- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2291
WASHINGTON. Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) turut berpengaruh pada kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve alias Fed rate. Pasalnya, kurs dollar AS yang terus menguat, ditambah dengan cuaca dingin menekan laju pertumbuhan ekonomi kuartal pertama.
Tapi, laju pertumbuhan ekonomi AS yang cenderung lemah di kuartal pertama memicu para ekonom dan analis memundurkan ramalan kenaikan Fed rate menjadi September alias akhir kuartal ketiga. Awalnya, banyak ekonom meramal kenaikan suku bunga akan terjadi pada akhir kuartal kedua.
Thomas Costerg, ekonom senior Standard Chartered Bank di New York bilang, Federal Open Market Committee akan menunggu pembalikan arah di kuartal kedua ini sebelum mengerek suku bunga acuan. "Ada kekhawatiran, pengaruh kuatnya dollar dan penurunan investasi minyak akan berlanjut," kata Costerg kepada Bloomberg.
Sebanyak 73% dari 59 ekonom yang disurvei Bloomberg mengatakan, kenaikan suku bunga acuan akan terjadi bulan September 2015. Persentase ini naik dari 37% pada survei bulan Maret lalu. Pada survei bulan lalu, sebagian besar ekonom meramal kenaikan suku bunga akan terjadi pada Juni atau Juli.
Survei terpisah menyebut, pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama hanya akan mencapai 1% secara tahunan, turun dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Alasannya, penurunan investasi sektor energi yang dipicu oleh merosotnya harga minyak. Pemerintah AS akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi pada Rabu pagi (29/4) waktu setempat.
Pangkas prediksi
Bulan lalu, beberapa bank investasi memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama. JPMorgan menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama dari 2% menjadi 1,5%. Sedangkan, Morgan Stanley menurunkan prediksi dari 2% menjadi 1,8%.
Data terbaru yang muncul yakni aktivitas sektor jasa bulan April 2015 menurun untuk pertama kalinya sejak Desember. Ini menunjukkan bahwa lemahnya pertumbuhan ekonomi AS masih berlanjut usai kuartal pertama.
The Fed tidak akan menggelar konferensi pers atau menyediakan prediksi usai pertemuan dua hari yang rampung Rabu ini. Para analis pun meramal tidak banyak perubahaan kebijakan setelah data ekonomi yang menurun.
Bank Sentral AS menahan suku bunga hampir 0% sejak Desember 2008. Kalau ramalan para ekonom benar, maka September 2015 akan merupakan kenaikan suku bunga Fed Rate untuk pertama kali sejak Juni 2006.
Laura Rosner, ekonom BNP Paribas mengatakan, The Fed saat ini lebih cenderung mengutamakan data sebelum mengambil keputusan. "Fokus bank sentral adalah kinerja ekonomi," kata Rosner.
Para ekonom ini juga memperkirakan bahwa Bank Sentral AS akan menunggu tingkat pengangguran AS di bawah 5% sebelum menaikkan suku bunga. Saat ini, tingkat pengangguran AS masih bertahan di level 5,5%.
Data lain yang ditunggu adalah inflasi. The Fed menargetkan inflasi 2%. Tapi, dalam 34 bulan berturut-turut, inflasi AS terus berada di bawah level tersebut. Sebanyak 90% ekonom memperkirakan, inflasi akan terus berada di bawah 2% hingga setidaknya kuartal pertama 2016.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2335
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,CHICAGO - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir naik pada Senin (27/4/2015) waktu setempat (Selasa pagi WIB), karena aksi short covering(pembelian kembali emas yang telah dijual) para investor.
Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni, melonjak 28,2 persen atau 2,40 persen menjadi menetap di 1.203,20 dollar AS per ounce.
Aksi short covering mendominasi pasar pada Senin karena kontrak emas untuk pengiriman Mei berakhir, sehingga mendorong harga emas naik.
Investor sedang menunggu bank sentral AS, Federal Reserve, mengisyaratkan waktu kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan mereka yang dijadwalkan pada Rabu.
Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunganya pada Juni, itu akan memberikan tekanan pada emas, karena logam mulia tidak dikenakan bunga.
Emas juga mendapat dukungan karena indeks dollar AS, indikator dollar terhadap sekumpulan mata uang dunia utama, turun 0,36 persen menjadi 96,61 dalam perdagangan tengah hari.
Emas dan dollar biasanya bergerak berlawanan arah, sehingga pelemahan mata uang AS akan membuat emas yang dihargakan dalam dollar lebih murah bagi investor.
Sementara itu, perak untuk pengiriman Mei naik 75,8 sen, atau 4,85 persen, menjadi ditutup pada 16,394 dollar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli menambahkan 32 dollar AS, atau 2,85 persen, menjadi ditutup pada 1.153,40 dollar AS per ounce.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2275
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, naik tipis 16 sen, menjadi ditutup pada US$ 56,99 per barel di New York Mercantile Exchange, AFP melaporkan.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juni, patokan global, turun 45 sen menjadi menetap di US$ 64,83 per barel di perdagangan London.
Carl Larry dari Frost & Sullivan mengatakan, ada sedikit perubahan dalam fundamental yang menggerakkan pasar satu arah atau lainnya, dan investor mengambil beberapa keuntungan dari kenaikan pekan lalu.
WTI terus menarik setidaknya ada beberapa minat beli, meskipun rekor cadangan minyak mentah AS kemungkinan masih akan meningkat, kata Tim Evans dari Citi Futures.
Di sisi penawaran, produksi minyak mentah AS telah sedikit menyusut dalam tiga dari periode empat minggu, tetapi masih melayang di sekitar 9 juta barel per hari.
Tekanan pada harga telah dibatasi oleh kekhawatiran risiko geopolitik, terutama krisis di Yaman.
Narasumber : news.viva.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2132
Bisnis.com, JAKARTA – Harga nikel diprediksi masih sulit tembus US$14.000, meskipun saat ini harga komoditas logam industri itu terus bergerak naik karena beberapa sentimen positif.
Ibrahim, Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan penguatan harga nikel didukung oleh kombinasi sentimen aksi mogok pekerja di Kolombia yang masih berlanjut, China yang kembali menggelontorkan stimulus, dan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kurang bagus.
“Namun, harga nikel diprediksi masih sulit untuk menguat ke level US$14.000. Alasannya, pada pekan ini akan ada rilis data ekonomi dari AS, China, Jepang, dan Eropa secara bersamaan,†ujarnya kepada Bisnis pada Senin (27/4).
Pada perdagangan kemarin sampai pukul 15:25 WIB, harga nikel untuk pengiriman tiga bulan naik 1,51% menjadi US$13.395 per metrik ton.
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2210
JAKARTA. Rencana pemerintah mewajibkan perusahaan kelapa sawit membayar pungutan ekspor bagi produk crude palm oil (CPO) dan turunannya dikhawatirkan bakal memberatkan pengusaha. Pasalnya, sebelumnya mereka sudah dikenakan tarif bea keluar. Kementerian Keuangan (Kemkeu) pun bertindak cepat melakukan penyesuaian tarif bea keluar CPO.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu Suahasil Nazara mengatakan, agar tidak terjadi pemungutan ganda yang dapat menguras kas pengusaha CPO, BKF akan menurunkan tarif bea keluar.
Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, bea keluar baru dapat ditarik dengan batas harga CPO US$ 750 per metrik ton dengan tarif 7,5%.
"Tarif bea keluarnya sekarang menyesuaikan sehingga total yang dikeluarkan pengusaha tidak besar," ujar Suahasil akhir pekan lalu. Sayangnya, ia enggan menjelaskan berapa penyesuaian yang akan dilakukan pemerintah.
Nantinya pemerintah akan mengatur detail pungutan bea keluar dan CPO Fund dalam PMK. Saat ini PMK tersebut masih dalam tahap finalisasi. Menurut draft PMK tersebut, pungutan ekspor untuk CPO Fund sebesar US$ 50 per ton untuk CPO dan US$ 30 per ton bagi produk turunan CPO.
Berdasarkan PMK yang ada, tarif pungutan bea keluar CPO kisaran 7,5%-22,5% tergantung harga CPO.
Suahasil menjelaskan, di tengah lesunya harga CPO dan dengan batasan harga US$ 750 per metrik ton, maka kini pemerintah tidak menerima pemasukan bea keluar. Dus, perkiraan realistis penerimaan bea keluar CPO dan turunannya tahun ini hanya Rp 1,01 triliun dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 yang sebesar Rp 9,86 triliun.
Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Tungkot Sipayung menilai, langkah pemerintah menarik pungutan ekspor CPO tak menjadi masalah. Sebab pungutan itu dikembalikan untuk mengembangkan industri CPO.
Namun Tungkot berharap, bea keluar diturunkan bertahap dan pada akhirnya dihapus. Bea keluar tidak bisa lagi menjadi instrumen hilirisasi. Pemerintah bisa menggunakan instrumen pajak seperti Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan (PPh) yang selama ini sudah berjalan.
"Secara bertahap pemerintah perlu menghilangkan kebijakan bea keluar seperti di Malaysia yang tarifnya sudah rendah," terang Tungkot.

















Semua Berita