- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1762
JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) menahan ekspansi di bisnis batubara. Perseroan bahkan memangkas target penjualan batubara sampai 50% dari realisasi penjualan tahun lalu.
Gidion Hasan, Direktur Utama UNTR mengatakan, tahun lalu, perseroan berhasil menjual 6 juta ton batubara. Namun, tahun ini volume penjualan batubara UNTR hanya ditargetkan sebesar 3 juta ton.
"Sektor pertambangan batubara cukup berat. Harga batubara belum kondusif. Sehingga dengan harga saat ini, mungkin penjualannya akan turun 50% dari tahun lalu," ujarnya di Jakarta, Selasa (21/4).
Produksi batubara itu akan berasal dari tiga tambang UNTR, yakni PT Asmin Bara Bronang (ABB), PT Turangga Agung (TTA), dan PT Duta Nurcahya (DN). Ia bilang, TTA dan DN akan berproduksi dengan skala paling minimal. Sementara dari tambang Asmin, UNTR berharap bisa menjual 2 juta ton batu bara.
Sampai bulan Februari, UNTR baru menjual 1,22 juta ton batubara, stagnan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam dua bulan pertama, anak usaha UNTR, PT Pamapersada Nusantara hanya berhasil mencapai volume ekstraksi batubara sebesar 16,2 juta ton.
Jumlah itu turun dari periode sama tahun lalu yang masih sebanyak 18,1 juta ton. Sementara volume pengupasan tanah (overburden removal) Pama di dua bulan pertama tahun ini turun menjadi 109,1 juta bank cubic meter (bcm) dari sebelumnya 132,6 juta bcm.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1927
JAKARTA. Harga nikel seketika melambung. Kenaikan harga komoditas ini didorong keputusan pemerintah China yang melakukan pelonggaran kebijakan moneter.
Mengutip Bloomberg, Senin (20/4) pukul 10.01 waktu Hong Kong, harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange, senilai US$ 12.585 per metrik ton, atau naik 0,25%% dibandingkan hari sebelumnya. Selama sepekan ini, harga nikel sudah naik 1,45%.
Sekadar informasi, bank sentral China pada akhir pekan lalu sepakat untuk memberikan stimulus ekonomi kepada sektor perbankan. Mulai 20 April 2015, The People’s Bank of China kan memangkas rasio giro wajib minimum sebesar 100 basis poin (bps).
Ibrahim Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan, dampak dari pengumuman pemberian stimulus ekonomi membuat harga nikel terangkat. Maklum, China merupakan negara importir terbesar bagi nikel. â€Dampak pengumuman pemberian stimulus ini cukup luar biasa terhadap harga komoditas termasuk nikel,†kata Ibrahim.
Cuma, penguatan harga nikel akan terjegal. Pasalnya, minggu ini akan terjadi tarik menarik sentimen akibat berbagai rilis data ekonomi dari China maupun Amerika Serikat (AS) yang akan rilis pada hari yang sama yaitu Kamis (23/4). Pada hari itu, Chna akan merilis data indeks manufaktur China versi HSBC (HSBC flash manufacturing PMI). Diperkirakan, indeks manufaktur China per April adalah sebesar 49,4. “Nanti akan dibuktikan dari data indeks manufaktur Cina,†kata Ibrahim.
Jika hasil data manufaktur China bisa melampaui prediksi maka reli harga nikel bisa berlanjut. Sebaliknya, jika dibawah prediksi, harga nikel akan jatuh.
Pada hari yang sama, AS akan merilis data klaim pengangguran (unemployment claims) mingguan dan data penjualan rumah (new home sales) per bulan Maret. Jika hasilnya positif, indeks dollar AS akan memperoleh sentiment positif sehingga makin memicu ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika (The Fed). “Hal ini bisa menahan laju kenaikan harga komoditas nikel,†kata Ibrahim.
Ibrahim memprediksi, harga nikel pada Selasa (21/4) akan bergerak dikisaran US$ 12.550–US$ 12.710 per metric ton. Selama sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi harga nikel akan bergerak di rentang US$ 12.400–US$ 12.700 per metrik ton.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1881
JAKARTA. Menguatnya nilai tukar dollar Amerika Serikat membuat PT Trisula International Tbk mengerek harga jual produknya. Emiten bursa efek Indonesia berkode TRIST itu menaikkan harga jual sebesar 8%.
"Sejak awal tahun ini kami ada kenaikan harga jual sebesar 8%. Kami belum tahu, apakah ke depannya kami akan melakukan adjustment (penyesuaian) harga lagi atau tidak. Lihat situasi dulu," kata Direktur Utama Trisula International Tbk, Senin (20/4).
Menurut Lisa, manajemen harus mengambil keputusan ini lantaran produk yang dipasarkan perseroan mayoritas adalah produk impor. Dia bilang, porsi produk impor perseroan mencapai 60%-70%.
Meskipun begitu, sebetulnya penjualan perseroan masih ditopang oleh penjualan ekspor ketimbang domestik. Kata Lisa, kontribusi ekspor masih mendominasi sebesar 76%. "Jadi, perusahaan kami sebetulnya ada natural hedge karena kami kuat di ekspor," ungkapnya.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1921
JAKARTA. Harga minyak mentah tergelincir. Reli yang berlangsung tujuh hari berturut-turut, akhirnya terhenti karena sinyal suplai minyak global melimpah. Mengutip Bloomberg, Jumat (17/4) pukul 17.25 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Mei 2015 di New York Merchantile Exchange turun 0,83% menjadi US$ 56,24 per barel.
Padahal, selama tujuh hari terakhir, harga minyak sudah reli 12,47%. Bahkan, Kamis (16/4), harga minyak bertengger di level tertinggi sejak 24 Desember lalu. Pemicunya, kekhawatiran produksi di Yaman bakal terganggu setelah ladang minyak utama di Hadhramaut dikuasai pemberontak.
Namun, koreksi harga tak terbendung, karena suplai minyak global masih membanjir. Energy Information Administration (EIA) melaporkan, stok minyak di Amerika Serikat (AS) per 10 April meningkat 1,29 juta barel menjadi 483,7 juta barel. Ini stok tertinggi dalam 85 tahun terakhir. Cadangan tetap tinggi, meski produksi minyak harian di AS pada pekan lalu turun 20.000 barel menjadi 9, 38 juta barel per hari.
“Kenaikan tak hanya terjadi pada stok AS. Produksi minyak anggota OPEC juga meningkat," kata Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Agus Chandra, Jumat (17/4).
Asal tahu saja, sepanjang Mare lalu, produksi harian minyak Arab Saudi tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Negara yang termasuk dalam Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) ini menggenjot produksi minyak harian sebanyak 658.800 barel menjadi 10,294 juta barel per hari.
Meski demikian, Agus menilai, penurunan harga masih dalam kisaran terbatas. Para pelaku pasar bersikap wait and see menjelang pengumuman data ekonomi AS pada Jumat (17/4) malam.
Salah satunya, tingkat inflasi bulan Maret 2015 yang diprediksi bertahan di level 0,2%. “Jika data cukup bagus sehingga otot dollar AS menguat, maka harga minyak bakal lanjut tertekan. Begitu pula sebaliknya,†papar Agus.
Rawan koreksi
Analis PT Soe Gee Futures Nizar Hilmy mengatakan, koreksi harga minyak yang terjadi sepanjang tahun ini dipicu tiga faktor, yaitu produksi yang meningkat, lesunya permintaan dan penguatan nilai tukar dollar AS. Namun, Nizar menilai, sekarang tiga faktor tersebut mulai berbalik. Berkurangnya penggunaan alat pengeboran alias rig di AS disinyalir bisa mengurangi surplus minyak di pasar global.
Negeri Paman Sam ini sudah menghentikan operasional 760 mesin rig pada pekan lalu. Bahkan, sejak Desember lalu, jumlah rig yang beroperasi di AS sudah susut sebanyak 52%. Ppermintaan minyak global juga diperkirakan mulai pulih. International Energy Egency (EIA) memprediksi, permintaan harian di pasar global meningkat sebanyak 1,1 juta barel menjadi 93,6 juta barel per hari
. Belakangan, dollar AS pun mulai terkoreksi, setelah ekonomi AS kurang memuaskan. "Ketiga faktor itu menyebabkan harga minyak sempat melejit beberapa hari terakhir, meski kemudian terkoreksi tipis," papar Nizar.
Pergerakan harga selanjutnya akan sangat dipengaruhi kabar mengenai suplai dan permintaan. Jika isu fundamental mulai sepi, fokus pelaku pasar akan beralih pada fluktuasi dollar AS. Pelemahan dollar AS akan membantu peluang kenaikan harga minyak. Namun Nizar mengingatkan, kenaikan harga minyak yang sudah cukup tinggi bakal rawan koreksi. "Investor melakukan ambil untung alias profit taking kala harga sudah merangkak tinggi," ujarnya.
Secara teknikal, harga minyak berada di atas moving average (MA) 25, 50, dan 100. Ini mengindikasikan kondisi up trend. Lalu moving average convergence divergence (MACD) juga di area positif dengan histogram naik menunjukkan kondisi bullish. Hanya, relative strength index (RSI) 14,33 di level 66, atau hampir mendekati area jenuh beli (verbought). Begitu pula stochastic yang menunjukkan angka 90, atau sudah memasuki area jenuh beli. Artinya, membuka peluang penurunan.
Prediksi Nizar, hingga pekan depan, harga minyak WTI akan bergulir di kisaran US$ 53 hingga US$ 58 per barel. Agus menebak, hingga pekan mendatang, minyak bisa bergerak antara US$ 50 hingga US$ 60 per barel. Sementara, mayoritas analis yang disurvei Bloomberg menduga, harga WTI bakal turun pada pekan depan. Lima belas dari 30 analis memprediksi harga turun, sementara 12 analis melihat peluang kenaikan harga minyak.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2116
JAKARTA. Setelah sempat terlempar ke level terendah dalam empat tahun terakhir pada Rabu (15/4), kemarin harga timah rebound. Dorongan harga ini akibat antisipasi pasar terhadap data pembangunan rumah baru (housing starts) Amerika Serikat (AS) yang lebih baik.
Mengutip Bloomberg, Kamis (16/4) pukul 10.04 waktu Hong Kong, harga timah kontrak pengiriman tiga bulan di bursa London Metal Exchange naik 1,26% ke US$ 16.050 per metrik ton dibandingkan hari sebelumnya. Tapi, dalam sepekan terakhir harga masih tergerus 3,31%.
Pasar mengantisipasi data housing starts AS Maret 2015 yang diprediksi naik 15,9% menjadi 1,05 juta. AS merupakan konsumen logam terbesar kedua. Dengan bagusnya data ini, maka permintaan timah akan meningkat.
Ibrahim, analis dan Direktur PT Komoditi Ekuilibrium Berjangka, mengatakan, permintaan logam seperti timah bisa terangkat jika data perumahan AS naik. Maklum, industri perumahan merupakan salah satu yang banyak menyerap komoditas logam.
Stok timah yang tercatat pada bursa LME telah turun berturut-turut dalam empat sesi terakhir. Stok timah menyentuh 9.695 ton, merupakan stok terendah sejak Oktober 2014 silam. Namun, kenaikan harga ini hanya bersifat temporer. Pasalnya masih banyak faktor yang membebani harga timah.
Salah satunya adalah data ekonomi Tiongkok yang semakin buruk. Pada Rabu (15/4) data produk domestik bruto (GDP) China kuartal I-2015 turun menjadi 7,0% dari kuartal IV-2014 yakni 7,3%.
Data produksi industri China Maret 2015 merosot jadi 5,6% dari sebelumnya 6,8%. Sedangkan Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China di 2015 menjadi 7,1%. "Faktor ekonomi global yang masih resesi menyebabkan harga timah di kuartal II- 2015 bisa terlempar ke level US$ 15.000 per metrik ton," duga Ibrahim.
Sedangkan penguatan harga logam yang terjadi pada Kamis (16/4), pelaku pasar bersiap melakukan aksi profit taking. Lalu, apabila data klaim pengangguran AS pada Jumat (17/4) waktu setempat lebih baik daripada prediksi pasar, harga timah bisa kembali menembus ke level terendah empat tahun.
Secara teknikal, moving average (MA) dan bollinger band bergerak 40% di atas bollinger bawah yang mengindikasikan penurunan. GarisMACD wait and see. Begitu pun RSI 60% negatif bergerak ke bawah. Tapi stochastic di level 60% positif. "Harga timah Jumat (17/4) di kisaran US$ 15.800-US$ 16.100 per metrik ton," prediksi Ibrahim.
Sepekan ke depan, harga timah bisa bergulir antara US$ 15.650- US$ 15.900 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id

















Semua Berita