansi.
Kesimpulan itu juga terekam oleh Standard & Poor's Ratings Services (S&P). Di awal bulan ini, S&P memproyeksikan nilai belanja modal (capex) perusahaan Indonesia sepanjang 2015 menyusut. Ini adalah penurunan pertama dalam lima tahun terakhir.
Ada beberapa faktor yang menjadi biang kerok korporasi mengerem ekspansi. Misalnya, suplai barang melimpah sementara konsumsi masih rendah. Di saat yang sama, nilai rupiah terhadap dollar AS belum stabil dan beban akibat kenaikan bahan bakar minyak masih menggerogoti sejumlah emiten.
S&P memprediksikan, belanja modal perusahaan tahun ini menyusut 2% dibanding tahun lalu. Pada 2014, belanja modal perusahaan naik lebih dari 15% year on year (yoy). "Melihat angka suplai dan demand beberapa sektor, kami yakin perusahaan telah memenuhi kapasitas untuk keperluan dua hingga tiga tahun mendatang," ujar Xavier Jean, Direktur Rating Korporasi S&P belum lama ini.
Dengan kata lain, korporasi tak perlu menambah investasi lagi. S&P merating 30 perusahaan di Indonesia. Sebanyak 23 perusahaan di antaranya adalah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Lini bisnis perusahaan itu bergerak di berbagai sektor, seperti pertambangan, migas, ritel, properti dan konsumer. S&P tak merinci belanja modal tiap emiten. Tapi total jenderal, tahun ini belanja modal 30 perusahaan itu sekitar Rp 166,6 triliun, sementara tahun lalu mencapai Rp 170 triliun.
S&P memperingatkan, emiten harus lebih waspada berekspansi, karena bisa menggerus laba. Kondisi domestik yang belum stabil, suplai dan permintaan tak seimbang, bisa menekan laba. "Kami memperkirakan, rata-rata margin EBITDA perusahaan yang kami rating di 28%-30% di 2015," kata Jean.
Angka itu di bawah rata-rata margin EBITDA tahun 2013 yang sebesar 36%. Adapun margin EBITDA emiten tahun lalu di kisaran 30%.
Berdasarkan catatan KONTAN, Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) memangkas belanja modal menjadi Rp 750 miliar dari tahun lalu Rp 1,6 triliun. Di sektor pertambangan, Indo Tambangraya Megah (ITMG) menurunkan belanja modal menjadi US$ 55 juta dari tahun lalu US$ 60 juta.
PT Indika Energy Tbk (INDY) juga melakukan hal sama. Tahun ini, perusahaan tersebut menyediakan belanja modal di bawah US$ 100 juta, sementara tahun lalu senilai US$ 113,5 juta.
Analis BNI Securities Thendra Chrisnanda menilai, banyak emiten terpengaruh siklus ekonomi saat ini. Menurunkan capex merupakan salah satu strategi menyesuaikan kondisi ekonomi. "Jika memaksakan diri menggenjot ekspansi, dampaknya justru negatif," ujar dia, Selasa (21/4).
Dengan memangkas belanja, pendapatan menurun. Korporasi masih bisa mengamankan profit melalui efisiensi.
Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Daniel Rachmat berpendapat, capex adalah kebutuhan jangka panjang. Oleh karena itu, pelaku usaha tidak hanya mempertimbangkan kondisi ekonomi satu-dua kuartal, tapi hingga satu tahun ke depan bahkan lebih.
Ia melihat, sektor pertambangan sedang flat, sehingga emiten tak perlu mengeluarkan banyak belanja modal. Demikian juga sektor perkebunan, meski kondisinya tak separah tambang mineral.
Tetap ada perusahaan yang mengerek belanja modal, misalnya sektor infrastruktur dan konstruksi. Mereka ingin mengalap berkah proyek infrastruktur pemerintah.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2175
NEW YORK. Kurs dollar AS melemah terhadap euro pada Selasa (Rabu pagi WIB), setelah sesi sebelumnya membukukan kenaikan terhadap mata uang bersama di tengah kekhawatiran meningkatnya tentang masalah utang Yunani.
Euro naik tipis setelah turun 0,6 % terhadap greenback di sesi sebelumnya, ketika pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan Yunani telah terjebak dalam negosiasi dengan IMF dan mitranya dari zona euro tentang reformasi ekonomi yang diperlukan oleh pemberi pinjaman untuk mendapatkan lebih banyak bantuan guna memecahkan masalah utang menekan.
Euro berada di bawah tekanan lebih lanjut karena Bank Sentral Eropa (ECB) mengusulkan kenaikan batasan pada bank ketika mereka meminjam dari bank sentral Yunani, menurut laporan Bloomberg, Selasa.
Dengan tidak ada data yang signifikan keluar dari negara itu, dollar AS diperdagangkan bervariasi terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa. Indeks dollar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, berakhir naik 0,03 % menjadi 97,968.
Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi 1,0735 dollar dari 1,0734 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4925 dollar dari 1,4903 dollar di sesi sebelumnya. Dollar Australia turun menjadi 0,7707 dollar dari 0,7720 dollar.
Dollar AS dibeli 119,70 yen Jepang, lebih tinggi dari 119,31 yen dari sesi sebelumnya. Dollar AS merosot menjadi 0,9551 franc Swiss dari 0,9564 franc Swiss, dan naik menjadi 1,2289 dollar Kanada dari 1,2232 dollar Kanada.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2071
JAKARTA. Hingga Kuartal I tahun ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) masih sulit memulihkan penjualan alat berat Komatsu. Gidion Hasan, Direktur Utama UNTR mengatakan, penjualan alat berat perseroan dalam tiga bulan pertama ini baru mencapai 763 unit.
Jumlah itu turun sampai 36,9% dibandingkan penjualan alat berat pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 1.211 unit. Melihat pencapaian itu, UNTR pun memangkas target penjualan alat berat tahun ini, menjadi hanya 3.000 unit saja. Jumlah itu turun 14,6% dari capaian tahun lalu sebanyak 3.513 unit alat berat. Padahal sebelumnya, UNTR masih optimistis bisa menjual 4.000 unit alat berat tahun ini.
Sektor pertambangan yang biasanya berkontribusi paling besar untuk penjualan alat berat UNTR memang tengah lesu. Sehingga permintaan pun berkurang. "Kami melihat dari sektornya memang belum pulih, sehingga harus lebih berhati-hati. Pangsa pasar juga menurun," ujar Gidion di Jakarta, Selasa (21/4).
Penurunan target ini otomatis dapat berimbas ke penjualan UNTR di Kuartal I. Namun, harapannya di akhir tahun, UNTR sudah mendapat tambahan cuan dari bisnis konstruksi hasil akuisisi PT Acset Indonusa Tbk (ACST). Selain mendorong diversifikasi bisnis di bidang konstruksi, UNTR juga mulai masuk ke bisnis tambang emas dan pembangkit listrik minihidro.

















Semua Berita